Fadhilah Mathar Mundur dari Pimpinan BAKTI Setelah 10 Tahun Mengabdi

Fadhilah Mathar Mundur dari Pimpinan BAKTI Setelah 10 Tahun Mengabdi

Jakarta | Fadhilah Mathar mengumumkan bahwa dirinya tidak lagi menjabat sebagai Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), lembaga di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital. Informasi mengenai perubahan jabatan tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi BAKTI. Dengan pengumuman itu, masa kepemimpinan Fadhilah di lembaga yang menangani akses telekomunikasi dan informasi tersebut dinyatakan berakhir. BAKTI menyampaikan kabar ini melalui kanal resminya, sehingga informasi mengenai status jabatan Fadhilah dapat diketahui langsung dari lembaga terkait, bukan semata-mata dari kabar yang beredar di luar akun resmi.

Pengumuman tersebut menjadi penanda berakhirnya pengabdian Fadhilah selama sekitar 10 tahun di BAKTI. Perubahan ini sekaligus menempatkan perhatian publik pada pergantian pimpinan di lembaga yang memiliki mandat memperluas akses telekomunikasi dan informasi, terutama bagi masyarakat dan wilayah yang belum terlayani secara memadai. Meski demikian, kabar yang disampaikan dalam unggahan resmi itu berfokus pada status Fadhilah sebagai Direktur Utama. Karena itu, informasi mengenai berakhirnya masa jabatan perlu dibedakan dari berbagai dugaan atau tafsir tentang proses yang melatarbelakanginya.

Dalam menyampaikan berita ini, hal yang dapat dipastikan adalah bahwa Fadhilah tidak lagi memimpin BAKTI dan pengumuman mengenai hal tersebut berasal dari akun Instagram resmi lembaga. Penjelasan mengenai alasan yang ia sampaikan perlu merujuk pada keterangan langsung dalam unggahan tersebut. Tanpa keterangan tambahan yang terverifikasi, tidak tepat untuk mengaitkan perubahan jabatan ini dengan faktor tertentu atau menyimpulkan adanya persoalan di baliknya. Pembaruan ini menandai babak baru bagi kepemimpinan BAKTI, sementara rincian mengenai langkah berikutnya dan susunan pimpinan selanjutnya dapat mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital maupun BAKTI.

Fadhilah Mathar menyatakan bahwa dirinya sudah tidak berkantor di Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) sejak Rabu, 28 Oktober 2026. Tanggal tersebut sekaligus bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Pernyataan itu menandai berakhirnya masa tugas dan pengabdiannya di lembaga tersebut, setelah menghabiskan waktu selama 10 tahun. Dengan demikian, keputusan untuk mundur dari pimpinan BAKTI bukan sekadar perubahan dalam jabatan, tetapi juga menjadi penutup satu dekade perjalanan profesional Fadhilah bersama institusi yang menjalankan tugas di bidang aksesibilitas telekomunikasi dan informasi.

Penetapan 28 Oktober sebagai hari terakhir berkantor memberi makna tersendiri bagi perpisahan tersebut. Hari Sumpah Pemuda kerap dikaitkan dengan semangat kebersamaan dan peran generasi muda, sehingga waktunya bersamaan dengan berakhirnya masa pengabdian Fadhilah menjadi penanda yang relevan. Namun, inti informasi yang disampaikan tetaplah bahwa sejak tanggal itu ia tidak lagi berkantor di BAKTI. Setelah 10 tahun menjalani tugas, Fadhilah memilih mengakhiri perannya dan membuka ruang bagi proses pergantian kepemimpinan di lembaga tersebut. Keputusan ini disampaikan sebagai bagian dari fase peralihan, bukan sebagai uraian mengenai alasan lain yang tidak disebutkan.

Dalam ungkapan perpisahannya, Fadhilah menyebut, “waktunya regenerasi”. Kalimat singkat itu menggambarkan pandangannya bahwa setelah satu dekade mengabdi, kesempatan perlu diberikan kepada generasi berikutnya. Ungkapan tersebut juga menjadi penanda keputusan untuk mundur dan memberi ruang bagi kepemimpinan baru. Pengakhiran masa tugasnya pada 28 Oktober 2026 sekaligus menghubungkan dua hal yang disampaikan: berakhirnya pengabdian selama 10 tahun dan harapan agar proses regenerasi dapat berlangsung. Bagi Fadhilah, momen meninggalkan kantor BAKTI bukan hanya soal berhenti menjalankan jabatan, melainkan juga kesempatan bagi generasi penerus untuk mengambil peran. Pernyataan itu menutup babak pengabdiannya di lembaga tersebut dengan pesan tentang pergantian dan kesinambungan.

Dalam pesannya kepada para pegawai yang ia sapa sebagai “Jong BAKTI”, Fadhilah Mathar menekankan agar mereka terus berjuang memperluas konektivitas dan keterhubungan digital bagi masyarakat. Seruan itu ditujukan kepada seluruh pegawai BAKTI, yang selama ini terlibat dalam upaya menghadirkan akses komunikasi dan internet di berbagai wilayah Indonesia. Ia mengingatkan bahwa pekerjaan tersebut perlu terus dijalankan agar semakin banyak masyarakat dapat terhubung secara digital.

Perluasan konektivitas, menurut pesan Fadhilah, mencakup wilayah dengan kondisi yang beragam, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Kawasan-kawasan tersebut menjadi bagian dari cakupan upaya yang ia minta agar tetap diperjuangkan. Pesannya menempatkan keterhubungan digital sebagai tujuan yang perlu dijangkau masyarakat di berbagai lokasi, bukan hanya mereka yang tinggal di wilayah yang telah memiliki akses memadai.

Fadhilah juga menyampaikan pesan agar para pegawai menjaga kekuatan diri. Ia meminta mereka tetap memiliki kekuatan untuk menopang harapan masyarakat terhadap keterhubungan digital. Dengan demikian, pesannya memuat dua hal yang berjalan beriringan: melanjutkan perjuangan memperluas akses dan menjaga diri agar mampu menopang harapan tersebut. Pesan ini ia sampaikan kepada pegawai yang disebutnya “Jong BAKTI”, sebagai dorongan untuk tetap menjalankan upaya konektivitas bagi masyarakat.

Dalam konteks pengabdiannya selama sepuluh tahun di BAKTI, pesan itu menjadi bagian dari arahan yang ia tinggalkan kepada para pegawai. Fokusnya tetap pada perluasan konektivitas dan keterhubungan digital, termasuk bagi masyarakat di daerah 3T, serta pentingnya menjaga kekuatan diri. Ia tidak hanya menyebut sasaran kerja berupa keterhubungan yang lebih luas, tetapi juga mengingatkan pegawai tentang harapan masyarakat yang perlu mereka topang. Pesan tersebut merangkum ajakan untuk terus berjuang menjangkau berbagai wilayah dan tetap menjaga kemampuan diri dalam menjalankan tugas itu.

Bagi para pegawai, seruan tersebut mengarahkan perhatian pada kelanjutan kerja BAKTI dalam memperluas akses digital. Konektivitas di berbagai wilayah, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, tetap menjadi inti pesannya. Ia meminta “Jong BAKTI” terus berjuang dan menjaga kekuatan diri untuk menopang harapan masyarakat akan keterhubungan digital.

Dalam menyampaikan pesan menjelang pengunduran dirinya, Fadhilah Mathar mengingatkan bahwa pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara tidak semata-mata menyangkut angka, target, atau prosedur administrasi. APBN, menurut pesan yang disampaikannya, juga merupakan wadah bagi doa dan cita-cita masyarakat yang dititipkan kepada negara. Karena itu, setiap keputusan tentang penggunaan anggaran perlu berangkat dari kesadaran bahwa dana publik membawa harapan banyak orang, termasuk warga di wilayah yang selama ini sulit memperoleh akses komunikasi dan layanan digital.

Pandangan tersebut menempatkan integritas dan transparansi sebagai prinsip penting dalam pelaksanaan program. Pengelola anggaran perlu memastikan bahwa perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban dapat ditelusuri dan dijelaskan secara terbuka. Keterbukaan bukan hanya bagian dari kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga cara menjaga kepercayaan masyarakat. Ketika dana negara digunakan secara bertanggung jawab, manfaat program dapat lebih dekat dengan kebutuhan warga, sementara potensi penyimpangan dapat dicegah atau ditangani dengan lebih baik.

Fadhilah juga mengajak otoritas terkait untuk terus menjaga dan mendampingi BAKTI. Dukungan itu dibutuhkan agar lembaga tersebut dapat menjalankan mandatnya secara konsisten, memperkuat tata kelola, serta meneruskan layanan yang diperlukan masyarakat. Pendampingan tidak berarti mengabaikan pengawasan. Sebaliknya, perhatian, arahan, dan evaluasi yang tepat dapat membantu BAKTI menghadapi tantangan operasional sekaligus menjaga akuntabilitas. Keberlanjutan program, kapasitas pegawai, dan kejelasan tanggung jawab perlu sama-sama diperhatikan dalam masa pergantian kepemimpinan.

Pesan itu juga menyentuh sisi manusiawi dari pekerjaan. Setelah bertahun-tahun mengabdi, para pegawai tentu dapat menghadapi tekanan dan kelelahan. Mereka boleh mengambil jeda sejenak ketika merasa lelah, lalu kembali melanjutkan tugas setelah memiliki ruang untuk memulihkan tenaga. Pesan tersebut cukup dipahami sebagai pengingat untuk memberi ruang istirahat, tanpa menambahkan kelanjutan pada kutipan yang tidak tersedia secara utuh.

Baca juga: Pesan Sesepuh TNI Pada HUT Ke-81, TNI Diminta Terus Mengabdi Untuk Rakyat | Pimpinan Redaksi dan Seluruh Anggota Media Dua Putri Group Berduka atas Wafatnya Letjen TNI Purn. K. Koswara | Dankodiklat TNI Tinjau Bakti Kesehatan Dan Bakti Sosial SGS 2026 Di Martapura