Kabupaten Deliserdang | Hujan berintensitas tinggi memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Bencana tersebut dilaporkan melanda sembilan kabupaten dan kota, dengan dampak yang tersebar di beberapa kawasan. Sri Wahyuni Pancasilawati dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara menyebutkan bahwa wilayah terdampak meliputi Deli Serdang, Binjai, Medan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Langkat, Padanglawas Utara, Simalungun, dan Asahan.
Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa curah hujan tinggi dapat menimbulkan lebih dari satu jenis bencana dalam waktu yang berdekatan. Banjir terjadi di sejumlah lokasi, sementara longsor juga dilaporkan di wilayah terdampak. Sebaran kejadian yang mencakup sembilan daerah tersebut membuat penanganan perlu memperhatikan kondisi setempat, termasuk keselamatan warga dan kebutuhan mereka yang terdampak. Informasi mengenai daerah-daerah tersebut disampaikan BPBD Sumatera Utara melalui Sri Wahyuni Pancasilawati.
Hingga keterangan yang disampaikan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat banjir dan longsor tersebut. Meski demikian, sebagian warga memilih atau perlu mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk menghindari risiko di sekitar lokasi bencana. Pengungsian menjadi langkah perlindungan bagi warga ketika kondisi lingkungan belum memungkinkan mereka tetap tinggal di rumah. Situasi di masing-masing daerah dapat berbeda, sehingga perkembangan dan kebutuhan warga perlu terus dipantau oleh pihak terkait.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan saat hujan berintensitas tinggi berlangsung, terutama di daerah yang berpotensi mengalami banjir maupun longsor. Warga di kawasan terdampak perlu mengikuti informasi dan arahan dari petugas setempat, serta mengutamakan keselamatan apabila kondisi memburuk. BPBD dan unsur terkait berperan dalam memantau dampak serta mendukung penanganan di sembilan kabupaten dan kota tersebut. Dengan informasi yang jelas dan koordinasi yang baik, warga dapat mengetahui langkah perlindungan yang perlu dilakukan selama situasi bencana berlangsung.
Di Kabupaten Deli Serdang, longsor terjadi pada 28 Oktober 2026 di Desa Panen, Kecamatan Biru Biru. Material longsor menutup Jalan Sarilaba dan memutus akses jalan hingga jalur tersebut lumpuh total. Kondisi ini menghambat mobilitas warga serta pengguna jalan, sementara penanganan diperlukan agar akses dapat kembali dilalui dengan aman. Kejadian longsor berlangsung saat sejumlah wilayah di kabupaten itu juga menghadapi banjir yang mulai terjadi pada tanggal yang sama.
Banjir di Deli Serdang berdampak pada lima kecamatan yang disebutkan, yakni Bangun Purba, Sunggal, Delitua, Tanjung Rejo, dan Hamparan Perak. Salah satu titik yang mengalami kerusakan berada di tanggul Sungai Sei Putih, Desa Punden Rejo, Dusun II. Bagian tanggul yang rusak memiliki lebar sekitar lima meter. Ketinggian air di kawasan terdampak tercatat mencapai 70 sentimeter. Sejumlah warga juga mengungsi akibat situasi tersebut. Kerusakan tanggul dan genangan menjadi perhatian karena keduanya dapat memengaruhi keselamatan serta aktivitas masyarakat di sekitar aliran sungai.
Di Kota Medan, banjir mulai dilaporkan pada 28 Oktober pukul 23.20 WIB. Dampaknya tercatat di empat kecamatan, dengan ketinggian air berkisar 20 hingga 150 sentimeter. Data sementara menyebutkan sebanyak 603 warga mengungsi. Informasi yang tersedia dalam laporan ini belum merinci nama keempat kecamatan maupun lokasi pengungsian, sehingga keduanya tidak dicantumkan untuk menghindari penyebutan yang keliru. Jumlah pengungsi tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring pendataan di lapangan. Perbedaan tinggi genangan di berbagai titik menunjukkan bahwa dampak banjir tidak merata, sehingga pemantauan kondisi permukiman dan kebutuhan warga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Di tengah gangguan akses di Deli Serdang dan banjir di Medan, informasi yang terverifikasi mengenai titik terdampak, kondisi tanggul, serta penampungan warga penting untuk membantu koordinasi penanganan dan penyampaian kabar kepada masyarakat.
