Dari Pekerja Rumah Tangga ke Panggung Sekolah Rakyat, Yumika Tunjukkan Bakat Sinden

Dari Pekerja Rumah Tangga ke Panggung Sekolah Rakyat, Yumika Tunjukkan Bakat Sinden

Kabupaten Bandung | Sebelum melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Yumika pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga. Kisahnya menggambarkan bagaimana kebutuhan keluarga dapat membuat seorang anak harus ikut mencari penghasilan. Di tengah keadaan tersebut, Yumika menjalani pekerjaan rumah tangga untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, ia menjadi siswa Sekolah Rakyat, setelah sebelumnya menjalani tanggung jawab bekerja di sebuah kompleks perumahan. Perjalanan dari pekerjaan itu menuju pendidikan menjadi bagian penting dari kisah Yumika.

Keadaan keluarga menjadi latar yang mendorong Yumika bekerja. Kedua orang tuanya tidak bekerja. Ibunya mengalami stroke, sementara ayahnya tinggal di rumah untuk membantu merawat sang ibu. Situasi tersebut membuat keluarga menghadapi kebutuhan sehari-hari tanpa penghasilan dari pekerjaan kedua orang tua. Dalam kondisi seperti itu, Yumika ikut berusaha membantu melalui pekerjaan yang dapat ia lakukan. Keterangan mengenai keluarganya menunjukkan bahwa tanggung jawab merawat ibu berada di rumah, sedangkan Yumika menjalankan tugas-tugas rumah tangga di tempat lain.

Di sebuah kompleks perumahan, Yumika melakukan beberapa pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Ia mencuci pakaian, membersihkan rumah, serta mengasuh anak. Tugas-tugas tersebut merupakan pekerjaan yang ia lakukan sebagai asisten rumah tangga sebelum bersekolah di SR Soreang. Dari mencuci hingga menjaga anak, pekerjaannya mencakup sejumlah kebutuhan rumah tangga. Penghasilan dari pekerjaan itu digunakan untuk membantu memenuhi keperluan sehari-hari keluarganya. Peran tersebut memperlihatkan kontribusi Yumika di tengah keadaan keluarga, tanpa mengubah fakta bahwa kedua orang tuanya tidak bekerja dan ayahnya merawat ibunya di rumah.

Pengalaman Yumika bekerja menjadi bagian dari latar kehidupannya sebelum melanjutkan pendidikan. Ia kemudian tercatat sebagai siswa Sekolah Rakyat Soreang, sebuah kesempatan untuk kembali menjalani pendidikan setelah bekerja membantu keluarga. Kisah ini berangkat dari keadaan yang ia hadapi: ibu yang mengalami stroke, ayah yang tinggal di rumah untuk merawatnya, serta kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Pekerjaan mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan mengasuh anak menjadi cara Yumika ikut menopang kebutuhan tersebut. Perjalanan itu memberi konteks pada kisahnya sebagai siswa SR Soreang, sebelum bakatnya sebagai sinden mendapat perhatian di panggung sekolah.

Sebelum kesempatan untuk kembali belajar hadir, Yumika pernah menyimpan cita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia. Keinginan itu menggambarkan harapan yang ia miliki tentang masa depan dan jalan hidup yang ingin ditempuh. Namun, keadaan yang dihadapinya membuat cita-cita tersebut terasa sulit untuk diwujudkan. Keinginan itu tidak serta-merta dapat dijalankan ketika kesempatan dan kondisi yang tersedia belum mendukung. Karena itu, kisah Yumika bukan hanya tentang bakatnya sebagai sinden, tetapi juga tentang harapan yang pernah ia miliki dan peluang baru yang kemudian terbuka. Pendidikan menjadi salah satu jalan yang membantunya kembali menatap kemungkinan masa depan, setelah ia sempat tidak melanjutkan belajar.

Peluang untuk bersekolah muncul melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Saat melakukan pendataan, pendamping tersebut mengetahui keadaan Yumika dan menyarankan agar ia masuk Sekolah Rakyat (SR). Saran itu menjadi langkah penting karena memberi Yumika arah yang sebelumnya belum terbuka baginya. Peran pendamping dalam situasi ini tidak berhenti pada pendataan; ia juga membantu menghubungkan Yumika dengan kesempatan pendidikan. Meski demikian, yang dapat dipastikan dari kisah ini adalah adanya pendataan dan saran untuk bersekolah di SR, bukan rincian mengenai tanggal pendaftaran, tahapan penerimaan, atau hal-hal administratif lainnya. Dengan adanya anjuran tersebut, Yumika memperoleh peluang untuk mempertimbangkan kembali pendidikan sebagai bagian dari hidupnya.

Sekolah Rakyat kemudian membuka jalan bagi Yumika untuk kembali belajar. Kesempatan ini penting, sebab pendidikan memberi ruang baginya untuk menjalani kegiatan belajar lagi dan mengembangkan diri. Jalan tersebut berbeda dari cita-citanya semula menjadi anggota TNI, tetapi bukan berarti harapan dan kemampuannya berhenti berkembang. Kisah ini menunjukkan bagaimana dukungan pendamping PKH dapat mengarahkan seseorang kepada pilihan yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau. Bagi Yumika, saran untuk masuk SR menghadirkan kesempatan pendidikan yang nyata, tanpa perlu mengandaikan bahwa semua persoalan langsung selesai. Dari kesempatan kembali bersekolah inilah perjalanan Yumika di Sekolah Rakyat dapat berlanjut, termasuk saat bakat sindennya mendapat ruang untuk tampil di panggung sekolah.

Yumika menceritakan pengalaman hidup dan kondisi keluarganya di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul. Ia menyampaikan kisah tersebut dalam acara peringatan satu tahun Sekolah Rakyat sekaligus peringatan Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026). Kehadiran Yumika di panggung memberi kesempatan bagi dirinya untuk berbicara langsung mengenai perjalanan dan keadaan keluarganya. Cerita itu disampaikan di hadapan para hadirin, termasuk Menteri Sosial, dalam rangkaian acara yang mempertemukan anak-anak Sekolah Rakyat dengan para undangan. Pengalaman Yumika menjadi bagian dari kisah yang disampaikan dalam peringatan tersebut.

Menanggapi kisah itu, Gus Ipul menyebut anak-anak seperti Yumika sebagai “the invisible people”. Istilah tersebut merujuk pada anak-anak yang sebelumnya belum tercatat dalam data dan belum terjangkau proses pembangunan. Dengan menyampaikan hal itu, Gus Ipul menyoroti bahwa masih ada anak-anak yang belum masuk dalam pendataan dan jangkauan pembangunan. Yumika menjadi salah satu contoh yang ia sebut dalam konteks tersebut. Pernyataan itu disampaikan pada acara di GOR Sudiang, ketika pengalaman dan kondisi keluarga Yumika menjadi perhatian. Gus Ipul mengaitkan kisah yang disampaikan anak tersebut dengan keberadaan kelompok anak yang selama ini belum terlihat dalam data maupun proses pembangunan.

Gus Ipul juga menyampaikan apresiasi atas keberanian Yumika bercerita. Ia menghargai kesediaan Yumika mengungkapkan pengalaman dan keadaan keluarganya tanpa merasa malu. Apresiasi itu disampaikan di hadapan para hadirin pada peringatan satu tahun Sekolah Rakyat dan Sumpah Pemuda. Gus Ipul berharap anak-anak Indonesia dapat memiliki kepercayaan diri untuk menatap masa depan. Harapan tersebut ia sampaikan setelah mendengar cerita Yumika, dengan menekankan pentingnya anak-anak berani memandang masa depan secara percaya diri. Kisah Yumika dan tanggapan Gus Ipul menjadi bagian dari acara yang berlangsung di Makassar pada Rabu, 28 Oktober 2026, tanpa mengubah pokok pesan mengenai anak-anak yang belum tercatat serta harapan bagi mereka.

Setelah menjalani satu tahun pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), Yumika mulai dikenal bukan hanya karena perjalanan hidupnya, tetapi juga karena bakat yang tumbuh di lingkungan sekolah. Suaranya yang merdu dan kemampuannya menyanyikan tembang sinden menarik perhatian para guru. Bakat tersebut kemudian mendapat ruang untuk ditampilkan dalam sebuah peringatan yang dihadiri sejumlah undangan. Bagi Yumika, kesempatan naik ke panggung menjadi momen penting untuk memperlihatkan kemampuan yang selama ini ia kembangkan. Panggung itu juga menghadirkan pengalaman baru: ia dapat bernyanyi di hadapan tokoh-tokoh yang hadir, sekaligus memperoleh dukungan atas minatnya pada seni tradisional.

Dalam acara tersebut, Gus Ipul mengundang Yumika untuk tampil di hadapan Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha. Undangan itu menjadi bentuk apresiasi sekaligus cara memberi ruang bagi seorang murid untuk menunjukkan potensinya. Gus Ipul berharap penampilan tersebut dapat membuka peluang yang lebih luas bagi Yumika pada masa mendatang, termasuk kemungkinan agar bakatnya dikenal di bidang musik. Harapan itu disampaikan sebagai dorongan, bukan kepastian bahwa kesempatan lanjutan telah tersedia.

Baca juga: Revit Sekolah Nganjuk Jadi Bola Panas: Potongan dan Kualitas Bangunan Disorot