Empat Orang Tewas dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Kawasan Bromo

Empat Orang Tewas dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Kawasan Bromo

Kabupaten Probolinggo | Jumlah korban meninggal dalam insiden kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, bertambah menjadi empat orang. Dua korban lainnya masih menjalani perawatan medis. Perkembangan tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Jules Abraham Abast pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Pembaruan ini menandai bertambahnya jumlah korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi saat upaya pemadaman karhutla berlangsung di kawasan Bromo. Dengan demikian, informasi yang disampaikan kepolisian mencatat enam orang terdampak dalam insiden tersebut: empat orang meninggal dunia dan dua orang masih mendapatkan penanganan medis. Kondisi dua korban yang dirawat menjadi perhatian, sementara keterangan terbaru mengenai jumlah korban memberikan gambaran lebih jelas tentang dampak kejadian.

Kawasan TNBTS merupakan wilayah konservasi yang memiliki kondisi alam dan medan tersendiri. Dalam situasi kebakaran, upaya pemadaman perlu dilakukan dengan memperhatikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat. Namun, informasi yang tersedia dalam pembaruan ini berfokus pada perkembangan korban dan belum menjelaskan secara terperinci kronologi insiden, identitas para korban, maupun penyebab kebakaran. Karena itu, rincian tersebut perlu merujuk pada keterangan resmi lanjutan dari pihak berwenang.

Pernyataan Kombes Pol Jules Abraham Abast menjadi dasar informasi mengenai jumlah korban pada Jumat tersebut. Masyarakat diharapkan mencermati perkembangan melalui kanal resmi kepolisian dan instansi terkait, terutama apabila terdapat pembaruan mengenai kondisi korban yang masih dirawat. Informasi yang disampaikan secara bertahap penting untuk memastikan pemberitaan tetap akurat dan tidak menambahkan spekulasi mengenai peristiwa maupun proses penanganannya. Prioritas utama saat ini ialah menghormati para korban, memberi ruang bagi keluarga, serta menunggu keterangan resmi berikutnya tentang perkembangan medis dan penanganan kebakaran di kawasan TNBTS.

Hendra Roni menjadi korban keempat yang meninggal dunia setelah mengalami luka bakar dalam rangkaian peristiwa saat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Ia mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 15 Oktober 2026, setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas. Kepergiannya menambah daftar petugas yang kehilangan nyawa ketika membantu penanganan kebakaran di kawasan tersebut. Sebelum wafat, Hendra telah mendapatkan penanganan atas luka bakar yang dideritanya, tetapi kondisinya tidak dapat diselamatkan. Peristiwa ini menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi personel di lapangan, terutama ketika mereka bertugas dalam situasi kebakaran yang membutuhkan kewaspadaan dan koordinasi tinggi.

Tiga korban lainnya telah lebih dahulu meninggal dunia. Salah satunya adalah Sukaris, berusia 55 tahun, yang bertugas di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dua korban berikutnya, Sefriel Ardiansyah, 19 tahun, dan Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, merupakan petugas sekuriti Hotel Artotel. Mereka meninggal dalam kejadian yang berkaitan dengan upaya pemadaman karhutla di kawasan Bromo. Dengan wafatnya Hendra setelah menjalani perawatan, jumlah korban meninggal dalam rangkaian peristiwa tersebut menjadi empat orang. Informasi mengenai identitas dan tugas para korban menggambarkan bahwa penanganan kebakaran melibatkan petugas dari berbagai instansi maupun pihak yang berada di sekitar kawasan terdampak.

Selain korban yang meninggal, dua orang lainnya mengalami luka bakar dan masih memerlukan penanganan medis. Keduanya diketahui berinisial MI dan SI. Setelah mendapatkan perawatan di RSUD Tongas, MI dan SI dirujuk ke RSUD Dr Soetomo di Surabaya untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Rujukan tersebut memungkinkan kedua korban menjalani pemeriksaan dan perawatan lanjutan sesuai kondisi luka yang dialami. Informasi tentang pemindahan pasien menjadi bagian penting dari perkembangan penanganan korban, sementara tim medis terus memberikan pelayanan kepada mereka. Perhatian terhadap kondisi MI dan SI tetap diperlukan selama proses perawatan berlangsung. Di tengah kabar duka atas empat korban yang meninggal, keselamatan serta pemulihan korban luka menjadi perhatian dalam penanganan dampak kebakaran di kawasan Bromo.

Menurut keterangan Jules, upaya membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dimulai sejak pagi. Sekitar pukul 09.00 WIB pada Kamis, 15 Oktober 2026, sebanyak 12 orang berangkat menuju lokasi kebakaran. Mereka datang dengan tujuan mendukung penanganan karhutla yang sedang berlangsung di kawasan taman nasional tersebut. Waktu keberangkatan dan jumlah orang dalam rombongan menjadi bagian awal dari kronologi yang disampaikan Jules mengenai kegiatan pemadaman pada hari itu.

Rombongan tersebut terdiri atas petugas TNBTS, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), serta karyawan Artotel. Mereka berasal dari unsur yang berbeda, tetapi berkumpul untuk membantu pekerjaan pemadaman. Keterangan Jules menyebutkan bahwa kedua belas orang itu bergerak bersama menuju lokasi sebelum kemudian menjalankan kegiatan di lapangan. Informasi yang disampaikan mengenai tahap awal ini berfokus pada waktu keberangkatan, jumlah peserta, dan unsur-unsur yang terlibat dalam rombongan.

Setelah tiba di lokasi, para peserta tidak tetap berada dalam satu kelompok. Mereka berpencar ke beberapa titik untuk mendukung pemadaman karhutla. Pembagian posisi tersebut menandai tahap berikutnya dalam kegiatan rombongan setelah perjalanan dari titik keberangkatan. Dengan bergerak ke sejumlah titik, anggota dari unsur TNBTS, MPA, dan Artotel menjalankan dukungan di area yang berbeda sesuai kebutuhan di lapangan. Berdasarkan keterangan Jules, kronologi awal yang diketahui mencakup keberangkatan sekitar pukul 09.00 WIB, komposisi rombongan sebanyak 12 orang, serta penyebaran mereka ke beberapa titik setelah sampai di kawasan taman nasional. Rincian ini menggambarkan bagaimana upaya bantuan dimulai pada pagi hari, sebelum perkembangan selanjutnya dalam penanganan kebakaran terjadi.

Situasi dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo berubah ketika sebagian personel menerima informasi bahwa rekan mereka terjebak di tengah kobaran api dan kepulan asap tebal. Informasi tersebut membuat perhatian petugas beralih dari kegiatan pemadaman menuju upaya memberikan pertolongan kepada rekan-rekan yang berada dalam kondisi berbahaya. Api dan asap tebal menyulitkan keadaan di lokasi, sementara keberadaan personel yang terjebak menimbulkan kekhawatiran di mereka yang bertugas. Petugas bersama rekan korban kemudian berupaya mencari dan menolong orang-orang yang belum dapat menjauh dari kobaran api. Dalam perkembangan tersebut, fokus utama mereka adalah menemukan rekan yang dilaporkan terjebak dan mengetahui kondisi masing-masing korban.

Upaya pertolongan itu berujung pada ditemukannya tiga orang dalam kondisi meninggal dunia. Temuan tersebut menjadi perkembangan yang berat bagi para petugas dan rekan korban yang berada di lokasi. Selain tiga korban meninggal, tiga orang lainnya mengalami luka bakar. Para korban yang terluka kemudian dibawa untuk memperoleh perawatan medis. Dengan demikian, pada tahap awal penanganan, terdapat enam orang yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut: tiga orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka bakar. Informasi mengenai kondisi korban disampaikan seiring berlangsungnya penanganan, sementara upaya pertolongan terhadap rekan yang terjebak menjadi bagian penting dari perubahan situasi di tengah pemadaman.

Perkembangan berikutnya menambah jumlah korban meninggal. Hendra Roni, yang sebelumnya termasuk dalam kelompok korban luka, kemudian dilaporkan meninggal dunia. Dengan kabar tersebut, jumlah korban meninggal menjadi empat orang. Dua korban lainnya yang masih menjalani perawatan dirujuk untuk memperoleh penanganan medis lebih lanjut. Perubahan kondisi korban menunjukkan bahwa dampak peristiwa terus berkembang setelah mereka ditemukan dan dibawa untuk mendapatkan pertolongan. Dalam menyampaikan perkembangan ini, penting untuk membedakan informasi awal tentang tiga orang yang ditemukan meninggal dari kabar selanjutnya mengenai Hendra Roni.

Baca juga: Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas