Toko Populer Pasar Baru, Jejak Awal Rekaman Indonesia Raya

Toko Populer Pasar Baru, Jejak Awal Rekaman Indonesia Raya

Jakarta | Di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Toko Populer berdiri sebagai salah satu saksi penting perjalanan sejarah Indonesia. Bangunan yang berdiri sejak 1902 itu kelak dikenal karena keterkaitannya dengan rekaman pertama lagu “Indonesia Raya”. Namun, sebelum namanya lekat dengan kisah tersebut, toko ini lebih dahulu menjadi tempat berbelanja yang menawarkan ragam barang dan cara transaksi yang berbeda dari kebiasaan pada masanya.

Toko Populer didirikan oleh Tio Tek Hong bersama saudaranya, Tio Tek Tjoe. Gerai pertama mereka berada di Jalan Pasar Baru No. 93, sebuah lokasi di tengah kawasan perdagangan yang ramai. Toko tersebut menjual alat musik dan kebutuhan rumah tangga, serta berbagai barang impor dari Eropa. Pilihan dagangannya juga mencakup perlengkapan berburu, lain senapan, amunisi, dan topi. Kelengkapan jenis barang ini menjadikan toko tersebut menarik bagi beragam pembeli, termasuk mereka yang mencari produk yang belum mudah dijumpai di tempat lain.

Salah satu hal yang membedakan Toko Populer adalah penerapan harga tetap, yang dikenal dengan istilah vaste prijs. Kebijakan tersebut menetapkan harga barang sejak awal, sehingga pembeli tidak perlu melalui proses tawar-menawar yang lazim berlangsung di pasar. Cara berjualan ini menawarkan kepastian bagi pelanggan sekaligus memperkenalkan pola transaksi yang lebih teratur. Perubahan itu kemudian menjadi contoh bagi pengusaha lain, yang turut menerapkan harga tetap di toko mereka.

Tio Tek Hong juga menetapkan bahwa tokonya tutup setiap hari Minggu dan pada hari-hari besar keagamaan. Keputusan tersebut berbeda dari ritme perdagangan yang biasanya mengikuti permintaan pembeli, tetapi kemudian diikuti oleh sejumlah pengusaha lain. Bersama rumah Tio Tek Hong, toko ini disebut sebagai pelopor department store di Indonesia. Keterangan tersebut menggambarkan peran penting usaha keluarga itu dalam sejarah perdagangan setempat, tanpa mengurangi arti khususnya sebagai lokasi yang dikenang dalam kisah rekaman awal “Indonesia Raya”.

Perkembangan Toko Populer tidak hanya terlihat dari ragam barang yang ditawarkan, tetapi juga dari perannya dalam memperkenalkan teknologi hiburan baru di Batavia. Seiring usaha tersebut berkembang, pada 1904 Tio Tek Hong mulai mengimpor fonograf, gramofon, dan piringan hitam dari Eropa. Kehadiran perangkat pemutar suara dan rekaman itu membuka cara baru bagi masyarakat untuk menikmati musik di rumah. Pada masa ketika hiburan rekaman belum mudah dijumpai, toko yang menyediakan alat dan koleksi musik seperti ini turut menghubungkan konsumen setempat dengan perubahan budaya populer yang berlangsung lebih luas.

Toko Populer juga menjual rekaman lagu Melayu, keroncong, dan tambulan. Ragam tersebut mencerminkan selera musik yang berkembang di Hindia Belanda, sekaligus menunjukkan bahwa minat terhadap musik rekaman semakin meningkat. Pembeli dapat memilih lagu-lagu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari maupun jenis hiburan yang sedang menarik perhatian masyarakat perkotaan. Dengan demikian, penjualan piringan hitam bukan sekadar bagian dari perdagangan barang impor. Aktivitas itu ikut menyebarkan musik, memperluas pilihan hiburan, dan membentuk kebiasaan baru dalam mendengarkan lagu. Rekaman memungkinkan lagu dinikmati berulang kali tanpa harus hadir langsung pada pertunjukan, sehingga musik semakin masuk ke ruang keluarga dan kehidupan kota.

Peran tersebut perlu dipahami dalam konteks Pasar Baru, yang sejak akhir abad ke-19 hingga 1950-an dikenal sebagai pusat belanja barang-barang Eropa. Di tengah lingkungan perdagangan yang menawarkan produk modern dan impor, fonograf, gramofon, serta piringan hitam tergolong barang mewah. Harganya dan teknologi yang dibawanya membuat kepemilikan perangkat itu belum terjangkau oleh semua kalangan, tetapi keberadaannya menandai perubahan gaya hidup. Bangunan Toko Populer disebut memiliki luas 1.700 meter persegi, mencerminkan skala usaha yang berkembang di kawasan tersebut. Nama Tio Tek Hong juga dikenal melalui bukunya tentang Jakarta tempo dulu, yang menjadi catatan mengenai kehidupan kota pada masanya. Kisah toko dan barang dagangannya memperlihatkan bagaimana perdagangan, teknologi, dan musik bertemu di Pasar Baru, serta memberi gambaran tentang awal tumbuhnya budaya mendengarkan rekaman di Indonesia.

Tahun 1927 menjadi titik penting dalam kisah awal lagu Indonesia Raya. Menurut keterangan pemandu wisata Pasar Baru, lagu ciptaan W.R. Supratman itu direkam di Toko Populer, sebuah toko yang berada di kawasan tersebut. Peristiwa ini terjadi setahun sebelum lagu itu diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. Dengan demikian, rekaman di Toko Populer mendahului momen ketika lagu tersebut dikenal lebih luas melalui perhelatan yang kemudian lekat dengan sejarah Sumpah Pemuda.

Keterangan pemandu menyebut bahwa rekaman dilakukan menggunakan piringan hitam. Alat pemutarnya dibawa ke mana-mana karena adanya kekhawatiran terhadap situasi penjajahan. Informasi ini memberi gambaran mengenai keadaan yang melingkupi upaya merekam lagu pada masa itu, tanpa perlu mengandaikan rincian teknis lain yang tidak tercatat dalam keterangan tersebut. Yang dapat ditegaskan dari kisah ini ialah keberadaan piringan hitam sebagai medium rekam dan keputusan untuk memindahkan alat pemutar, sebagaimana disampaikan oleh pemandu wisata Pasar Baru.

Peran Toko Populer dalam sejarah rekaman itu berlanjut setelah toko berpindah tangan kepada Yo Kim Tjan. Toko tersebut turut melahirkan Orkes Musik Populer, kelompok yang mengiringi W.R. Supratman dalam rekaman pertama Indonesia Raya. Hubungan toko, orkes, dan pencipta lagu itu menempatkan Pasar Baru sebagai salah satu lokasi penting dalam jejak awal rekaman lagu kebangsaan tersebut. Keterangan mengenai keterlibatan Orkes Musik Populer juga menghubungkan kisah tempat usaha itu dengan karya yang kemudian menjadi lambang nasional.

Rekaman pada 1927 dan pemutaran lagu dalam Kongres Pemuda II setahun sesudahnya merupakan dua peristiwa berbeda, tetapi keduanya membentuk rangkaian sejarah yang saling berkaitan. Kisah Toko Populer mengingatkan bahwa perjalanan Indonesia Raya tidak hanya berlangsung di ruang kongres. Sebelum diperdengarkan dalam forum pemuda pada 1928, lagu itu telah lebih dahulu direkam di Pasar Baru, dengan piringan hitam dan Orkes Musik Populer sebagai bagian dari cerita yang disampaikan pemandu wisata setempat.

Hingga kini, bangunan Toko Populer di kawasan Pasar Baru masih berdiri dan tetap digunakan sebagai toko. Namun, barang yang dijual di dalamnya telah berubah: toko tersebut sekarang menawarkan berbagai jenis tas. Keterangan ini menunjukkan bahwa fungsi komersial tempat itu bertahan, meskipun kegiatan usahanya tidak lagi berhubungan dengan perangkat atau rekaman musik seperti yang melekat pada masa lalunya. Perubahan isi toko menjadi bagian dari keadaan tempat tersebut hari ini, tanpa menghapus keberadaan bangunannya di tengah kawasan Pasar Baru.

Nama Populer berkaitan dengan ketenarannya pada masa lalu. Toko ini dikenal sebagai tempat yang memiliki peran dalam perjalanan awal rekaman lagu “Indonesia Raya”, sehingga namanya kemudian lekat dengan sejarah musik Indonesia. Sebutan tersebut bukan semata nama sebuah usaha, melainkan juga pengingat akan masa ketika toko itu dikenal oleh masyarakat melalui kaitannya dengan rekaman dan lagu kebangsaan. Meski kini menjual tas, nama Populer tetap membawa jejak reputasi yang pernah dimilikinya.

Keadaan sekarang memperlihatkan perbedaan kegiatan toko pada masa lalu dan pemanfaatannya saat ini. Pengunjung yang datang sekarang akan menjumpai toko tas, bukan tempat yang menjalankan peran sebagaimana dikenang dalam kisah awal rekaman Indonesia Raya. Meski begitu, keberlanjutan bangunan sebagai toko memberi hubungan yang nyata masa kini dan masa lalu. Tempat tersebut tetap berada di lingkungan Pasar Baru, sementara kisahnya menghubungkan ruang usaha biasa dengan perkembangan rekaman musik dan sejarah nasionalisme di Indonesia.

Karena.