Kota Solo | Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 menempatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di posisi teratas dalam simulasi pemilihan presiden yang diikuti tiga nama. Gibran memperoleh elektabilitas 29,7 persen, sedikit di atas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang meraih 28,2 persen. Sementara itu, Prabowo Subianto berada di urutan berikutnya dengan angka 22,7 persen. Selisih Gibran dan AHY tercatat 1,5 poin persentase, sedangkan jarak Gibran dengan Prabowo mencapai tujuh poin.
Angka tersebut muncul ketika pembicaraan mengenai peta politik menuju Pilpres 2029 mulai mengemuka. Hasil simulasi tiga tokoh memberi gambaran tentang dukungan responden pada saat survei dilakukan, tetapi belum dapat dianggap sebagai gambaran tetap persaingan pada pemilu mendatang. Perjalanan menuju 2029 masih panjang, dan pilihan politik masyarakat dapat bergerak seiring perubahan situasi, munculnya kandidat lain, serta dinamika koalisi dan kebijakan. Karena itu, posisi teratas dalam satu simulasi perlu dibaca dengan memperhatikan konteks, rentang waktu pengumpulan data, dan metode survei yang digunakan.
Hasil tersebut juga menarik perhatian karena muncul di tengah desakan agar Gibran mundur dari jabatan wakil presiden, termasuk seruan pemakzulan yang berkembang dalam percakapan politik belakangan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah isu-isu tersebut berkaitan dengan perubahan elektabilitas Gibran? Data yang tersedia dalam simulasi itu saja belum cukup untuk menjawabnya. Survei menunjukkan tingkat dukungan yang terukur, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik pilihan responden atau membuktikan bahwa suatu isu menyebabkan kenaikan angka. Untuk menilai kemungkinan kaitan, diperlukan informasi lebih lengkap mengenai tren survei dari waktu ke waktu, pertanyaan yang diajukan, dan alasan responden memilih masing-masing tokoh. Dengan demikian, angka 29,7 persen sebaiknya dipahami sebagai potret opini publik pada satu periode, bukan kesimpulan tentang dampak desakan politik maupun prediksi pasti hasil Pilpres 2029.
Joko Widodo menanggapi hasil survei SMRC yang menempatkan elektabilitas Gibran Rakabuming Raka di atas Prabowo Subianto dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan mengingatkan bahwa angka survei tidak bersifat tetap. Menurut Jokowi, hasil survei menggambarkan pendapat masyarakat pada waktu tertentu. Karena itu, hasil tersebut tidak sepatutnya langsung ditarik menjadi kesimpulan luas mengenai arah dukungan publik ke depan. Perubahan situasi dan pandangan masyarakat dapat memengaruhi hasil pengukuran berikutnya.
Jokowi menyampaikan tanggapan itu ketika ditemui wartawan di kediamannya di Jalan Kutai Utara, Sumber, Solo, pada Kamis, 29 Oktober. Saat dimintai pendapat mengenai posisi Gibran dalam survei tersebut, ia menekankan perlunya membaca temuan secara cermat dan sesuai konteks. Potret pada satu periode, jelasnya, tidak otomatis menjamin posisi yang sama akan bertahan pada periode selanjutnya. Elektabilitas seseorang dapat bergerak, baik naik maupun turun, sehingga hasil survei perlu dipahami sebagai data yang merekam keadaan pada saat pengumpulan dilakukan.
Wartawan juga menanyakan kemungkinan penyebab kenaikan elektabilitas Gibran, termasuk apakah hal itu berkaitan dengan polemik ijazah Jokowi dan desakan agar ia mundur. Jokowi memilih menjawab secara hati-hati dan meminta publik melihat data secara utuh sebelum mengaitkan satu isu dengan perubahan angka. Ia tidak serta-merta menghubungkan hasil survei dengan polemik tertentu. Menurutnya, ada banyak faktor yang dapat memengaruhi penilaian masyarakat, dan faktor-faktor itu bisa berdampak berbeda pada setiap tokoh.
Dengan demikian, Jokowi menilai hasil survei SMRC tersebut sebaiknya tidak dibaca terburu-buru sebagai gambaran permanen persaingan politik. Berbagai perkembangan, pemberitaan, serta respons masyarakat dapat ikut membentuk elektabilitas siapa pun. Angka yang menempatkan Gibran di atas Prabowo dan AHY mencerminkan temuan pada waktu survei dilakukan, bukan kepastian tentang hasil pada masa mendatang. Ia mengingatkan bahwa perubahan tetap mungkin terjadi, sehingga pembacaan yang proporsional perlu mempertimbangkan keseluruhan data dan konteksnya.
