Dari Laut hingga Ruang Kelas, Internet Mengubah Keseharian Warga Buol

Dari Laut hingga Ruang Kelas, Internet Mengubah Keseharian Warga Buol

Kabupaten Buol | Sejak Desa Harmoni di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, memperoleh akses internet, kegiatan nelayan mengalami perubahan yang terasa sejak persiapan berangkat hingga hasil tangkapan tiba di tangan pembeli. Sebelumnya, informasi mengenai kondisi laut dan komunikasi dengan pihak di darat lebih terbatas. Kini, jaringan digital memberi nelayan sarana tambahan untuk mencari informasi, merencanakan perjalanan, serta tetap terhubung selama menjalankan aktivitas. Internet tidak menggantikan pengetahuan dan pengalaman mereka membaca laut, tetapi dapat melengkapinya dengan data yang lebih mudah diperoleh dan diperbarui.

Saat melaut, nelayan dapat memanfaatkan jaringan untuk memantau informasi cuaca sebelum menentukan waktu dan rute perjalanan. Perkiraan kondisi cuaca membantu mereka mempertimbangkan risiko dan menyiapkan langkah yang sesuai. Akses internet juga mendukung penggunaan peta digital serta penentuan titik koordinat secara real-time. Dengan mengetahui posisi, nelayan dapat mencatat lokasi kegiatan dan menyampaikan informasi tersebut kepada pihak lain. Kegunaan ini membuat koneksi di laut lebih dari sekadar fasilitas komunikasi: ia turut membantu proses pengambilan keputusan dalam pekerjaan yang sangat bergantung pada kondisi alam.

Hubungan dengan pembeli pun menjadi lebih praktis. Nelayan dapat berkomunikasi untuk memberi kabar tentang perjalanan atau hasil tangkapan, membicarakan kebutuhan dan harga, serta mengatur transaksi tanpa harus menunggu pertemuan langsung. Cara ini berpotensi memperlancar penyampaian informasi nelayan dan pasar, sekaligus membantu pembeli mengetahui ketersediaan ikan. Akses internet di Desa Harmoni tersedia sejak 2022 melalui BTS 4G yang dihadirkan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital. Kehadiran infrastruktur tersebut membuka peluang bagi warga untuk memanfaatkan layanan digital dalam kegiatan sehari-hari. Bagi nelayan, manfaatnya tampak pada alur kerja yang lebih terhubung: informasi cuaca, koordinat, komunikasi, dan transaksi dapat dilakukan dengan dukungan jaringan. Pemanfaatan internet tetap bergantung pada ketersediaan sinyal dan keterampilan pengguna, namun akses baru ini memberi pilihan yang sebelumnya tidak tersedia secara luas. Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana infrastruktur telekomunikasi dapat mendukung pekerjaan pesisir sekaligus memperkuat hubungan aktivitas di laut dan kebutuhan warga di darat.

Ahmad Djaru, 54 tahun, menjalani keseharian sebagai nelayan sekaligus petani di Desa Harmoni, Buol. Laut menjadi bagian penting dari pekerjaannya: ia biasa melaut setiap hari dan, pada kesempatan tertentu, menghabiskan beberapa malam di perairan. Di sela aktivitas tersebut, internet menghadirkan cara baru untuk mengisi waktu sekaligus berbagi cerita tentang daerahnya. Ketika berada di laut, Ahmad mencari hiburan melalui ponsel. Jika sinyal cukup baik, ia menyalakan siaran langsung di Facebook dan mengajak orang melihat kekayaan bahari Buol dari sudut pandangnya sebagai warga yang akrab dengan laut.

Siaran langsung itu bukan sekadar hiburan. Melalui Facebook Live, Ahmad memperkenalkan hasil laut dan potensi perairan setempat kepada penonton yang mungkin belum pernah berkunjung ke Buol. Tayangan tersebut juga membuka peluang untuk menjangkau calon pembeli baru. Dengan menunjukkan hasil tangkapan dan suasana kegiatan melaut secara langsung, ia dapat mempertemukan cerita tentang produk lokal dengan orang-orang yang tertarik untuk mengenalnya. Cara ini memanfaatkan media sosial sebagai ruang promosi yang mudah dijangkau, tanpa harus meninggalkan pekerjaannya di laut. Nelayan lain di sekitarnya kadang menggunakan TikTok Live untuk tujuan serupa, sehingga siaran langsung mulai menjadi salah satu cara berbagi informasi dan memperluas perhatian terhadap hasil laut Buol.

Bagi Ahmad, perubahan ini terasa berbeda dibandingkan masa ketika akses internet belum tersedia. Saat itu, ia mengandalkan perhitungan tanggal dan pengamatan terhadap bulan untuk memperkirakan pasang-surut. Pengetahuan tersebut menjadi pegangan penting sebelum berangkat melaut. Kini, ponsel dapat memberi fungsi tambahan: menemani saat berada jauh dari daratan, menyediakan hiburan, dan memungkinkan komunikasi dengan penonton selama jaringan mendukung. Namun, kondisi sinyal di laut tidak selalu memadai, sehingga siaran langsung hanya dapat dilakukan ketika sambungan cukup baik. Pengalaman Ahmad menggambarkan bagaimana internet masuk ke rutinitas kerja secara praktis. Teknologi ini tidak menggantikan pengalaman nelayan membaca alam, tetapi menambah cara untuk mengenalkan hasil laut, menjalin hubungan dengan calon pembeli, dan membagikan keseharian warga pesisir Buol kepada khalayak yang lebih luas.

Bagi Anton, nelayan berusia 56 tahun, akses internet telah mengubah tahap penting dalam pekerjaannya: menyiapkan penjualan sebelum hasil tangkapan tiba di darat. Dahulu, nelayan biasanya baru mencari pembeli setelah kembali dari laut. Mereka harus menunggu seseorang datang untuk membeli ikan, tanpa kepastian kapan transaksi dapat berlangsung atau berapa harga yang akan ditawarkan. Selama menunggu, mutu ikan dapat menurun, sementara kebutuhan untuk segera menjual hasil tangkapan semakin mendesak. Dalam keadaan seperti itu, ikan kerap dilepas dengan harga sangat murah. Anton menggambarkan kondisi tersebut sebagai proses jual beli yang membuat nelayan sulit memperkirakan pendapatan dan posisi tawar mereka.

Sekarang, ponsel memungkinkan Anton dan nelayan lain menghubungi pembeli ketika mereka masih berada di laut. Mereka dapat menyampaikan perkiraan waktu tiba dan informasi mengenai ikan yang dibawa, sehingga pembeli bisa bersiap lebih awal. Ketika perahu sampai, pembeli sudah menunggu dan proses transaksi dapat berjalan lebih cepat. Perubahan ini tidak berarti seluruh persoalan penjualan hilang, tetapi komunikasi sebelum ikan tiba membantu mengurangi masa tunggu dan ketidakpastian. Nelayan pun memiliki kesempatan lebih baik untuk mengatur penjualan, menjaga hasil tangkapan, serta membicarakan harga sebelum berada dalam situasi harus segera melepas ikan. Bagi Anton, manfaat internet terasa langsung karena terhubungnya komunikasi di laut dan di darat membuat kegiatan usaha lebih terencana.

Untuk mendukung pemakaian tersebut, Anton mengalokasikan sekitar Rp500.000 setiap bulan bagi pulsa dan paket data. Pengeluaran itu terutama digunakan untuk berkomunikasi dengan pembeli, tetapi manfaatnya juga mencakup kebutuhan kerja lainnya. Ia memeriksa informasi cuaca dari BMKG sebelum atau selama melaut, sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam merencanakan perjalanan. Selain itu, Anton memanfaatkan YouTube untuk belajar tentang perikanan. Dari video daring, ia dapat mencari pengetahuan praktis, termasuk cara mengecek titik koordinat. Dengan demikian, telepon genggam tidak hanya menjadi sarana mengatur transaksi, tetapi juga sumber informasi yang membantu nelayan mengambil keputusan. Pengalaman Anton menunjukkan bagaimana koneksi internet dapat memperluas akses terhadap pembeli, informasi keselamatan, dan pembelajaran, sekaligus mendukung perubahan sehari-hari dalam pekerjaan nelayan di Buol.

Di SDN 7 Paleleh Barat, manfaat internet mulai terasa dalam kegiatan belajar di ruang kelas. Guru secara bertahap memanfaatkan smart screen yang disediakan pemerintah untuk menghadirkan materi pembelajaran dengan cara yang lebih beragam. Melalui perangkat tersebut, mereka dapat mengakses bahan ajar dari berbagai penjuru dunia dan menggunakannya sebagai sumber pendukung kegiatan belajar. Pemanfaatannya berlangsung secara bertahap, seiring guru mengenal fungsi perangkat dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Kehadiran akses internet di sekolah membuka kesempatan bagi guru dan murid untuk menjangkau sumber pengetahuan yang tidak hanya bergantung pada bahan cetak atau materi yang tersedia di lingkungan sekitar. Materi digital dapat menjadi pelengkap dalam menjelaskan pelajaran, sementara smart screen membantu menampilkan konten kepada siswa di kelas. Dengan dukungan koneksi, proses pencarian dan penyajian materi dapat dilakukan melalui jaringan internet. Penggunaan perangkat dan jaringan ini menjadi bagian dari perubahan keseharian sekolah, sebagaimana akses internet juga mendukung aktivitas warga di lokasi lain.

Penyediaan akses internet untuk pendidikan merupakan salah satu fokus BAKTI Komdigi.

5 kunjungan