BMKG Jelaskan Perbedaan Fungsi Es Kering dan Garam dalam Penanganan Asap Karhutla

BMKG Jelaskan Perbedaan Fungsi Es Kering dan Garam dalam Penanganan Asap Karhutla

Jakarta | BMKG menjelaskan bahwa penggunaan es kering atau dry ice dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia bukanlah upaya untuk memicu hujan. Bahan tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari operasi modifikasi cuaca dengan tujuan membantu menstabilkan profil suhu atmosfer. Kondisi atmosfer yang lebih stabil diharapkan dapat mendukung upaya mengurangi kepekatan asap yang mengganggu masyarakat.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsyo, menerangkan fungsi tersebut dalam konferensi pers mengenai perkembangan bencana di Indonesia. Keterangan itu disampaikan dalam siaran yang ditayangkan melalui kanal YouTube BNPB pada Jumat, 23 Oktober 2026. Penjelasan ini penting karena penggunaan bahan dalam operasi modifikasi cuaca kerap disalahartikan sebagai langkah untuk menghasilkan hujan secara langsung.

Menurut Budi, asap tidak serta-merta hilang hanya karena dry ice digunakan. Penanganan asap membutuhkan proses dan dipengaruhi berbagai keadaan, termasuk kondisi cuaca, pola angin, serta sebaran dan sumber kebakaran. Karena itu, tindakan tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya membantu mengubah atau menjaga kondisi atmosfer agar asap tidak terlalu pekat, bukan cara untuk menghapus asap dalam waktu singkat.

Es kering berbeda fungsi dari garam yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca. Garam umumnya berperan sebagai bahan semai awan untuk mendukung proses pembentukan hujan, sedangkan dry ice dalam konteks yang dijelaskan BMKG ditujukan untuk membantu menstabilkan profil suhu atmosfer. Perbedaan tujuan ini menunjukkan bahwa bahan yang digunakan dapat disesuaikan dengan sasaran operasi dan keadaan atmosfer yang dihadapi.

Dengan demikian, penilaian terhadap penggunaan dry ice perlu merujuk pada tujuan yang disampaikan BMKG, bukan menganggapnya sebagai pemicu hujan atau solusi instan untuk kabut asap. Upaya tersebut merupakan salah satu bagian dari penanganan dampak karhutla, sementara pengendalian sumber api tetap menjadi hal mendasar. Masyarakat juga perlu memahami bahwa hasilnya bergantung pada kondisi di lapangan dan tidak menjamin asap langsung lenyap.

Penggunaan es kering dalam penanganan asap karhutla berkaitan dengan keadaan atmosfer tertentu, terutama ketika terbentuk lapisan inversi suhu. Dalam kondisi normal, udara di dekat permukaan yang lebih hangat cenderung naik, sementara udara yang lebih dingin bergerak turun. Sirkulasi tersebut membantu mencampur udara dan mengangkut sebagian asap ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Namun, pola ini dapat berubah saat inversi terjadi.

Inversi suhu terbentuk ketika udara yang relatif hangat berada di atas udara lebih dingin dekat permukaan. Susunan tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang stabil dan menekan gerakan udara vertikal. Akibatnya, udara di lapisan bawah sulit naik menembus lapisan hangat di atasnya. Asap, partikel halus, dan polutan lain pun dapat tertahan serta terkumpul di dekat permukaan, sehingga kualitas udara memburuk dan paparan bagi masyarakat meningkat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, asap pekat dapat terjebak hingga ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki, bahkan lebih tinggi. Ketinggian dan ketebalan lapisan yang menahan asap dapat berbeda-beda, bergantung pada keadaan atmosfer setempat. Karena itu, memahami profil suhu dan pergerakan udara menjadi penting sebelum menentukan langkah modifikasi cuaca. Penanganan tidak hanya melihat kepulan asap dari permukaan, tetapi juga memperhatikan lapisan tempat asap terakumulasi.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menggambarkan lapisan inversi sebagai penutup yang menghalangi aliran udara vertikal. Gambaran ini membantu menjelaskan mengapa asap tidak mudah terdilusi atau berpindah ke atas ketika inversi menguat. Dalam konteks tersebut, es kering dibahas sebagai salah satu bahan yang dapat digunakan dalam upaya memengaruhi kondisi awan dan atmosfer, bukan sebagai bahan yang langsung menghilangkan asap. Sasaran penggunaannya berkaitan dengan proses atmosfer yang mendukung perubahan pergerakan udara. Efektivitas suatu tindakan tetap dipengaruhi kondisi cuaca, struktur lapisan udara, serta pemantauan operasional. Dengan demikian, inversi menjadi konteks penting untuk memahami tujuan penggunaan es kering dan mengapa langkah tersebut tidak serta-merta menghasilkan perubahan yang sama pada setiap kejadian asap karhutla.BMKG menjelaskan bahwa dry ice atau es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang digunakan dalam operasi penyemaian dari pesawat. Bahan ini disebarkan pada lapisan inversi yang menjadi sasaran, bukan sekadar ditaburkan ke area asap secara langsung. Lapisan inversi adalah kondisi atmosfer ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu. Keadaan tersebut dapat menghambat gerak udara vertikal dan membuat asap sulit terangkat serta bercampur dengan udara di atasnya.

Setelah dilepaskan, es kering menyublim, yaitu berubah langsung dari wujud padat menjadi gas tanpa melalui fase cair. Dalam proses itu, bahan bersuhu sangat rendah menyerap panas dari udara di sekitarnya. Dampaknya berupa pendinginan lokal pada lapisan yang dituju. Perubahan suhu dan kondisi termal ini diharapkan dapat mengubah kestabilan atmosfer, sehingga kekuatan inversi berkurang dan hambatan terhadap pergerakan vertikal udara melemah.

Jika kondisi atmosfer mendukung, melemahnya lapisan penghalang dapat membantu membuka aliran konveksi dan meningkatkan pencampuran udara secara vertikal. Udara yang bergerak naik berpotensi membawa asap yang sebelumnya tertahan dekat permukaan ke lapisan yang lebih tinggi. Di sana, asap dapat menyebar pada wilayah yang lebih luas, sehingga konsentrasinya di dekat permukaan berpeluang menurun. Hasilnya tidak otomatis terjadi, karena bergantung pada keadaan cuaca, karakter lapisan inversi, serta dinamika atmosfer saat operasi dilakukan.

Seto juga menyampaikan bahwa proses pendinginan lokal dapat meningkatkan peluang pertumbuhan awan. Awan yang terbentuk kemudian dapat menjadi sasaran penyemaian dalam operasi modifikasi cuaca, apabila syarat meteorologisnya terpenuhi. Dengan demikian, penggunaan es kering memiliki dua kaitan dalam penanganan asap: mendorong perubahan kondisi atmosfer agar pencampuran vertikal lebih mungkin terjadi, serta berpotensi mendukung terbentuknya awan untuk tahap operasi berikutnya. Mekanisme ini merupakan upaya berbasis kondisi atmosfer, bukan jaminan bahwa asap akan segera hilang. Pemantauan dan penilaian cuaca tetap diperlukan untuk menentukan lokasi, waktu, dan kelayakan pelaksanaan penyemaian dari pesawat.

Garam dan es kering memiliki fungsi berbeda dalam penanganan asap kebakaran hutan dan lahan. Budi menjelaskan bahwa garam, atau natrium klorida (NaCl), disemai ke awan yang berdasarkan pemantauan dinilai berpotensi mendukung terjadinya hujan. Partikel garam dapat membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan. Karena itu, penggunaannya bergantung pada keberadaan awan yang sesuai, bukan sebagai bahan yang langsung menghilangkan asap atau memadamkan api.

Hujan yang diharapkan dari penyemaian garam dapat membantu membasahi lahan terdampak karhutla. Kondisi lahan yang lebih basah berpotensi mendukung upaya pengendalian kebakaran, tetapi penyemaian awan bukan pengganti pemadaman di lapangan. Penanganan tetap dilakukan melalui berbagai langkah, termasuk pemadaman dari darat dan pengerahan helikopter untuk water bombing. Pilihan tindakan disesuaikan dengan keadaan cuaca, awan, serta kebutuhan di lokasi, sehingga fungsi setiap upaya tidak disamakan.

Berbeda dari garam, es kering digunakan dalam keadaan ketika lapisan inversi menahan asap dan awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas. Dalam kondisi tersebut, perhatian diarahkan pada perubahan dinamika atmosfer yang dapat membantu mengurangi penumpukan asap. Budi menyampaikan bahwa ketika inversi terbuka dan jarak pandang membaik, sebagian partikulat dapat terdispersi ke lapisan yang lebih tinggi. Kepekatan asap pun dapat berkurang, diikuti penurunan indeks PM2.5. Perubahan ini tidak berarti kebakaran otomatis padam; pemadaman tetap perlu berjalan bersamaan.

Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla