Jakarta | Industri motor listrik di Indonesia dinilai belum berkembang optimal karena permintaan pasar masih tertahan. Salah satu faktor yang membuat calon konsumen menunda pembelian adalah belum adanya kepastian mengenai bantuan pemerintah. Dalam situasi tersebut, masyarakat yang mempertimbangkan motor listrik cenderung menunggu kejelasan sebelum mengambil keputusan transaksi. Penundaan ini berpengaruh pada gerak pasar, sebab minat yang ada belum sepenuhnya berubah menjadi pembelian. Dengan demikian, persoalan kepastian subsidi menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai perkembangan industri kendaraan listrik nasional, khususnya segmen sepeda motor listrik.
Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Prabowo Kartoleksono, menyebut janji subsidi sebesar Rp7 juta pada 2025 tidak terealisasi. Menurut keterangannya, kondisi tersebut membuat konsumen menanti kepastian apakah bantuan akan diberikan. Calon pembeli khawatir mengalami kerugian apabila membeli motor listrik lebih dahulu, sementara subsidi kemudian keluar. Kekhawatiran itu mendorong mereka untuk menunda transaksi hingga memperoleh kejelasan tentang bantuan yang dijanjikan. Sikap menunggu tersebut, sebagaimana dijelaskan Prabowo, turut menahan permintaan dan membuat perkembangan pasar motor listrik belum optimal.
Prabowo menyampaikan penilaian itu dalam diskusi Leaders Forum bertajuk “Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi” di Jakarta pada 20 Oktober 2026. Keterangannya menyoroti hubungan kepastian kebijakan bantuan dan keputusan pembelian konsumen. Selama calon pembeli belum mengetahui apakah subsidi tersedia, mereka dapat memilih menunggu daripada bertransaksi lebih awal dengan risiko merasa rugi apabila bantuan kemudian diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa kepastian mengenai subsidi dipandang penting untuk mendorong permintaan pasar. Bagi industri motor listrik, tertahannya transaksi membuat potensi pasar belum sepenuhnya terwujud. Penjelasan tersebut menempatkan realisasi dan kepastian bantuan sebagai isu utama dalam menilai kondisi industri, tanpa menyebut faktor lain sebagai penyebab penundaan pembelian.
Ketidakpastian mengenai subsidi kendaraan listrik tidak hanya membuat calon pembeli menunda keputusan, tetapi juga mengubah perhitungan produsen. Sebagian konsumen memilih menunggu kejelasan aturan dan waktu pemberian bantuan sebelum membeli motor listrik. Sikap menunggu itu membuat permintaan yang diharapkan industri belum muncul sebagaimana diperkirakan. Bagi perusahaan, jeda tersebut berarti produk yang sudah disiapkan belum segera terserap pasar, sementara rencana produksi dan penjualan perlu disesuaikan dengan perkembangan kebijakan.
Sebelum kondisi pasar menjadi jelas, produsen telah mengambil langkah untuk memenuhi kemungkinan kenaikan permintaan. Material dibeli dari vendor, proses produksi direncanakan, dan produk disiapkan dengan perkiraan bahwa subsidi akan membantu mendorong minat konsumen. Prabowo menjelaskan bahwa persiapan industri dilakukan karena para pelaku usaha percaya subsidi akan tersedia. Dengan keyakinan itu, perusahaan berupaya memastikan produk dan kebutuhan produksi siap ketika dukungan pemerintah berlaku. Namun, apabila kepastian tersebut tertunda, perkiraan awal mengenai waktu penjualan tidak lagi sejalan dengan keadaan pasar.
Dampaknya terasa pada perputaran usaha. Material yang telah dibeli dapat tertahan sebelum digunakan atau diubah menjadi produk yang terjual, sedangkan stok yang tersedia menunggu pembeli. Modal yang sudah dialokasikan untuk pengadaan bahan dan persiapan produksi pun belum kembali melalui penjualan. Kondisi ini dapat membatasi ruang perusahaan untuk membiayai kegiatan berikutnya, termasuk memenuhi kebutuhan operasional dan merencanakan produksi baru. Pada saat yang sama, produsen perlu menjaga keseimbangan kesiapan memasok dan risiko menambah persediaan ketika permintaan masih lemah.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa penundaan keputusan konsumen memiliki konsekuensi di sepanjang rantai pasok motor listrik. Vendor telah memasok material berdasarkan kebutuhan industri, sementara produsen menanggung persediaan dan modal yang menunggu pergerakan pasar. Tanpa kepastian mengenai subsidi, perusahaan sulit menentukan apakah harus mempertahankan rencana produksi, mengatur ulang pembelian, atau menunda persiapan lanjutan. Kejelasan kebijakan dapat membantu konsumen mengambil keputusan dan memberi dasar yang lebih kuat bagi produsen untuk mengelola stok, arus modal, serta kapasitas usaha secara terukur.
Di tengah pasar yang masih tertahan dan kepastian subsidi yang belum jelas, sejumlah pelaku usaha mencari cara agar motor listrik tetap dapat dipasarkan. Salah satu pendekatan yang ditempuh adalah skema rent to own, atau sewa yang berujung pada kepemilikan. Pola ini menawarkan jalur bagi konsumen untuk menggunakan kendaraan tanpa harus membelinya secara tunai sejak awal. Bagi industri, skema tersebut dapat membantu menjaga akses terhadap produk ketika keputusan pembelian langsung belum banyak terjadi.
Dalam pola rent to own, konsumen menyewa motor listrik terlebih dahulu. Kendaraan digunakan selama masa sewa, sementara pembayaran berlangsung melalui skema penyewaan. Setelah periode tersebut berakhir, motor kemudian menjadi milik konsumen. Dengan demikian, penggunaan kendaraan mendahului kepemilikan, berbeda dari transaksi tunai yang langsung mengalihkan motor kepada pembeli setelah pembayaran. Model ini berupaya menjembatani kebutuhan konsumen untuk memakai kendaraan listrik dengan kemampuan atau kesiapan mereka melakukan pembelian secara langsung.
Namun, pendekatan itu juga membawa konsekuensi bagi arus penerimaan pelaku usaha. Pada penjualan tunai, perusahaan menerima pembayaran ketika transaksi berlangsung. Dalam skema sewa menuju kepemilikan, uang yang semestinya diterima sekaligus dari penjualan tunai tidak langsung masuk, melainkan tertahan selama masa sewa. Artinya, jalur pemasaran ini mungkin membuka kesempatan untuk menjangkau konsumen, tetapi penerimaan dari kendaraan tersebut datang dengan pola berbeda dan tidak tersedia segera seperti pada pembelian tunai. Perbedaan waktu penerimaan itu menjadi pertimbangan penting bagi bisnis yang beroperasi di tengah pasar yang belum pulih. Skema ini juga tidak dengan sendirinya menghapus ketidakpastian yang dihadapi industri; ia mengubah cara konsumen memperoleh kendaraan sekaligus waktu perusahaan menerima uang. Karena itu, upaya pemasaran melalui sewa dapat dipandang sebagai pilihan untuk mempertahankan penjualan, dengan konsekuensi bahwa nilai transaksi tidak seluruhnya diterima di awal. Bagi pelaku usaha, tantangannya adalah menyeimbangkan akses konsumen terhadap motor listrik dengan kebutuhan menjaga penerimaan usaha selama kendaraan masih berada dalam masa sewa.Lemahnya pesanan motor listrik tidak hanya berdampak pada produsen kendaraan, tetapi juga merambat ke perusahaan pemasok komponen. Ketika produsen belum menerima permintaan yang cukup untuk menjalankan produksi, kebutuhan komponen pun tidak terbentuk secara konsisten. Vendor kehilangan pasar yang dapat menjadi dasar untuk memperluas kapasitas atau menawarkan produk kepada industri perakitan di dalam negeri. Situasi ini membuat rencana investasi sulit dipastikan: pemasok perlu melihat peluang penjualan sebelum menanamkan modal, sedangkan produksi kendaraan sulit berkembang tanpa rantai pasok yang siap mendukungnya.
Menurut Prabowo, ketidakjelasan permintaan turut membuat sebagian vendor menunda rencana masuk ke Indonesia. Akibatnya, kesiapan industri komponen lokal belum terbentuk secara menyeluruh, sementara kebutuhan produsen masih dipenuhi melalui impor. Ekosistem motor listrik roda dua mencakup banyak jenis komponen, mulai dari baterai, sasis, dan bodi hingga berbagai perangkat kelistrikan. Setiap bagian memerlukan kemampuan produksi, mutu, dan pasokan yang dapat diandalkan agar kendaraan bisa diproduksi secara berkesinambungan. Tanpa pesanan yang dapat diperkirakan, pemasok memiliki alasan terbatas untuk membangun fasilitas atau menyiapkan lini produksi khusus.
Prabowo mencontohkan controller sebagai salah satu komponen yang masih harus didatangkan dari luar negeri karena industri dalam negeri belum siap memasoknya. Ketergantungan tersebut menggambarkan bahwa keberadaan produsen motor listrik saja belum cukup untuk membentuk industri yang utuh. Keterlibatan pemasok lokal memerlukan pasar yang jelas, waktu untuk meningkatkan kemampuan produksi, dan keyakinan bahwa permintaan tidak berhenti setelah periode tertentu. Karena itu, kepastian permintaan dinilai penting agar industri berani meningkatkan produksi, mengembangkan pemasok lokal, serta mengambil keputusan investasi.
Baca juga: Warga Pagaralam Kelimpungan Cari LPG, YLKI Soroti Dugaan Gas Subsidi Mengalir ke Jarai






