Kabupaten Parigi Moutong | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan masih terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi dan menimbulkan dampak bagi masyarakat. Perkembangan kejadian tersebut dihimpun dalam pemantauan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB sejak Sabtu, 7 November 2026 pukul 07.00 WIB hingga Minggu, 8 November 2026 pukul 07.00 WIB. Laporan itu menggambarkan perlunya kewaspadaan dan koordinasi berkelanjutan, terutama ketika kondisi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran serta mengganggu kehidupan warga.
Keterangan mengenai sejumlah kejadian disampaikan Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Salah satu peristiwa yang tercatat adalah karhutla di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Api diketahui muncul pada Kamis, 5 November 2026, sekitar pukul 20.00 WITA di kawasan Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Torue.
Kebakaran tersebut menghanguskan lahan sekitar dua hektare. BNPB menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Setelah api terdeteksi, BPBD setempat berkoordinasi dengan TNI, Polri, aparat desa, dan warga untuk menangani kebakaran. Kerja bersama ini mendukung upaya pemadaman sekaligus membantu memastikan informasi dan penanganan di lokasi dapat dilakukan secara terarah. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari laporan pemantauan bencana yang disampaikan BNPB kepada masyarakat.
Kobaran api berhasil dipadamkan dan penanganan berakhir sekitar pukul 00.15 WITA pada Jumat, 6 November 2026. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran yang meluas hingga sekitar dua hektare menunjukkan bahwa ancaman karhutla tetap perlu diperhatikan. Pemantauan BNPB juga mencakup kondisi kekeringan di wilayah Sulawesi, yang dapat berdampak pada warga dan kebutuhan sehari-hari. Informasi berkala mengenai kejadian serta respons petugas menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, melaporkan potensi kebakaran dengan cepat, dan mendukung langkah pencegahan di lingkungan masing-masing.
Dua kebakaran lahan yang terjadi di Sulawesi Tenggara pada awal November 2026 berhasil dipadamkan setelah ditangani oleh petugas dan warga. Peristiwa pertama berlangsung di Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, pada Rabu, 4 November 2026. Api dilaporkan mulai sekitar pukul 10.58 WITA dan melalap lahan dengan luas kurang lebih empat hektare. Menurut Berton, kebakaran dipicu aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan oleh pemiliknya. Informasi penyebab tersebut menjadi perhatian dalam upaya mencegah kejadian serupa, terutama ketika kondisi lahan kering membuat api berisiko menyebar.
BPBD Kota Kendari bekerja bersama tim pemadam kebakaran dan penyelamatan untuk memadamkan kobaran di Baruga. Setelah api berhasil dikendalikan, petugas melakukan pendinginan dan pemeriksaan menyeluruh pada area terdampak. Langkah lanjutan itu ditujukan untuk memastikan tidak tersisa titik api yang berpotensi menyala kembali dan memicu kebakaran susulan. Hingga Sabtu, 7 November, api telah padam. Pemeriksaan pascakebakaran menjadi bagian penting penanganan karena bara yang tersembunyi dapat kembali membesar, khususnya apabila tertiup angin atau bertemu dengan vegetasi kering di sekitar lokasi.
Kebakaran lain terjadi di Desa Tembe, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, pada Kamis, 5 November 2026, sekitar pukul 08.01 WITA. Api membakar sekitar satu hektare lahan. BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat setempat bergotong royong melakukan pemadaman hingga api dinyatakan padam. Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko tersebut, Pemerintah Kabupaten Bombana telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan tahun 2026. Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Bupati Bombana Nomor 100.3.3.2-899 Tahun 2026 dan berlaku mulai 1 Oktober hingga 30 November 2026. Status siaga ini menjadi landasan koordinasi penanganan, sekaligus mengingatkan warga agar tidak membakar lahan secara terbuka, segera melaporkan asap atau titik api, dan mengikuti arahan petugas selama masa rawan kebakaran.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan terjadi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 7 November 2026, sekitar pukul 13.32 WITA. Api membakar kebun milik warga di kawasan Pegunungan Buntu Kamiri, yang mencakup Kelurahan Padang Sappa, Kecamatan Ponrang, serta Desa Sampano, Kecamatan Larompong Selatan. Luas area terdampak diperkirakan mencapai enam hektare. Kondisi lahan yang kering dan tiupan angin kencang membuat api mudah merambat, sehingga penanganan perlu dilakukan segera agar kebakaran tidak meluas ke area lain.
BPBD Kabupaten Luwu menangani kejadian bersama petugas pemadam kebakaran, TNI, dan masyarakat setempat. Tim melakukan pemadaman serta pendinginan secara manual untuk mengendalikan titik api dan mencegah bara menyala kembali. Upaya tersebut berlangsung di medan pegunungan yang terjal, sehingga akses menuju lokasi menjadi tantangan bagi petugas. Kondisi ini juga membatasi pergerakan personel dan perlengkapan, sementara api berpotensi menjalar mengikuti vegetasi kering dan arah angin. Kerja sama antarpihak menjadi penting untuk menjangkau area terdampak dan menjaga keselamatan warga maupun petugas.
Situasi di dua lokasi menunjukkan perkembangan berbeda. Hingga Sabtu malam, api masih terpantau menyala di kawasan Gunung Buntu Kamiri, sehingga pemantauan dan penanganan lanjutan tetap diperlukan. Sementara itu, kebakaran di Desa Sampano dilaporkan padam pada pukul 19.20 WITA. Petugas perlu memastikan area yang telah dipadamkan benar-benar dingin guna mengurangi risiko munculnya kembali titik api. Untuk mendukung operasi berikutnya, diperlukan tambahan peralatan pemadaman yang sesuai dengan medan sulit, serta perlengkapan pelindung diri bagi personel. Ketersediaan sarana tersebut dapat membantu tim bekerja lebih aman dan efektif saat memadamkan api maupun melakukan pendinginan di kawasan pegunungan.
Selain karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi, kekeringan juga masih berdampak pada warga Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Musim kemarau yang berlangsung sejak Agustus 2026 telah mengurangi cadangan air bersih yang tersedia bagi masyarakat. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air menjadi perhatian, terutama di desa-desa yang terdampak kekeringan.
Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak kekeringan tercatat mengenai sekitar 1.868 kepala keluarga atau 5.574 jiwa. Warga terdampak tersebar di 15 desa pada empat kecamatan, yaitu Bulagi, Bulagi Selatan, Peijing Tengah, dan Bulagi Utara. Data tersebut menggambarkan cakupan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah kabupaten tersebut.
Untuk merespons kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai Kepulauan menyalurkan 520.000 liter air bersih. Penyaluran dilakukan ke 29 dusun yang membutuhkan dukungan pasokan air. Selain mendistribusikan air, BPBD juga menyediakan sarana penampungan agar air yang diterima dapat disimpan dan digunakan oleh warga.
Setiap dusun atau desa memperoleh dua bak penampungan. Masing-masing bak memiliki kapasitas 5.000 liter. Dengan demikian, penyaluran mencakup penyediaan air sekaligus tempat untuk menampung pasokan di tingkat masyarakat. Informasi mengenai jumlah bantuan dan sebaran lokasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari penanganan dampak musim kemarau di Banggai Kepulauan.
Penyaluran air bersih menjadi respons yang dilakukan pemerintah daerah terhadap berkurangnya cadangan air warga. Untuk distribusi berikutnya, mekanisme penyaluran akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Penyesuaian itu menjadi dasar dalam mengatur bantuan air bersih selanjutnya sesuai kondisi dan kebutuhan pada wilayah terdampak, tanpa mengubah cakupan informasi mengenai penyaluran yang telah dilaksanakan.
Baca juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah pada 9 Oktober | Kasus Kematian KDA di Indekos Pinang Ranti: Polisi Amankan Dua Pria dan Sejumlah Barang | BMKG Catat Dominasi Cuaca Kering, Hujan Lebat Tetap Berpeluang Terjadi di Sejumlah Daerah
11 kunjungan
