Penataan Transisi Bandung Zoo Diprioritaskan Sebelum Revitalisasi Berlanjut

Penataan Transisi Bandung Zoo Diprioritaskan Sebelum Revitalisasi Berlanjut

KOTA BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Pemerintah Kota Bandung memastikan proses transisi pengelolaan Bandung Zoo menjadi perhatian utama sebelum agenda revitalisasi dilanjutkan. Peralihan pengelolaan tidak hanya dipandang sebagai perubahan administratif atau operasional, tetapi juga sebagai tahapan penting untuk memastikan seluruh pihak yang terdampak memperoleh kepastian. Penataan dilakukan agar kegiatan kebun binatang tetap berjalan secara tertib, sementara rencana pengembangan ke depan memiliki dasar pengelolaan yang lebih jelas.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sosial, khususnya yang berkaitan dengan para eks pekerja, menjadi prioritas dalam masa transisi tersebut. Perubahan pengelolaan dapat menimbulkan dampak terhadap hubungan kerja, mata pencaharian, dan komunikasi pihak-pihak yang sebelumnya terlibat dalam operasional Bandung Zoo. Karena itu, pemerintah kota mendorong penyelesaian yang dilakukan secara terbuka, terukur, dan mempertimbangkan kondisi para pekerja yang terdampak.

Langkah tersebut dipandang penting untuk mencegah persoalan sosial berlarut-larut dan menghambat proses penataan secara keseluruhan. Pemerintah Kota Bandung berupaya memastikan bahwa transisi dapat berlangsung dengan baik melalui koordinasi bersama pihak terkait, termasuk pengelola baru, Faunaland. Koordinasi itu diharapkan menghasilkan kejelasan mengenai pembagian peran, keberlanjutan layanan, serta penanganan berbagai persoalan yang masih tersisa dari masa pengelolaan sebelumnya.

Setelah masa transisi tertata, revitalisasi Bandung Zoo diharapkan dapat dilanjutkan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada pembaruan fasilitas, tetapi juga perlu memperhatikan kesejahteraan satwa, kualitas layanan bagi pengunjung, serta keberlanjutan operasional. Dengan penyelesaian aspek sosial sebagai landasan awal, pemerintah dan Faunaland memiliki ruang yang lebih kuat untuk menyusun tahapan revitalisasi, menetapkan prioritas, dan membangun tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan. Kepastian dalam proses peralihan juga menjadi faktor penting agar revitalisasi berjalan sesuai tujuan dan memberi manfaat bagi Bandung.

Pemerintah Kota Bandung menempatkan penyiapan kesempatan kerja bagi eks karyawan Bandung Zoo sebagai salah satu prioritas dalam masa perubahan pengelolaan. Langkah ini dilakukan untuk menuntaskan aspek sosial yang muncul selama proses transisi, sebelum agenda revitalisasi berlanjut ke tahap berikutnya. Dari 121 eks karyawan yang tercatat, sebanyak 57 orang masuk dalam kelompok pekerja terdampak.

Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah kota untuk memetakan pengalaman dan kompetensi para pekerja secara lebih menyeluruh. Mereka tidak berasal dari satu bidang pekerjaan saja, melainkan memiliki latar pengalaman yang beragam sesuai kebutuhan operasional kebun binatang. Keragaman tersebut penting diperhatikan ketika peluang kerja disiapkan, sehingga pengalaman yang telah dimiliki dapat menjadi pertimbangan dalam proses penataan berikutnya.

Bidang pengalaman para eks pekerja mencakup perawatan satwa, operasional, serta pengelolaan sarana dan prasarana. Sebagian lainnya memiliki pengalaman dalam pertamanan, nutrisi satwa, pelayanan tiket, dan administrasi. Rangkaian keahlian itu menunjukkan bahwa para pekerja terdampak memiliki peran yang beragam dalam mendukung kegiatan Bandung Zoo, baik yang berkaitan langsung dengan satwa maupun dengan pelayanan dan pengelolaan fasilitas.

Dengan mengutamakan peluang kerja, Pemkot Bandung berupaya memastikan bahwa penataan transisi turut memperhatikan kondisi para pekerja yang terdampak. Pendekatan ini menempatkan penyelesaian persoalan sosial sebagai bagian penting dari proses pengelolaan perubahan. Pemetaan jumlah pekerja dan pengalaman kerja menjadi langkah awal agar penataan dapat dilakukan secara terarah, dengan mempertimbangkan kebutuhan serta riwayat pekerjaan eks karyawan Bandung Zoo.

