Bisnis  

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan, Pasar Menanti Sinyal Inflasi dan Suku Bunga

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan, Pasar Menanti Sinyal Inflasi dan Suku Bunga

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Pada awal sesi, indeks berada di level 5.305,20, bertambah 22,89 poin atau 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.282,31. Pergerakan positif tersebut menjadi pembuka perdagangan di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi dan kebijakan global.

Aktivitas transaksi pada pembukaan tercatat mencapai 17,14 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp694,36 miliar. Data awal ini menunjukkan saham-saham telah diperdagangkan sejak sesi dimulai, meski arah pasar sepanjang hari masih dapat berubah mengikuti dinamika permintaan dan penawaran. Investor akan mencermati kelanjutan transaksi untuk melihat apakah penguatan indeks mampu bertahan atau justru terkikis oleh respons pasar terhadap informasi baru.

Perhatian utama investor tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat. Kebijakan bank sentral tersebut dapat memengaruhi ekspektasi biaya pinjaman, pergerakan dolar, dan aliran modal ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat sebagai petunjuk mengenai tekanan harga dan kemungkinan arah kebijakan moneter berikutnya. Kombinasi keputusan suku bunga dan angka inflasi berpotensi memicu penyesuaian posisi investor di pasar saham maupun valuta asing.

Selain faktor ekonomi, perkembangan perang turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sentimen risiko, harga komoditas, serta prospek perdagangan global. Di dalam negeri, kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) juga diamati karena perubahan imbal hasil dapat memengaruhi daya tarik aset berpendapatan tetap dibandingkan saham. Perubahan kondisi tersebut dapat berdampak pada keputusan investor, termasuk alokasi dana instrumen domestik dan aset lain.

Dengan demikian, penguatan IHSG pada awal sesi belum dengan sendirinya menunjukkan arah perdagangan hingga penutupan. Pelaku pasar akan menilai perkembangan global dan domestik secara bersamaan, sembari memantau pergerakan rupiah yang dapat turut terpengaruh oleh perubahan sentimen serta arus modal. Respons terhadap sinyal inflasi, kebijakan suku bunga, situasi geopolitik, dan imbal hasil SBN akan menjadi faktor penting dalam menentukan dinamika saham selama perdagangan berlangsung.

Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam keputusan yang diumumkan Kamis, 29 Oktober 2026. Namun, keputusan tersebut tidak bulat. Gubernur Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memilih kenaikan sebesar 25 basis poin, mencerminkan perbedaan pandangan di para pengambil kebijakan mengenai langkah yang diperlukan untuk menahan inflasi.

The Fed menyatakan inflasi masih tinggi dan menegaskan bahwa penyesuaian suku bunga berikutnya tetap terbuka, bergantung pada perkembangan ekonomi. Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan petunjuk tentang arah kebijakan pada pertemuan mendatang. Ia menekankan bahwa bank sentral tetap berupaya mengembalikan inflasi ke sasaran 2 persen. Sikap tersebut membuat investor terus mencermati data harga dan ketenagakerjaan untuk memperkirakan keputusan berikutnya.

Di sisi lain, penilaian bank sentral terhadap perekonomian Amerika Serikat menunjukkan penguatan. Pertumbuhan pada semester pertama 2026 direvisi menjadi 2,4 persen, memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Meski demikian, suku bunga tinggi meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan. Beban pembiayaan itu juga dapat membatasi investasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan yang membutuhkan modal besar.

