Kabupaten Serang | Hasan Syukur, 56 tahun, pengemudi ojek online yang menjadi korban tabrakan beruntun di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan, telah menjalani operasi untuk menangani patah tulang. Tindakan medis tersebut dilakukan pada Sabtu siang di Rumah Sakit Fatmawati, menurut keterangan anaknya, Ewis Hildayani.
Ewis mengatakan bahwa informasi mengenai cedera ayahnya yang ia terima menunjukkan kondisi serius. Tulang belakang Hasan disebut mengalami kerusakan parah, sementara tulang kaki kirinya patah. Cedera itu menjadi bagian dari penanganan medis yang dijalani Hasan setelah kecelakaan tersebut. Operasi dilakukan di RS Fatmawati, tempat Hasan dirawat.
Hingga keterangan itu disampaikan, Ewis mengaku belum memperoleh kabar mengenai kondisi ayahnya setelah operasi. Ia belum mengetahui bagaimana keadaan Hasan setelah menjalani tindakan tersebut maupun perkembangan pemulihannya. Karena itu, keluarga masih menunggu informasi lebih lanjut dari pihak rumah sakit mengenai hasil operasi dan kondisi terkini pasien.
Di tengah belum adanya kabar langsung tersebut, Ewis menyebut ada seseorang di rumah sakit yang mengatakan bahwa Hasan kuat. Pernyataan itu menjadi informasi yang ia terima tentang keadaan ayahnya, meskipun belum disertai penjelasan lebih rinci mengenai kondisi Hasan pascaoperasi. Ewis tetap menanti kabar selanjutnya untuk mengetahui perkembangan perawatan.
Keterangan mengenai operasi dan cedera Hasan disampaikan oleh Ewis sebagai anak korban. Informasi yang ia terima mencakup tindakan medis pada Sabtu siang serta kerusakan pada tulang belakang dan patah tulang kaki kiri. Adapun kondisi Hasan setelah operasi belum dapat dipastikan oleh keluarga berdasarkan kabar yang telah diterima Ewis saat itu.
Hasan merupakan salah satu korban kecelakaan di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Perawatan terhadap cedera tulang belakang dan kaki kirinya kini menjadi perhatian keluarga, yang masih menunggu perkembangan dari rumah sakit. Untuk sementara, Ewis hanya menyampaikan bahwa operasi telah dijalani dan ada orang di rumah sakit yang menyebut ayahnya kuat. Belum ada keterangan lebih lanjut yang ia terima mengenai hasil tindakan maupun kondisi terbaru Hasan.
Ewis menyampaikan kabar mengenai kondisi ayahnya, Hasan, dari rumahnya di Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Ia bercerita bahwa dirinya baru mengetahui Hasan mengalami kecelakaan pada Jumat, 23 Oktober, setelah sang ayah dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati. Informasi itu diterima Ewis pada hari kejadian, ketika Hasan sudah berada di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Sebelum mendapat penjelasan lebih lanjut, Ewis sempat melakukan panggilan video dengan Hasan. Dalam percakapan tersebut, ia dapat melihat ayahnya secara langsung, tetapi belum mengetahui secara lengkap bagaimana kecelakaan terjadi maupun kondisi Hasan setelah insiden itu. Selanjutnya, seorang teman Hasan menghubungi Ewis dan menjelaskan keadaan korban. Dari keterangan teman tersebut, keluarga memperoleh informasi tambahan mengenai situasi yang dialami Hasan setelah dibawa ke rumah sakit.
Ewis memperkirakan panggilan video itu berlangsung sekitar waktu magrib pada Jumat. Ia tidak memastikan waktu persisnya, tetapi menduga percakapan tersebut terjadi tidak lama setelah Hasan tiba di RS Fatmawati. Perkiraan itu menjadi penanda awal bagi keluarga untuk memahami bahwa kecelakaan baru saja terjadi dan Hasan telah mendapatkan akses ke layanan kesehatan. Ewis menyampaikan informasi tersebut sehari setelah kejadian, dari kediamannya di Ciomas, saat keluarga masih mengikuti perkembangan kondisi korban.
Keterangan Ewis menggambarkan bagaimana kabar kecelakaan itu diterima keluarga yang berada di Banten, sementara Hasan menjalani penanganan di Jakarta Selatan. Panggilan video dari Hasan menjadi kontak langsung pertama yang diingat Ewis setelah mengetahui ayahnya berada di rumah sakit. Penjelasan dari teman Hasan kemudian membantu melengkapi kabar yang belum diketahui keluarga. Meski waktu komunikasi hanya dapat diperkirakan, Ewis menempatkannya sekitar magrib dan tidak lama setelah Hasan dibawa ke RS Fatmawati. Pada Sabtu, 24 Oktober, ia masih menyampaikan kabar tersebut dari rumahnya di Ciomas, Kabupaten Serang, Banten.
Ewis menjelaskan bahwa keluarganya memiliki keadaan tinggal yang terpisah. Ayah dan ibunya merantau ke Jakarta, begitu pula suaminya. Sementara itu, Ewis menetap di rumah milik Hasan bersama dua anaknya. Keterangan tersebut memberi gambaran mengenai susunan keluarga mereka, tanpa mengubah fakta bahwa tempat tinggal Ewis saat ini berbeda dari tempat ayah, ibu, dan suaminya berada.
Menurut Ewis, ia merupakan anak tunggal Hasan. Ia tinggal bersama kedua anaknya di rumah yang disebut sebagai milik sang ayah. Dalam keterangannya, Ewis tidak menyebutkan adanya anggota keluarga lain yang tinggal bersama dirinya dan anak-anak. Informasi yang disampaikan itu menjadi konteks mengenai siapa saja yang tinggal di rumah tersebut serta hubungan Ewis dengan Hasan.
Ewis juga menyampaikan bahwa ayahnya terakhir kali pulang sekitar dua bulan sebelum peristiwa tabrakan beruntun. Ia mengatakan Hasan biasanya kembali sekitar sebulan sekali. Dengan demikian, kepulangan terakhir yang ia ingat berlangsung lebih lama dibandingkan kebiasaan pulang yang biasanya terjadi setiap bulan. Keterangan tentang waktu tersebut berasal dari penuturan Ewis, yang menggambarkan pola pertemuan keluarga selama ayahnya merantau ke Jakarta.
Meski ayah, ibu, dan suaminya berada di Jakarta, Ewis tetap tinggal di rumah milik Hasan bersama dua anaknya. Informasi ini juga menjelaskan bahwa Ewis dan Hasan tidak selalu berada di tempat yang sama, sementara hubungan mereka sebagai ayah dan anak tetap menjadi bagian penting dari latar keluarga. Ewis menggambarkan kebiasaan ayahnya pulang secara berkala, dengan jarak sekitar satu bulan, serta menyebut kepulangan terakhir terjadi dua bulan sebelum insiden.
Keterangan tersebut terbatas pada kondisi tempat tinggal keluarga dan waktu Hasan pulang sebagaimana disampaikan Ewis. Tidak ada rincian tambahan mengenai alasan setiap anggota keluarga merantau, kegiatan mereka di Jakarta, ataupun keadaan lain di rumah. Dengan menjaga batas pada informasi yang disampaikan, latar keluarga ini menunjukkan bahwa Ewis tinggal bersama dua anaknya di rumah Hasan, sedangkan ayah, ibu, dan suaminya merantau ke Jakarta.
Kecelakaan beruntun terjadi pada Jumat, 23 Oktober, sekitar pukul 16.48 WIB, di Jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Peristiwa tersebut bermula ketika sebuah mobil BYD bernomor polisi B-1220-KDP yang dikemudikan pria berinisial S, berusia 46 tahun, melaju dari arah selatan menuju utara. Di depannya, sebuah Honda Brio bernomor polisi B-2967-NGY bergerak searah. BYD kemudian menabrak bagian belakang mobil tersebut, sebelum oleng ke kiri.
Setelah tabrakan pertama, BYD menabrak sepeda motor Honda Beat bernomor polisi A-3867-DD yang dikendarai Hasan, serta mobil Wuling bernomor polisi B-1835-ERZ. Kendaraan itu selanjutnya naik ke trotoar dan menghantam dua mobil lain yang sedang terparkir. Dengan demikian, kecelakaan tersebut melibatkan empat mobil yang tertabrak secara beruntun, selain sepeda motor yang dikendarai Hasan. Rangkaian benturan terjadi di kawasan jalan tersebut setelah BYD menabrak Honda Brio yang berada di depannya.
Kompol Kharisma Arbita Bangsa dari Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya menerangkan bahwa Hasan mengalami patah tulang pada kaki kiri dan luka lecet akibat kejadian itu. Hasan kemudian mendapat perawatan di Rumah Sakit Fatmawati. Keterangan mengenai urutan tabrakan, kendaraan yang terlibat, serta kondisi pengendara sepeda motor tersebut disampaikan oleh Kompol Kharisma. Informasi itu menggambarkan bahwa dampak kecelakaan tidak hanya mengenai kendaraan yang bergerak, tetapi juga dua mobil yang sedang parkir di tepi jalan.
Kronologi tersebut bermula dari benturan BYD dan Honda Brio yang melaju dalam arah sama lalu.
Baca juga: TNI Kerahkan Sejumlah Alutsista Dukung Operasi SAR KM Virgo Transport 8 | STAFFEX SGS 2026 Perkuat Kesiapan Operasi Gabungan Melalui AAR | STAFFEX SGS 2026 Masuki Tahap Penyusunan Perintah Operasi Gabungan