Fokus terhadap kesempatan kerja juga memperlihatkan bahwa revitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pembenahan fisik atau pengembangan kawasan. Proses tersebut perlu berjalan berdampingan dengan penyelesaian dampak perubahan pengelolaan terhadap sumber daya manusia. Karena itu, perhatian terhadap 57 pekerja terdampak menjadi bagian dari upaya pemerintah kota dalam menjaga agar masa transisi berlangsung secara tertib dan tetap memperhatikan aspek sosial.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, menjelaskan bahwa hasil asesmen yang dilakukan Faunaland menjadi salah satu dasar penting dalam menyusun langkah penempatan bagi para eks karyawan Bandung Zoo. Penilaian tersebut tidak hanya menggambarkan latar belakang pekerjaan, tetapi juga membantu memetakan kompetensi, pengalaman, keterampilan, serta bidang yang paling sesuai bagi setiap pekerja. Dengan demikian, proses transisi dapat dilakukan secara lebih terarah dan mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia.

Data hasil asesmen digunakan untuk melihat peluang penempatan yang realistis bagi masing-masing eks pekerja. Pemerintah Kota Bandung bersama pihak terkait perlu mencocokkan kemampuan individu dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh perangkat daerah. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi ketidaksesuaian kompetensi pekerja dan tugas yang diberikan, sekaligus meningkatkan peluang agar mereka dapat kembali bekerja secara produktif. Penempatan juga akan mempertimbangkan pengalaman kerja sebelumnya serta persyaratan yang melekat pada posisi yang tersedia.

Faunaland telah menyepakati rencana penempatan berdasarkan kompetensi para eks pekerja dan kebutuhan tenaga kerja di masing-masing perangkat daerah. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyusun skema yang tidak bersifat seragam, karena kebutuhan setiap perangkat daerah dapat berbeda, baik dari sisi jumlah personel maupun jenis keahlian yang diperlukan. Hasil asesmen akan membantu menentukan pilihan penempatan yang lebih tepat, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan kemampuan anggaran yang berlaku.

Pola penempatan yang disiapkan berupa tenaga outsourcing atau kontrak perorangan. Skema tersebut akan diterapkan sesuai kebutuhan perangkat daerah dan mekanisme yang berlaku, termasuk persyaratan administrasi serta ketentuan pengadaan tenaga kerja. Artinya, penempatan tidak serta-merta berbentuk pengangkatan sebagai aparatur sipil negara, melainkan mengikuti status kerja yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan peraturan. Pemerintah berharap skema ini dapat memberi kepastian proses bagi para eks karyawan, sembari menjaga agar penataan tenaga kerja berlangsung transparan, terukur, dan selaras dengan rencana transisi Bandung Zoo.

Faunaland menyiapkan sejumlah kebutuhan pengelolaan seiring berlangsungnya revitalisasi dan rencana pembukaan kembali Bandung Zoo untuk masyarakat. Persiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kawasan, sarana, dan fasilitas yang akan digunakan, tetapi juga mencakup penataan sistem kerja serta pembentukan organisasi pengelola. Langkah ini diperlukan agar operasional kebun binatang dapat berjalan secara tertib ketika kawasan mulai kembali menerima pengunjung.

General Manager Faunaland, Dwiki G. Prakoso, menyampaikan bahwa pihaknya tidak hanya menyiapkan kawasan dan fasilitas, tetapi juga membangun organisasi yang dapat menopang pengelolaan secara berkelanjutan. Organisasi tersebut diharapkan memiliki pembagian peran, koordinasi, dan kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Dengan persiapan itu, kebutuhan perawatan kawasan, pelayanan kepada masyarakat, serta pengelolaan satwa dapat ditempatkan dalam sistem kerja yang lebih terarah seiring berlanjutnya proses revitalisasi.

Dalam proses transisi, Faunaland juga memberikan penghargaan terhadap kontribusi para pekerja yang sebelumnya menjadi bagian dari Bandung Zoo. Mereka tetap memiliki peran penting selama masa penutupan, terutama dalam menjaga kawasan dan memastikan perawatan satwa terus berjalan. Pengalaman serta pengetahuan para pekerja mengenai kondisi lapangan menjadi bagian yang bernilai dalam mempersiapkan pengelolaan berikutnya. Keterlibatan tersebut turut membantu menjaga kesinambungan pekerjaan di tengah perubahan pengelola dan penataan kawasan.

Kesiapan organisasi, pemeliharaan fasilitas, dan keberlanjutan perawatan satwa berjalan beriringan dengan revitalisasi Bandung Zoo. Penataan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari tahapan yang perlu dipenuhi sebelum kawasan dibuka kembali untuk masyarakat. Faunaland menempatkan pembentukan pengelolaan yang berkelanjutan sebagai pendukung proses transisi, sehingga pelaksanaan revitalisasi dan persiapan pembukaan dapat berlangsung dengan mempertimbangkan kebutuhan kawasan, satwa, pekerja, serta pengunjung.