JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa realisasi pendapatan negara hingga saat ini telah mencapai Rp2.341,5 triliun. Nilai tersebut setara dengan 74,2% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni sebesar Rp3.153,6 triliun. Capaian itu menunjukkan bahwa penerimaan negara terus bergerak positif di tengah pelaksanaan anggaran yang masih menyisakan beberapa bulan.
Menurut Suahasil, pendapatan negara tersebut tumbuh 25,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan kinerja penerimaan yang relatif kuat, baik dari sisi perpajakan maupun sumber pendapatan negara lainnya. Perkembangan tersebut juga menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kemampuan pemerintah menjaga kesinambungan fiskal sekaligus membiayai berbagai program prioritas yang telah direncanakan.
Dalam konferensi pers APBN yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026, Suahasil menyebut kondisi pendapatan negara masih sehat. Ia menilai realisasi yang telah dicapai berada di jalur yang sesuai dengan sasaran tahunan. Pernyataan itu memperkuat pandangan pemerintah bahwa target APBN 2026 tetap realistis untuk dicapai, selama kinerja penerimaan dapat dipertahankan hingga akhir tahun.
Optimisme tersebut didasarkan pada capaian sementara yang telah melampaui tujuh puluh persen dari target tahunan serta laju pertumbuhan yang masih positif. Pemerintah akan terus memantau perkembangan penerimaan dan kondisi ekonomi untuk memastikan pelaksanaan kebijakan fiskal berjalan secara terukur. Dengan pengelolaan anggaran yang hati-hati dan dukungan terhadap aktivitas ekonomi, sisa target pendapatan diharapkan dapat dihimpun secara optimal tanpa mengabaikan kualitas pelayanan publik serta kebutuhan pembangunan.
Penerimaan pajak menjadi komponen terbesar dalam pendapatan negara pada 2026. Hingga periode pelaporan terbaru, realisasi penerimaan tersebut telah mencapai Rp1.607,6 triliun. Angka ini menunjukkan peran penting pajak dalam menopang keseluruhan pendapatan negara yang tercatat sebesar Rp2.341,5 triliun.
Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam APBN 2026, realisasi penerimaan pajak tersebut setara dengan 68,2% dari sasaran sebesar Rp2.357,7 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa penerimaan pajak telah memenuhi lebih dari separuh target tahunan. Dengan demikian, perkembangan penerimaan pajak menjadi salah satu indikator utama dalam melihat kemajuan pencapaian target pendapatan negara.
Selain mencatat realisasi yang signifikan, penerimaan pajak juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 24,1%. Pertumbuhan ini menandai perubahan arah yang jelas dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, penerimaan pajak justru mencatat pertumbuhan minus 4,4%. Perbandingan ini memperlihatkan pergeseran dari kondisi kontraksi menuju pertumbuhan positif.
Perubahan kinerja tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan pelaksanaan APBN 2026. Realisasi sebesar Rp1.607,6 triliun sekaligus memperkuat posisi penerimaan pajak sebagai sumber utama pendapatan negara. Meskipun target tahunan masih menyisakan porsi yang harus dicapai, capaian 68,2% memberikan gambaran mengenai kemajuan penerimaan hingga saat ini. Data tersebut juga menjadi dasar bagi pemerintah dalam menilai peluang terpenuhinya target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun.
Setelah penerimaan pajak, sektor kepabeanan dan cukai menjadi bagian berikutnya dalam capaian pendapatan negara. Realisasi penerimaan dari sektor tersebut tercatat sebesar Rp240,1 triliun. Angka ini setara dengan 71,5% dari target yang ditetapkan dalam APBN, yaitu Rp336 triliun.
Realisasi tersebut mencakup penerimaan yang berasal dari kegiatan kepabeanan dan cukai dalam periode pelaporan yang sama. Dengan capaian Rp240,1 triliun, sektor ini melanjutkan kontribusinya terhadap total pendapatan negara yang telah mencapai Rp2.341,5 triliun. Data tersebut disampaikan sebagai bagian dari perkembangan penerimaan negara dan pelaksanaan target APBN 2026.
Dari sisi pertumbuhan, penerimaan kepabeanan dan cukai meningkat 8,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu lebih tinggi daripada pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar 7,1%. Dengan demikian, terdapat selisih pertumbuhan sebesar 1,4 poin persentase capaian periode berjalan dan periode pembanding. Perbandingan ini menunjukkan perkembangan penerimaan sektor kepabeanan dan cukai berdasarkan realisasi masing-masing periode.
Capaian 71,5% terhadap target Rp336 triliun menjadi bagian dari keseluruhan realisasi pendapatan negara yang digunakan dalam pemantauan pelaksanaan APBN 2026. Sementara itu, pertumbuhan sebesar 8,5% memberikan gambaran mengenai perubahan penerimaan sektor tersebut secara tahunan. Angka-angka tersebut menjadi dasar pelaporan kinerja kepabeanan dan cukai setelah penerimaan pajak diperhitungkan dalam capaian pendapatan negara.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) turut memberikan kontribusi penting terhadap pencapaian pendapatan negara hingga periode berjalan. Realisasi PNBP telah mencapai Rp492,3 triliun, atau setara dengan 107,2% dari target dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp459,2 triliun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa penerimaan dari komponen nonpajak telah melampaui sasaran yang ditetapkan pemerintah untuk tahun anggaran ini.
Dari sisi pertumbuhan, PNBP mencatat peningkatan sebesar 41,7%. Kinerja tersebut berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika pertumbuhan PNBP tercatat minus 19,2%. Perubahan ini mencerminkan penguatan realisasi penerimaan nonpajak pada tahun berjalan, sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap keseluruhan pendapatan negara dan pencapaian target APBN 2026.
Selain PNBP, penerimaan hibah juga telah melewati target yang ditetapkan. Realisasi penerimaan hibah tercatat sebesar Rp1,5 triliun, atau mencapai 219,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp700 miliar. Dengan demikian, nilai penerimaan hibah yang terkumpul telah lebih dari dua kali lipat dibandingkan sasaran awal dalam anggaran negara.
Secara pertumbuhan, penerimaan hibah masih mencatat angka minus 18,8%. Namun, kinerja tersebut lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu, yang berada pada posisi minus 89,2%. Perbaikan ini menunjukkan adanya peningkatan realisasi hibah secara relatif, meskipun pertumbuhannya masih berada di wilayah negatif. Berdasarkan capaian tersebut, PNBP dan penerimaan hibah sama-sama telah melampaui target APBN 2026 yang ditetapkan.


