Haley Sacks Memilih Menyewa Meski Telah Menjadi Miliuner

Haley Sacks Memilih Menyewa Meski Telah Menjadi Miliuner

Kota New York | Bagi banyak orang, memiliki rumah sendiri kerap dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah mencapai keberhasilan finansial. Rumah dipandang bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai aset dan bukti kestabilan hidup. Namun, Haley Sacks memilih jalan yang berbeda. Meski telah menjadi miliuner, ia tetap menyewa tempat tinggal, sebuah keputusan yang menunjukkan bahwa kekayaan tidak selalu membuat kepemilikan rumah menjadi prioritas utama. Pilihannya juga menantang anggapan bahwa membeli properti merupakan langkah yang harus diambil setiap orang ketika kondisi keuangan memungkinkan.

Sacks dikenal luas sebagai kreator konten keuangan dengan nama Mrs. Dow Jones. Melalui penjelasan tentang uang dan keuangan pribadi yang disampaikan dengan gaya khas, ia telah mengumpulkan lebih dari dua juta pengikut. Ia menyatakan bangga menjadi penyewa dan tidak melihat status tersebut sebagai sesuatu yang bertentangan dengan keberhasilan. Menyewa memberinya keleluasaan untuk menjalani hidup tanpa harus segera mengikatkan diri pada pembelian properti, sementara kebutuhan, lokasi, serta rencana masa depannya masih dapat berubah. Dengan demikian, pilihannya mencerminkan pertimbangan pribadi, bukan ukuran tunggal tentang kemapanan.

Meski nyaman menyewa, Sacks tetap membayangkan kemungkinan memiliki rumah sendiri suatu saat nanti, di luar New York, terutama ketika ia telah berkeluarga. Ia tertarik pada kebebasan untuk menentukan detail hunian sesuai seleranya, mulai dari memilih warna cat hingga menetapkan gagang pintu. Keinginan tersebut bukan berarti ia telah membeli rumah ataupun menetapkan waktu tertentu untuk melakukannya. Ia memahami bahwa mewujudkan rumah yang dirancang sendiri memerlukan biaya besar, selain pertimbangan praktis dan finansial lainnya. Karena itu, ia dapat merasa bangga menyewa sekarang sekaligus menyimpan gambaran tentang kepemilikan rumah di masa mendatang. Sikap ini memperlihatkan bahwa menyewa dan bercita-cita memiliki rumah tidak harus saling meniadakan: seseorang bisa menghargai pilihan tempat tinggal saat ini tanpa menutup kemungkinan untuk mengubahnya kelak.

Bagi Haley Sacks, keputusan memiliki rumah tidak seharusnya dipakai untuk mengukur kedewasaan atau kemampuan seseorang mengelola uang. Rumah, menurut pandangannya, merupakan pilihan gaya hidup yang perlu dinilai berdasarkan kebutuhan, kondisi keuangan, dan prioritas pribadi. Dalam wawancara dengan Ellie Austin di program Fortune Daily, Sacks menyatakan bahwa ia seorang miliuner yang bangga menyewa. Pernyataan itu menantang anggapan bahwa kekayaan harus diwujudkan dalam kepemilikan properti atau bahwa menyewa selalu berarti seseorang belum mencapai kestabilan finansial.

Sacks juga mendorong generasi muda meninjau kembali prinsip keuangan yang diwariskan generasi sebelumnya. Salah satu prinsip yang ia soroti adalah keyakinan bahwa seseorang baru dianggap dewasa setelah membeli rumah. Pandangan tersebut terbentuk dalam keadaan ekonomi dan pasar perumahan yang berbeda, sehingga belum tentu sesuai dengan kenyataan yang dihadapi kaum muda sekarang. Bagi banyak orang, membeli rumah bukan sekadar soal disiplin menabung; harga properti, biaya hidup, dan ketidakpastian pendapatan dapat membuat pencapaian itu jauh lebih sulit. Karena itu, menyewa dapat menjadi keputusan yang masuk akal, bukan tanda kegagalan atau ketidakmatangan.

Tekanan ekonomi juga memengaruhi pencapaian tonggak hidup lain, termasuk menikah dan memiliki anak. Sebagian anak muda menyesuaikan rencana dengan membeli rumah yang memerlukan banyak renovasi agar harganya terjangkau, mencari penghasilan dari beberapa sumber, atau menunda pernikahan dan memiliki anak demi menjaga kondisi keuangan. Pilihan-pilihan ini menunjukkan adanya kompromi, tetapi tidak selalu berarti mereka sekadar menangguhkan kehidupan yang dianggap ideal oleh generasi sebelumnya. Susan Wachter dari Wharton School menekankan bahwa generasi muda bukan hanya menunda tahapan hidup, melainkan juga menjalani jalur yang berbeda. Dalam konteks tersebut, menyewa dapat memberi fleksibilitas dan menjaga ruang untuk menentukan prioritas. Mengukur kedewasaan dari status kepemilikan rumah mengabaikan beragam keadaan dan keputusan rasional yang membentuk kehidupan finansial seseorang.

Keputusan Haley Sacks untuk tetap menyewa bukan berarti ia menolak kepemilikan rumah untuk selamanya. Ia masih ingin mencapai sejumlah target investasi sebelum memutuskan membeli properti. Bagi Sacks, membeli rumah bukan langkah yang harus dilakukan hanya karena seseorang sudah memiliki kemampuan finansial. Waktu pembelian perlu sesuai dengan prioritas dan keadaan keuangannya, termasuk tujuan yang ingin dicapai melalui investasi lain.

Sacks juga tidak memandang rumah sebagai instrumen investasi utama. Ia melihat pembelian properti lebih sebagai pilihan gaya hidup, yang mungkin memberi kenyamanan atau stabilitas, tetapi tidak otomatis menjadi cara terbaik untuk menumbuhkan kekayaan. Dalam pertimbangannya, uang yang biasanya disiapkan untuk uang muka dapat pula dipakai sebagai modal investasi di pasar saham. Aset saham berpotensi berkembang, meski nilainya dapat berfluktuasi dan hasilnya tidak dijamin. Pandangan tersebut mencerminkan preferensi pribadi Sacks, bukan saran yang pasti sesuai bagi setiap orang.

Perbandingan menyewa dan membeli perlu mempertimbangkan ongkos perumahan di lokasi masing-masing. Harga rumah, besarnya sewa, pajak, biaya pinjaman, serta kebutuhan rumah tangga bisa berbeda secara signifikan antarwilayah. Karena itu, strategi yang masuk akal bagi seseorang di satu kota belum tentu tepat bagi orang lain. Calon pembeli perlu menilai kemampuan membayar secara berkelanjutan, jangka waktu tinggal yang direncanakan, dan bagaimana pembelian akan memengaruhi rencana investasinya. Menyewa pun memiliki biaya dan keterbatasan tersendiri, sehingga keputusan sebaiknya dibuat berdasarkan perhitungan menyeluruh.

Biaya kepemilikan juga tidak berhenti setelah transaksi selesai. Rumah mungkin memerlukan renovasi, perbaikan, atau penyesuaian agar cocok dengan kebutuhan dan selera pemilik. Bahkan perubahan yang tampak sederhana, seperti mengganti warna cat atau gagang pintu, membutuhkan uang dan waktu. Sacks memasukkan pengeluaran semacam ini ke dalam pertimbangan finansial sebelum membeli. Biaya awal dan biaya lanjutan dapat mengurangi dana yang tersedia untuk tujuan lain, sehingga patut dihitung bersama uang muka dan cicilan. Hal itu bukan penolakan mutlak terhadap kepemilikan rumah, melainkan cara menilai keseluruhan komitmen yang menyertainya. Pada akhirnya, keputusan membeli atau menyewa bergantung pada prioritas, kondisi pasar setempat, serta kenyamanan finansial masing-masing orang.

Dalam menceritakan perjalanan membangun bisnisnya, Haley Sacks tidak menggambarkan keberhasilan sebagai hasil kerja keras pribadi semata. Ia mengakui bahwa keadaan dan bantuan orang-orang di sekitarnya turut berperan, terutama pada masa ketika kondisi finansialnya belum stabil. Pengakuan ini memberi gambaran yang lebih utuh tentang proses menuju keberhasilan: selain ketekunan dan keputusan bisnis, akses terhadap kesempatan serta dukungan keluarga juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bertahan dan berkembang.

Pada 2018, Sacks kehilangan pekerjaannya. Setelah itu, ia memperoleh pekerjaan sebagai penulis lepas melalui koneksi yang dimilikinya di industri media. Kesempatan tersebut membantunya mendapatkan penghasilan saat ia mulai membangun usahanya sendiri, tetapi tidak sepenuhnya menghapus tekanan biaya hidup. Orang tuanya membantu membayar biaya sewanya. Sacks menyampaikan bahwa ia tidak ingin mengabaikan arti bantuan itu. Dukungan tersebut merupakan bagian penting dari kisahnya, bukan detail kecil yang dapat dilewatkan ketika keberhasilannya dibicarakan. Dengan mengakuinya secara terbuka, ia juga menunjukkan bahwa perjalanan finansial seseorang kerap dipengaruhi oleh sumber daya dan jaringan yang tersedia baginya, bukan hanya oleh upaya individual.

Pengalaman itu relevan dengan persoalan keterjangkauan rumah yang dihadapi banyak orang muda. Membayar sewa dengan bantuan keluarga dan membeli rumah adalah situasi berbeda, tetapi keduanya berlangsung dalam konteks biaya hunian yang terus menekan anggaran. Data Pew Research Center memperlihatkan perbedaan laju harga rumah dan pendapatan. Pada 2019–2024, median nilai rumah di Amerika Serikat naik 30 persen setelah disesuaikan dengan inflasi.

Baca juga: Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo