Kabupaten Bogor | BPBD Kabupaten Bogor mencatat sementara 17 rumah terdampak setelah gempa bermagnitudo 4,1 yang terjadi pada Kamis (15/10). Selain kerusakan pada bangunan, peristiwa tersebut menyebabkan 51 warga mengungsi. Data itu merupakan temuan awal yang disampaikan Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, Andi Sumardi, pada Jumat. Dengan demikian, jumlah rumah terdampak maupun warga yang mengungsi belum dapat dianggap sebagai angka final.
Kerusakan rumah dalam pendataan sementara tersebut tersebar di dua kecamatan, yakni Pamijahan dan Leuwiliang. Keterangan BPBD menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya tercatat di satu wilayah, meskipun rincian jumlah rumah terdampak di masing-masing kecamatan belum disebutkan. Informasi yang tersedia juga belum merinci tingkat kerusakan pada setiap bangunan, sehingga gambaran awal ini terutama menjelaskan cakupan lokasi dan jumlah sementara.
Angka 51 warga mengungsi menggambarkan jumlah orang yang untuk sementara meninggalkan tempat tinggal setelah gempa. Namun, belum ada rincian lebih lanjut mengenai lokasi pengungsian, komposisi warga, maupun berapa lama mereka akan berada di luar rumah. Begitu pula, data 17 rumah terdampak belum menjelaskan apakah seluruh bangunan mengalami tingkat kerusakan yang sama. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sesuai batas informasi awal yang disampaikan BPBD.
BPBD menegaskan bahwa catatan tersebut masih bersifat sementara. Jumlah rumah dan warga yang terdampak dapat berubah apabila terdapat pembaruan hasil pendataan. Untuk saat ini, informasi dari Andi Sumardi menjadi dasar awal mengenai dampak gempa di Pamijahan dan Leuwiliang: 17 rumah tercatat terdampak dan 51 warga mengungsi. Perkembangan berikutnya bergantung pada pembaruan data resmi, sehingga pembaca sebaiknya membedakan temuan sementara ini dari laporan akhir mengenai keseluruhan dampak kejadian.
Di Kampung Muaradua, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, gempa berdampak pada tiga rumah warga. Berdasarkan tingkat kerusakannya, satu rumah mengalami kerusakan sedang, sedangkan dua rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Rumah-rumah tersebut dihuni oleh 12 jiwa yang berasal dari tiga kepala keluarga (KK). Data ini menggambarkan dampak langsung gempa terhadap tempat tinggal dan keluarga yang menetap di lokasi tersebut.
Meski jumlah rumah yang terdampak di Kampung Muaradua terbatas, sebagian warga memilih meninggalkan rumah untuk sementara. Sebanyak enam orang dari dua KK mengungsi ke rumah anggota keluarga yang masih berada di wilayah yang sama. Mereka tidak berpindah jauh dari lingkungan tempat tinggalnya, tetapi memilih tinggal bersama kerabat sambil menunggu kondisi dirasa lebih aman. Pilihan tersebut menjadi salah satu cara warga untuk memperoleh tempat berlindung setelah gempa.
Dampak lebih luas tercatat di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang. Sebanyak 14 rumah terdampak, tersebar di Kampung Baru, Situ Murni, Cianten, dan Cianten Herang. Kerusakan di kawasan ini berdampak terhadap 46 jiwa dari 14 KK. Selain itu, sebanyak 45 warga dari 15 KK mengungsi, baik ke tenda sementara maupun ke rumah kerabat. Lokasi pengungsian yang dipilih berbeda-beda, mengikuti ketersediaan tempat dan dukungan keluarga yang dapat menampung warga.
Jumlah warga yang mengungsi tidak hanya terdiri atas orang-orang yang rumahnya mengalami kerusakan. Sebagian warga memilih pergi meskipun rumah mereka tidak rusak, karena masih khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Kekhawatiran tersebut mendorong keluarga mencari tempat yang dirasa lebih aman untuk sementara waktu. Dengan demikian, angka pengungsian mencerminkan bukan hanya dampak kerusakan bangunan, tetapi juga respons warga terhadap situasi setelah gempa. Di kedua kecamatan, sebagian warga tinggal bersama keluarga, sementara lainnya menempati tenda sementara, sesuai kebutuhan dan pilihan masing-masing.
Kerusakan yang ditemukan setelah gempa di wilayah Bogor menunjukkan tingkat dampak yang berbeda pada tiap bangunan. Sejumlah rumah mengalami retakan pada dinding, mulai dari garis tipis hingga kerusakan yang lebih berat. Pada beberapa lokasi, bagian dinding dilaporkan hancur sehingga kondisi rumah perlu diperiksa lebih lanjut sebelum dinyatakan aman untuk ditempati. Kerusakan juga terlihat pada plafon dan atap. Bagian plafon dapat terlepas atau rusak, sedangkan atap mengalami gangguan pada susunan maupun penutupnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat menambah risiko bagi penghuni, terutama ketika masih ada bagian bangunan yang berpotensi jatuh. Pemeriksaan awal ini mencatat jenis kerusakan yang tampak, tetapi belum menjadi gambaran akhir keseluruhan dampak.
Petugas juga menemukan sejumlah bangunan dengan konstruksi yang telah lapuk. Kondisi bangunan semacam ini dinilai lebih rentan terdampak guncangan, sehingga perlu menjadi bagian dari pemeriksaan keselamatan. Usia bangunan, kondisi material, serta kekuatan sambungan dapat memengaruhi tingkat kerusakan yang terjadi. Karena itu, penilaian tidak hanya berfokus pada retakan atau bagian yang runtuh, tetapi juga mempertimbangkan kelayakan struktur secara keseluruhan. Warga sebaiknya mengikuti arahan petugas mengenai penggunaan rumah, khususnya apabila terdapat kerusakan pada dinding, plafon, atau atap. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk membantu menentukan apakah rumah masih dapat dihuni atau perlu dikosongkan sementara demi mengurangi risiko.
BPBD masih melanjutkan asesmen di lima kampung di Kecamatan Pamijahan, yakni Banarajaya 1 dan Banarajaya 2, Cikupa, serta Cisalak 1 dan Cisalak 2. Pendataan sempat terkendala kondisi malam hari, yang membatasi pemeriksaan langsung terhadap rumah dan lingkungan terdampak. Oleh sebab itu, jumlah bangunan rusak maupun kebutuhan warga masih dalam proses verifikasi. Angka sementara dapat berubah setelah petugas memperoleh informasi tambahan dan meninjau lokasi dengan lebih menyeluruh. Proses ini juga membantu mengidentifikasi warga yang membutuhkan bantuan, termasuk mereka yang harus mengungsi atau belum dapat kembali ke rumah. BPBD melanjutkan pendataan agar informasi mengenai kerusakan dan kebutuhan dapat diperbarui secara lebih akurat. Warga diminta menyampaikan laporan melalui petugas setempat dan mengikuti informasi resmi selama asesmen berlangsung.
Setelah gempa mengguncang wilayah Bogor, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana untuk melakukan penanganan awal di lokasi terdampak. Tim tersebut bertugas mengumpulkan informasi, memantau kondisi warga dan bangunan, serta membantu mengidentifikasi kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Dalam proses itu, BPBD berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan aparat setempat. Koordinasi diperlukan agar informasi mengenai dampak kejadian dapat dihimpun dan diteruskan secara terarah, sekaligus membantu menyelaraskan langkah penanganan darurat. Pemerintah setempat juga dapat menyampaikan perkembangan situasi di lingkungan masing-masing kepada petugas, sehingga kebutuhan warga yang terdampak menjadi bahan pertimbangan dalam respons berikutnya. Langkah awal ini menjadi bagian dari upaya memastikan kondisi lapangan terus dipantau.
Dalam laporan sementara, kebutuhan mendesak yang disebutkan BPBD mencakup terpal dan bantuan logistik tanggap darurat. Terpal diperlukan untuk membantu warga yang rumahnya mengalami kerusakan atau bagian bangunannya terdampak, terutama agar mereka memiliki perlindungan sementara sambil menunggu penanganan lebih lanjut. Sementara itu, bantuan logistik ditujukan untuk mendukung kebutuhan dasar dalam situasi darurat. Ketersediaan dan penyaluran bantuan perlu disesuaikan dengan hasil pendataan serta kondisi di lapangan. Karena penanganan masih berlangsung, informasi kebutuhan dapat berkembang seiring verifikasi oleh petugas dan koordinasi dengan unsur pemerintah setempat. BPBD bersama pihak terkait memantau situasi untuk mengetahui apakah ada kebutuhan tambahan yang perlu diprioritaskan. Warga di lokasi terdampak dapat mengikuti arahan petugas dan menyampaikan informasi kondisi mereka melalui aparat setempat.
Informasi BMKG yang dimuat dalam laporan BPBD menyebutkan bahwa pusat gempa berada sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor, dengan kedalaman lima kilometer.






