Banjir Padang Berdampak pada Tiga Kecamatan, 672 Warga Mengungsi

Banjir Rendam Sejumlah Wilayah Padang, Warga di Belasan Lokasi Masih Dievakuasi

Kota Padang | Banjir melanda sejumlah wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu, 10 Oktober. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang merujuk pada data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Provinsi Sumatera Barat, kondisi banjir hingga Minggu, 11 Oktober pukul 03.34 WIB, masih belum surut. Peristiwa tersebut berdampak pada tiga kecamatan dan menyebabkan 672 warga mengungsi.

Tiga kecamatan yang terdampak banjir tersebut ialah Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Di Kecamatan Kuranji, genangan melanda Kelurahan Kuranji. Sementara itu, wilayah terdampak di Kecamatan Koto Tangah meliputi Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, dan Lubuk Minturun. Adapun di Kecamatan Nanggalo, banjir tercatat berdampak pada Kelurahan Tabiang Banda Gadang dan Gurun Laweh.

Hujan yang mengguyur wilayah Kota Padang membuat sejumlah kawasan terendam dan mengganggu aktivitas warga. Kondisi genangan yang belum surut juga mendorong proses pengungsian ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah daerah bersama unsur penanggulangan bencana terus memantau situasi di lapangan untuk memastikan kebutuhan warga terdampak dapat ditangani.

Menurut pembaruan data tersebut, pendataan warga terdampak masih dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai jumlah korban, kondisi rumah, serta kebutuhan mendesak di masing-masing wilayah. Evakuasi warga juga masih berlangsung, terutama dari kawasan yang tergenang dan berpotensi mengalami peningkatan ketinggian air. Petugas gabungan berkoordinasi dengan pemerintah setempat dalam melaksanakan penanganan, pemantauan, dan penyelamatan warga.

Hasil pendataan sementara menunjukkan banjir di Padang berdampak pada sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa. Data tersebut mencakup warga yang terdampak langsung oleh genangan dan situasi banjir di sejumlah wilayah. Pendataan masih berlangsung sehingga jumlah kepala keluarga maupun jiwa yang terdampak dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.

Di luar data warga terdampak tersebut, sebanyak 672 jiwa dilaporkan mengungsi di Kecamatan Kuranji, tepatnya di Kelurahan Kuranji. Para pengungsi ditempatkan di beberapa lokasi yang digunakan sebagai tempat perlindungan sementara. Sebanyak 367 jiwa berada di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga di sekitarnya. Selanjutnya, 250 jiwa mengungsi di Mushalla Ar Ridwan, Kampung Tangah, sedangkan 55 jiwa lainnya berada di Warung Jembatan Guo.

Penyebaran pengungsi di sejumlah titik dilakukan untuk menyesuaikan kapasitas tempat penampungan dan kebutuhan keselamatan warga. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa jumlah warga yang mengungsi tidak dapat langsung disamakan dengan angka warga yang tercatat terdampak, karena keduanya merupakan hasil pendataan dengan cakupan berbeda. Sebagian warga terdampak mungkin masih bertahan di rumah atau berada di lokasi lain yang belum tercatat sebagai tempat pengungsian.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa angka warga terdampak maupun pengungsi tersebut masih dalam tahap pendataan dan pemutakhiran. Petugas bersama unsur terkait terus melakukan verifikasi untuk memastikan data mencerminkan kondisi terbaru. Pembaruan informasi diperlukan agar penanganan, distribusi bantuan, serta pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dapat dilakukan secara tepat dan sesuai situasi terkini di Kecamatan Kuranji.

Catatan sementara menunjukkan bahwa banjir berdampak pada kondisi sejumlah rumah di wilayah terdampak. Sebanyak satu rumah tercatat mengalami rusak berat, sementara empat rumah lainnya mengalami rusak sedang. Selain kerusakan tersebut, sekitar 120 rumah terdampak banjir. Data ini masih menjadi gambaran awal mengenai kondisi di lapangan dan menjadi dasar bagi petugas untuk melakukan pendataan serta penanganan terhadap warga dan lingkungan yang terkena dampak.

Gangguan juga terjadi pada akses jalan. Ruas jalan di wilayah Kuranji, tepatnya di sekitar lokasi PDAM daerah Guo, terputus sehingga perjalanan menuju kawasan terdampak menjadi terhambat. Kondisi tersebut menyulitkan pergerakan warga maupun petugas yang perlu menjangkau lokasi untuk melakukan penanganan. Akses yang terputus juga membuat distribusi bantuan dan pemantauan kondisi rumah terdampak memerlukan perhatian lebih, terutama pada titik-titik yang belum dapat dilalui secara langsung.

Tantangan penanganan di lapangan semakin besar karena wilayah terdampak cukup luas. Selain jalan yang terputus di kawasan Kuranji, sejumlah akses lainnya masih terendam sehingga mobilitas menuju beberapa lokasi belum berjalan normal. Situasi ini menuntut pendataan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi, agar kondisi rumah yang rusak maupun terdampak dapat dicatat dengan tepat. Petugas juga perlu mempertimbangkan keterbatasan akses saat menjangkau warga, memantau kebutuhan mereka, serta memastikan upaya penanganan menjangkau kawasan yang terdampak secara merata. Dengan catatan kerusakan yang masih bersifat sementara, informasi mengenai kondisi rumah dan akses jalan dapat diperbarui seiring berlangsungnya pemeriksaan di lapangan.

BPBD Kota Padang bersama instansi terkait melakukan penanganan darurat banjir melalui kaji cepat di lokasi terdampak, pendataan warga, serta pemantauan kondisi permukiman dan akses jalan. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan kebutuhan setiap wilayah teridentifikasi secara akurat, termasuk jumlah warga yang harus mengungsi, kondisi kelompok rentan, dan tingkat kerusakan sarana prasarana. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan, TNI, Polri, dinas teknis, relawan, serta unsur pencarian dan pertolongan.

Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 238 jiwa dari kawasan yang dinilai berisiko. Proses evakuasi diprioritaskan bagi anak-anak, lanjut usia, perempuan, penyandang disabilitas, dan warga yang berada di sekitar aliran sungai atau lokasi dengan genangan tinggi. Petugas terus melakukan penyisiran dan pemantauan untuk mengantisipasi adanya warga yang masih membutuhkan bantuan. Tempat pengungsian juga perlu dikelola dengan memperhatikan keamanan, kebersihan, akses air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan.

Bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsi telah disalurkan oleh pihak terkait. Dukungan tersebut mencakup makanan, air minum, perlengkapan kebersihan, layanan kesehatan, dan kebutuhan mendesak lainnya. Selain penanganan kepada warga, perbaikan tanggul yang jebol di daerah aliran Sungai Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, perlu segera direkomendasikan dan ditindaklanjuti. Penguatan tanggul, pembersihan alur sungai, serta evaluasi kapasitas drainase dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko banjir berikutnya.

BNPB mendorong pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait mengoptimalkan penanganan darurat, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, serta memastikan keselamatan warga selama kondisi belum sepenuhnya pulih. Masyarakat diimbau mewaspadai banjir dan tanah longsor ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung lama. Warga perlu mengenali potensi bahaya di sekitar tempat tinggal, menjaga keselamatan keluarga, memantau informasi resmi, dan segera berpindah ke lokasi yang lebih aman apabila situasi mulai mengancam.

Baca juga: TNI Intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di 11 Kecamatan Kabupaten Melawi, Kalbar