Dalam simulasi yang hanya memperhadapkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gibran Rakabuming Raka, AHY memperoleh dukungan lebih tinggi. Responden ditanya siapa yang akan mereka pilih sebagai presiden apabila hanya kedua nama tersebut yang maju. Hasilnya, 41,6 persen memilih AHY, sementara 36 persen menyatakan akan memilih Gibran. Sebanyak 22,4 persen lainnya belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban. Angka tersebut menunjukkan keunggulan AHY dalam skenario dua kandidat, tetapi masih terdapat bagian responden yang cukup besar tanpa pilihan pasti.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyampaikan hasil simulasi itu pada Kamis, 22 Oktober 2026. Perbandingan tersebut perlu dibaca bersama tingkat pengenalan publik terhadap masing-masing tokoh. AHY dikenal oleh 70 persen warga, lebih rendah daripada Gibran yang dikenal 97 persen dan Prabowo Subianto yang dikenal 99 persen. Dengan demikian, selisih dukungan dalam pertanyaan dua nama muncul meskipun jangkauan pengenalan AHY di kalangan responden belum setinggi Gibran. Data ini menggambarkan jawaban dalam kondisi pilihan yang dibatasi, bukan gambaran otomatis untuk semua kemungkinan kandidat.
Di warga yang mengenal AHY, 77 persen menyatakan menyukainya dan 14 persen tidak suka. Untuk Gibran, tingkat kesukaan di warga yang mengenalnya tercatat 66 persen, sedangkan 29 persen menyatakan tidak suka. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa pengenalan yang luas terhadap seorang tokoh tidak dengan sendirinya berarti tingkat kesukaan yang lebih tinggi. Ketika analisis dibatasi pada pemilih yang mengenal kedua tokoh, dukungan kepada AHY mencapai 51,1 persen dan kepada Gibran 28,7 persen. Sebanyak 20,3 persen dalam kelompok tersebut masih belum menentukan pilihan. Perbedaan hasil antarsimulasi itu menegaskan bahwa komposisi responden dan tingkat pengenalan terhadap kandidat ikut memberi konteks pada pembacaan elektabilitas.
Survei SMRC yang menjadi dasar pembahasan ini bertajuk “Efek Tahu Gibran dan AHY pada Elektabilitas Mereka”. Pengumpulan data berlangsung pada 1–10 Oktober 2026. Rentang waktu tersebut penting untuk memahami kapan jawaban responden dihimpun, sebab tingkat pengenalan terhadap tokoh dan pilihan politik dapat berubah seiring perkembangan informasi serta dinamika politik. Karena itu, hasil survei menggambarkan pendapat warga yang tercatat selama periode pelaksanaan, bukan ukuran yang dengan sendirinya berlaku tetap untuk waktu berikutnya.
Populasi yang dituju adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Kriteria itu mencakup orang berusia sedikitnya 17 tahun atau yang sudah menikah ketika survei berlangsung. Dengan batasan tersebut, survei diarahkan kepada kelompok yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih, bukan seluruh penduduk tanpa melihat usia maupun status perkawinan. Cara mendefinisikan populasi menjadi bagian penting dalam membaca hasil, karena cakupan responden menentukan kelompok masyarakat yang dapat diwakili oleh temuan penelitian.
Sampel disusun dengan dua pendekatan untuk menjangkau warga yang memiliki maupun tidak memiliki telepon genggam. Sebanyak 1.013 pemilik telepon genggam dipilih secara acak melalui metode double sampling dan diwawancarai menggunakan telepon. Sementara itu, 200 warga yang tidak mempunyai telepon genggam dipilih dengan stratified multistage random sampling, lalu diwawancarai secara tatap muka. Pemisahan cara pemilihan dan wawancara ini memungkinkan kelompok tanpa akses telepon tetap masuk dalam cakupan, sehingga survei tidak hanya mengandalkan responden yang dapat dihubungi melalui perangkat tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah responden mencapai 1.213 orang, gabungan dari kedua kelompok tersebut. SMRC mencantumkan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana atau simple random sampling.






