Jakarta | Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menerima Mandaya Awards 2026 dalam kategori Penggerak Pemberdayaan Masyarakat. Penghargaan dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) ini menjadi pengakuan atas konsistensi Baznas dalam menjalankan upaya pemberdayaan. Apresiasi tersebut menegaskan bahwa peran lembaga tidak terbatas pada penghimpunan dan penyaluran zakat, tetapi juga mencakup dukungan bagi masyarakat agar mampu meningkatkan kesejahteraan secara mandiri.
Penghargaan ini berkaitan dengan kontribusi Baznas dalam mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem. Pemberdayaan masyarakat menjadi pendekatan penting untuk membantu kelompok rentan memperkuat kemampuan ekonomi dan menghadapi tantangan kehidupan. Melalui program-program yang memanfaatkan dana zakat, Baznas berupaya mendorong penerima manfaat agar memiliki kesempatan mengembangkan potensi, memenuhi kebutuhan, serta membangun sumber penghidupan yang lebih stabil. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku dalam proses perubahan.
Mandaya Awards 2026 juga mencerminkan perhatian pemerintah terhadap upaya yang menghubungkan perlindungan sosial dengan penguatan kemandirian. Konsistensi Baznas dalam pemberdayaan mendapat pengakuan karena zakat dapat dikelola untuk menciptakan manfaat yang melampaui bantuan sesaat. Pengelolaan secara produktif memungkinkan dana zakat mendukung kegiatan yang membantu masyarakat memperbaiki kondisi ekonomi. Dengan demikian, penghargaan ini menyoroti pentingnya pengelolaan zakat yang terarah, bertanggung jawab, dan berorientasi pada dampak sosial.
Penghargaan sebagai Penggerak Pemberdayaan Masyarakat sekaligus memperkuat relevansi zakat produktif dalam agenda pengentasan kemiskinan. Dana zakat yang dikelola dengan memperhatikan kebutuhan dan potensi penerima manfaat dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses terhadap peluang ekonomi. Peran pendampingan dan keberlanjutan program juga penting agar dukungan yang diberikan dapat mendorong kemampuan masyarakat, bukan hanya memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek.
Bagi Baznas, apresiasi dari Kemenko PM menjadi pengakuan atas kerja pemberdayaan yang dijalankan secara konsisten. Mandaya Awards 2026 menandai kontribusi pengelolaan zakat produktif dalam mendukung masyarakat menuju kehidupan yang lebih mandiri, sekaligus mempercepat upaya mengurangi kemiskinan ekstrem. Penghargaan tersebut juga menegaskan perlunya kolaborasi dan tata kelola yang baik agar potensi zakat dapat dimanfaatkan secara tepat untuk menghasilkan manfaat luas dan berkelanjutan.
Neyla Saida Anwar, Pimpinan Pengawasan dan Pengendalian Baznas RI, menyampaikan bahwa capaian yang diraih melalui Penghargaan Mandaya 2026 merupakan hasil kerja bersama. Penghargaan tersebut tidak berdiri di atas kontribusi satu pihak saja, melainkan mencerminkan upaya pimpinan, amil, dan relawan Baznas yang bekerja di berbagai wilayah Indonesia. Mereka menjalankan peran masing-masing untuk memastikan program pemberdayaan dapat dirancang, dilaksanakan, dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Menurut Neyla, kerja kolaboratif tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat dampak pengelolaan dana sosial keagamaan.
Program pemberdayaan Baznas dijalankan dengan mengoptimalkan dana zakat, infak, sedekah, serta dana sosial keagamaan lainnya atau ZIS-DSKL. Dana yang dihimpun menjadi sumber dukungan bagi berbagai ikhtiar untuk membantu masyarakat meningkatkan kapasitas dan kemandirian. Pelaksanaan program memerlukan pengelolaan yang bertanggung jawab, sekaligus kerja lapangan yang memahami kebutuhan penerima manfaat. Karena itu, keterlibatan amil dan relawan di daerah turut membantu menghubungkan amanah para donatur dengan kegiatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Capaian yang diapresiasi melalui penghargaan ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan ZIS-DSKL perlu terus diarahkan pada manfaat yang nyata dan berkelanjutan.
