Kabupaten Seruya | Helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat mengalami kecelakaan saat menjalankan misi water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11). Insiden tersebut terjadi ketika awak dan personel di dalam helikopter sedang bertugas mendukung penanganan karhutla. Informasi awal menyebut dua prajurit TNI meninggal dunia, satu orang masih dalam pencarian, sementara lima lainnya selamat dan menjalani perawatan di RSUD Kuala Pembuang.
Water bombing merupakan upaya pemadaman dengan menjatuhkan air dari udara ke titik kebakaran. Misi itu menjadi bagian dari penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan sekitar Tanjung Puting. Kecelakaan helikopter tersebut berdampak langsung pada personel yang berada di dalam pesawat, sekaligus menimbulkan perhatian terhadap kondisi para korban yang selamat. Mereka dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis, sedangkan upaya pencarian terhadap satu prajurit yang belum ditemukan masih berlangsung. Data korban yang disampaikan pada tahap awal dapat diperbarui seiring proses penanganan di lapangan.
Peristiwa itu berlangsung dalam konteks operasi udara untuk membantu mengatasi kebakaran, tetapi penyebab kecelakaan belum dapat dipastikan. Informasi yang tersedia belum menjelaskan kronologi rinci sebelum helikopter jatuh maupun kondisi pesawat ketika menjalankan tugas. Karena itu, faktor penyebab tidak dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan dan penyelidikan selesai. Pihak terkait masih menangani pencarian korban serta memastikan kondisi personel yang selamat. Perkembangan mengenai insiden, termasuk hasil penyelidikan, perlu merujuk pada keterangan resmi berikutnya. Untuk sementara, fakta utama yang diketahui adalah kecelakaan terjadi saat Mi-17V5 melaksanakan misi pemadaman karhutla, dengan dua prajurit meninggal dunia, seorang masih dicari, dan lima orang selamat serta dirawat di RSUD Kuala Pembuang.
Pangdam XIII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin menyampaikan bahwa helikopter Mi-17 yang mengalami kecelakaan saat menjalankan misi water bombing di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting membawa delapan kru. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, lima orang telah mendapatkan perawatan, dua prajurit dipastikan meninggal dunia, sementara satu kru lainnya masih dalam pencarian. Informasi tersebut menggambarkan kondisi para personel setelah insiden, dengan upaya pencarian dan penanganan korban menjadi perhatian utama.
Dua prajurit TNI Angkatan Darat yang gugur dalam kecelakaan itu adalah Letkol Cpn (Anum) Dudi Firmansyah dan Kapten Cpn (Anum) Nurhafiz Akbar. Nama dan pangkat keduanya disampaikan sebagai bagian dari keterangan mengenai korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Gugurnya dua personel itu menjadi kehilangan bagi keluarga, satuan, serta rekan-rekan yang bertugas bersama mereka. Keterangan resmi mengenai identitas korban juga membantu memastikan informasi yang beredar merujuk pada data yang telah disampaikan oleh pihak terkait.
Dudi Firmansyah direncanakan disemayamkan di Semarang, sedangkan Nurhafiz Akbar disemayamkan di Bandung. Penyebutan lokasi tersebut memberikan informasi mengenai tempat persemayaman masing-masing prajurit kepada masyarakat dan pihak yang ingin menyampaikan penghormatan terakhir. Pada saat yang sama, status satu kru yang belum ditemukan masih menjadi bagian penting dari perkembangan penanganan kecelakaan.
Prajurit yang masih dalam pencarian adalah Sertu (Anum) Heri Prasetyo. Pangdam menyebut satu orang masih dicari setelah lima kru memperoleh perawatan dan dua lainnya dinyatakan meninggal dunia. Dengan demikian, dari keseluruhan delapan kru yang berada di helikopter, kondisi enam orang telah diketahui melalui keterangan tersebut, sementara keberadaan Heri belum dipastikan. Perkembangan pencarian menjadi hal yang perlu ditunggu, dan informasi lanjutan mengenai kondisi para kru sebaiknya mengacu pada pembaruan resmi dari pihak berwenang. Data yang disampaikan Pangdam memberikan gambaran awal yang jelas tentang identitas korban, jumlah personel yang dirawat, serta satu prajurit yang masih dicari setelah kecelakaan helikopter dalam misi pemadaman kebakaran itu.
Kepala Penerangan Kodam XXII Tambun Bungai, Kolonel Arh Dodo Sahata Manullang, menyampaikan keterangan mengenai urutan penerbangan helikopter Mi-17V5 yang terlibat kecelakaan saat menjalankan misi water bombing. Berdasarkan informasi yang tersedia, helikopter tersebut lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB. Tujuan penerbangannya adalah Telaga Pulang. Keterangan itu menjadi acuan kronologi awal yang disampaikan pihak TNI AD kepada publik. Tidak ada tahapan penerbangan lain yang dirinci dalam keterangan tersebut, sehingga urutan peristiwa yang dapat dipastikan terbatas pada keberangkatan, tujuan, dan waktu kejadian yang disebutkan.
Sekitar pukul 11.18 WIB, Mi-17V5 dilaporkan mengalami kecelakaan di wilayah Kabupaten Seruya, Kalimantan Tengah. Insiden itu terjadi ketika helikopter sedang mengambil air laut untuk mendukung misi pemadaman kebakaran melalui water bombing. Keterangan Kolonel Dodo menghubungkan kecelakaan dengan kegiatan pengambilan air dalam misi tersebut, tetapi rincian mengenai bagaimana insiden berlangsung tidak dipaparkan. Karena itu, informasi kronologi yang disampaikan sejauh ini hanya menjelaskan waktu perkiraan, lokasi, serta konteks tugas helikopter. Tidak tersedia keterangan tambahan mengenai kondisi penerbangan sesaat sebelum kecelakaan ataupun penyebabnya.
Setelah insiden diketahui, TNI AD bersama tim gabungan melaksanakan operasi penyelamatan. Upaya tersebut dilakukan melalui jalur udara dan laut. Keterangan yang tersedia tidak menguraikan rincian teknis operasi, waktu dimulainya masing-masing upaya, ataupun tahapan evakuasi di lokasi. Dengan demikian, bagian yang dapat dipastikan mengenai respons adalah keterlibatan TNI AD dan tim gabungan serta penggunaan dua jalur, yakni udara dan laut. Rangkaian informasi ini menggambarkan garis besar kronologi dari keberangkatan Mi-17V5 hingga pelaksanaan operasi penyelamatan, tanpa menambahkan urutan kejadian yang belum disampaikan secara resmi. Penjelasan lebih lanjut mengenai proses penyelamatan maupun perkembangan penanganan insiden tidak tercantum dalam keterangan kronologi tersebut.
Penyebab jatuhnya helikopter Mi-17 ketika menjalankan misi water bombing di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting belum diketahui. Hingga kini, peristiwa tersebut masih dalam proses penyelidikan. Belum ada keterangan resmi yang memastikan faktor yang menyebabkan helikopter mengalami kecelakaan. Karena itu, informasi mengenai penyebab kejadian perlu menunggu hasil penyelidikan dari pihak berwenang. Penjelasan tersebut penting untuk membedakan fakta yang telah diketahui dari dugaan yang belum dapat dipastikan. Perkembangan penanganan dan penyelidikan menjadi perhatian setelah kecelakaan itu menewaskan dua prajurit TNI, sementara sejumlah korban lainnya selamat.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan meninjau lokasi kejadian. Keduanya juga menemui korban yang selamat di RSUD Kuala Pembuang. Kunjungan tersebut dilakukan di tengah upaya penanganan setelah kecelakaan helikopter, termasuk perhatian terhadap para korban yang menjalani perawatan. Gubernur menyampaikan belasungkawa atas gugurnya dua prajurit TNI dalam peristiwa tersebut. Pernyataan itu menjadi ungkapan duka dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah atas kehilangan yang dialami keluarga korban dan institusi TNI. Tidak ada keterangan mengenai penyebab kecelakaan yang disampaikan melalui kunjungan tersebut; penyelidikan tetap berlangsung.
Kapolda Kalimantan Tengah menyatakan bahwa evakuasi serta pertolongan kepada para korban akan terus dilakukan. Upaya tersebut mencakup penanganan yang diperlukan bagi korban dalam proses evakuasi maupun yang telah berada di rumah sakit. Keterangan Kapolda itu menegaskan bahwa pekerjaan untuk menolong korban masih berjalan, tanpa memberikan kesimpulan mengenai penyebab jatuhnya helikopter. Sampai penyelidikan menghasilkan penjelasan, penyebab kecelakaan Mi-17 di Tanjung Puting tetap belum dapat dipastikan. Informasi yang dapat disampaikan saat ini terbatas pada proses penyelidikan, peninjauan oleh Gubernur dan Kapolda, kunjungan kepada korban selamat, ungkapan belasungkawa, serta keberlanjutan evakuasi dan pertolongan. Rincian lebih lanjut mengenai perkara ini menunggu keterangan resmi berikutnya dari pihak terkait.
Baca juga: Panduan Menyeberang dari Batam ke Tanjung Balai Karimun: Kapal, Tarif, dan Durasi | Peserta Audax Asal Sleman Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Kulon Progo | Rangkaian Peristiwa Keamanan di Jakarta: Balap Liar, Pencurian, dan Kecelakaan Maut
16 kunjungan



