Jakarta | Kontingen Garuda Bhayangkara Satgas Formed Police Unit (FPU) 7 MINUSCA, yang menjalankan tugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afrika Tengah, dipercaya untuk melaksanakan pengamanan bagi calon presiden dan calon wakil presiden negara tersebut. Penugasan ini menempatkan personel Polri pada tanggung jawab penting, yakni mendukung keselamatan para kandidat di tengah proses politik yang berlangsung di negara penugasan.
Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam operasi perdamaian internasional. Dalam pelaksanaan misi MINUSCA, kontingen Indonesia bertugas bersama kontingen dari sejumlah negara. Meski terdapat banyak negara yang mengirimkan personel, Indonesia dipilih untuk menjalankan pengamanan bagi para calon pemimpin. Penunjukan itu menunjukkan bahwa kemampuan dan kesiapan personel Indonesia dinilai sesuai dengan kebutuhan tugas, sekaligus mencerminkan kepercayaan terhadap profesionalisme Polri dalam mendukung mandat PBB.
Karomisinter Divisi Hubungan Internasional Polri Brigjen Pol. Tommy Wibisono menyampaikan keterangan mengenai penugasan tersebut di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, pada Senin. Ia menjelaskan bahwa Indonesia dipercaya mengamankan calon presiden dan calon wakil presiden di Afrika Tengah, meskipun kontingen dari sejumlah negara juga berada dalam misi. Keterangan itu menegaskan bahwa tugas pengamanan kandidat merupakan bagian dari peran Kontingen Garuda Bhayangkara Satgas FPU 7 MINUSCA di lapangan.
Pengamanan terhadap kandidat pemimpin merupakan tanggung jawab yang memerlukan disiplin, koordinasi, dan kepatuhan terhadap ketentuan misi. Dalam konteks operasi perdamaian, tugas tersebut mendukung terciptanya situasi yang aman bagi proses politik, tanpa menggeser mandat utama pasukan sebagai unsur pendukung perdamaian. Kepercayaan yang diberikan kepada kontingen Indonesia sekaligus memperlihatkan keterlibatan Polri dalam upaya internasional menjaga stabilitas dan keamanan di Afrika Tengah.
Tugas Satgas FPU 7 dalam misi perdamaian di Afrika Tengah tidak terbatas pada pengamanan di tengah dinamika politik yang berlangsung. Kehadiran personel kepolisian dalam misi tersebut juga mencakup perhatian terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah penugasan. Dengan demikian, pelaksanaan tugas keamanan berjalan berdampingan dengan upaya pelayanan kemanusiaan, sesuai kebutuhan dan peran yang dijalankan kontingen. Dua aspek ini menunjukkan bahwa kontribusi pasukan tidak hanya berhubungan dengan situasi keamanan, tetapi juga dengan hubungan personel dan warga setempat.
Tommy menjelaskan bahwa polisi wanita menjadi bagian dari upaya menjangkau masyarakat. Jumlah personel polisi wanita dalam Satgas FPU 7 setara satu peleton. Keberadaan mereka membantu membuka ruang komunikasi dengan kelompok masyarakat yang mencakup ibu-ibu dan anak-anak. Keterlibatan tersebut merupakan bagian dari pelayanan kemanusiaan dalam misi, sekaligus memperlihatkan bahwa komposisi personel dapat mendukung jangkauan tugas yang lebih luas. Peran ini berjalan dalam kerangka penugasan kontingen, tanpa mengurangi tanggung jawab utama terkait keamanan.
Penjangkauan kepada ibu-ibu dan anak-anak itu disebut sebagai bagian dari pelayanan, bukan sebagai uraian terpisah mengenai program atau bentuk bantuan tertentu. Karena itu, cakupan informasi tentang kegiatan kemanusiaan perlu dipahami secara proporsional: personel polisi wanita turut hadir dan menjalin jangkauan kepada kelompok tersebut, sementara rincian layanan yang diberikan tidak dijelaskan. Peran Satgas FPU 7 dalam konteks ini menggambarkan keterpaduan tugas pengamanan dan perhatian terhadap masyarakat. Di tengah dinamika politik Afrika Tengah, pendekatan tersebut menegaskan bahwa misi perdamaian juga melibatkan interaksi kemanusiaan, dengan kontribusi polisi wanita sebagai salah satu unsur penting dalam menjangkau warga setempat.
Satgas Formed Police Unit (FPU) 7 telah kembali ke Indonesia setelah menuntaskan tugas selama satu tahun dalam misi perdamaian di Afrika Tengah. Kepulangan tersebut menandai berakhirnya masa penugasan kontingen itu, sekaligus menjadi bagian dari kesinambungan keterlibatan Polri dalam mendukung upaya perdamaian internasional. Selama menjalankan mandatnya, personel Satgas FPU 7 bertugas sebagai bagian dari misi MINUSCA, yaitu misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Afrika Tengah.
Berakhirnya penugasan satu kontingen tidak berarti dukungan Polri terhadap misi tersebut berhenti. Dalam penugasan internasional, pergantian kontingen menjadi tahap penting agar kontribusi kepolisian dapat berlanjut seiring kebutuhan misi. Kembalinya FPU 7 dan pengiriman kontingen pengganti mencerminkan kesinambungan itu. Peralihan ini juga menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian dijalankan melalui penugasan yang memiliki masa tugas, dengan personel yang kembali setelah menyelesaikan tanggung jawabnya.
Untuk melanjutkan partisipasi tersebut, Polri telah mengirim Satgas FPU 8 MINUSCA ke Afrika Tengah. Kontingen ini meneruskan keterlibatan kepolisian Indonesia dalam misi perdamaian di bawah MINUSCA setelah masa tugas FPU 7 berakhir. Dengan demikian, rangkaian pergantian tersebut menghubungkan kepulangan satu satgas dengan keberlanjutan kontribusi berikutnya, tanpa mengaburkan perbedaan kontingen yang telah menyelesaikan tugas dan kontingen yang melanjutkan penugasan.
Pergantian FPU 7 kepada FPU 8 juga menjadi kesempatan untuk melihat misi perdamaian sebagai komitmen yang dijalankan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui satu masa penugasan. Kepulangan personel yang telah bertugas selama setahun merupakan bagian dari siklus tersebut, sedangkan pengiriman FPU 8 menegaskan kelanjutan peran Polri. Informasi mengenai pergantian ini dapat disampaikan dengan berpegang pada fakta yang tersedia: FPU 7 telah kembali ke Indonesia setelah satu tahun bertugas, dan Polri telah mengirim FPU 8 MINUSCA untuk melanjutkan partisipasi dalam misi perdamaian di Afrika Tengah.
Polri menyatakan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam misi perdamaian dunia, termasuk melalui penugasan personel pada operasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengalaman kontingen Indonesia di Afrika Tengah menjadi bagian dari kontribusi tersebut sekaligus bekal bagi keterlibatan dalam penugasan internasional berikutnya. Untuk membuka peluang itu, Polri telah berkoordinasi dengan PBB mengenai kemungkinan partisipasi Indonesia dalam misi-misi baru. Koordinasi ini mencerminkan kesiapan institusi untuk menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan operasi dan mandat yang ditetapkan. Polri berharap kontingen Indonesia dapat kembali dilibatkan, kali ini di wilayah lain, sehingga personel kepolisian Indonesia dapat melanjutkan peran dalam mendukung perdamaian dan keamanan internasional.
Harapan tersebut juga berkaitan dengan penghargaan yang diterima anggota satuan tugas. Tommy menyampaikan bahwa penganugerahan Satyalancana Bhakti Buana dari Presiden Prabowo Subianto kepada anggota satgas merupakan bentuk penghargaan atas pengabdian mereka. Bagi personel, tanda kehormatan itu bukan sekadar pengakuan terhadap tugas yang telah dilaksanakan, melainkan juga dorongan untuk menjaga mutu kerja pada penugasan selanjutnya. Tommy menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi pemacu bagi anggota untuk memberikan pelayanan terbaik. Dorongan itu relevan dalam tugas sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat maupun saat menjalankan tanggung jawab sesuai mandat misi. Profesionalisme, disiplin, dan sikap menghormati lingkungan tugas tetap menjadi bagian penting dari pelayanan yang diberikan oleh setiap personel.
Tommy juga menekankan prinsip “polisi bersama masyarakat” sebagai dasar dalam menjalankan tugas. Prinsip tersebut berlaku di dalam negeri dan tetap dibawa ketika anggota Polri bertugas di lingkungan internasional. Dalam misi perdamaian, kedekatan dengan masyarakat membantu personel memahami kebutuhan warga serta membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan. Sikap mendengar, menghormati, dan bekerja bersama menjadi wujud pelayanan yang diharapkan dari polisi, tanpa membedakan apakah masyarakat yang dihadapi berada di Indonesia atau di negara tempat misi berlangsung. Dengan prinsip itu, kehadiran kontingen tidak hanya dipahami sebagai pelaksanaan tugas keamanan, tetapi juga sebagai upaya menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat dunia. Tommy menyebut pendekatan tersebut sebagai pegangan dalam pengabdian kepolisian di berbagai lingkup tugas.
Baca juga: Menggelegar di Surabaya! Kontingen Kodim Bojonegoro Borong Medali di ‘Open Tournament Taekwondo’ Piala Panglima TNI 2026 | Kontingen Karate Akmil Raih 9 Medali pada _National Karate Championship Bhayangkara Eager Series_ II 2026 | Ketum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon Hadiri Pelepasan Kontingen Indonesia ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026





