Hilirisasi Sumbang 30 Persen Investasi Nasional, Rosan Dorong Ekosistem Terpadu

Hilirisasi Sumbang 30 Persen Investasi Nasional, Rosan Dorong Ekosistem Terpadu

Jakarta | Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut hilirisasi sebagai salah satu pilar utama strategi ekonomi Indonesia. Menurutnya, pengembangan industri yang mengolah sumber daya di dalam negeri berperan penting dalam memperkuat struktur ekonomi sekaligus mendorong investasi nasional. Kontribusinya kini mencapai sekitar 30 persen dari total investasi Indonesia, dengan nilai yang dilaporkan sebesar US miliar. Angka tersebut meningkat 7,2 persen, menandakan sektor hilirisasi tetap menjadi bagian penting dari arus penanaman modal di tengah upaya pemerintah memperluas kegiatan industri.

Pernyataan itu disampaikan Rosan dalam Indonesia Sustainability Forum di Jakarta, sebagaimana tercantum dalam keterangan sumber bertanggal Selasa (20/10/2026). Ia menekankan bahwa capaian investasi tersebut berkaitan dengan potensi sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia. Negara ini mempunyai cadangan nikel, bauksit, tembaga, serta berbagai mineral kritis strategis lainnya. Ketersediaan bahan baku tersebut menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Dengan demikian, sumber daya tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang dipasarkan dalam bentuk mentah, tetapi juga sebagai landasan bagi pembentukan kapasitas industri nasional.

Rosan menjelaskan bahwa tujuan hilirisasi bukan semata-mata meningkatkan nilai ekonomi bahan tambang, melainkan membangun industri. Arah kebijakan ini menempatkan pengolahan sumber daya sebagai bagian dari upaya menciptakan kegiatan produksi yang lebih terintegrasi di Indonesia. Ketika bahan baku diproses lebih lanjut, rantai industri dapat berkembang dari tahap pengambilan sumber daya menuju pengolahan dan kegiatan manufaktur terkait. Pemerintah memandang potensi mineral strategis sebagai peluang untuk mendorong investasi serta memperkuat fondasi industri. Besarnya kontribusi sektor terhadap investasi nasional menunjukkan bahwa hilirisasi memiliki posisi nyata dalam strategi ekonomi, bukan hanya menjadi agenda jangka panjang. Keterangan Rosan di forum tersebut menegaskan hubungan kekayaan sumber daya, investasi, dan pembangunan industri sebagai sasaran utama kebijakan hilirisasi.

Menurut Rosan, arah hilirisasi di Indonesia mulai bergerak melampaui pembangunan fasilitas pengolahan mineral secara terpisah. Kebijakan tersebut semakin diarahkan pada pembentukan ekosistem industri yang terhubung, sehingga berbagai tahapan kegiatan dapat berada dalam satu rangkaian. Perubahan fokus ini menempatkan pengolahan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas, bukan sebagai satu-satunya tujuan. Dalam kerangka tersebut, kekayaan mineral menjadi titik awal bagi aktivitas industri yang mencakup proses lanjutan dan unsur pendukung lainnya. Rosan menekankan bahwa hilirisasi perlu dipahami melalui keterkaitan antarbagian dalam ekosistem, bukan hanya dari keberadaan fasilitas pemrosesan.

Unsur yang disebut dalam pendekatan ini meliputi pertambangan, pemrosesan, manufaktur, energi bersih, dan teknologi. Pertambangan menyediakan bahan mineral, sementara pemrosesan menjadi tahap untuk mengolahnya sebelum masuk ke kegiatan manufaktur. Di samping tahapan inti tersebut, energi bersih dan teknologi juga disebut sebagai bagian dari ekosistem industri yang hendak dibangun. Dengan demikian, pembicaraan mengenai hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi mencakup susunan kegiatan dan dukungan yang saling berkaitan. Setiap unsur memiliki tempat dalam gambaran industri terpadu yang disampaikan Rosan, meskipun penjelasan ini tidak menetapkan rincian teknis atau bentuk hubungan khusus di seluruh unsur tersebut.

Tujuan dari pendekatan ekosistem terintegrasi ini adalah memperbesar nilai tambah yang diperoleh dari kekayaan mineral Indonesia. Nilai tambah menjadi landasan arah kebijakan tersebut: mineral tidak hanya dipandang sebagai sumber bahan yang ditambang, tetapi juga sebagai dasar bagi pemrosesan dan manufaktur dalam rangkaian industri. Keterhubungan dengan energi bersih dan teknologi turut tercantum dalam gambaran ekosistem yang diuraikan Rosan. Karena itu, pengembangan hilirisasi ditempatkan dalam cakupan yang meliputi berbagai tahap dan unsur industri, alih-alih terbatas pada pembangunan fasilitas pengolahan. Penekanan ini menjelaskan perubahan orientasi kebijakan tanpa mengasumsikan hasil lain yang tidak disebutkan. Fokus yang disampaikan tetap pada pembentukan ekosistem industri yang terhubung dan upaya meningkatkan nilai tambah kekayaan mineral.

Grup MIND ID menjadi salah satu contoh pengembangan rantai nilai mineral strategis yang diarahkan untuk memperkuat industri di dalam negeri. Strateginya mencakup sejumlah komoditas penting, yaitu nikel, bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium, serta tembaga. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berfokus pada satu jenis mineral, tetapi juga pada pengembangan berbagai mata rantai produksi yang saling berkaitan. Dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan dan industri lanjutan, potensi sumber daya mineral dapat mendukung basis manufaktur nasional secara lebih luas.

Tujuan pengembangan rantai nilai itu adalah agar manfaat mineral tidak berhenti pada kegiatan pertambangan ataupun penjualan produk awal. Pengolahan lanjutan diharapkan menciptakan nilai tambah di Indonesia, memperkuat kemampuan industri, serta mendorong terbentuknya aktivitas ekonomi yang terkait dengan produksi mineral. Pada komoditas nikel, bauksit, alumina, aluminium, dan tembaga, kesinambungan dari bahan baku hingga produk olahan dapat membuka peluang bagi keterlibatan industri domestik dalam berbagai tahap. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya memperbesar manfaat ekonomi dari kekayaan sumber daya alam bagi masyarakat dan perekonomian nasional.

Pengembangan industri daur ulang turut dipersiapkan sebagai bagian dari komitmen Grup MIND ID dalam mendukung ekosistem industri sirkuler di Indonesia. Daur ulang dapat melengkapi pasokan bahan bagi industri, sekaligus membantu material tetap digunakan kembali dalam siklus produksi, bukan langsung menjadi limbah setelah pemakaian. Integrasi kegiatan tersebut dengan rantai nilai mineral primer dapat memperluas pilihan sumber bahan dan mendorong pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien. Dengan demikian, ekosistem hilirisasi mencakup bukan hanya penambangan dan pengolahan, tetapi juga pengelolaan material pada tahap berikutnya. Langkah ini memerlukan koordinasi perusahaan, industri pengguna, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan lainnya agar kapasitas yang dibangun dapat terhubung secara efektif. Melalui pengembangan rantai nilai mineral strategis dan daur ulang, MIND ID berupaya berkontribusi pada industri domestik yang lebih terpadu, produktif, dan berorientasi pada pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Arah hilirisasi setiap komoditas disusun untuk menghubungkan pengolahan sumber daya mineral dengan kebutuhan industri di dalam negeri. Nikel, bauksit, aluminium, dan tembaga memiliki jalur pengembangan yang berbeda, tetapi semuanya ditujukan untuk memperkuat rantai pasok nasional serta meningkatkan nilai tambah sebelum bahan digunakan oleh sektor manufaktur. Dengan pendekatan tersebut, hasil pengolahan tidak berhenti pada produk melainkan dapat menjadi masukan bagi industri yang lebih beragam.

Pada komoditas nikel, salah satu tujuan strategisnya adalah membangun ekosistem kendaraan listrik nasional. Indonesia Battery Corporation (IBC), yang melibatkan Grup MIND ID, menjadi bagian dari upaya menghubungkan sumber daya mineral Indonesia dengan industri baterai dan kendaraan listrik. Rantai pasok yang terintegrasi dapat mencakup tahapan pengolahan bahan mineral, produksi material dan baterai, hingga pemanfaatannya pada kendaraan listrik. Keterhubungan antartahap ini penting agar potensi nikel dapat mendukung pengembangan industri domestik, bukan hanya memasok bahan mentah ke pasar luar negeri. Penguatan ekosistem tersebut juga membuka ruang bagi kolaborasi pemilik sumber daya, pelaku pengolahan, industri baterai, dan produsen kendaraan.

Untuk bauksit, pengembangan diarahkan melalui tahapan pengolahan menjadi alumina, kemudian diproses lebih lanjut menjadi aluminium. Jalur ini membentuk keterkaitan dari bahan tambang hingga logam yang digunakan dalam berbagai kegiatan produksi. Ketersediaan aluminium hasil pengolahan dalam negeri dapat mendukung kebutuhan manufaktur nasional, termasuk industri yang memerlukan bahan logam untuk produk dan komponen. Pengembangan bertahap juga memungkinkan kapasitas pengolahan tumbuh sejalan dengan kebutuhan pasar domestik dan kesiapan industri pengguna.

Sementara itu, hilirisasi tembaga diarahkan untuk memperluas pemanfaatannya pada sektor kelistrikan, elektronik, dan manufaktur.

Baca juga: Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129 | Panglima TNI Bersama Menko Polkam Lepas Satgas Terpadu Port Visit 2026 | Kewaspadaan dan Komunikasi Terpadu Jadi Kunci Latihan Force on Force SGS MARFOR Lampung 2026