Banjir dilaporkan melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara sejak 28 Oktober, termasuk Kota Binjai, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kabupaten Langkat. Informasi kejadian di tiga daerah tersebut menunjukkan bahwa genangan muncul pada waktu yang berdekatan, tetapi cakupan dampak yang telah diketahui berbeda-beda. Pendataan rumah terdampak di Binjai masih berlangsung, sementara lokasi yang terdampak di Mandailing Natal dan Langkat telah disebutkan berdasarkan kecamatan.
Di Binjai, banjir mulai terjadi pada 28 Oktober setelah hujan deras mengguyur sejumlah titik. Hingga informasi ini disampaikan, pendataan terhadap rumah yang terdampak masih berlangsung. Karena proses tersebut belum selesai, jumlah rumah maupun warga yang mengalami dampak belum dapat dipastikan. Angka-angka terkait dampak belum tersedia dan tidak dapat disimpulkan sebelum pendataan memberikan hasil yang terverifikasi.
Di Kabupaten Mandailing Natal, banjir terjadi sejak 28 Oktober sekitar pukul 23.00 WIB. Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Huta Bargot dan Kecamatan Panyabungan Utara. Waktu kejadian tersebut menjadi penanda bahwa banjir mulai berlangsung pada malam hari, sedangkan informasi yang tersedia mengidentifikasi kedua kecamatan itu sebagai wilayah terdampak. Tidak ada jumlah rumah atau warga terdampak yang dicantumkan dalam informasi kejadian tersebut.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Langkat juga dilaporkan terjadi sejak 28 Oktober. Dampaknya mengenai Kecamatan Serapit dan Kecamatan Besitang. Rincian yang tersedia untuk Langkat mencakup tanggal kejadian dan nama wilayah terdampak, tanpa keterangan jumlah rumah atau warga. Oleh karena itu, informasi mengenai dampak di daerah ini perlu dibatasi pada wilayah yang telah disebutkan, tanpa menambahkan perkiraan angka.
Dengan demikian, laporan banjir di Binjai, Mandailing Natal, dan Langkat mencatat kejadian sejak 28 Oktober, dengan waktu sekitar pukul 23.00 WIB disebut secara khusus untuk Mandailing Natal. Binjai masih melakukan pendataan rumah terdampak, sedangkan kecamatan terdampak di Mandailing Natal dan Langkat telah teridentifikasi. Perkembangan berikutnya dapat memperjelas skala dampak apabila pendataan dan pembaruan informasi tersedia.
Longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara mengganggu perjalanan dan akses warga. Di Tapanuli Selatan, material longsor menutupi ruas Jalan Lintas Sipirok–Tarutung. Kondisi tersebut berdampak pada kelancaran arus kendaraan di jalur penghubung itu, sementara petugas masih melakukan penanganan di lokasi. Pengguna jalan diimbau berhati-hati ketika melintas dan mengikuti arahan petugas, terutama selama proses pembersihan berlangsung. Penanganan diperlukan agar badan jalan dapat kembali digunakan dengan aman dan mobilitas masyarakat tidak terus terhambat. Perkembangan kondisi di lapangan menjadi perhatian karena jalan tersebut merupakan jalur lintas yang digunakan warga untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Di Padanglawas Utara, longsor dilaporkan terjadi pada 28 Oktober 2026 sekitar pukul 11.00 WIB di Desa Sipaho Simpang Barumun, Kecamatan Halongonan. Peristiwa itu merusak akses yang menghubungkan desa, sehingga perjalanan warga menjadi terganggu. Kerusakan pada jalur penghubung dapat mempersulit mobilitas masyarakat dan distribusi kebutuhan, khususnya bagi warga yang bergantung pada akses tersebut untuk beraktivitas. Sementara itu, di Kabupaten Simalungun, longsor terjadi pada 27 Oktober 2026 sekitar pukul 22.00 WIB. Hujan deras membuat tanah di tebing menjadi labil dan bergerak. Material kemudian menutup badan jalan, mengganggu akses masyarakat yang melintas. Kejadian ini menunjukkan dampak hujan lebat terhadap kestabilan lereng serta pentingnya kewaspadaan di sekitar jalur yang berada dekat tebing.
Di Kabupaten Asahan, longsor terjadi di sejumlah titik di Desa Silau Jawa dan Desa Sei Kopas, Kecamatan BP Mandoge. Perhatian khusus tertuju pada dua titik di badan jalan, masing-masing berada di Dusun V dan Dusun IX Desa Sei Kopas. Kondisi tersebut menimbulkan risiko bagi akses warga karena ruas jalan berpotensi terputus apabila longsor kembali terjadi.
Baca juga: Ciptakan Wilayah Aman, Babinsa Pererat Komsos dengan Warga | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Salurkan 77.000 Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan






