GoTo Catat Laba Bersih Rp441 Miliar, Target EBITDA 2026 Naik

GOTO Gelar RUPSLB 14 Oktober 2026, Bahas Penarikan Saham Tresuri dan Pergantian Pengurus

Jakarta | GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp441 miliar pada kuartal III 2026. Capaian ini memperpanjang catatan perusahaan menjadi tiga kuartal berturut-turut dengan laba bersih, menandai kesinambungan kinerja positif sepanjang periode tersebut. Hasil kuartal terbaru itu menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa perusahaan mampu mempertahankan profitabilitas dalam beberapa kuartal, bukan hanya mencatat keuntungan pada satu periode. Meski demikian, angka laba bersih tersebut perlu dibaca bersama kondisi operasional dan perubahan kebijakan yang berlaku selama kuartal berjalan.

Kuartal III 2026 juga merupakan kuartal penuh pertama penerapan komisi sebesar 8% pada layanan transportasi roda dua. Menurut manajemen GoTo, perubahan komisi itu memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kinerja. Dengan penerapan sepanjang tiga bulan penuh, hasil periode ini memperlihatkan dampak kebijakan secara lebih utuh dibandingkan periode transisi. Layanan transportasi roda dua merupakan bagian dari ekosistem GoTo, sehingga perubahan pada skema komisi menjadi salah satu konteks penting dalam membaca hasil keuangan perusahaan pada kuartal tersebut.

Direktur Utama GoTo Hans Patuwo menyampaikan bahwa capaian itu diraih di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan dalam beberapa bulan terakhir. Pernyataan tersebut memberi konteks bahwa pencapaian laba bersih tidak berlangsung dalam situasi tanpa tekanan. Namun, perusahaan tetap mampu membukukan laba untuk kuartal ketiga secara beruntun. Keterangan manajemen mengenai tantangan dan dampak komisi menjadi bagian dari penjelasan atas kinerja, sementara angka Rp441 miliar menunjukkan hasil akhir yang dicatat GoTo pada periode pelaporan.

Rangkaian laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut menjadi tolok ukur penting bagi perkembangan kinerja GoTo. Perhatian berikutnya tertuju pada kemampuan perusahaan menjaga capaian tersebut sekaligus menghadapi dinamika bisnis yang terus berubah. Penerapan komisi 8% pada transportasi roda dua dan tantangan yang disebut manajemen menyediakan dua konteks utama untuk memahami hasil kuartal III. Dengan demikian, laba bersih Rp441 miliar tidak hanya mencerminkan hasil satu periode, tetapi juga melanjutkan tren profitabilitas yang telah terbentuk pada dua kuartal sebelumnya.

Kinerja GoTo pada kuartal III 2026 menunjukkan pertumbuhan pada pendapatan, aktivitas transaksi, dan jumlah pengguna. Pendapatan bersih meningkat 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp5,6 triliun. Kenaikan ini mencerminkan perkembangan skala bisnis grup di tengah meningkatnya kegiatan pada berbagai layanan. Perusahaan juga mencatat nilai transaksi bruto inti atau GTV inti sebesar Rp194 triliun, naik 89% secara tahunan. Perubahan tersebut menunjukkan nilai transaksi yang diproses melalui layanan inti bertambah signifikan dibandingkan kuartal III tahun sebelumnya, dan menjadi salah satu indikator utama perkembangan ekosistem GoTo.

Jumlah pengguna yang bertransaksi tahunan (annual transacting users atau ATU) mencapai 72,5 juta, tumbuh 16% secara tahunan. Angka ATU menggambarkan pengguna yang melakukan transaksi setidaknya sekali dalam periode 12 bulan, sehingga memberikan gambaran tentang jangkauan aktivitas pelanggan di platform. Pertumbuhan pengguna berjalan seiring dengan peningkatan GTV inti, meskipun kedua metrik mengukur hal yang berbeda: ATU menunjukkan jumlah pengguna aktif bertransaksi, sedangkan GTV mencerminkan nilai transaksi. Kombinasi indikator ini membantu menjelaskan bagaimana perkembangan basis pengguna dan volume kegiatan bisnis tercermin dalam hasil kuartalan.

Dari sisi profitabilitas operasional, EBITDA grup yang disesuaikan naik 84% menjadi Rp950 miliar. Perhitungan tersebut sudah memperhitungkan dampak komisi 8% untuk layanan transportasi roda dua selama satu kuartal penuh. Arus kas bebas grup yang disesuaikan tercatat Rp1,21 triliun, meningkat 389% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, imbalan jasa e-commerce Tokopedia mencapai Rp235 miliar pada kuartal tersebut. Secara keseluruhan, capaian ini memperlihatkan perbaikan pada sejumlah ukuran kinerja, mulai dari pendapatan dan transaksi hingga EBITDA serta arus kas. Metrik-metrik tersebut memberi konteks bagi perkembangan bisnis GoTo pada kuartal III, sementara angka tiap indikator tetap perlu dibaca sesuai definisi dan cakupan pengukurannya.

GoTo menaikkan target EBITDA disesuaikan untuk 2026 menjadi Rp3,5–3,7 triliun, dibandingkan kisaran sebelumnya Rp3,2–3,4 triliun. Penyesuaian tersebut mencerminkan perkembangan kinerja bisnis perusahaan dan prospek yang dinilai semakin kuat. Perubahan target juga menunjukkan bahwa GoTo melihat ruang untuk menghasilkan profitabilitas lebih tinggi, sambil tetap mempertimbangkan dinamika usaha di masing-masing segmen. Kenaikan ini tidak berasal dari satu sumber saja: bisnis fintech menjadi pendorong utama, sementara layanan on-demand services (ODS) turut menunjukkan perkembangan. Dengan demikian, proyeksi baru menggabungkan kontribusi yang lebih besar dari fintech dan pandangan yang diperbarui terhadap ODS. GoTo menyampaikan sasaran tahunan itu sebagai EBITDA yang disesuaikan, sehingga angka tersebut mengacu pada ukuran kinerja yang telah memperhitungkan penyesuaian tertentu, bukan laba bersih perusahaan.

Fintech menjadi alasan penting di balik peningkatan proyeksi karena kinerjanya terus melampaui ekspektasi. GoTo menaikkan target EBITDA disesuaikan segmen ini menjadi Rp1,9–2,0 triliun pada 2026, dari target sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun. Kenaikan batas bawah maupun batas atas tersebut menandakan kontribusi yang diharapkan dari layanan keuangan digital kini lebih tinggi. Ketika realisasi bisnis melampaui perkiraan, perusahaan memiliki dasar untuk memperbarui sasaran, meski pencapaian akhirnya tetap bergantung pada perkembangan operasional dan kondisi pasar. Target yang lebih tinggi juga menempatkan fintech sebagai bagian penting dalam upaya GoTo memperkuat kinerja keuangan konsolidasi. Perusahaan tetap perlu menjaga pertumbuhan sekaligus mengelola biaya dan risiko, agar peningkatan aktivitas layanan keuangan dapat diterjemahkan menjadi profitabilitas yang berkelanjutan hingga 2026.

Pada saat yang sama, GoTo menyebut bisnis ODS mulai tumbuh dan memperlebar rentang target EBITDA disesuaikannya. Sasaran untuk segmen ini menjadi Rp1,4–1,6 triliun, dari kisaran sebelumnya Rp1,4–1,5 triliun. Batas bawah tidak berubah, sedangkan batas atas meningkat, mencerminkan potensi tambahan tanpa mengasumsikan hasil yang pasti. Dalam menetapkan proyeksi ODS, perusahaan juga memperhitungkan kemungkinan perubahan regulasi yang dapat memengaruhi layanan. Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah aturan pelaksana layanan pengantaran dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Ketentuan tersebut dapat memengaruhi lingkungan operasional, sehingga GoTo memasukkan ketidakpastian kebijakan dalam pertimbangannya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sasaran baru mempertimbangkan peluang pertumbuhan sekaligus faktor eksternal. Realisasi target pada akhirnya akan dipengaruhi oleh perkembangan permintaan, operasional layanan, serta kejelasan aturan yang berlaku.

Pada periode Januari–September 2026, GoTo membukukan pendapatan bersih sebesar Rp16,5 triliun, meningkat 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan bisnis yang tetap berlanjut di tengah upaya perusahaan memperkuat efisiensi dan kualitas operasional. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, GoTo juga mencatat laba bersih Rp864 miliar. Hasil tersebut berbalik dari posisi rugi bersih Rp997 miliar pada Januari–September tahun sebelumnya. Perubahan ini menandai perbaikan penting dalam kinerja kumulatif perusahaan, dengan pendapatan yang lebih tinggi dan hasil akhir periode yang kembali positif. Angka sembilan bulan ini memberikan gambaran kinerja hingga akhir September sekaligus menjadi dasar untuk membaca arah pemulihan profitabilitas GoTo.

Selain melaporkan kinerja keuangan, GoTo menyampaikan keputusan pemegang saham untuk menyetujui pembatalan 32 miliar saham tresuri. Saham tresuri merupakan saham perusahaan yang sebelumnya telah dibeli kembali dan berada dalam penguasaan perusahaan. Pembatalan tersebut belum langsung berlaku; pelaksanaannya dijadwalkan efektif dalam waktu dua hingga tiga bulan setelah seluruh proses regulasi yang dipersyaratkan selesai. Dengan demikian, waktu efektif bergantung pada penyelesaian tahapan administratif dan pemenuhan ketentuan yang berlaku.

Baca juga: Rudal Mistral dan Stinger Siap Hadapi Target Udara di SGS 2026 | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | Darurat Air Bersih: IJTI, Kodim 0813 dan BPBD Bojonegoro Pasok 21 Ribu Liter Air Bersih di Tlogohaji