Padang | Polda Sumatera Selatan menyiapkan 300 personel Brimob untuk memperkuat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pengerahan pasukan tersebut ditujukan untuk membantu menangani titik kebakaran di kawasan konservasi sekaligus mengurangi ancaman terhadap lingkungan dan satwa yang hidup di dalamnya. Padang Sugihan merupakan habitat berbagai satwa dilindungi, sehingga kebakaran di wilayah ini memerlukan penanganan yang terarah. Api dan asap berpotensi mengganggu ruang hidup satwa, sementara kerusakan vegetasi dapat berdampak pada ketersediaan pakan dan kondisi ekosistem. Karena itu, penguatan personel menjadi bagian penting dalam mendukung langkah pemadaman di lapangan.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana menyampaikan keputusan pengerahan itu dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Palembang pada Kamis. Dari total 300 personel yang disiapkan, sebanyak 200 personel merupakan bantuan kendali operasi dari Mabes Polri. Sementara itu, 100 personel lainnya berasal dari Brimob Polda Sumsel. Komposisi tersebut dirancang untuk menambah kekuatan yang dapat dikerahkan dalam penanganan kebakaran di OKI. Kehadiran personel tambahan diharapkan membantu kegiatan pemadaman serta mendukung koordinasi di kawasan terdampak. Penugasan akan berfokus pada upaya penanganan kebakaran dengan memperhatikan kebutuhan di lapangan dan tujuan melindungi kawasan konservasi.
Penempatan pasukan juga mempertimbangkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai arah angin. Angin dari tenggara dan timur diperkirakan membawa asap dari wilayah OKI menuju Kota Palembang. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun langkah penanganan, karena dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi api. Pergerakan asap dapat memengaruhi wilayah lain, sehingga pemadaman perlu diperkuat untuk menekan sumber asap dan mengurangi potensi gangguan. Dengan pengerahan personel gabungan dari Mabes Polri dan Polda Sumsel, upaya di Suaka Margasatwa Padang Sugihan diharapkan lebih memadai. Fokus utama tetap pada penanganan kebakaran serta perlindungan habitat satwa dilindungi di kawasan tersebut.
Penguatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Suaka Margasatwa Padang Sugihan akan dilakukan dengan menambah personel untuk mendukung operasi darat. Tambahan tersebut diarahkan ke tujuh posko aktif Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di kawasan suaka margasatwa. Kehadiran tenaga tambahan diharapkan memperkuat kesiapan petugas, memperluas dukungan bagi regu yang sudah bekerja, serta membantu respons lebih cepat ketika muncul laporan titik api. Prioritas penempatan mencakup lokasi yang dinilai rawan dan memerlukan pemantauan maupun penanganan berkelanjutan.
Sejumlah titik yang menjadi perhatian ialah TP950, TP947, dan Posko Pangkalan Jirambah. Penempatan personel akan dikoordinasikan dengan BKSDA agar jumlah dan lokasi penugasan menyesuaikan kebutuhan lapangan, bukan hanya pembagian merata di atas kertas. Koordinasi ini penting karena kondisi akses, sebaran asap, serta perkembangan kebakaran dapat berubah. Petugas juga perlu memiliki dukungan yang cukup untuk menjangkau titik api yang berada jauh di dalam hutan, termasuk ketika perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Dengan pengaturan bersama, posko dapat mengarahkan personel ke area yang paling mendesak.
Rencana penguatan tersebut mencakup pengerahan sekitar 100 personel dari sejumlah polres yang wilayahnya berpotensi mengalami karhutla lebih rendah. Dukungan lintas wilayah ini memberi ruang bagi daerah dengan risiko relatif lebih kecil untuk membantu kawasan yang sedang membutuhkan tambahan tenaga, tanpa mengabaikan koordinasi tugas kepolisian setempat. Langkah itu melengkapi kekuatan yang telah berada di lapangan: sebanyak 1.066 personel Polri, ditambah 206 personel Brimob dan 11 personel Dokkes atas dukungan Kapolri. Seluruh unsur diharapkan bekerja terpadu dalam pemadaman darat, pemantauan, dan dukungan kesehatan bagi petugas. Penguatan di posko dan titik rawan menjadi bagian dari upaya menjaga agar penanganan berlangsung terarah, sesuai perkembangan situasi, serta menjangkau area terdampak di dalam kawasan konservasi.
Rony menjelaskan bahwa pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Suaka Margasatwa Padang Sugihan menghadapi kendala utama berupa sumber air yang terus berkurang. Ketersediaan air menjadi faktor penting karena petugas membutuhkannya secara berkelanjutan untuk mengendalikan api, terutama ketika kebakaran berlangsung di area yang sulit dijangkau. Jika sumber air di sekitar lokasi tidak lagi mencukupi, proses pemadaman dapat terhambat dan petugas perlu mengatur ulang cara memasok air ke titik api.
Selain keterbatasan air, lokasi kebakaran yang jauh di dalam kawasan hutan turut menyulitkan upaya penanganan. Jarak tersebut membuat petugas harus menyalurkan air dan peralatan ke area yang berada jauh dari akses utama. Untuk menghadapi keadaan itu, sarana pemadaman yang tersedia mencakup 329 gulung selang, dengan panjang setiap gulung mencapai 30 meter. Selang-selang tersebut dapat digunakan untuk menjangkau titik yang membutuhkan pasokan air, sesuai kondisi medan dan kebutuhan di lapangan.
Petugas juga menyiapkan tangki air darurat, atau collapsible tank, sebagai tempat menampung air sekaligus membantu memasoknya untuk pemadaman. Keberadaan tangki ini mendukung pengelolaan persediaan air ketika sumber terdekat terbatas, meskipun kebutuhan dan jangkauan distribusi tetap bergantung pada situasi di lokasi. Kombinasi selang dan tangki darurat menjadi bagian dari kesiapan sarana untuk menghadapi titik api yang terpencil serta kondisi sumber air yang berkurang.
Rony turut mengingatkan bahwa lahan yang sangat kering dapat menyebabkan api kembali muncul di lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan. Karena itu, pemadaman awal belum tentu berarti seluruh potensi kebakaran di area tersebut telah hilang. Kondisi kering memungkinkan bara atau bagian yang masih panas kembali menyala, sehingga pemantauan setelah pemadaman tetap diperlukan. Menurut Rony, gesekan antarkayu dalam keadaan kering juga berkemungkinan menjadi sumber api baru. Keterangan tersebut menegaskan bahwa selain memadamkan titik api, petugas perlu memperhatikan perubahan kondisi lahan dan mengantisipasi kemunculan api susulan di kawasan yang sama.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Suaka Margasatwa Padang Sugihan dilakukan melalui operasi pemadaman yang mencakup upaya dari darat dan dukungan udara. Dalam operasi tersebut, pengeboman air atau water bombing dilaksanakan sebanyak lima sorti. Dukungan ini menjadi bagian dari rangkaian penanganan karhutla, berdampingan dengan pemadaman darat yang dilakukan petugas. Penyebutan jumlah sorti menggambarkan salah satu unsur operasi yang berlangsung, tanpa mengabaikan pentingnya langkah pencegahan untuk menghadapi risiko kebakaran di kawasan maupun wilayah sekitarnya.
Polda Sumatera Selatan juga menyampaikan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bertumpu pada pemadaman ketika kebakaran terjadi. Pendekatan pencegahan dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat, agar warga memahami pentingnya mencegah kebakaran hutan dan lahan. Edukasi menjadi salah satu cara untuk membangun kepedulian serta mendorong masyarakat berperan dalam menjaga lingkungan. Upaya tersebut berjalan bersama patroli pencegahan, yang menjadi bagian dari perhatian terhadap potensi karhutla. Dengan demikian, penanganan mencakup langkah langsung untuk memadamkan api sekaligus tindakan untuk mencegah terjadinya pelanggaran.
Selain edukasi dan patroli, Polda Sumsel menyebut penegakan hukum sebagai bagian dari pendekatan yang diterapkan. Penegakan hukum dilakukan bersama kejaksaan terhadap pihak yang terbukti melanggar. Keterlibatan kejaksaan dalam proses tersebut menunjukkan bahwa penanganan pelanggaran melibatkan kerja sama antarlembaga. Langkah ini ditujukan kepada pihak yang terbukti melanggar, bukan menjadi alasan untuk menyamaratakan tanggung jawab. Pemadaman, pencegahan, dan penegakan hukum merupakan pendekatan yang berbeda, tetapi sama-sama disebut sebagai bagian dari upaya menangani karhutla di Sumatera Selatan.
Rangkaian pendekatan tersebut menegaskan perlunya keterlibatan berbagai unsur dalam menghadapi karhutla. Operasi pemadaman, edukasi masyarakat, patroli pencegahan, dan penegakan hukum memiliki peran masing-masing dalam penanganan.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla






