Jakarta | Program religi Cahaya Hati Indonesia mengadakan kegiatan tausiyah di Masjid Baitul Mu’minin, Jalan Malaka II, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Habib Muhammad Syahab dan Ustadzah Lulung Mumtaza sebagai penceramah, dengan Ustadz Abdul Kaafi bertugas sebagai pembawa acara. Jemaah tampak memadati masjid untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di wilayah Jakarta Timur tersebut.
Pelaksanaan tausiyah di Masjid Baitul Mu’minin menjadi agenda Cahaya Hati Indonesia pada tanggal dan lokasi yang telah ditetapkan. Kehadiran dua penceramah, Habib Muhammad Syahab dan Ustadzah Lulung Mumtaza, menjadi bagian utama dari kegiatan itu. Sementara itu, Ustadz Abdul Kaafi memandu jalannya acara sebagai pembawa acara. Nama-nama tersebut tercatat dalam susunan pengisi kegiatan, tanpa keterangan tambahan mengenai materi atau tema tausiyah.
Masjid Baitul Mu’minin yang beralamat di Jalan Malaka II, Duren Sawit, menjadi tempat berlangsungnya pertemuan jemaah dan para pengisi acara. Informasi mengenai waktu, tempat, dan penceramah memberikan gambaran pokok tentang kegiatan yang digelar oleh program religi tersebut. Dengan demikian, tausiyah Cahaya Hati Indonesia berlangsung di Jakarta Timur pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dengan Habib Muhammad Syahab serta Ustadzah Lulung Mumtaza sebagai penceramah dan Ustadz Abdul Kaafi sebagai pembawa acara. Kehadiran jemaah di masjid menandai kegiatan ini sebagai agenda keagamaan yang diikuti masyarakat setempat maupun peserta yang datang untuk menyimak tausiyah. Rincian lain mengenai rangkaian acara tidak disertakan dalam informasi yang tersedia, sehingga uraian ini berfokus pada penyelenggara, lokasi, tanggal, serta nama-nama yang terlibat. Kegiatan tersebut menempatkan Masjid Baitul Mu’minin sebagai lokasi tausiyah Cahaya Hati Indonesia di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Suasana di Masjid Baitul Mu’minin mulai ramai sejak pagi menjelang tausiyah Cahaya Hati Indonesia. Jemaah berdatangan secara bertahap sebelum acara dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB. Seiring waktu, puluhan warga memenuhi area masjid untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka membuat lingkungan masjid semakin dipadati menjelang dimulainya tausiyah, sementara para peserta bersiap mengikuti acara secara langsung. Antusiasme tampak dari banyaknya jemaah yang memilih datang lebih awal, sehingga mereka telah berada di lokasi sebelum waktu yang ditetapkan.
Peserta yang hadir berasal dari beragam kalangan. Ibu-ibu, bapak-bapak, serta anak muda tampak bergabung dalam kegiatan yang sama. Keberagaman usia dan kelompok tersebut menunjukkan bahwa tausiyah ini menarik perhatian berbagai lapisan jemaah, bukan hanya satu kelompok tertentu. Mereka berkumpul di masjid dengan tujuan mengikuti penyampaian tausiyah secara langsung. Dengan puluhan warga yang hadir dan peserta dari beberapa kalangan, suasana menjelang acara berlangsung ramai, namun tetap berpusat pada kegiatan keagamaan yang akan segera dimulai.
Jemaah yang memadati masjid juga tidak seluruhnya berasal dari Jakarta dan kawasan sekitarnya. Sebagian peserta datang dari luar daerah untuk mengikuti kegiatan secara langsung di Masjid Baitul Mu’minin. Kehadiran mereka menambah jangkauan asal peserta dan memperlihatkan bahwa tausiyah tersebut mengundang perhatian melampaui lingkungan sekitar masjid. Sejak kedatangan pada pagi hari hingga acara mendekati pukul 10.00 WIB, para jemaah dari berbagai wilayah dan latar kelompok berkumpul di lokasi. Mereka datang untuk hadir langsung, bersama warga setempat, dalam tausiyah Cahaya Hati Indonesia. Pemandangan masjid yang dipadati peserta sebelum acara dimulai menjadi gambaran tingginya minat jemaah terhadap kegiatan tersebut, dengan ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak muda berada di yang hadir.
Di tengah suasana tausiyah yang dihadiri banyak jemaah, sejumlah peserta menyampaikan harapan agar TV dan MNC Group terus menghadirkan program keagamaan bagi masyarakat. Bagi mereka, tayangan dan kegiatan bernuansa religi dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperoleh pengetahuan serta bahan renungan di tengah kesibukan sehari-hari. Harapan tersebut mencerminkan keinginan jemaah terhadap keberlanjutan program, bukan keterangan tentang rencana atau komitmen dari pihak penyelenggara. Peserta berharap pembahasan keagamaan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tetap mengacu pada nilai-nilai yang relevan dalam kehidupan. Dengan begitu, masyarakat dari beragam latar belakang dapat mengikuti materi sesuai kebutuhan masing-masing.
Jemaah juga berharap program semacam ini dapat menghadirkan beragam topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus memberi ruang bagi pemahaman agama yang lebih luas. Materi yang disampaikan, menurut harapan peserta, sebaiknya dapat membantu masyarakat mengenal nilai kebaikan, memperdalam wawasan, dan mempertimbangkan penerapannya secara bijaksana. Mereka menginginkan adanya penyajian yang tertata dan narasumber yang menyampaikan pesan secara jelas, tanpa mengurangi suasana yang hangat dan terbuka. Harapan tersebut disampaikan sebagai aspirasi para peserta yang hadir, bukan sebagai penilaian bahwa semua penonton telah memperoleh manfaat tertentu. Setiap orang tentu dapat memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda ketika mengikuti tausiyah maupun tayangan keagamaan.
Selain mengharapkan materi yang informatif, peserta berharap TV dan MNC Group terus memberi perhatian pada program yang membawa pesan keagamaan dan dapat diakses masyarakat. Keberlanjutan tayangan semacam itu dinilai penting oleh jemaah sebagai pilihan untuk mengikuti pembahasan religi di luar kegiatan langsung di masjid. Mereka berharap konten yang dihadirkan tetap mengutamakan kejelasan informasi, sikap yang santun, dan tema yang bermanfaat bagi berbagai kalangan. Namun, harapan ini tetap merupakan pandangan peserta, bukan kepastian mengenai kebijakan media atau dampak yang akan dihasilkan. Para jemaah menyampaikan aspirasi tersebut agar program keagamaan dapat terus menjadi bagian dari pilihan tontonan publik, dengan isi yang memberi ilmu dan manfaat sesuai harapan mereka.
Elita, Ketua Majelis Taklim Baitul Mu’minin, menyampaikan rasa syukur atas kembali terselenggaranya program Cahaya Hati Indonesia di masjid tersebut. Baginya, kesempatan menjadi tuan rumah lagi merupakan hal yang patut disambut dengan penuh penghargaan. Kehadiran program ini dinilai membawa ruang belajar yang bermanfaat bagi jemaah, sekaligus menghidupkan kegiatan keagamaan di lingkungan masjid. Ia menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada Masjid Baitul Mu’minin untuk kembali menjadi tempat berlangsungnya tausiyah.
Menurut Elita, kegiatan seperti Cahaya Hati Indonesia memberi jemaah kesempatan untuk memperdalam ilmu agama. Tausiyah dapat menjadi sarana memperoleh pemahaman dan wawasan, sementara pertemuan bersama sesama jemaah turut mendorong semangat untuk terus belajar. Ilmu yang disampaikan tidak berhenti sebagai bahan pengetahuan, melainkan diharapkan dapat direnungkan dan digunakan sebagai panduan dalam menjalani keseharian. Dengan demikian, manfaat kegiatan dapat dirasakan setelah acara berakhir, melalui sikap dan pilihan yang lebih selaras dengan nilai-nilai agama.
Ia juga memandang bahwa kesempatan mengikuti kegiatan keagamaan secara bersama-sama memiliki nilai penting bagi jemaah. Selain menambah pengetahuan, tausiyah dapat mengingatkan peserta untuk menjaga komitmen dalam mengamalkan ajaran yang telah dipelajari. Harapan tersebut sejalan dengan tujuan agar materi keagamaan hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya dipahami secara teori. Bagi Majelis Taklim Baitul Mu’minin, penyelenggaraan kembali ini menjadi kesempatan untuk mendukung jemaah dalam memperluas pemahaman dan membangun kebiasaan menerapkan ilmu secara bertahap.
Rasa syukur yang disampaikan Elita juga mencerminkan sambutan pengelola terhadap program yang kembali hadir di masjid. Kepercayaan penyelenggara dan antusiasme jemaah membuat kegiatan ini memiliki arti tersendiri bagi lingkungan setempat. Melalui tausiyah, peserta dapat menyimak pesan keagamaan sekaligus membawa pulang bahan renungan untuk diterapkan dalam hubungan dengan keluarga, masyarakat, dan kehidupan pribadi.






