Bandung | Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat bersama Pelajar Progresif Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Trias Politika” di Bandung pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Forum ini diikuti 500 pelajar dari berbagai wilayah Bandung Raya. Jumlah peserta tersebut menunjukkan besarnya perhatian kalangan muda terhadap isu politik dan informasi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui media. Mayoritas peserta merupakan pemilih pemula, kelompok yang akan segera menggunakan hak pilih dalam proses demokrasi. Karena itu, kegiatan ini menjadi ruang edukasi yang relevan untuk memperkuat kesiapan pelajar menghadapi informasi politik sekaligus mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Tujuan utama forum adalah membekali pelajar agar lebih kritis sebagai konsumen media. Peserta diharapkan mampu menyikapi informasi politik dengan cermat, tidak langsung menerima setiap pesan yang beredar, serta mempertimbangkan sumber dan konteksnya sebelum membentuk pandangan. Kecakapan tersebut penting di tengah derasnya arus informasi, ketika berbagai kabar dan opini dapat tersebar dengan cepat melalui beragam saluran. Literasi media membantu generasi muda membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari konten yang berpotensi menyesatkan. Dengan bekal itu, pelajar dapat berpartisipasi dalam percakapan publik secara lebih bijaksana dan tidak mudah terpengaruh oleh klaim yang belum terverifikasi.
Selain membangun sikap kritis, “Trias Politika” diarahkan untuk mendorong pemilih pemula agar cerdas dan berintegritas saat menggunakan hak pilih. Pilihan politik idealnya dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata mengikuti tekanan lingkungan, kabar yang belum jelas, atau ajakan yang tidak disertai alasan memadai. Pemilih muda juga perlu memahami bahwa integritas dalam menentukan pilihan merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara. Melalui forum ini, pelajar Bandung Raya dibekali landasan untuk menilai informasi secara lebih mandiri dan mengambil keputusan dengan kesadaran penuh. Edukasi semacam ini dapat mendukung keterlibatan generasi muda dalam demokrasi yang sehat, sekaligus membantu mereka menjadi pengguna media dan pemilih yang bertanggung jawab.
Materi pembekalan mengajak peserta menyaring informasi politik sebelum menerima atau menyebarkannya. Langkah awalnya ialah memeriksa isi pesan secara cermat, memperhatikan sumber yang menerbitkan informasi, serta membandingkan keterangan dengan rujukan lain yang dapat dipercaya. Peserta juga diajak membedakan fakta, opini, dan ajakan persuasif agar tidak menganggap setiap unggahan sebagai laporan yang telah terverifikasi. Dalam isu politik, ketelitian ini penting karena informasi yang beredar dapat memengaruhi cara seseorang memahami suatu peristiwa maupun menilai pihak-pihak yang terlibat. Karena itu, membaca secara utuh dan menunda penyebaran ketika kebenaran informasi belum jelas merupakan bagian dari sikap bertanggung jawab.
Pengenalan hoaks menjadi bagian penting dari materi tersebut. Peserta diarahkan untuk tidak langsung percaya pada judul yang provokatif atau pesan yang meminta pembaca segera meneruskan informasi. Mereka perlu menelusuri asal informasi dan mencermati apakah isi yang beredar didukung oleh keterangan yang valid. Kemampuan ini membantu pelajar membedakan informasi politik yang dapat dipertanggungjawabkan dari kabar keliru atau menyesatkan. KPID Jawa Barat mencatat bahwa 80,20 persen pandangan politik Generasi Z diperoleh dari media sosial. Temuan ini menunjukkan relevansi keterampilan menilai informasi di ruang digital: ketika media sosial menjadi sumber utama pembentukan pandangan politik bagi banyak anak muda, kemampuan mengenali informasi valid dan membedakannya dari hoaks menjadi semakin penting.
Peserta juga diperkenalkan pada filter bubble dan echo chamber, dua istilah yang berkaitan dengan pengalaman seseorang dalam ruang informasi digital. Pembahasan ini membantu mereka memahami bahwa informasi yang ditemui dapat terasa berulang atau serupa, sehingga penting untuk tetap bersikap terbuka dan menilai isi secara objektif. Materi tidak hanya menekankan cara memeriksa kabar, tetapi juga mendorong pemahaman terhadap dinamika politik secara sehat. Pelajar diharapkan dapat mengikuti isu tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan, membedakan pandangan pribadi dari fakta, serta menghargai adanya perbedaan pendapat. Dengan bekal tersebut, mereka dapat berpartisipasi dalam percakapan politik secara lebih kritis, cermat, dan bertanggung jawab, baik ketika membaca maupun ketika membagikan informasi kepada orang lain.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Adiyana Slamet, menekankan bahwa literasi media merupakan bekal penting bagi pelajar di tengah derasnya arus informasi. Beragam kabar, opini, dan materi politik kini hadir melalui banyak saluran, terutama media baru yang mudah diakses lewat perangkat digital. Situasi ini menuntut pengguna tidak hanya mampu menemukan informasi, tetapi juga memahami konteks, memeriksa sumber, dan menilai kepentingan di balik pesan yang beredar.
Menurut Adiyana, pelajar perlu dibekali kecakapan untuk memilah informasi politik secara cermat. Mereka dapat membandingkan pemberitaan dari sejumlah sumber, mengenali perbedaan fakta dan pendapat, serta mempertimbangkan bukti sebelum menerima atau membagikan suatu klaim. Kebiasaan tersebut penting karena konten yang menyesatkan, provokatif, atau tidak utuh dapat memengaruhi cara seseorang memahami persoalan publik. Tanpa sikap kritis, pelajar berisiko menerima pesan begitu saja dan ikut menyebarkannya tanpa mengetahui dampaknya.
Perhatian khusus diperlukan pada media baru, tempat informasi bergerak cepat dan sering disajikan secara singkat. Pelajar hendaknya tidak hanya terpaku pada judul, potongan video, atau unggahan yang ramai dibicarakan. Mereka perlu memeriksa asal informasi, tanggal penerbitan, konteks, dan kredibilitas pihak yang menyampaikan. Langkah sederhana ini membantu menjaga proses berpikir tetap jernih, sehingga keputusan tidak terbentuk semata-mata oleh emosi atau tekanan dari lingkungan digital. Literasi juga mendorong pengguna memahami bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi.
Adiyana berharap pelajar Bandung Raya dapat tumbuh sebagai konsumen media yang kritis sekaligus pemilih pemula yang cerdas dan berintegritas. Bekal tersebut dapat membantu mereka menilai gagasan dan rekam jejak secara lebih bertanggung jawab ketika menghadapi pilihan politik, tanpa mudah dipengaruhi konten yang mengganggu pertimbangan. Penguatan literasi media juga sebaiknya berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan dan karakter, seperti rasa ingin tahu, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap perbedaan. Dengan demikian, pelajar bukan hanya mampu menyaring informasi, tetapi juga berpartisipasi secara sehat dalam kehidupan masyarakat.
Ketua Umum Pelajar Progresif Indonesia, Chandra, menyebut kolaborasi dalam kegiatan ini sebagai langkah konkret untuk membangun kesadaran politik yang sehat di kalangan pelajar. Menurutnya, pendidikan politik tidak semestinya berhenti pada pengenalan istilah atau peristiwa, tetapi juga membantu peserta memahami bagaimana isu politik berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pelajar perlu memiliki bekal untuk menilai informasi secara cermat, membedakan fakta dari opini, serta memahami konteks sebelum menyampaikan atau membagikan suatu kabar. Dengan cara tersebut, keterlibatan generasi muda dalam pembicaraan publik dapat berkembang secara lebih bertanggung jawab.
Chandra juga menekankan bahwa isu politik berpengaruh terhadap kebijakan publik, termasuk keputusan yang dapat berdampak pada masyarakat luas. Karena itu, perspektif penyiaran dan media dinilai penting dalam pendidikan politik. Pemahaman mengenai cara informasi diproduksi dan disebarkan dapat membantu pelajar mengenali risiko misinformasi serta hoaks. Sikap kritis diperlukan agar informasi yang beredar tidak diterima begitu saja, terlebih ketika menyangkut isu yang sensitif atau berpotensi memengaruhi pandangan publik. Literasi media dan politik, dalam hal ini, saling melengkapi untuk membangun ruang diskusi yang lebih sehat dan berbasis informasi.
Rangkaian kegiatan kolaborasi tersebut mencakup pemaparan materi dan diskusi interaktif. Melalui sesi penyampaian materi, peserta memperoleh penjelasan mengenai pentingnya memahami informasi politik dan media, sementara diskusi memberi kesempatan untuk bertukar pandangan serta mengajukan pertanyaan.
Baca juga: Hendro Kacung Dicari Kerabat, Warga Tasikmadu Tuban Diharapkan Bantu Sebarkan Informasi | Sambut HUT TNI Ke-81, Kodim Bojonegoro bersama Polkes bekali Ratusan Pelajar Jurus Penyelamat ‘AMAN–CPR’ | Bentuk Karakter Pelajar Sejak Dini, Babinsa Lakukan Manunggal Pendidikan