Neyla juga menyampaikan apresiasi kepada para muzaki dan donatur yang telah menitipkan dana melalui Baznas. Kepercayaan tersebut memungkinkan lembaga mengelola dan menyalurkan dana untuk mendukung pemberdayaan, sekaligus menjadi dorongan bagi seluruh jajaran untuk menjaga amanah. Kontribusi para muzaki dan donatur, dalam berbagai bentuk dan jumlah, merupakan bagian dari kerja bersama yang menopang program Baznas di seluruh Indonesia. Dengan dukungan itu, pimpinan, amil, dan relawan dapat terus memperluas ikhtiar pelayanan serta memperkuat pelaksanaan program. Penghargaan Mandaya 2026, dalam pandangan Neyla, sekaligus mengakui peran seluruh pihak yang telah terlibat dan mendorong agar kolaborasi tersebut terus dijaga. Ke depan, komitmen untuk mengelola dana ZIS-DSKL secara bertanggung jawab tetap menjadi landasan dalam menghadirkan pemberdayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam apresiasinya, Neyla menyoroti mustahik binaan yang terus berusaha memperbaiki taraf hidup. Bantuan yang diterima dapat menjadi salah satu penopang, tetapi perubahan juga membutuhkan kemauan untuk menjalani proses dan ketekunan dalam mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Perjalanan tersebut tidak selalu mudah atau berlangsung dalam waktu singkat. Karena itu, usaha para penerima bantuan patut dihargai sebagai bagian penting dari program pemberdayaan. Penghargaan Mandaya 2026 memberi ruang untuk mengakui kontribusi dan semangat tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa pemberdayaan bukan sekadar penyaluran bantuan. Perhatian juga perlu diberikan pada upaya mustahik untuk membangun kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan secara bertahap.
Neyla juga menekankan bahwa keberlanjutan program ditopang oleh hubungan muzaki dan mustahik. Dukungan muzaki memungkinkan bantuan dan pendampingan terus diberikan, sementara semangat para penerima menjadi tenaga penting agar ikhtiar pemberdayaan dapat dijalankan. Kedua unsur itu saling melengkapi: kepedulian yang disalurkan membuka dukungan, dan kesungguhan penerima bantuan membantu menggerakkan proses perubahan. Apresiasi terhadap mustahik binaan dengan demikian tidak mengurangi arti kontribusi muzaki. Sebaliknya, penghargaan itu memperlihatkan bagaimana dukungan dan usaha dapat bertemu dalam sebuah program yang bertujuan memperbaiki taraf hidup. Menjaga kesinambungan keduanya menjadi penting agar kegiatan pemberdayaan tetap memiliki manfaat bagi para penerima.
Menurut Neyla, sebagian penerima bantuan bahkan berhasil berkembang hingga menjadi muzaki. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa posisi seseorang dalam ekosistem zakat dapat berubah seiring ikhtiar dan dukungan yang diterima. Hal ini menjadi gambaran bahwa bantuan tidak hanya dipandang sebagai penerimaan sesaat, tetapi dapat turut menopang proses menuju kemandirian. Pernyataan tersebut juga memberi makna pada pendampingan dan keberlanjutan program, tanpa mengabaikan bahwa setiap orang memiliki perjalanan berbeda. Penghargaan bagi mustahik yang gigih berusaha menjadi pengakuan atas proses itu, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga dukungan dari para muzaki. Dengan demikian, apresiasi Mandaya mengangkat usaha penerima bantuan serta peran bersama dalam mendorong pemberdayaan yang berkelanjutan.
Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menjelaskan bahwa Mandaya Awards 2026 merupakan bentuk apresiasi bagi berbagai pihak yang berkontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat dan upaya pengentasan kemiskinan. Penghargaan ini menyoroti kerja beragam unsur, mulai dari kepala desa, akademisi, pengusaha, lembaga pemerintah, hingga kepala daerah. Peran mereka dinilai penting karena perubahan di tengah masyarakat membutuhkan kerja bersama, pengetahuan, sumber daya, serta kebijakan yang menjawab kebutuhan warga. Melalui penghargaan tersebut, kontribusi yang selama ini dilakukan di berbagai wilayah dapat dikenal lebih luas dan menjadi inspirasi bagi pihak lain untuk turut terlibat.
Menurut Muhaimin, penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia dalam dua tahun terakhir merupakan perkembangan yang perlu dijaga sekaligus diperjuangkan secara berkelanjutan. Capaian tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi upaya, sebab masih ada warga rentan yang membutuhkan dukungan agar dapat memperbaiki kondisi hidupnya. Pemberdayaan diharapkan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak, mengembangkan kemampuan, dan tetap produktif. Karena itu, program pengentasan kemiskinan perlu mendorong partisipasi warga, memperkuat potensi setempat, serta memastikan bantuan dan kesempatan menjangkau kelompok yang membutuhkan. Kolaborasi pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan kalangan akademik dapat membantu menjaga agar kemajuan yang telah dicapai berlangsung lebih merata dan memberi dampak nyata.
Muhaimin juga menyampaikan ucapan selamat kepada para penerima Mandaya Award 2026 dan Innovillage. Ia berharap pengakuan tersebut menjadi dorongan untuk melanjutkan inisiatif yang telah berjalan, sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.





