Palembang | Setelah lebih dari dua bulan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kualitas udara di Kota Palembang berangsur membaik dan kini berada pada level yang lebih aman. Perkembangan ini terlihat dari hasil pemantauan partikel halus di Stasiun Talang Betutu pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pada pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 51,4 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori sedang.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan hasil pengukuran satu jam sebelumnya. Pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di lokasi pemantauan yang sama tercatat mencapai 69,1 mikrogram per meter kubik. Dengan demikian, kadar partikel halus berkurang 17,7 mikrogram per meter kubik dalam rentang satu jam. Meski perubahan jangka pendek belum dengan sendirinya menggambarkan kondisi sepanjang hari, penurunan ini menjadi petunjuk bahwa paparan asap di Palembang mulai mereda.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat terbawa di udara dan menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara. Ketika konsentrasinya meningkat, udara dapat terasa lebih berasap dan berpotensi mengganggu kenyamanan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan. Kategori sedang menandakan kondisi telah lebih baik dibandingkan saat polusi berada pada tingkat tinggi, meskipun pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk mengetahui perubahan berikutnya.
Kondisi pada Sabtu pagi tersebut lebih baik daripada pekan-pekan sebelumnya, ketika indeks kualitas udara Palembang kerap mencapai level berbahaya akibat asap karhutla. Pada periode itu, paparan asap menjadi perhatian karena dampaknya dapat dirasakan dalam kegiatan sehari-hari, termasuk aktivitas di luar ruangan. Turunnya konsentrasi PM2.5 memberi gambaran bahwa keadaan mulai pulih setelah berbulan-bulan berada di bawah pengaruh asap.
Meski kualitas udara telah membaik, warga tetap dapat memperhatikan informasi pemantauan terbaru, khususnya jika kembali muncul kabut asap atau bau terbakar. Perubahan konsentrasi dapat terjadi seiring dinamika asap dan cuaca. Data Talang Betutu pada pagi itu menjadi perkembangan positif, tetapi pemantauan berkala tetap penting untuk memastikan perbaikan berlangsung konsisten di Palembang.
Perbaikan kualitas udara di Palembang berkaitan dengan perubahan arah angin yang memengaruhi pergerakan asap karhutla. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa angin kini bertiup dari tenggara ke selatan, kemudian bergerak menuju utara. Perubahan pola tersebut mengurangi dorongan angin yang sebelumnya membawa sebagian sebaran asap dari wilayah kebakaran ke Palembang. Dengan demikian, kondisi udara dapat membaik meskipun titik-titik karhutla masih menjadi sumber asap di Sumatera Selatan.
Pusat karhutla yang dimaksud berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Ketika arah angin tidak lagi mengalirkan sebagian besar asap dari kawasan tersebut ke Palembang, jumlah asap yang mencapai kota pun berkurang. Faktor arah dan pergerakan angin menjadi salah satu penjelas mengapa dampak asap yang dirasakan warga dapat berubah dari waktu ke waktu. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sumber kebakaran, tetapi turut dipengaruhi oleh jalur penyebaran asap di atmosfer.
Meski sebaran asap ke Palembang telah berkurang, keadaan itu tidak berarti asap sudah hilang sepenuhnya. Sebagian asap masih dapat berada di kawasan sumber karhutla atau bergerak ke wilayah lain, sementara arah angin dapat berubah kembali. Keterangan mengenai pola angin ini perlu dipahami sebagai penjelasan atas berkurangnya kiriman asap, bukan sebagai tanda bahwa seluruh kebakaran telah padam atau risiko paparan telah berakhir. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan perkembangan cuaca tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi terkini.
Penjelasan Wandayantolis membantu menggambarkan hubungan perubahan angin dan membaiknya udara di Palembang setelah sekitar dua bulan terdampak asap karhutla. Saat angin mengarahkan lebih sedikit sebaran dari OKI ke kota, tekanan asap di Palembang dapat menurun. Namun, tingkat perbaikan bisa berbeda menurut waktu dan kondisi setempat. Warga tetap perlu memperhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara, terutama apabila asap kembali teramati atau kondisi lingkungan berubah. Dengan memahami peran angin, masyarakat dapat membedakan berkurangnya sebaran asap dari hilangnya sumber karhutla secara keseluruhan.
Selain perubahan kondisi yang memengaruhi asap karhutla, keadaan atmosfer di sekitar Palembang turut mendukung berkurangnya konsentrasi asap di dekat permukaan. Wandayantolis menjelaskan bahwa lapisan inversi yang tipis di dekat permukaan tanah memungkinkan asap terdispersi secara vertikal menuju lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membantu menjelaskan mengapa jumlah asap yang berada di sekitar permukaan dapat menurun. Dengan demikian, perbaikan kualitas udara tidak hanya berkaitan dengan perubahan asap yang terlihat, tetapi juga dengan bagaimana asap menyebar di atmosfer.
Dalam penjelasan tersebut, ketebalan lapisan inversi menjadi unsur yang diperhatikan. Lapisan inversi yang tipis memungkinkan penyebaran asap secara vertikal, sehingga asap tidak seluruhnya bertahan di dekat tanah. Asap dapat bergerak menuju lapisan yang lebih tinggi di atmosfer. Uraian ini menekankan perpindahan vertikal sebagai proses yang mendukung penurunan konsentrasi asap di permukaan. Tidak berarti asap langsung hilang, melainkan konsentrasinya di dekat permukaan berkurang ketika sebagian sebarannya berada pada ketinggian yang lebih tinggi.
Penurunan konsentrasi asap dekat permukaan itu kemudian berkontribusi terhadap peningkatan kualitas udara. Hubungan yang disampaikan Wandayantolis adalah bahwa lapisan inversi tipis memungkinkan dispersi vertikal, dispersi tersebut mengurangi konsentrasi asap pada tingkat permukaan, dan berkurangnya konsentrasi itu mendukung kondisi udara yang membaik. Faktor atmosfer ini menjadi bagian dari penjelasan mengenai perubahan yang terjadi setelah Palembang terdampak asap karhutla selama dua bulan. Karena itu, kondisi lapisan inversi dapat dipahami sebagai salah satu keadaan yang membantu asap terurai dari area permukaan, bukan sebagai satu-satunya penentu kualitas udara. Penjelasan ini tetap berfokus pada hubungan lapisan inversi, perpindahan asap ke lapisan atmosfer lebih tinggi, dan penurunan konsentrasi yang dirasakan di dekat permukaan.
Prakiraan cuaca menunjukkan kualitas udara di Palembang dan sejumlah daerah Sumatera Selatan berpeluang terus membaik seiring meningkatnya potensi hujan. Turunnya hujan diharapkan membantu mengurangi partikel asap yang masih berada di udara setelah wilayah tersebut terdampak asap kebakaran hutan dan lahan selama dua bulan. Meski demikian, perubahan kondisi dapat berbeda di setiap daerah, sehingga perkembangan cuaca dan kualitas udara tetap perlu dipantau secara berkala.
Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Palembang. Sementara itu, hujan ringan diprakirakan turun di Musi Rawas, Pagar Alam, Empat Lawang, Lahat, Lubuklinggau, dan Prabumulih. Sebaran hujan di berbagai wilayah tersebut dapat mendukung penurunan kepekatan asap, meskipun dampaknya bergantung pada waktu, intensitas, dan cakupan hujan yang terjadi.
Selain mengandalkan perkembangan cuaca alami, tim gabungan melakukan upaya modifikasi cuaca untuk memaksimalkan potensi terbentuknya hujan. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan dengan menyemai bahan ke awan, sedangkan teknik dry ice juga digunakan untuk mendukung proses tersebut. Langkah ini ditujukan agar awan yang berpotensi menghasilkan hujan dapat dimanfaatkan secara optimal. Upaya itu menjadi bagian dari penanganan dampak asap sekaligus mendukung perbaikan kualitas udara di Sumatera Selatan.
Wandayantolis menyampaikan bahwa penyemaian dry ice juga dilaksanakan pada pagi hari.
Baca juga: Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Satgas Karhutla TNI Kawal Penyaluran Bantuan Korporasi untuk Desa Terdampak di Melawi | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari






