Serang | Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyebut program Anyer–Panarukan 3R, yang mencakup Road, Route, dan Roots, sebagai salah satu upaya untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pernyataan tersebut menempatkan program 3R dalam konteks pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya melalui keterhubungan kawasan yang berada di sepanjang jalur Anyer–Panarukan. Penguatan UMKM dipandang menjadi bagian penting dalam mendorong peran masyarakat dalam aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Menurut Ratu, konsep Route diarahkan untuk menggerakkan perekonomian di sepanjang jalur Anyer–Panarukan. Arah ini menunjukkan bahwa jalur tersebut tidak hanya dipahami sebagai lintasan, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, keberadaan rute diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat geliat usaha lokal dan mendukung perkembangan UMKM yang berada di kawasan sepanjang jalur.
Pernyataan Bupati Serang itu disampaikan dalam talkshow setelah peluncuran program Anyer–Panarukan 3R pada Minggu (11/10). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan kaitan konsep 3R dan penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM. Penjelasan itu menjadi salah satu gambaran mengenai arah program, terutama pada aspek Route yang ditujukan untuk mendorong pergerakan ekonomi di sepanjang jalur Anyer–Panarukan.
Program Anyer–Panarukan 3R dengan demikian diposisikan sebagai salah satu upaya yang menghubungkan gagasan pengembangan jalur dengan kepentingan ekonomi lokal. Fokus pada Route memberikan penekanan pada pentingnya menggerakkan perekonomian di kawasan yang dilalui jalur tersebut. Sementara itu, penyebutan UMKM menegaskan bahwa masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi bagian dari perhatian dalam arah penguatan ekonomi yang disampaikan pemerintah daerah.
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyoroti potensi Jalan Raya Pos sebagai ruang pergerakan ekonomi masyarakat. Menurut pandangannya, jalur tersebut tidak hanya perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah pembangunan jalan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi di sepanjang kawasan yang dilaluinya. Pemanfaatan itu diharapkan berlangsung secara terarah dengan tetap memperhatikan nilai sejarah yang melekat pada Jalan Raya Pos.
Ratu menyampaikan bahwa pengembangan jalur Anyer–Panarukan melalui pendekatan 3R diharapkan mampu mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah. Pergerakan masyarakat dan aktivitas yang tumbuh di sekitar Jalan Raya Pos dinilai dapat menjadi ruang bagi UMKM untuk berkembang. Kuliner juga menjadi salah satu sektor yang diharapkan memperoleh dorongan dari program tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan jalur ini diarahkan agar tidak berhenti pada pelestarian atau pengenalan sejarah, tetapi turut mendukung kegiatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Selain UMKM dan kuliner, Ratu melihat adanya peluang untuk mengembangkan sektor wisata. Pengembangan tersebut mencakup wisata religi dan wisata sejarah yang berkaitan dengan keberadaan serta perjalanan Jalan Raya Pos. Potensi itu dapat diperkenalkan melalui pengelolaan jalur yang menggabungkan nilai sejarah dengan aktivitas masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan membuat Jalan Raya Pos memiliki fungsi yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari warisan sejarah sekaligus ruang yang mendorong pergerakan ekonomi.
Dalam pandangan Ratu, pengembangan Jalan Raya Pos perlu dilakukan dengan mempertahankan makna dan karakter yang dimilikinya. Pada saat yang sama, jalur tersebut dapat diarahkan untuk mendukung pertumbuhan UMKM, kuliner, serta wisata religi dan sejarah. Keterpaduan unsur sejarah, kegiatan ekonomi, dan pengembangan wisata menjadi dasar penting agar program jalur Anyer–Panarukan 3R memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa menghilangkan nilai yang menjadi identitasnya.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menilai jalur Anyer–Panarukan memiliki tanggung jawab besar terhadap kehidupan masyarakat di sepanjang lintasannya. Sebagai jalur nasional, ruas ini tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antardaerah, tetapi juga menjadi ruang berlangsungnya berbagai aktivitas ekonomi. Pergerakan kendaraan, distribusi barang, serta mobilitas warga menjadikan jalur tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan perdagangan.
Menurut pandangan tersebut, keberadaan jalur Anyer–Panarukan berkaitan erat dengan kehidupan para pedagang yang menjalankan usaha di kawasan sekitarnya. Warung, kios, usaha kuliner, dan bentuk perdagangan lainnya memanfaatkan arus pengguna jalan sebagai bagian dari kegiatan bisnis sehari-hari. Karena itu, perhatian terhadap jalur nasional ini perlu mencakup dampaknya terhadap masyarakat, bukan hanya aspek infrastruktur atau kelancaran lalu lintas.
Yusuf Rio Wahyu Prayogo juga menekankan bahwa jalur Anyer–Panarukan tidak cukup dipertahankan semata-mata sebagai peninggalan sejarah atau simbol eksistensi masa lalu. Nilai sejarahnya tetap penting, tetapi masa depan jalur tersebut perlu dijaga melalui penguatan kegiatan ekonomi yang memberi manfaat nyata. Pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan warisan sejarah dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Pengembangan UMKM di sepanjang jalur tersebut dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produk, penataan lokasi usaha, pelayanan kepada pengguna jalan, serta promosi potensi lokal. Langkah semacam itu berpeluang mendorong kegiatan ekonomi dan bisnis yang lebih teratur, sekaligus memperkuat daya tarik kawasan. Dengan pendekatan ini, jalur Anyer–Panarukan dapat tetap dihormati sebagai bagian dari sejarah, namun juga terus berfungsi sebagai ruang produktif bagi masyarakat dan pedagang.
Rio melihat pengembangan ekonomi di sepanjang jalur Anyer–Panarukan semakin penting untuk diperhatikan. Jalur nasional tersebut kini berada dalam situasi persaingan dengan keberadaan Tol Trans Jawa, sehingga kawasan-kawasan yang dilintasi perlu tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat dan pelaku perjalanan. Pengembangan ekonomi di jalur ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga dengan keberlangsungan usaha masyarakat yang berada di sekitar ruas jalan. Karena itu, pembahasan mengenai masa depan jalur Anyer–Panarukan perlu mempertimbangkan perannya sebagai ruang ekonomi yang menghubungkan berbagai daerah.
Menurut Rio, masih banyak pengguna jalan yang melintas di jalur Anyer–Panarukan. Ia juga menyebut bahwa terdapat orang-orang yang menuju Bali melalui Situbondo. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa jalur ini masih dipandang memiliki arti bagi perjalanan antardaerah, meskipun kini harus bersaing dengan pilihan perjalanan melalui Tol Trans Jawa. Namun, pernyataan itu tidak serta-merta menjadi ukuran mengenai volume lalu lintas ataupun jaminan terhadap perkembangan usaha tertentu. Hal yang ditekankan adalah pentingnya melihat peluang ekonomi yang tetap terdapat di sepanjang jalur tersebut, dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Rio menilai pertumbuhan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalur Anyer–Panarukan merupakan tugas bersama. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada satu pihak, melainkan membutuhkan perhatian serta keterlibatan berbagai unsur yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi di kawasan jalur nasional itu. Masyarakat, pelaku usaha, dan pihak-pihak terkait perlu melihat pengembangan kawasan sebagai kepentingan bersama tanpa mengabaikan karakter setiap daerah. Dengan cara pandang tersebut, jalur Anyer–Panarukan dapat terus dibicarakan sebagai ruang yang memiliki potensi untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai jalur yang tetap relevan di tengah keberadaan Tol Trans Jawa.
Baca juga: TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat | Kodim 0906/Kkr Hadir Untuk Masyarakat, Gelar Donor Darah Serta Pengobatan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menyambut HUT TNI | HUT TNI Ke-81 Tahun 2026, Kodim 1714/Puncak Jaya : TNI Peduli Sampah Bersama Masyarakat

