Makassar | Dalam rangka menyambut Hari Menopause Sedunia yang diperingati setiap 18 Oktober, Andrew Susanto mengajak warga Masale, Makassar, untuk memberi perhatian lebih pada kesehatan perempuan di berbagai tahap kehidupan. Kegiatan tersebut berlangsung di Helens Play Mart Makassar pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Warga setempat mengikuti senam somatik sebagai bagian dari acara, yang memadukan aktivitas bersama dengan ajakan untuk memahami isu kesehatan perempuan, termasuk menopause.
Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, tetapi pemahaman mengenai perubahan yang menyertainya masih perlu diperluas. Melalui kegiatan di Masale, pembahasan tentang menopause ditempatkan dalam konteks kesehatan perempuan secara menyeluruh, bukan sebagai isu yang hanya relevan bagi kelompok usia tertentu. Ajakan ini juga menekankan pentingnya perhatian yang berkesinambungan terhadap kesehatan, karena kebutuhan tubuh dapat berubah seiring perjalanan hidup.
Senam somatik menjadi kegiatan yang diikuti warga dalam acara tersebut. Pendekatan ini memberi ruang bagi peserta untuk bergerak dan memperhatikan tubuh, sejalan dengan tujuan acara yang mendorong kesadaran terhadap kesehatan. Kegiatan bersama seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk membuka percakapan mengenai menopause dan fase kehidupan lainnya, tanpa mengesampingkan pengalaman serta kebutuhan masing-masing perempuan. Pesan utamanya ialah bahwa perhatian terhadap kesehatan perempuan layak hadir dalam pembicaraan publik pada setiap tahap kehidupan.
Pelaksanaan kegiatan beberapa hari setelah tanggal peringatan Hari Menopause Sedunia turut membawa pesan tersebut kepada warga setempat. Dengan mengajak masyarakat memahami menopause dan memperhatikan kesehatan perempuan secara lebih luas, Andrew Susanto mendorong kepedulian yang tidak terbatas pada satu momen peringatan. Acara di Helens Play Mart Makassar ini menghubungkan edukasi dengan aktivitas bersama warga, sekaligus mengingatkan bahwa menopause merupakan bagian dari perjalanan hidup yang patut dipahami dan dibicarakan secara terbuka serta bijak.
Andrew Susanto menjelaskan bahwa menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, bukan pengalaman yang seragam bagi setiap orang. Meski demikian, pemahaman masyarakat mengenai perubahan yang dapat menyertainya masih perlu ditingkatkan. Pengetahuan yang lebih baik membantu warga melihat menopause sebagai bagian dari perjalanan kehidupan, serta memahami bahwa perubahan pada tubuh maupun perasaan dapat muncul selama masa transisi ini. Penjelasan tersebut juga membuka ruang bagi pembicaraan yang lebih terbuka, sehingga pengalaman perempuan tidak dianggap aneh atau disalahartikan sebagai persoalan yang sama pada semua orang. Dengan demikian, informasi yang tepat dapat membantu masyarakat memahami fase ini secara lebih wajar dan menghargai perbedaan pengalaman setiap perempuan.
Masa transisi menuju menopause umumnya terjadi pada perempuan berusia 45–55 tahun. Dalam periode tersebut, perubahan hormon dapat memunculkan beragam sensasi dan keluhan. Sebagian perempuan mungkin mengalami rasa panas yang datang secara mendadak, yang dikenal sebagai hot flashes. Gangguan tidur juga dapat terjadi, demikian pula perubahan suasana hati. Selain itu, keluhan pada otot dan persendian dapat menjadi bagian dari perubahan yang dirasakan. Gejala-gejala tersebut merupakan contoh perubahan yang mungkin muncul, tetapi tidak berarti setiap perempuan akan mengalami semuanya. Menjelaskan rentang usia dan ragam perubahan ini dapat membantu warga Masale memahami bahwa menopause berlangsung sebagai proses, bukan satu peristiwa yang memiliki bentuk sama bagi semua orang.
Andrew menekankan pentingnya memahami bahwa pengalaman menopause berbeda-beda. Ada perempuan yang merasakan beberapa perubahan dengan jelas, sementara perempuan lain mungkin mengalami perubahan yang berbeda atau tidak merasakan keluhan yang sama. Perbedaan ini membuat informasi yang memadai penting, agar pembahasan tentang menopause tidak dibangun dari anggapan bahwa semua orang melalui pengalaman identik. Pemahaman yang baik juga membantu keluarga dan masyarakat mengenali perubahan fisik serta emosional sebagai bagian dari fase alami tersebut, tanpa mengabaikan keunikan pengalaman individu. Dengan informasi yang jelas, warga dapat membicarakan menopause secara lebih terbuka dan memahami bahwa setiap perempuan memiliki pengalaman tersendiri dalam menjalani masa transisi ini.
Kegiatan senam somatik bersama warga Kelurahan Masale ditujukan untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri dan kebugaran. Melalui gerakan yang dilakukan dengan perhatian pada sensasi tubuh, peserta dapat berlatih mengenali kemampuan, kenyamanan, serta batas masing-masing. Tujuannya bukan membandingkan performa atau mencapai gerakan paling sulit, melainkan memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak secara terarah. Pendekatan ini mengingatkan bahwa aktivitas fisik dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap orang. Dengan demikian, senam menjadi kesempatan untuk merawat diri, sekaligus membangun kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Andrew Susanto menekankan bahwa edukasi kesehatan tidak harus disampaikan dengan cara kaku atau terasa jauh dari pengalaman warga. Informasi dapat hadir melalui kegiatan yang menyenangkan, inklusif, dan akrab, sehingga peserta lebih mudah terlibat dan bertanya. Senam bersama membuka kesempatan untuk berbincang tentang kebugaran, perubahan tubuh, serta cara memilih aktivitas yang terasa aman dan bermanfaat. Suasana kebersamaan juga membantu peserta dengan latar dan tingkat kebugaran berbeda untuk mengikuti kegiatan tanpa tekanan. Pesan kesehatan pun menjadi lebih dekat dengan keseharian: mengenali apa yang dirasakan tubuh, bergerak sesuai kemampuan, dan mencari informasi ketika ada hal yang perlu dipahami lebih lanjut.
Olahraga teratur tetap penting untuk menjaga kebugaran, tetapi keteraturan tidak berarti setiap latihan harus berat atau berintensitas tinggi. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan tubuh dapat berubah; karena itu, seseorang perlu lebih cermat memperhatikan kenyamanan, energi, dan respons tubuh saat bergerak. Memilih durasi, tempo, serta jenis aktivitas yang sesuai dapat menjadi langkah bijak untuk membangun rutinitas yang berkelanjutan. Jika gerakan menimbulkan rasa tidak nyaman, peserta dapat mengurangi intensitas atau berhenti sejenak. Dengan memahami kebutuhan tubuh, warga dapat memandang olahraga sebagai bagian dari perawatan diri, bukan perlombaan untuk mencapai beban latihan tertentu. Pesan ini relevan bagi siapa pun, termasuk mereka yang sedang menghadapi perubahan pada masa menopause.
Andrew Susanto mengingatkan warga Masale agar tidak menentukan pilihan olahraga hanya karena suatu aktivitas sedang populer atau terlihat dilakukan banyak orang. Tren dapat menjadi inspirasi untuk bergerak, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, dan kemampuan setiap individu. Olahraga yang terasa mudah bagi seseorang mungkin menghadirkan tantangan berbeda bagi orang lain. Karena itu, keputusan untuk mulai berlatih sebaiknya didasarkan pada pemahaman terhadap tubuh sendiri, bukan semata-mata dorongan untuk mengikuti lingkungan.
Setiap jenis olahraga memiliki fokus dan tuntutan yang berlainan. Latihan kekuatan, misalnya, membantu melatih otot dan mendukung kemampuan tubuh menjalankan kegiatan sehari-hari. Aktivitas yang mengutamakan daya tahan jantung dan paru-paru menantang tubuh untuk bergerak dalam waktu tertentu, sedangkan latihan fleksibilitas dan keseimbangan membantu menjaga keluwesan gerak serta kestabilan. Perbedaan ini berarti tidak ada satu bentuk olahraga yang otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Manfaatnya bergantung pada kesesuaian aktivitas dengan kondisi dan tujuan masing-masing.
Prinsip yang ditekankan Andrew adalah mengenali kebutuhan tubuh, memahami batas kemampuan, serta berolahraga dengan aman dan konsisten. Memulai secara bertahap dapat membantu seseorang menilai respons tubuh sebelum meningkatkan intensitas atau durasi latihan. Jika muncul rasa tidak nyaman, aktivitas dapat disesuaikan, dan pertimbangan tenaga kesehatan mungkin diperlukan sesuai situasi. Konsistensi dalam kegiatan yang realistis sering lebih bermanfaat dalam jangka panjang daripada latihan berat yang dilakukan sesekali karena mengikuti tren. Pilih kegiatan yang dapat dijalankan secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi kebugaran tanpa mengabaikan kondisi pribadi.
Baca juga: Memahami Papua: Koops TNI Habema Menyalakan Kembali Asa di Lembah Ugimba | Panglima TNI: Olahraga Bentuk Karakter dan Semangat Pantang Menyerah | Olahraga Bersama Pererat Persahabatan Prajurit TNI dan Negara Sahabat di SGS 2026






