Jakarta | Kabar bahwa Lao Gan Ma akan mengganti ratusan pekerja pabrik dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) memicu perdebatan luas di media sosial China. Sejumlah pengguna mengecam dugaan langkah tersebut dan menyerukan boikot terhadap merek sambal yang dikenal luas itu. Namun, perusahaan membantah kabar mengenai pemutusan hubungan kerja massal tersebut. Karena itu, informasi tentang penggantian pekerja harus dipahami sebagai klaim yang dipersoalkan, bukan keputusan resmi yang telah dipastikan. Perbedaan rumor dan kebijakan perusahaan menjadi penting, terutama ketika percakapan daring berkembang cepat dan dapat membentuk persepsi publik sebelum seluruh fakta terverifikasi.
Reaksi keras itu juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih besar mengenai pengaruh AI terhadap pekerjaan di China. Kemajuan teknologi otomasi menjanjikan proses produksi yang lebih cepat dan efisien, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang nasib pekerja yang tugasnya berpotensi dilakukan mesin atau perangkat lunak. Kekhawatiran tersebut terasa khususnya di sektor padat karya, tempat banyak orang bergantung pada pekerjaan operasional pabrik. Bagi pekerja, perubahan teknologi bukan sekadar persoalan inovasi, melainkan juga menyangkut kepastian penghasilan, keamanan kerja, dan peluang untuk memperoleh keterampilan baru. Dalam konteks ini, kabar yang belum terkonfirmasi pun dapat memicu kecemasan nyata.
Kontroversi Lao Gan Ma memperlihatkan bagaimana isu ketenagakerjaan dan teknologi dapat bertemu dalam ruang publik. Di satu sisi, perusahaan menghadapi dorongan untuk meningkatkan produktivitas dan mengikuti perkembangan industri. Di sisi lain, masyarakat menuntut kejelasan mengenai dampak perubahan tersebut terhadap pekerja, serta transparansi tentang rencana perusahaan. Seruan boikot menunjukkan bahwa konsumen dapat menggunakan pilihan belanja untuk menyampaikan keberatan, meskipun dasar seruan itu masih berupa klaim yang dibantah. Perdebatan ini juga menegaskan perlunya membedakan penggunaan AI untuk mendukung proses kerja dari penerapan yang benar-benar menghapus posisi manusia. Tanpa informasi terverifikasi, pembahasan sebaiknya tetap berfokus pada kekhawatiran publik dan penjelasan resmi, bukan menganggap PHK massal sebagai fakta.
Sorotan terhadap Lao Gan Ma bermula dari sebuah konferensi pemerintah provinsi yang berlangsung pada akhir September. Dalam acara tersebut, Li Xin, presiden eksekutif sekaligus kepala petugas mutu perusahaan, dilaporkan berbicara mengenai penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses produksi. Pembahasan itu kemudian menarik perhatian karena menghubungkan otomatisasi dengan perubahan jumlah pekerja pada salah satu lini produksi. Sejumlah pemberitaan mengutip keterangan Li tentang dampak sistem pemeriksaan cabai berbasis AI, tetapi laporan tersebut tidak dengan sendirinya menjadi pengumuman mengenai rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Menurut laporan mengenai pernyataan Li, sistem inspeksi cabai berbasis AI diperkenalkan pada tahun sebelumnya untuk membantu mengidentifikasi bahan yang tidak memenuhi standar. Teknologi tersebut disebut mampu meningkatkan pemeriksaan dan menekan tingkat kecacatan produk. Dalam konteks ini, penggunaan AI dipaparkan sebagai bagian dari upaya pengendalian mutu, yakni memilah cabai secara lebih konsisten sebelum bahan masuk ke tahapan produksi berikutnya. Informasi yang beredar berfokus pada fungsi sistem dan perubahan operasional di lini tertentu, bukan pada kebijakan ketenagakerjaan perusahaan secara keseluruhan.
Pemicu utama spekulasi muncul dari angka jumlah pekerja pada satu lini produksi. Laporan tentang ucapan Li menyebut tenaga kerja di lini itu berkurang dari lebih dari 600 orang menjadi 48 orang setelah sistem tersebut digunakan. Angka tersebut ramai dibahas dan memunculkan anggapan bahwa Lao Gan Ma akan mengurangi karyawan secara besar-besaran. Namun, penyebutan perubahan jumlah pekerja pada satu lini tidak sama dengan konfirmasi bahwa perusahaan merencanakan PHK massal. Tanpa keterangan resmi yang memastikan alasan, periode, dan cakupan perubahan tersebut, angka itu perlu dipahami secara terbatas sebagai bagian dari laporan mengenai pernyataan Li. Dengan demikian, perhatian publik terhadap otomatisasi AI sebaiknya dibedakan dari kesimpulan tentang nasib seluruh tenaga kerja perusahaan. Laporan konferensi itu menjelaskan contoh perubahan proses pada suatu lini, sedangkan klaim mengenai PHK massal memerlukan bukti atau pernyataan terpisah yang secara jelas mengonfirmasinya. Pembedaan ini penting agar pembaca tidak menganggap efisiensi inspeksi sebagai bukti otomatis adanya pemutusan kerja.Lao Gan Ma menyatakan bahwa laporan mengenai pemutusan hubungan kerja massal di perusahaannya tidak akurat. Bantahan tersebut disampaikan setelah kabar tentang pengurangan pekerja beredar bersamaan dengan sorotan terhadap pemanfaatan kecerdasan buatan dalam proses produksi. Perusahaan menekankan bahwa informasi yang beredar mencampuradukkan penggunaan teknologi inspeksi dengan klaim tentang jumlah pekerja yang diberhentikan. Karena itu, kedua hal tersebut perlu dipahami secara terpisah: pengakuan bahwa sistem berbasis AI digunakan tidak dengan sendirinya membenarkan dugaan terjadinya PHK dalam skala besar.
Seorang perwakilan perusahaan membenarkan bahwa Lao Gan Ma menerapkan teknologi inspeksi berbasis AI pada lini produksi yang menjadi perhatian. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung pemeriksaan produk, tetapi keterangan itu bukan pengakuan bahwa ratusan karyawan telah kehilangan pekerjaan. Perwakilan tersebut juga mengatakan bahwa lini produksi yang dibicarakan sejak awal tidak pernah mempekerjakan sebanyak jumlah yang disebut dalam laporan. Pernyataan ini menjadi alasan perusahaan menilai klaim mengenai pemberhentian ratusan pekerja tidak sesuai dengan kondisi lini tersebut. Namun, informasi yang disampaikan tidak menjelaskan secara rinci jumlah tenaga kerja sebelum maupun sesudah penerapan teknologi.
Dengan demikian, pernyataan Lao Gan Ma mengonfirmasi adanya penggunaan AI untuk inspeksi, sekaligus menyangkal klaim bahwa ratusan pekerja diberhentikan di lini yang dimaksud. Kedua keterangan ini tidak seharusnya disatukan menjadi kesimpulan bahwa otomatisasi telah menyebabkan PHK massal. Sejauh keterangan yang tersedia, perusahaan tidak mengonfirmasi adanya pemberhentian dalam jumlah seperti yang diberitakan. Penggunaan teknologi inspeksi dapat menjadi bagian dari proses produksi, tetapi dampaknya terhadap kebutuhan tenaga kerja tidak dapat ditetapkan hanya dari informasi tersebut. Untuk memahami situasi secara lebih lengkap, diperlukan data yang terverifikasi mengenai jumlah karyawan, perubahan operasional, dan kebijakan ketenagakerjaan perusahaan. Sampai ada keterangan tambahan yang dapat dipastikan, klaim PHK massal tetap merupakan kabar yang dibantah perusahaan, bukan fakta yang telah dikonfirmasi.
Reaksi pengguna media sosial China terhadap isu pemutusan hubungan kerja di Lao Gan Ma menyoroti kekhawatiran bahwa perusahaan mungkin lebih mengutamakan keuntungan dan efisiensi daripada kesejahteraan pekerja. Bagi sebagian warganet, dugaan penggantian tenaga kerja manusia dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan sulit dipisahkan dari pertanyaan mengenai tanggung jawab perusahaan kepada para karyawannya. Perdebatan tersebut menjadi semakin tajam karena Lao Gan Ma dikenal luas sebagai merek yang tumbuh dari latar belakang kelas pekerja. Sejumlah pengguna menilai langkah yang merugikan pekerja akan bertentangan dengan citra dan akar sosial perusahaan, terutama ketika merek itu telah lama memiliki tempat dalam kehidupan konsumen China.
Di Weibo, pengguna bernama Black Dragon mengkritik kemungkinan perusahaan menempatkan efisiensi di atas kepentingan pekerja. Komentar itu mencerminkan sikap sebagian pengguna yang menganggap perusahaan seharusnya tidak mengorbankan mata pencaharian karyawan demi menekan biaya atau mempercepat otomatisasi. Pengguna lain, Xin Ma28, menyampaikan ancaman untuk menarik produk Lao Gan Ma dari rak apabila pekerja diberhentikan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kritik tidak hanya menyasar kebijakan perusahaan, tetapi juga dapat memengaruhi dukungan konsumen terhadap merek. Salah satu tagar yang berkaitan dengan kontroversi ini telah meraih lebih dari 120 juta penayangan hingga Rabu, menandakan besarnya perhatian publik terhadap isu ketenagakerjaan dan penggunaan AI.
Polemik tersebut berlangsung ketika pemerintah Beijing berjanji melindungi lapangan kerja dan meningkatkan perekrutan, seraya mendorong adopsi kecerdasan buatan yang lebih cepat.
Baca juga: Praktik Judi Sabung Ayam di Weru Kandat, Ketegasan Aparat Jadi Sorotan