Pasar menilai kemungkinan kenaikan bunga pada Desember mencapai sekitar 80 persen, meskipun pernyataan The Fed belum memastikan langkah tersebut. Setelah keputusan diumumkan, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke 5,042 persen. Pergerakan imbal hasil obligasi menjadi salah satu sinyal penting bagi investor global karena dapat memengaruhi biaya pendanaan dan arus modal lintas negara. Bagi pasar saham Indonesia, ketidakpastian arah kebijakan AS berpotensi memengaruhi sentimen, nilai tukar, dan keputusan investasi. Karena itu, perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga kali ini, tetapi juga pada data inflasi berikutnya, komunikasi pejabat bank sentral, serta perubahan ekspektasi menjelang rapat Desember. Suku bunga yang bertahan tinggi dapat mendukung dolar dan menambah tekanan pada aset berisiko, sementara jeda atau perubahan panduan yang lebih lunak berpotensi meredakan kekhawatiran. Namun, respons pasar tetap bergantung pada rangkaian data yang tersedia dan bagaimana para pejabat menimbang risiko inflasi terhadap aktivitas ekonomi. Dengan demikian, keputusan terbaru memberi kepastian sementara, tetapi belum menghilangkan pertanyaan mengenai arah bunga selanjutnya.

Perhatian pelaku pasar global berikutnya tertuju pada rilis indeks harga pengeluaran konsumsi personal atau personal consumption expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk September. Data tersebut dijadwalkan diumumkan pada Kamis, 29 Oktober, pukul 19.30 WIB. Investor akan mencermati angka terbaru untuk menilai arah tekanan harga dan kemungkinan dampaknya terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pada Agustus, inflasi PCE tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan, sementara inflasi inti mencapai 3,0 persen. Untuk September, inflasi PCE inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—diperkirakan meningkat 0,3 persen secara bulanan, lebih tinggi daripada kenaikan 0,2 persen pada Agustus. Secara tahunan, laju inflasi inti diproyeksikan naik menjadi 3,1 persen dari 3,0 persen.

Perkiraan tersebut membuat data PCE menjadi salah satu indikator penting yang dinantikan. The Fed menggunakan PCE sebagai salah satu acuan utama dalam mengevaluasi inflasi ketika menetapkan kebijakan moneter. Jika kenaikan harga inti lebih kuat dari perkiraan, pasar dapat menilai bahwa tekanan inflasi masih bertahan dan ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas. Sebaliknya, angka yang lebih moderat dapat memperkuat harapan bahwa tekanan harga mulai mereda. Karena itu, investor juga akan membandingkan hasil aktual dengan proyeksi pasar, bukan hanya melihat perubahan dari bulan sebelumnya.

Selain inflasi, AS dijadwalkan mengumumkan data klaim awal pengangguran untuk pekan yang berakhir 24 Oktober. Sebagai gambaran kondisi terbaru, klaim pada pekan hingga 17 Oktober turun 6.000 menjadi 194.000. Angka itu merupakan yang terendah sejak pertengahan Juli dan berada di bawah perkiraan pasar sebesar 200.000.

Penurunan klaim menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif solid. Laba korporasi yang kuat dan permintaan domestik yang bertahan turut membantu perusahaan menahan pemutusan hubungan kerja. Meski demikian, prospek perekrutan masih menghadapi sejumlah risiko. Biaya energi yang tinggi akibat perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian mengenai suku bunga, serta kebijakan perdagangan dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menambah tenaga kerja. Kombinasi data inflasi dan tenaga kerja ini akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi investor dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed dan sentimen pasar selanjutnya.

Perhatian investor pada perkembangan global juga tertuju pada keputusan Bank Sentral Eropa (ECB), yang dijadwalkan diumumkan pukul 20.15 WIB. Agenda tersebut dilanjutkan dengan konferensi pers pada pukul 20.45 WIB, saat pasar akan menyimak penjelasan mengenai pertimbangan kebijakan dan arah ke depan. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap di 2,65 persen, sementara suku bunga fasilitas deposito dipertahankan pada 2,50 persen. Dengan ekspektasi perubahan terbatas, fokus pelaku pasar beralih pada pesan ECB terkait keseimbangan tekanan harga dan kondisi perekonomian kawasan.

Pasar mencermati bagaimana ECB menimbang risiko inflasi yang masih membayangi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi.