Kabupaten Seruyan | Pencarian terhadap Serda Heri, prajurit TNI Angkatan Darat yang belum ditemukan setelah helikopter MI-17 mengalami kecelakaan di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, masih terus dilakukan. Upaya tersebut melibatkan tim gabungan yang menyisir kawasan sekitar lokasi kejadian untuk menemukan korban. Kondisi perairan dan luas area pencarian menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi petugas di lapangan.
Kodam XXII/Tambun Bungai menyatakan bahwa pencarian Serda Heri masih berlangsung. Operasi ini dikerjakan bersama oleh personel TNI, Polri, Basarnas, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Keterlibatan berbagai unsur memungkinkan pencarian dilakukan secara terkoordinasi, dengan pembagian tugas sesuai kemampuan dan dukungan yang tersedia dari masing-masing lembaga.
Dalam operasi di perairan, tim menggunakan perahu landing craft rubber (LCR) sebagai sarana pencarian. Perahu tersebut membantu petugas bergerak menyusuri area yang perlu diperiksa dan mendekati titik-titik yang menjadi fokus operasi. Pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi setempat, sementara koordinasi antarpersonel terus dijaga agar penyisiran dapat berlangsung dengan tertib.
Tim gabungan melanjutkan upaya pencarian dengan mengerahkan personel dan perlengkapan yang tersedia. Informasi mengenai perkembangan operasi disampaikan oleh pihak terkait seiring berlangsungnya proses di lapangan. Hingga pencarian membuahkan hasil, fokus utama tim adalah menemukan Serda Heri di sekitar perairan tempat helikopter MI-17 mengalami kecelakaan. Seluruh unsur yang terlibat bekerja bersama dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Operasi pencarian Serda Heri di sekitar lokasi jatuhnya helikopter MI-17 di Seruyan menghadapi kendala dari kondisi perairan yang tidak mendukung penyelaman. Air yang keruh membatasi jarak pandang di bawah permukaan, sehingga penyelam sulit mengamati area pencarian secara leluasa. Di saat yang sama, arus deras dapat mengganggu pergerakan personel dan membuat penyelaman lebih berisiko. Tim juga menemukan tumpahan minyak di sekitar titik jatuhnya helikopter, yang menambah tantangan selama upaya pencarian berlangsung. Kombinasi faktor tersebut menuntut tim untuk menilai kondisi lapangan dengan cermat sebelum melanjutkan penyelaman.
Keadaan perairan berubah seiring waktu. Pada siang hari, air mulai pasang dan arus menguat, sehingga lingkungan penyelaman menjadi semakin sulit diprediksi. Perubahan pasang surut dapat memengaruhi arah maupun kekuatan arus, sementara jarak pandang yang terbatas menyulitkan penyelam menjaga orientasi dan menjangkau sasaran dengan aman. Kondisi ini juga perlu diperhitungkan dalam koordinasi penyelam dan personel pendukung di permukaan. Dalam operasi pencarian di perairan, keselamatan personel menjadi pertimbangan utama, terutama ketika sejumlah hambatan alam muncul secara bersamaan di area yang sama.
Pada Kamis sekitar pukul 13.00 WIB, penyelam Basarnas menghentikan sementara kegiatan penyelaman. Keputusan itu diambil setelah kondisi perairan dinilai berisiko bagi keselamatan personel, dengan air keruh, arus yang menguat, serta tumpahan minyak sebagai faktor yang harus diperhatikan. Penghentian sementara bukan berarti pencarian dihentikan sepenuhnya, melainkan memberi kesempatan kepada tim untuk memantau perkembangan kondisi alam dan mengevaluasi situasi di lokasi. Informasi mengenai perubahan arus dan pasang menjadi dasar penting dalam menentukan waktu serta metode operasi berikutnya. Tim akan mempertimbangkan kondisi lapangan sebelum menetapkan langkah pencarian lanjutan, agar upaya menemukan Serda Heri dapat dilakukan dengan memperhatikan keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Penanganan terhadap lima prajurit yang selamat dari kecelakaan helikopter MI-17 di Seruyan dilanjutkan dengan evakuasi menuju Banjarmasin. Setelah sebelumnya berhasil dikeluarkan dari lokasi kejadian, mereka diberangkatkan menggunakan helikopter Penerbad pada pukul 10.10 WIB. Pemindahan ini dilakukan agar para korban dapat memperoleh pemeriksaan dan perawatan medis lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang memadai. Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan para korban, sementara pencarian Serda Heri masih berlanjut.
Lima prajurit yang dievakuasi tersebut adalah Kapten Cpn Febri, Letda Cpn Frjiz, Pratu Gilang, Serka Kadia, dan Kapten Suganda. Mereka dilaporkan mengalami luka yang cukup serius serta trauma akibat insiden tersebut. Kondisi itu membuat penanganan lanjutan diperlukan, termasuk pemeriksaan medis untuk mengetahui kebutuhan perawatan masing-masing korban. Keberangkatan dengan helikopter Penerbad memungkinkan mereka dipindahkan dari lokasi penanganan awal menuju Banjarmasin.
Evakuasi pada pagi hari itu menandai tahap berikutnya dalam upaya memastikan para prajurit yang selamat mendapatkan pertolongan sesuai kondisi mereka. Informasi mengenai luka dan trauma yang dialami menjadi alasan penting bagi para korban untuk segera ditangani tenaga medis lebih lanjut. Namun, rincian mengenai jenis luka, kondisi terkini setiap prajurit, maupun tindakan medis yang diberikan setelah tiba di Banjarmasin belum dijelaskan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, perkembangan kondisi mereka tetap menunggu informasi resmi berikutnya.
Pemberangkatan kelima prajurit tidak mengakhiri operasi penanganan di Seruyan. Perhatian tetap tertuju pada pencarian Serda Heri, yang belum disebut sebagai bagian dari rombongan korban selamat yang diberangkatkan tersebut. Sementara proses pencarian berlangsung, kelima prajurit diharapkan dapat menjalani pemeriksaan dan memperoleh perawatan sesuai kebutuhan. Informasi keberangkatan pada pukul 10.10 WIB, identitas para korban, serta laporan luka cukup serius dan trauma memberikan gambaran mengenai langkah medis yang ditempuh setelah mereka dievakuasi dari lokasi kecelakaan.
Dua prajurit TNI AD yang meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter MI-17 di Seruyan adalah Mayor Cpn Dudi dan Lettu Cpn Hafiz. Keduanya gugur ketika helikopter milik Penerbad TNI AD tersebut mengalami kecelakaan pada Rabu, 4 November. Peristiwa itu terjadi saat helikopter menjalankan misi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Kabar mengenai para korban menjadi bagian penting dari perkembangan operasi pencarian dan penanganan setelah insiden tersebut. Dalam situasi ini, proses pemulangan jenazah menjadi salah satu langkah yang dilakukan bagi kedua prajurit yang meninggal dunia.
Jenazah Mayor Cpn Dudi dan Lettu Cpn Hafiz diberangkatkan menggunakan pesawat Kassa A-9035 untuk menjalani proses pemulangan. Mayor Cpn Dudi diberangkatkan menuju Semarang, sedangkan Lettu Cpn Hafiz menuju Bandung. Pengiriman jenazah ke masing-masing tujuan tersebut dilakukan agar proses pemulangan dapat dilanjutkan sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Informasi ini menandai penanganan terhadap dua korban yang telah ditemukan, sementara perhatian juga tertuju pada perkembangan pencarian prajurit lain yang masih belum diketahui keberadaannya. Tidak ada keterangan tambahan mengenai penyebab kecelakaan dalam informasi yang disampaikan.
Kecelakaan MI-17 tersebut terjadi ketika helikopter sedang menjalankan tugas dalam misi penanggulangan karhutla. Misi itu menempatkan awak dan prajurit di tengah operasi yang berkaitan dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Seruyan. Namun, penjelasan mengenai rangkaian kejadian maupun faktor yang menyebabkan helikopter jatuh tidak disertakan dalam keterangan tersebut. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan pada tahap ini mencakup identitas dua prajurit yang meninggal, tujuan pemulangan jenazah, serta konteks misi helikopter sebelum kecelakaan.
Di tengah proses pemulangan Mayor Cpn Dudi dan Lettu Cpn Hafiz, upaya pencarian terhadap Serda Heri tetap menjadi perhatian. Pencarian terhadap Serda Heri akan terus dilanjutkan setelah kecelakaan yang menimpa helikopter MI-17 milik Penerbad TNI AD itu. Dengan demikian, operasi belum berakhir meskipun dua jenazah telah diberangkatkan menuju Semarang dan Bandung. Perkembangan berikutnya bergantung pada kelanjutan upaya pencarian di lokasi kejadian. Untuk saat ini, penegasan utamanya adalah bahwa pencarian Serda Heri tetap dilanjutkan, tanpa menyimpulkan penyebab kecelakaan yang terjadi pada Rabu, 4 November.
Baca juga: Perayaan Gelar Juara Timnas Indonesia Berlanjut di Tribun SUGBK | Pemadaman TPA Jatibarang Berlanjut, Puluhan Warga Mengalami Gangguan Pernapasan | Penataan Transisi Bandung Zoo Diprioritaskan Sebelum Revitalisasi Berlanjut
76 kunjungan
