Lita Gading Soroti Serangan Body Shaming terhadap Kuasa Hukum Ruben Onsu

Video Call Ruben Onsu Diunggah Sarwendah, Polemik Keduanya Kembali Disorot

Jakarta | Perseteruan Ruben Onsu dan Sarwendah masih menjadi perhatian publik, dan dampaknya tampak meluas hingga ke orang-orang di sekitar mereka. Perhatian yang semula tertuju pada kedua pihak kini juga menyentuh lingkar profesional, termasuk kuasa hukum yang mendampingi salah satu pihak. Situasi ini memperlihatkan bahwa polemik yang melibatkan figur publik dapat membawa konsekuensi bagi pihak lain yang terhubung dengan urusan tersebut, meskipun mereka bukan pihak utama dalam perseteruan.

Di ruang digital, sebagian warganet disebut mulai terbagi ke dalam kelompok dukungan. Ada yang menyampaikan simpati atau memilih membela salah satu pihak, sementara yang lain menanggapi dengan pandangan berbeda. Perbedaan sikap tersebut kemudian dapat memicu percakapan yang semakin tajam. Dalam konteks ini, komentar bernada kebencian juga dilaporkan muncul, termasuk serangan yang menyinggung penampilan fisik kuasa hukum. Bentuk komentar semacam itu menggeser perhatian dari persoalan yang sedang dibicarakan ke serangan personal terhadap orang yang berada di lingkar profesional.

Lita Gading menyoroti adanya serangan body shaming terhadap kuasa hukum Ruben Onsu. Sorotan tersebut mengingatkan bahwa kritik terhadap pendapat, langkah, atau peran profesional sebaiknya tidak berubah menjadi penghinaan atas kondisi fisik seseorang. Perbedaan dukungan tidak menghapus tanggung jawab untuk menjaga bahasa, terlebih ketika komentar disampaikan di ruang publik dan dapat menyebar luas. Tanpa perlu mengasumsikan latar atau urutan kejadian yang tidak tersedia, situasi ini menunjukkan bagaimana perhatian terhadap perseteruan dapat berkembang menjadi sasaran bagi pihak-pihak di sekitarnya.

Respons publik terhadap isu yang melibatkan selebritas memang kerap berlangsung intens, tetapi keterlibatan dalam diskusi tidak harus disertai serangan pribadi. Membahas perkara secara proporsional, memisahkan informasi yang diketahui dari dugaan, serta menghindari ejekan terhadap penampilan dapat membantu menjaga percakapan tetap berfokus pada isu. Dengan demikian, orang-orang yang menjalankan peran profesional di sekitar kedua pihak tidak serta-merta menjadi sasaran kebencian hanya karena keterkaitannya. Perhatian terhadap etika komunikasi menjadi relevan ketika dukungan di media sosial mulai terbelah dan nada percakapan meningkat.Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, menjadi sasaran komentar negatif di TikTok. Salah satu komentar yang diterimanya disebut mengandung unsur body shaming dan berasal dari akun bernama Dokcin. Ucapan tersebut menyoroti penampilan Minola, bukan semata-mata pandangannya mengenai perkara yang tengah ditangani. Peristiwa ini menjadi perhatian setelah Lita Gading menyoroti serangan terhadap pengacara tersebut. Informasi mengenai komentar itu juga memuat konteks perubahan sikap akun yang bersangkutan dalam mengikuti perkembangan persoalan Ruben Onsu dan Sarwendah.

Menurut sumber yang memberitakan kejadian tersebut, akun Dokcin sebelumnya diketahui mendukung Ruben Onsu, tetapi kemudian beralih memberikan dukungan kepada Sarwendah. Perubahan keberpihakan itu menjadi bagian dari latar percakapan di media sosial, meski tidak mengubah pokok persoalan yang disorot, yaitu komentar personal terhadap Minola. Dalam situasi ketika perbedaan dukungan mudah muncul di ruang digital, kritik terhadap pendapat atau langkah hukum dapat disampaikan tanpa menyerang kondisi fisik seseorang. Komentar yang mengarah pada penampilan berisiko mengalihkan perhatian dari substansi perkara dan memicu percakapan yang lebih menyerang.

Menanggapi komentar tersebut, Minola menyampaikan pernyataan melalui akun Instagram-nya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meminta atau memaksa siapa pun untuk mendukung maupun menyukai pekerjaannya sebagai advokat yang menangani suatu perkara. Pernyataan itu dikutip pada 27 Oktober 2026. Pesan tersebut menekankan bahwa dukungan publik bukan sesuatu yang ia tuntut dari pengguna media sosial. Setiap orang tetap dapat memiliki penilaian atau pilihan dukungan sendiri, termasuk menyampaikan ketidaksetujuan terhadap suatu perkara. Namun, respons terhadap pekerjaan profesional semestinya dibedakan dari serangan terhadap penampilan pribadi. Dengan menanggapi komentar secara terbuka, Minola menyampaikan batas yang ia pandang penting: ia bekerja menangani perkara, tanpa mewajibkan orang lain menyukai atau mendukungnya. Pernyataannya sekaligus mengembalikan perhatian pada perbedaan sikap terhadap pekerjaan seorang advokat dan penghinaan personal di platform digital.

Psikolog Lita Gading menyayangkan adanya body shaming yang ditujukan kepada Minola, kuasa hukum Ruben Onsu. Menurut Lita, ejekan mengenai tubuh seseorang tidak sepatutnya diperlakukan sebagai sesuatu yang lucu, terutama apabila disampaikan di hadapan publik. Ia menyoroti bahwa candaan yang merendahkan orang lain tetap dapat menyakitkan bagi pihak yang menjadi sasaran. Keterangan Lita tersebut dikutip pada 27 Oktober 2026, dalam pemberitaan mengenai serangan body shaming terhadap Minola. Pernyataannya berfokus pada cara ejekan itu disampaikan dan dampaknya terhadap orang yang diejek, bukan pada persoalan lain di luar peristiwa tersebut.

Lita menegaskan bahwa menyebut suatu komentar sebagai candaan tidak serta-merta menjadikannya pantas. Ketika isi candaan menghina seseorang, terlebih di ruang publik, ia menilai hal itu tidak lucu. Bagi Lita, konteks publik membuat ejekan tersebut terlihat dan terdengar oleh banyak orang, sementara orang yang dituju harus menghadapi komentar yang merendahkan dirinya. Karena itu, ia menyayangkan tindakan body shaming terhadap Minola. Pandangan tersebut disampaikan sebagai respons atas ejekan yang beredar, dengan pesan utama bahwa humor tidak seharusnya menjadikan penampilan seseorang sebagai bahan penghinaan.

Pernyataan Lita juga membedakan candaan yang tidak merendahkan dengan ucapan yang menjadikan tubuh seseorang sasaran ejekan. Ia tidak menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan hanya karena disampaikan dengan maksud bercanda. Dalam kasus Minola, perhatian Lita tertuju pada kenyataan bahwa komentar tersebut diarahkan kepada seorang individu dan muncul di hadapan khalayak. Keterangan yang dikutip pada 27 Oktober 2026 itu menyampaikan rasa sesalnya atas perlakuan tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa sebuah candaan dapat melukai ketika isinya menghina. Lita menyampaikan pandangan itu tanpa memperluasnya menjadi penilaian terhadap hal-hal lain di luar ejekan yang dialami Minola.

Lita Gading mengingatkan bahwa komentar yang dianggap sekadar candaan oleh penulisnya dapat terasa menyakitkan bagi orang yang menjadi sasaran. Menurutnya, apabila kata-kata yang dilontarkan tidak menyenangkan dan merugikan pihak lain, ucapan tersebut dapat dipandang sebagai perbuatan tidak menyenangkan dan berpotensi digugat. Peringatan itu disampaikan di tengah ramainya komentar yang menyerang Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, termasuk komentar yang menyasar penampilan fisiknya. Lita menekankan bahwa ruang digital bukan tempat tanpa konsekuensi: tulisan yang diunggah dapat dibaca banyak orang, disimpan, dan menjadi bahan pertimbangan ketika seseorang merasa dirugikan. Karena itu, pengguna media sosial perlu memahami dampak ucapannya sebelum menekan tombol kirim.

Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian warganet yang melontarkan hinaan demi memperoleh perhatian, keterlibatan, atau tambahan pengikut. Menurut Lita, mengejar popularitas dengan cara menyakiti orang lain bukan tindakan yang patut dibenarkan. Ramainya respons mungkin memberi keuntungan sesaat bagi akun, tetapi dapat meninggalkan luka bagi orang yang menerima serangan serta memperkeruh percakapan publik. Warganet sebaiknya tidak menjadikan tubuh, penampilan, atau kondisi pribadi seseorang sebagai bahan olok-olok. Kritik terhadap suatu tindakan atau pendapat pun dapat disampaikan dengan bahasa yang santun, tanpa penghinaan. Lita mengajak publik membela pihak yang dianggap benar secara bijak, bukan dengan membalas serangan melalui komentar kasar yang justru memperpanjang persoalan.

Ajakan tersebut juga mencakup penggunaan akal sehat ketika menanggapi isu yang sedang ramai. Sebelum berkomentar, pengguna dapat berhenti sejenak dan mempertimbangkan apakah ucapannya relevan, benar, serta berpotensi melukai pihak lain. Lita menyatakan dukungannya kepada Minola dan mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak seharusnya berubah menjadi serangan pribadi.

Baca juga: Panen Padi Bersama Petani, Babinsa Perkuat Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan | DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber | Marine Force Lampung Uji Kemampuan Tempur Jarak Dekat Serta Serangan Malam Di SGS 2026