Jakarta | Menurut Misbakhun, pesan Prabowo perlu dipahami sebagai penegasan bahwa perekonomian Indonesia dibangun dengan kekuatan rakyat sendiri. Pernyataan itu bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kekhawatiran baru, melainkan mengingatkan bahwa fondasi ekonomi nasional bertumpu pada kapasitas dan daya dukung masyarakat Indonesia. Dalam konteks tekanan yang muncul di pasar modal, Misbakhun menilai masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan atau merasa cemas menghadapi keadaan tersebut. Pesan Prabowo, menurut penjelasan itu, diarahkan untuk menjaga keyakinan publik terhadap kemampuan Indonesia menghadapi dinamika pasar saham, tanpa mengabaikan situasi yang sedang berlangsung. Inti pesannya adalah ketenangan dan kepercayaan pada kekuatan ekonomi dalam negeri.
Misbakhun juga menjelaskan bahwa pesan tersebut ditujukan kepada MSCI, sekaligus kepada masyarakat dan investor global. Dalam penyampaiannya, Indonesia ingin menunjukkan bahwa pengelolaan bursa saham mengikuti protokol tata kelola yang berlaku secara internasional. Penjelasan ini menegaskan bahwa respons terhadap persoalan pasar modal tidak berdiri terpisah dari komitmen pada tata kelola bursa. Kepada para pelaku pasar di dalam maupun luar negeri, pesan itu menjadi penegasan bahwa Indonesia memahami pentingnya aturan dan praktik yang menjadi acuan internasional. Namun, menurut Misbakhun, maksud pernyataan Prabowo tetap berkaitan dengan penguatan keyakinan terhadap ekonomi Indonesia dan upaya meredakan kekhawatiran masyarakat dalam menghadapi situasi pasar modal.
Dalam konteks hubungan dengan MSCI, Misbakhun menyebut Bursa Efek Indonesia telah melakukan upaya serius dan bertemu dengan lembaga tersebut berkali-kali. Keterangan itu menunjukkan bahwa komunikasi telah dijalankan, bukan diabaikan, dalam menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan tata kelola bursa. Misbakhun tidak mengaitkan pesan Prabowo dengan maksud lain di luar penegasan tentang kekuatan ekonomi rakyat, kepatuhan pada protokol tata kelola internasional, dan pentingnya menjaga ketenangan masyarakat serta investor. Dengan demikian, penjelasannya menempatkan sikap tersebut sebagai pesan untuk memperkuat keyakinan, sementara upaya Bursa Efek Indonesia dan pertemuannya dengan MSCI menjadi bagian dari konteks yang disampaikan.
Komisi XI DPR RI menaruh perhatian pada keadaan pasar modal Indonesia, terutama ketika berlangsungnya proses reformasi menjadi sorotan. Perhatian tersebut diwujudkan melalui rapat-rapat yang kerap digelar untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan dan tahapan reformasi. Bagi komisi yang membidangi keuangan dan perekonomian itu, pemantauan diperlukan agar anggota dapat memahami dinamika yang sedang terjadi, termasuk langkah-langkah yang ditempuh oleh para pemangku kepentingan. Misbakhun menjelaskan bahwa pembahasan di parlemen berangkat dari kebutuhan untuk mengikuti situasi pasar secara berkala. Dengan demikian, perkembangan reformasi tidak dipandang sebagai persoalan sesaat, melainkan sebagai proses yang perlu dicermati seiring perubahan kondisi pasar dan berbagai faktor yang memengaruhinya.
Dalam menjelaskan konteks sikap Prabowo terhadap tekanan MSCI, Misbakhun mengingatkan bahwa pasar modal pada dasarnya selalu bergerak volatil. Pergerakan tersebut dapat berubah mengikuti beragam perkembangan, sehingga tekanan yang muncul tidak serta-merta berkaitan hanya dengan keadaan ekonomi nasional. Ia menilai situasi geopolitik global yang naik turun dan penuh ketidakpastian juga menjadi bagian dari konteks yang perlu diperhitungkan. Perubahan kondisi di tingkat internasional dapat memberi pengaruh terhadap sentimen dan dinamika pasar, sementara ketidakpastian membuat arah pergerakan lebih sulit dipastikan. Karena itu, menurut Misbakhun, penilaian atas tekanan yang terjadi perlu melihat berbagai faktor secara bersamaan, bukan menempatkan satu penyebab sebagai penjelasan tunggal.
Misbakhun juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kelincahan ekonomi dalam menghadapi berbagai keadaan. Ia menyebut ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai bagian dari kemampuan yang penting untuk diperhatikan, di samping resiliensi ekonomi secara lebih luas. Penyebutan aspek-aspek tersebut menggambarkan kapasitas ekonomi nasional yang menjadi konteks dalam membaca perubahan dan tekanan di pasar modal. Namun, uraian itu tidak menghapus kebutuhan untuk terus memantau perkembangan maupun menjalankan reformasi. Komisi XI tetap mengikuti proses tersebut melalui pembahasan dan rapat, sementara dinamika pasar serta situasi geopolitik terus bergerak. Keterangan Misbakhun menempatkan volatilitas, ketidakpastian global, dan daya lenting ekonomi Indonesia dalam satu gambaran, tanpa mengabaikan perhatian terhadap kondisi pasar modal.
Dalam sidang kabinet paripurna pada Rabu, 21 Oktober, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak takut ataupun gentar menghadapi tekanan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perhatian terhadap penilaian lembaga penyedia indeks global itu atas pasar modal Indonesia. Prabowo juga mengakui bahwa pemerintah masih menghadapi tantangan dan gangguan. Dengan demikian, sikap tegas yang disampaikan bukan berarti mengabaikan persoalan yang menjadi perhatian pasar, melainkan menunjukkan bahwa Indonesia akan menghadapi situasi tersebut sembari terus menangani tantangan yang ada.
Konteks pernyataan Prabowo adalah pengumuman MSCI pada 16 Oktober 2026. Dalam pengumuman itu, MSCI menyampaikan usulan untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia, dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market. Perubahan tersebut akan menandai pergeseran penting dalam pengelompokan pasar Indonesia pada indeks MSCI, yang menjadi rujukan bagi sebagian investor internasional dalam menilai dan mengalokasikan dana. Namun, pada tahap ini perubahan masih berupa usulan, bukan keputusan final. MSCI menjadwalkan pengumuman keputusan akhir paling lambat pada 30 Juni 2027, sehingga masih tersedia waktu bagi perkembangan dan penilaian lebih lanjut sebelum status klasifikasi ditetapkan.
MSCI menyebut sejumlah kekhawatiran yang mendasari usulan tersebut. Pelaku pasar, menurut penilaian yang disampaikan, mempertanyakan transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Selain itu, terdapat dugaan mengenai perdagangan terkoordinasi yang dapat memengaruhi kepercayaan terhadap keteraturan dan keterbukaan pasar. MSCI juga menilai reformasi yang telah diumumkan otoritas Indonesia belum memperlihatkan kemajuan yang konsisten serta berdampak signifikan dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut. Rangkaian catatan ini menjelaskan mengapa tekanan MSCI menjadi isu yang dibahas dalam sidang kabinet. Pernyataan Prabowo perlu dipahami dalam konteks tarik-menarik sikap pemerintah menghadapi tekanan eksternal dan tuntutan untuk memperbaiki transparansi serta kredibilitas pasar modal. Karena keputusan akhir belum diumumkan, perkembangan reformasi dan respons otoritas Indonesia akan tetap menjadi perhatian menjelang batas waktu penetapan klasifikasi.
Baca juga: Panen Padi Bersama Petani, Babinsa Perkuat Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan | Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo





