Dari Kapal Batavia ke Tragedi Kepemimpinan Jeronimus Cornelisz

Dari Kapal Batavia ke Tragedi Kepemimpinan Jeronimus Cornelisz

Jakarta | Istilah “psikopat korporat” sering muncul dalam pembahasan tentang pemimpin yang manipulatif, tidak berempati, dan sangat berorientasi pada ambisi pribadi. Dalam gambaran populer, sosok ini dapat menggunakan pesona, kebohongan, atau tekanan untuk memperoleh jabatan dan keuntungan, sementara dampak tindakannya terhadap rekan kerja diabaikan. Namun, istilah tersebut bukan diagnosis yang dapat disematkan begitu saja kepada atasan yang keras, egois, atau tidak disukai. Psikopati merupakan konsep klinis yang kompleks, dan penerapannya untuk menilai perilaku di tempat kerja masih diperdebatkan, baik dari sisi definisi maupun cara pengukurannya.

Perhatian publik terhadap klaim mengenai psikopati di kantor meningkat setelah sebuah laporan yang ramai dibicarakan pada 2016 menyebut bahwa satu dari lima pekerja profesional memiliki kecenderungan psikopat. Angka itu kerap dikutip sebagai bukti bahwa sifat psikopatik lazim ditemukan di kalangan pemimpin dan tenaga profesional. Namun, klaim tersebut perlu dibaca dengan hati-hati: laporan itu kemudian ditarik pada 2018. Karena itu, hasilnya tidak layak diperlakukan sebagai ukuran prevalensi yang mapan. Perbedaan survei, ukuran skrining, dan diagnosis klinis juga penting; skor pada kuesioner atau ciri tertentu tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami gangguan atau memenuhi kriteria psikopati.

Catatan psikiatri dan penelitian klinis biasanya memberikan gambaran yang jauh lebih rendah: sekitar satu persen populasi umum diperkirakan memenuhi gambaran psikopati secara klinis, meski taksiran dapat berbeda menurut definisi dan metode. Perbandingan angka ini dengan klaim satu dari lima pekerja memperlihatkan mengapa istilah tersebut perlu digunakan secara cermat. Meski bukti tidak mendukung pelabelan luas terhadap pekerja profesional, hal itu bukan berarti perilaku manipulatif tidak terjadi di kantor. Intimidasi, eksploitasi, penyalahgunaan kuasa, dan kepemimpinan beracun tetap dapat merugikan individu maupun organisasi tanpa perlu menetapkan diagnosis psikologis kepada pelakunya. Fokus yang lebih berguna ialah mengenali tindakan yang dapat diamati, dampaknya, serta mekanisme pelaporan dan akuntabilitas yang memadai.

Jeronimus Cornelisz dikenal sebagai asisten pedagang asal Belanda yang berlayar bersama kapal Batavia milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sebelum namanya dikaitkan dengan tragedi di Kepulauan Houtman Abrolhos, ia bekerja dalam lingkungan perusahaan dagang yang kekuasaannya melampaui urusan jual beli. Latar tersebut penting untuk memahami bagaimana wewenang, hierarki, dan kepentingan ekonomi VOC membentuk dunia tempat Cornelisz beroperasi.

VOC didirikan di Amsterdam pada 1602 dengan dukungan negara Belanda. Perusahaan ini memperoleh hak istimewa untuk menjalankan perdagangan di wilayah Asia dan membangun jaringan niaga yang sangat luas. Komoditas seperti rempah-rempah dan kopi menjadi bagian penting dari perdagangan tersebut. Operasinya juga terkait dengan perbudakan, suatu praktik yang menopang kepentingan ekonomi kolonial dan menimbulkan penderitaan bagi banyak orang.

Kekuatan VOC tidak hanya berasal dari modal dan perdagangan. Perusahaan itu memiliki kemampuan militer, termasuk armada dan pasukan, serta hak untuk mencetak uang, membentuk koloni, membuat perjanjian, dan menjalankan kekuasaan hukum di wilayah operasinya. Dalam konteks tertentu, pejabat VOC juga dapat menjatuhkan hukuman berat, termasuk mengeksekusi tahanan. Gabungan kewenangan ekonomi, politik, dan militer ini menjadikan VOC salah satu perusahaan paling berpengaruh pada masanya, sekaligus lembaga kolonial yang dapat memaksakan kehendaknya.

Di dalam struktur seperti itu, jabatan dan akses terhadap kewenangan dapat memengaruhi hubungan antarmanusia. Kisah Cornelisz kemudian menarik perhatian peneliti kepemimpinan, termasuk Clive Boddy, yang membahasnya melalui kerangka kepemimpinan toksik. Kerangka tersebut membantu menelaah perilaku pemimpin, penyalahgunaan kuasa, dan dampaknya terhadap kelompok yang berada di bawah kendali mereka. Namun, pembacaan semacam ini merupakan analisis kepemimpinan berdasarkan peristiwa sejarah, bukan bukti bahwa Cornelisz telah menerima diagnosis klinis tertentu.

Dengan demikian, perjalanan Cornelisz tidak dapat dilepaskan dari latar korporasi kolonial yang memberinya tempat dalam ekspedisi Batavia. Memahami skala kekuasaan VOC memberi konteks bagi pembahasan tentang bagaimana otoritas dapat digunakan, diperebutkan, dan disalahgunakan. Konteks ini menjadi pijakan untuk menelusuri peristiwa berikutnya tanpa menyederhanakan tragedi tersebut sebagai akibat satu sifat pribadi saja.

Pada Juni 1629, kapal VOC Batavia karam di gugusan Kepulauan Houtman Abrolhos, di lepas pantai Australia Barat. Kapal itu sedang berlayar menuju Hindia Timur ketika menabrak terumbu karang. Bencana tersebut menewaskan banyak orang, tetapi sekitar 300 penumpang dan awak berhasil mencapai pulau-pulau kecil di sekitarnya. Mereka selamat dari tenggelam, namun terdampar di lingkungan terpencil yang tandus, dengan persediaan air dan makanan terbatas.

Di tengah keadaan genting itu, para perwira senior memutuskan berangkat menggunakan perahu kecil untuk mencari bantuan. Mereka menempuh perjalanan laut sekitar 1.900 mil menuju Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Rencana tersebut menuntut keberanian sekaligus meninggalkan para penyintas tanpa pimpinan utama. Jeronimus Cornelisz, seorang saudagar muda yang selamat dari karamnya kapal, kemudian ditunjuk sebagai pemimpin sementara di pulau.

Penunjukan itu memberinya pengaruh besar atas pembagian persediaan dan pengaturan para penyintas. Sejumlah sumber sejarah menyatakan Cornelisz telah merencanakan pemberontakan sebelum kapal karam, dengan tujuan mengambil alih Batavia serta menguasai muatan emas dan peraknya. Setelah berada di pulau, ia mulai memperkuat kendali. Ia menyingkirkan dewan yang semula membantu mengatur kelompok, lalu menempatkan orang-orang yang dianggap loyal di posisi penting. Para pengikut itu disumpah setia kepadanya, sehingga keputusan mengenai makanan, keamanan, dan kehidupan sehari-hari semakin terpusat pada lingkaran kecil pendukungnya.

Namun, tidak semua penyintas berada di bawah pengawasan langsung Cornelisz. Prajurit Wiebe Hayes memimpin kelompok yang ditempatkan di pulau lain. Cornelisz mengirim mereka dengan alasan mencari air tawar, sembari memberi kesan bahwa tugas itu diperlukan demi keselamatan bersama. Pemisahan tersebut mengurangi jumlah orang yang dapat menentang tindakannya di pulau utama. Kelompok Hayes menghadapi kesulitan mencari air, tetapi mereka tetap bertahan dan mulai menyadari bahwa ancaman terhadap para penyintas bukan hanya kelaparan atau kehausan. Dengan kendali politik dan sumber daya yang makin terkonsentrasi, keadaan darurat perlahan berubah menjadi perebutan kuasa yang mengancam nyawa.Selama sekitar tiga bulan memimpin para penyintas di Pulau Beacon, Jeronimus Cornelisz mengubah keadaan darurat menjadi pemerintahan teror. Ia memerintahkan pembunuhan lebih dari seratus orang, termasuk pria, wanita, dan anak-anak. Kepada pengikutnya, tindakan itu dibenarkan sebagai cara menghemat persediaan makanan dan air yang terbatas. Namun, berbagai sumber menunjukkan alasan tersebut kemungkinan hanya kedok: sasaran utamanya ialah orang-orang yang dianggap dapat mengancam kekuasaannya atau menolak kehendaknya. Pembunuhan berlangsung bertahap, dalam suasana ketika para korban terisolasi dan sulit melawan.

Di pulau lain, kelompok yang dipimpin Wiebbe Hayes berusaha bertahan tanpa tunduk kepada Cornelisz. Mereka menemukan air tawar dan memperoleh makanan melalui perburuan, sehingga memiliki peluang lebih baik untuk hidup mandiri. Keberhasilan itu juga memberi mereka posisi tawar ketika ketegangan dengan kelompok Cornelisz meningkat. Kedua kelompok akhirnya berhadapan dalam bentrokan terbuka. Perselisihan tersebut bukan semata-mata soal sumber daya, melainkan juga perlawanan terhadap kekerasan dan upaya Cornelisz mempertahankan kendali. Situasi masih genting ketika kapal penyelamat tiba pada Oktober 1629.

Kedatangan kapal itu mengakhiri krisis, tetapi tidak menghapus besarnya kehilangan. Dari seluruh penumpang yang berangkat dengan Batavia, hanya sekitar sepertiga yang selamat. Cornelisz ditangkap dan diadili atas perannya dalam pembantaian. Ia serta para loyalis utamanya dijatuhi hukuman gantung; sebelum eksekusi, tangan mereka dipotong sebagai bagian dari hukuman.