IHSG Terkoreksi 2,64% pada Sesi I, Pasar Menanti Data Ekonomi Global

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan, Pasar Menanti Sinyal Inflasi dan Suku Bunga

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, pada level 5.142,82. Posisi tersebut mencerminkan penurunan 139,49 poin atau 2,64% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan itu terjadi setelah indeks sempat bergerak menguat pada awal perdagangan, sebelum tekanan jual mendorongnya berbalik arah dengan cepat. Perubahan arah yang tajam membuat pergerakan sesi pagi berlangsung cukup volatil dan membawa IHSG mendekati titik terendah hari itu.

Pada pembukaan, IHSG berada di level 5.305,20. Indeks kemudian sempat naik dan mencatat puncak intraday di 5.320,90, menunjukkan penguatan awal sebelum sentimen pasar berubah. Namun, arah pergerakan tidak bertahan lama. Dalam sekitar satu jam pertama perdagangan, IHSG berbalik melemah tajam dan menembus level 5.200 sebelum pukul 10.00 WIB. Penurunan yang berlangsung cepat tersebut menghapus kenaikan awal, sekaligus membawa indeks ke area yang jauh lebih rendah dibandingkan posisi pembukaannya.

Setelah merosot melewati 5.200, pergerakan IHSG cenderung mendatar dengan fluktuasi terbatas di kisaran 5.140 hingga 5.180. Indeks sempat menyentuh titik terendah 5.135,52, kemudian bergerak di sekitar area tersebut hingga sesi pertama berakhir. Dengan penutupan sementara di 5.142,82, posisi IHSG hanya sedikit di atas level terendah intraday. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan jual tetap dominan sampai akhir sesi pagi, meskipun laju penurunan mulai mereda setelah indeks memasuki kisaran bawah.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama tercatat mencapai volume 141,84 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp5.663,48 miliar. Perubahan dari penguatan pada pembukaan menjadi koreksi tajam menjadi sorotan utama dalam perdagangan pagi tersebut. Investor selanjutnya mencermati perkembangan pasar dan data ekonomi global untuk memperoleh petunjuk mengenai arah pergerakan berikutnya. Meski indeks sempat bertahan di rentang sempit setelah penurunan awal, level akhir sesi yang dekat dengan posisi terendah menunjukkan bahwa pemulihan belum terlihat kuat pada paruh pertama perdagangan.

Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00% dalam keputusan 29 Oktober 2026. Namun, keputusan tersebut tidak bulat dan menunjukkan perbedaan pandangan mengenai langkah kebijakan yang diperlukan. Gubernur Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, berlawanan dengan keputusan mayoritas untuk menahan tingkat acuan. Perbedaan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena memberi sinyal bahwa tekanan inflasi masih memengaruhi penilaian para pejabat bank sentral Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada tingkat tinggi dan membuka kemungkinan penyesuaian suku bunga berikutnya. Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan mendatang. Ia menegaskan bahwa bank sentral tetap berupaya mengembalikan inflasi ke sasaran 2%, tanpa mengesampingkan perkembangan data ekonomi. Warsh juga menilai ekonomi AS sedang menguat. Pertumbuhan pada semester pertama 2026 direvisi menjadi 2,4%, memperlihatkan aktivitas ekonomi yang lebih tangguh daripada perkiraan sebelumnya. Meski demikian, suku bunga yang tinggi masih membebani biaya pinjaman rumah tangga dan dunia usaha, serta berpotensi menahan keputusan investasi.

Tekanan biaya pendanaan tersebut juga relevan bagi perusahaan teknologi yang tengah membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sebuah sektor yang membutuhkan belanja modal besar. Karena itu, keputusan mempertahankan suku bunga belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor mengenai biaya kredit dan prospek investasi. Pasar masih memantau kemungkinan perubahan kebijakan pada Desember; berdasarkan ekspektasi yang tercermin di pasar, peluang kenaikan suku bunga saat itu berada di sekitar 80%. Setelah keputusan diumumkan, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 5,042%. Kenaikan imbal hasil tersebut menandakan bahwa investor tetap memperhitungkan kebijakan moneter ketat lebih lama, sekaligus mencermati arah inflasi dan kekuatan ekonomi AS. Pergerakan pasar obligasi ini dapat turut memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk saham di Indonesia, ketika pelaku pasar menilai kembali daya tarik investasi dan biaya modal global.

Perhatian pelaku pasar tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Kamis, 29 Oktober 2026. Data indeks harga pengeluaran konsumsi personal (PCE) untuk September akan diumumkan pukul 19.30 WIB. Indikator ini penting karena menjadi salah satu ukuran inflasi utama yang dipantau Federal Reserve (The Fed) dalam menilai tekanan harga dan menentukan arah kebijakan moneter, termasuk keputusan suku bunga.

Sebagai pembanding, inflasi PCE pada Agustus tercatat 3,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang bergejolak—berada di 3,0%. Untuk September, perkiraan pasar menempatkan kenaikan bulanan PCE inti sebesar 0,3%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1% dari 3,0%. Perkembangan ini akan dicermati untuk melihat apakah tekanan inflasi kembali menguat atau mulai mereda.

Pada hari yang sama, pasar juga menanti pengumuman klaim awal pengangguran AS untuk pekan yang berakhir 24 Oktober. Data sebelumnya, untuk pekan yang berakhir 17 Oktober, menunjukkan klaim awal turun 6.000 menjadi 194.000. Angka tersebut merupakan tingkat terendah sejak pertengahan Juli dan berada di bawah perkiraan pasar sebesar 200.000. Hasil terbaru akan memberi petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah perekrutan perusahaan.

Penurunan klaim sebelumnya mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif solid, meski data mingguan dapat berfluktuasi dan perlu dibaca bersama indikator lain. Ketahanan lapangan kerja dapat memengaruhi pertimbangan The Fed, sebab permintaan tenaga kerja yang kuat berpotensi menopang konsumsi dan tekanan harga. Namun, perusahaan juga menghadapi sejumlah ketidakpastian yang dapat menahan keputusan perekrutan. Biaya energi yang terdampak perang AS-Israel dengan Iran, ketidakpastian mengenai suku bunga, serta kebijakan perdagangan menjadi faktor yang membayangi prospek usaha. Kombinasi data inflasi dan tenaga kerja tersebut berpotensi membentuk ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral berikutnya.

Selain perkembangan di Amerika Serikat, pelaku pasar global menanti keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan diumumkan pukul 20.15 WIB. Agenda tersebut akan dilanjutkan dengan konferensi pers pada pukul 20.45 WIB, saat investor mencari penjelasan lebih rinci mengenai penilaian bank sentral terhadap kondisi ekonomi kawasan euro. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap berada di 2,65%, sedangkan suku bunga fasilitas deposito dipertahankan pada 2,50%.

Fokus perhatian bukan hanya pada keputusan aktual, tetapi juga pada keseimbangan risiko yang disampaikan ECB. Inflasi yang masih perlu diawasi berhadapan dengan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan, sehingga pilihan kebijakan menjadi semakin rumit. Pasar akan menilai apakah para pejabat memberi sinyal bahwa pengetatan lanjutan masih mungkin dilakukan, atau justru menekankan kehati-hatian jika aktivitas ekonomi terus melemah. Tekanan biaya energi turut menjadi perhatian karena dapat kembali mendorong inflasi sekaligus membebani rumah tangga dan dunia usaha.

Perubahan nada komunikasi ECB dapat memicu penyesuaian pada euro dan obligasi Eropa. Jika pernyataan bank sentral dinilai lebih hawkish, imbal hasil obligasi kawasan tersebut berpotensi bergerak naik dan euro memperoleh dukungan. Sebaliknya, pesan yang lebih lunak dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap jalur suku bunga dan memengaruhi pergerakan dolar secara relatif.

Baca juga: Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas