Jakarta | Mar’ie Muhammad dikenal luas sebagai Menteri Keuangan pada masa Orde Baru, tetapi pesan yang ia sampaikan kepada keluarganya menunjukkan bahwa ia tidak menghendaki anak-anaknya menempuh jalan karier yang sama. Menurut kenangan istrinya, Etty Muhammad, pesan tersebut disampaikan setelah anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan. Pada saat itu, Mar’ie meminta agar mereka tidak mengikuti jejaknya menjadi pegawai negeri.
Etty mengingat harapan suaminya dengan jelas: ia tidak ingin ada keturunannya yang menjadi pegawai negeri. Permintaan itu tercatat dalam autobiografi Mr. Clean Marie Muhammad (2025), yang memuat kenangan keluarga mengenai sikap dan pandangan Mar’ie. Dalam buku tersebut, inti pesannya disampaikan sebagai permintaan agar anak-anaknya tidak menjadi pegawai negeri. Pesan ini terasa kontras dengan perjalanan hidupnya sendiri, sebab Mar’ie menghabiskan karier panjang di pemerintahan dan memegang jabatan penting di bidang keuangan negara.
Keinginan itu tidak serta-merta berarti Mar’ie meremehkan pengabdian kepada negara atau pekerjaan di sektor publik. Kisah yang disampaikan Etty lebih tepat dibaca sebagai pandangan pribadi seorang ayah tentang pilihan hidup anak-anaknya. Setelah memperoleh pendidikan, mereka diharapkan mempertimbangkan jalan karier lain, bukan otomatis masuk ke lingkungan birokrasi hanya karena sang ayah pernah bekerja di dalamnya. Dengan demikian, pesan tersebut juga memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk menentukan arah hidup secara mandiri.
Kenangan Etty membantu memperlihatkan sisi keluarga dari sosok yang kerap diingat melalui reputasi dan jabatannya. Di tengah pengalaman Mar’ie sebagai pejabat negara, ia justru berharap anak-anaknya tidak mengulang pilihan profesional yang sama. Pesan itu menjadi salah satu bagian menarik dari kisah keluarga Muhammad: sebuah nasihat yang disampaikan setelah pendidikan selesai, dengan harapan agar keturunannya memilih kehidupan dan pekerjaan mereka sendiri. Catatan dalam autobiografi tersebut juga mengabadikan bagaimana Etty mengingat ketegasan harapan suaminya, tanpa menghapus kenyataan bahwa Mar’ie sendiri pernah mengabdi melalui pemerintahan.
Keinginan Mar’ie Muhammad agar anak-anaknya tidak mengikuti jejaknya sebagai pegawai negeri tentu menimbulkan pertanyaan. Mereka tumbuh dengan melihat sang ayah menjalani karier panjang di lingkungan birokrasi, sebuah dunia yang menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga. Karena itu, larangan tersebut terasa tidak langsung mudah dipahami. Jika pekerjaan itu telah dijalani ayah mereka selama bertahun-tahun, mengapa anak-anaknya justru diminta untuk tidak memilih jalan yang sama? Pertanyaan itu mencerminkan jarak pengalaman Mar’ie sendiri dan pesan yang ia sampaikan kepada keluarganya.
Salah seorang anaknya kemudian menanyakan alasan larangan itu secara langsung. Ia ingin memahami mengapa dirinya tidak boleh menjadi pegawai negeri, terutama karena ayahnya sendiri bekerja di pemerintahan. Mar’ie menjawab dengan singkat bahwa anaknya tidak akan memahami godaan yang ada di sana. Jawaban tersebut tidak disertai uraian panjang ataupun penjelasan terperinci mengenai bentuk godaan yang dimaksud. Dengan demikian, inti pesannya terletak pada peringatan bahwa pengalaman bekerja di lingkungan pemerintahan dapat menghadirkan tantangan yang belum tentu dapat dipahami seseorang sebelum mengalaminya sendiri.
Pernyataan itu juga menunjukkan bahwa Mar’ie tidak sekadar menyampaikan pilihan profesi yang ia sukai atau tidak sukai. Ia berbicara dari pengalaman pribadi yang telah berlangsung lama di birokrasi, tetapi tetap memilih untuk menjaga jawabannya agar ringkas. Anak-anaknya mengetahui bahwa ayah mereka mengenal lingkungan tersebut secara dekat, sehingga peringatannya memiliki bobot tersendiri. Namun, tanpa penjelasan tambahan, mereka tidak memperoleh gambaran khusus tentang apa yang dimaksud dengan godaan itu. Yang dapat dipahami dari percakapan tersebut adalah sikap berhati-hati Mar’ie terhadap pekerjaan di pemerintahan dan keinginannya agar anak-anaknya menyadari adanya risiko yang mungkin tidak terlihat dari luar. Jawaban singkat itu meninggalkan ruang bagi mereka untuk merenungkan alasan ayahnya, sekaligus menegaskan bahwa pengalaman seseorang di dalam suatu profesi dapat membentuk nasihat yang berbeda bagi generasi berikutnya. Ia tidak mengubah kariernya sendiri, tetapi berusaha memberi batas bagi pilihan anak-anaknya berdasarkan penilaian yang tumbuh dari pengalaman tersebut. Peringatan itu disampaikan sebagai nasihat keluarga, bukan penjelasan umum tentang semua pegawai negeri atau seluruh lembaga pemerintahan.Mar’ie Muhammad tidak mengarahkan anak-anaknya untuk mengikuti jalur karier yang sama dengannya. Dalam pandangannya, mereka dapat mempertimbangkan pekerjaan di bidang lain, sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Pilihan tersebut memberi ruang bagi anak-anaknya untuk membangun kehidupan profesional tanpa harus masuk ke dalam birokrasi pemerintahan. Nasihat itu bukan larangan terhadap profesi tertentu, melainkan penegasan bahwa menjadi pegawai negeri bukan satu-satunya jalan untuk bekerja dan mengembangkan diri.
Selain bekerja di luar pemerintahan, anak-anaknya juga dapat memilih untuk membuka usaha sendiri. Wirausaha menjadi alternatif yang berbeda dari pekerjaan sebagai aparatur negara, karena seseorang dapat membangun kegiatan ekonomi secara mandiri. Namun, tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa Mar’ie menetapkan bidang usaha tertentu atau mengharuskan anak-anaknya menjadi pengusaha. Inti nasihatnya adalah bahwa mereka memiliki pilihan karier lain, baik sebagai pekerja di sektor berbeda maupun melalui usaha yang dirintis sendiri.
Pandangan tersebut menarik karena berlawanan dengan perjalanan karier Mar’ie sendiri. Ia meniti karier di lingkungan pemerintahan dan kemudian mencapai jabatan Menteri Keuangan. Pengalaman itu menempatkannya pada posisi penting dalam birokrasi negara, sementara nasihat kepada anak-anaknya justru membuka kemungkinan bagi mereka untuk menempuh jalur profesional di luar birokrasi. Perbedaan ini dapat dicatat tanpa menganggap bahwa Mar’ie menilai kariernya sendiri secara negatif atau memiliki alasan tertentu yang tidak disebutkan dalam keterangan yang tersedia.
Dengan demikian, pesan yang dapat ditarik dari nasihat tersebut terbatas pada pengakuan atas beragam pilihan pekerjaan. Anak-anak Mar’ie tidak harus menyalin riwayat profesional ayahnya; mereka dapat bekerja di sektor lain atau mencoba membangun usaha mandiri. Sikap itu menunjukkan bahwa keberhasilan karier tidak semata-mata diukur dari jabatan dalam pemerintahan. Akan tetapi, tanpa keterangan tambahan, tidak tepat untuk menyimpulkan pertimbangan pribadi atau motif lain di balik nasihat tersebut. Yang jelas, Mar’ie memberi anak-anaknya alternatif di luar birokrasi, meskipun dirinya mencapai posisi tinggi sebagai Menteri Keuangan.
Nasihat Mar’ie Muhammad agar anak-anaknya tidak menjadikan pegawai negeri sebagai tujuan hidup dapat dipahami dalam konteks birokrasi yang sedang ia saksikan. Pada masa Orde Baru, korupsi dan pungutan liar dalam pelayanan publik bukan sekadar persoalan segelintir petugas, melainkan masalah yang berulang dan merugikan warga. Pengurusan dokumen atau kebutuhan administratif yang semestinya mengikuti prosedur resmi kerap diwarnai permintaan uang tambahan. Situasi semacam itu membuat jabatan publik berisiko dipandang sebagai jalan memperoleh keuntungan pribadi, bukan amanah untuk melayani masyarakat.
Gambaran mengenai praktik tersebut juga dicatat J.B. Sumarlin, pendahulu Mar’ie sebagai Menteri Keuangan, dalam autobiografinya, J.B. Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah (2012). Ia menceritakan bahwa warga kerap diminta membayar berkali-kali ketika mengurus keperluan. Pungutan itu dapat muncul pada tahap yang berbeda, sehingga biaya yang ditanggung pemohon bertambah dan proses menjadi tidak pasti. Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan, praktik demikian bukan hanya beban ekonomi; hal itu juga mengikis kepercayaan terhadap lembaga yang seharusnya bekerja berdasarkan aturan.
Sumarlin berupaya memeriksa keadaan secara langsung melalui inspeksi mendadak ke unit pelayanan.
Baca juga: Kalapas Cibinong dan 16 Pegawai Dipecat, Dugaan Suap Fasilitas Lapas Disorot | Kemensos Menjatuhkan Sanksi Berat kepada 620 Pegawai Terkait Transaksi Judi Online | Teknologi AI FDC Dental Clinic Pangkas Reservasi Dokter Gigi Menjadi 15 Detik
30 kunjungan
