Jejak Hj. Suharti, Perintis Ayam Goreng yang Berawal dari Dagangan Keliling

Kepergian Muhammad Lisman Puja Kesuma, Ketua Fraksi Gerindra DPRD DIY

Yogyakarta | Hj. Suharti, pendiri usaha Ayam Goreng Suharti, meninggal dunia pada usia 86 tahun, Jumat (30/10), pukul 23.21 WIB. Kabar duka tersebut diumumkan oleh pihak keluarga melalui akun Instagram resmi @ayamgorengsuhartiofficial pada Sabtu (31/10). Informasi itu menyampaikan kepergian sosok yang dikenal sebagai perintis usaha kuliner tersebut, sekaligus mengabarkan kehilangan yang dirasakan oleh keluarga dan orang-orang yang mengenalnya.

Dalam pernyataan yang dibagikan, keluarga menyampaikan ungkapan belasungkawa atas wafatnya Hj. Suharti. Almarhumah disebut sebagai “ibunda dan eyang tercinta,” ungkapan yang menggambarkan kedekatan serta kasih sayang keluarga kepada beliau. Penggunaan sebutan tersebut juga menunjukkan bahwa kabar ini bukan hanya mengenai sosok pendiri sebuah usaha, tetapi juga tentang seorang ibu dan nenek yang memiliki tempat istimewa di tengah keluarganya.

Pengumuman keluarga menjadi sumber informasi mengenai waktu wafat dan usia Hj. Suharti. Tidak ada keterangan mengenai penyebab kematiannya dalam pengumuman tersebut, sehingga informasi itu tidak dapat dipastikan dari pernyataan yang disampaikan. Dengan demikian, kabar yang dapat dipastikan adalah bahwa beliau berpulang pada Jumat malam dan berita tersebut diumumkan kepada publik keesokan harinya melalui kanal resmi keluarga.

Kepergian Hj. Suharti menandai kabar duka bagi keluarga, sekaligus membawa perhatian kepada perjalanan hidup seorang perintis yang namanya melekat pada Ayam Goreng Suharti. Namun, dalam menyampaikan kabar ini, keluarga menempatkan ungkapan kasih dan kehilangan sebagai inti pesannya. Sebutan “ibunda dan eyang tercinta” menyampaikan penghormatan sekaligus rasa kehilangan tanpa perlu ditambahkan rincian yang tidak disampaikan secara resmi. Kabar wafatnya pun menjadi awal bagi publik untuk mengenang sosok Hj. Suharti, sementara keluarga menyampaikan duka atas berpulangnya orang yang mereka cintai.

Jenazah Hj. Suharti disemayamkan di rumah duka yang berada di RM Ayam Goreng Suharti, Jalan Laksda Adisucipto Nomor 208, Yogyakarta. Lokasi tersebut menjadi tempat keluarga menerima kerabat, sahabat, dan masyarakat yang hendak menyampaikan belasungkawa serta memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran para pelayat diharapkan dapat menjadi dukungan bagi keluarga dalam menghadapi masa kehilangan ini.

Rumah duka di lingkungan rumah makan yang dirintis Hj. Suharti juga memiliki makna tersendiri bagi banyak orang yang mengenal perjalanan hidup dan usahanya. Di tempat itu, keluarga dapat berkumpul dan mendampingi almarhumah sebelum prosesi pemakaman. Informasi mengenai lokasi disampaikan agar pihak yang ingin melayat dapat mengetahui alamat dengan jelas dan mengatur perjalanan mereka ke Jalan Laksda Adisucipto Nomor 208, Yogyakarta.

Pemakaman Hj. Suharti direncanakan berlangsung pada Sabtu (31/10), pukul 14.00 WIB, di makam keluarga Candisari, Bendan, Tirtomarni, Kalasan. Waktu tersebut merupakan jadwal yang direncanakan oleh keluarga, sehingga tidak dimaksudkan sebagai keterangan bahwa prosesi pemakaman telah berlangsung. Rencana ini menjadi acuan bagi kerabat dan pelayat yang hendak mengikuti atau mengantarkan almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.

Keluarga menyampaikan permohonan maaf apabila semasa hidup Hj. Suharti pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Permohonan itu disampaikan kepada masyarakat, kerabat, dan semua pihak yang pernah berhubungan dengannya. Keluarga juga berharap agar setiap orang yang mengenal almarhumah berkenan memaafkan kesalahan serta kekhilafannya, sehingga kepergiannya diiringi doa dan niat baik.

Di tengah suasana duka, keluarga memohon doa agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Doa dari masyarakat diharapkan menjadi pengiring bagi Hj. Suharti, sekaligus memberi ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan. Bagi para pelayat, penghormatan dapat disampaikan dengan menjaga ketertiban di rumah duka dan mengikuti informasi waktu pemakaman sesuai rencana yang telah disampaikan keluarga.

Pada 1956, ketika usianya sekitar 26 tahun, Suharti mulai merintis usaha kuliner dengan menjajakan ayam goreng buatannya. Langkah awal ini menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya: ia tidak memulai dari sebuah tempat usaha yang menetap, melainkan membawa dagangan langsung kepada orang-orang. Ayam goreng yang dibuatnya menjadi produk yang ia tawarkan dari satu wilayah ke wilayah lain. Dalam merintis usaha tersebut, Suharti mendapat bantuan dari sang ayah. Dengan dukungan itu, ia mulai menjalankan kegiatan berjualan keliling, menghadapi pekerjaan membawa dan menawarkan dagangan secara langsung. Perjalanan ini menggambarkan upaya awalnya memperkenalkan ayam goreng racikannya kepada calon pembeli.

Untuk membawa dagangan, Suharti menggunakan bakul besar berisi ayam goreng dan mengangkutnya dengan sepeda tua. Bakul tersebut menjadi bagian utama dari cara ia berjualan: ayam goreng dibawa bersamanya saat ia berkeliling, sementara sepeda menjadi sarana untuk menempuh perjalanan. Gambaran itu menunjukkan bentuk sederhana usaha yang dirintisnya pada masa tersebut. Dengan bakul besar dan sepeda tua, ia menawarkan hasil buatannya tanpa perantara, mendatangi berbagai tempat untuk mencari pembeli. Bantuan ayahnya menyertai langkah awal itu, ketika Suharti menjalankan usaha yang bertumpu pada dagangan yang dibawanya sendiri. Tidak ada rincian lain yang diperlukan untuk memahami pokok perjuangan awal tersebut: ia mulai berjualan, membawa ayam goreng, dan menawarkannya secara keliling.

Wilayah yang ia jelajahi membentang dari Yogyakarta hingga Surakarta. Dengan demikian, kegiatan berjualan Suharti tidak hanya berlangsung di satu tempat, tetapi mencakup perjalanan kedua wilayah tersebut. Ia menawarkan ayam goreng buatannya sepanjang perjalanan keliling itu, dengan bakul besar di sepeda tua sebagai sarana membawa dagangan. Pada usia sekitar 26 tahun, ia memulai usaha tersebut pada 1956 bersama bantuan sang ayah. Rangkaian fakta ini memperlihatkan awal perintisan yang mengandalkan kerja langsung dan mobilitas: membuat ayam goreng, membawanya, lalu menawarkan dagangan kepada orang-orang di wilayah yang dijangkau. Dari cara berjualan keliling inilah kisah awal usaha kuliner Suharti bermula, sebelum rincian perjalanan berikutnya menjadi bagian tersendiri dari jejak usahanya.

Dalam kiprah kuliner Indonesia, Hj. Suharti menempati tempat tersendiri sebagai sosok di balik usaha ayam goreng yang dikenal luas. Namanya lekat dengan sajian bercita rasa khas serta taburan kremas yang menjadi ciri penting hidangan tersebut. Keistimewaan ini tidak hanya terletak pada ayam yang digoreng, tetapi juga pada perpaduan rasa dan tekstur yang membedakan penyajiannya. Dalam kisah perjalanan usahanya, makanan hadir bukan sekadar sebagai produk dagangan, melainkan sebagai bagian dari tradisi kuliner yang memiliki akar keluarga dan pengetahuan memasak yang diwariskan. Karena itu, mengenal sosok Suharti juga berarti melihat kaitan usaha kuliner dan sejarah cita rasa ayam goreng di Indonesia.

Suharti juga merupakan cucu Mbok Berek, sosok yang dikenal sebagai pelopor ayam goreng Kalasan. Hubungan keluarga ini memberi konteks penting untuk memahami latar kuliner yang menyertai perjalanan Suharti. Warisan tersebut bukan berarti bahwa setiap hidangan atau cara memasaknya sama, tetapi menunjukkan adanya keterhubungan dengan tradisi ayam goreng yang telah dikenal lebih dahulu. Di dalam keluarga dan lingkungan kuliner, resep, teknik, serta ingatan tentang rasa dapat menjadi bekal dalam merintis usaha. Kisah Suharti karenanya dapat ditempatkan dalam jalur sejarah yang lebih luas, sambil tetap memperhatikan ciri tersendiri yang melekat pada sajian ayam goreng dan kremas yang ia kenalkan kepada para penikmat.

Dalam menempatkan kisah ini secara cermat, penting untuk membedakan fakta yang diketahui dari penafsiran yang lebih jauh. Suharti dikenal sebagai perintis usaha ayam goreng dengan karakter rasa khas dan taburan kremas, sementara Mbok Berek dikenang sebagai pelopor ayam goreng Kalasan. Keduanya terhubung melalui garis keluarga, sekaligus melalui perhatian pada olahan ayam goreng sebagai bagian dari khazanah makanan Indonesia.