Jakarta | ID Food menargetkan peresmian proyek peternakan ayam terintegrasi di enam lokasi pada Juli 2027. Target tersebut menjadi tahapan penting dalam upaya perusahaan membangun fasilitas yang mencakup rangkaian kegiatan usaha perunggasan, dari produksi hingga penyediaan hasil ternak. Dengan pengerjaan dan persiapan yang diarahkan menuju jadwal itu, proyek diharapkan dapat mulai beroperasi sesuai sasaran yang telah ditetapkan.
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyampaikan bahwa keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membantu mengatasi fluktuasi pasokan dan harga ayam serta telur secara nasional. Ketersediaan produk yang lebih terjaga dinilai penting karena perubahan pasokan dapat berpengaruh terhadap pergerakan harga di pasar. Melalui proyek terintegrasi ini, ID Food berharap dapat mendukung upaya menjaga kesinambungan pasokan komoditas perunggasan bagi masyarakat.
Pernyataan mengenai target dan tujuan proyek itu disampaikan Ghimoyo dalam Agrifood Forum 2026. Forum tersebut berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 19 Oktober. Dalam kesempatan itu, proyek di enam lokasi dipaparkan sebagai bagian dari rencana pengembangan fasilitas peternakan ayam terintegrasi. Target peresmian pada Juli 2027 memberikan gambaran mengenai waktu yang dituju untuk menghadirkan fasilitas tersebut, sekaligus menjadi acuan bagi persiapan menuju tahap operasional.
Harapan terhadap dampak proyek berpusat pada persoalan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pasar, yakni kestabilan pasokan ayam dan telur serta pergerakan harganya. Namun, sasaran peresmian dan manfaat yang diharapkan perlu dibedakan: Juli 2027 merupakan target yang disampaikan perusahaan, sedangkan kontribusi terhadap stabilitas pasokan dan harga merupakan tujuan yang diharapkan dari fasilitas itu. Dengan demikian, pelaksanaan proyek dan kesiapan operasional di enam lokasi akan menjadi bagian penting untuk mewujudkan tujuan tersebut. Informasi yang disampaikan dalam forum itu menegaskan bahwa ID Food menempatkan pengembangan peternakan terintegrasi sebagai salah satu langkah untuk mendukung ketersediaan produk unggas nasional, dengan peresmian yang ditargetkan berlangsung pada Juli 2027.
Pengembangan proyek ayam terintegrasi ID Food mencakup fasilitas pembibitan yang dirancang untuk memperkuat rantai pasok ayam dari hulu. Salah satu bagian pentingnya adalah produksi grand parent stock (GPS), yaitu kelompok ayam bibit tingkat awal yang menjadi sumber bagi pengembangan bibit pada tahapan berikutnya. Ketersediaan GPS di dalam negeri diharapkan mendukung kesinambungan pasokan bibit, sehingga kebutuhan usaha peternakan tidak hanya bergantung pada mata rantai pembibitan yang sudah ada. Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem produksi yang saling terhubung, mulai dari penyediaan bibit hingga kegiatan budidaya.
Selain pembibitan, proyek tersebut merencanakan pembangunan pabrik pakan di sejumlah sentra bahan baku dan produksi jagung. Lokasi yang disebutkan meliputi Gorontalo, Bone, dan Lampung. Penempatan fasilitas di kawasan-kawasan tersebut berkaitan dengan kedekatannya terhadap sumber bahan baku, terutama jagung, yang digunakan dalam pembuatan pakan. Dengan pabrik berada lebih dekat ke sentra produksi, pasokan bahan dapat dikelola secara lebih efisien dan kebutuhan distribusi jarak jauh berpotensi dikurangi. Rencana ini juga menghubungkan kegiatan pertanian dengan kebutuhan industri peternakan dalam satu kerangka pengembangan.
Menurut Ghimoyo, pembangunan pabrik pakan di wilayah tersebut diharapkan dapat menekan harga pakan sekaligus biaya produksi. Pakan merupakan salah satu komponen utama dalam kegiatan pemeliharaan ayam, sehingga perubahan pada biaya pengadaan dan distribusinya dapat berpengaruh terhadap efisiensi usaha. Kedekatan fasilitas dengan sumber jagung dapat membantu mengurangi beban logistik, meskipun hasil akhirnya juga akan ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, kelancaran pengolahan, dan pengelolaan operasional. Karena itu, lokasi pabrik menjadi pertimbangan penting dalam rancangan proyek, bukan sekadar pilihan tempat pembangunan.
Apabila pembibitan, produksi GPS, dan pabrik pakan berjalan sesuai rencana, fasilitas-fasilitas tersebut dapat saling menopang dalam rantai produksi ayam. Pembibitan menyediakan fondasi bagi ketersediaan bibit, sedangkan pabrik pakan mendukung kebutuhan pemeliharaan dengan memanfaatkan potensi bahan baku setempat. Integrasi ini diarahkan untuk memperkuat efisiensi dan pasokan, sekaligus menghubungkan sentra pertanian dengan produksi peternakan. Perkembangan proyek dan kesiapan tiap fasilitas akan menjadi faktor penting dalam mewujudkan manfaat yang ditargetkan.Penyaluran bibit menjadi bagian penting dari rencana proyek ayam terintegrasi ID Food. Ghimoyo menyebut alur pengembangan dimulai dari GPS, atau grandparent stock, yang dikembangkan menjadi parent stock. Tahap berikutnya adalah menghasilkan day-old chick (DOC), yakni anak ayam berumur satu hari. DOC tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung kembali kegiatan budidaya yang dijalankan masyarakat. Dengan urutan ini, proyek tidak hanya mencakup pengembangan bibit pada tingkat awal, tetapi juga menghubungkan hasil pengembangan tersebut dengan kebutuhan peternak di daerah.
Alur GPS menuju parent stock, lalu DOC, menggambarkan tahapan pembentukan bibit sebelum masuk ke kegiatan budidaya. Keterangan Ghimoyo menempatkan peternak dan masyarakat sebagai pihak yang diharapkan menerima dukungan dari proses tersebut. Namun, penjelasan mengenai penyaluran itu tidak merinci jumlah bibit, wilayah penerima, jadwal distribusi, ataupun mekanisme pembagian. Karena itu, rencana ini dapat dipahami sebagai arah dukungan yang hendak dibangun, sementara rincian pelaksanaannya masih perlu merujuk pada keterangan resmi berikutnya. Fokusnya adalah memastikan hasil pengembangan bibit dapat tersambung dengan kegiatan budidaya masyarakat, sesuai tujuan proyek yang terintegrasi.
Bagi ID Food, keterhubungan pengembangan bibit dan budidaya daerah berkaitan dengan harapan untuk menggerakkan kembali roda ekonomi di daerah. Harapan tersebut disampaikan sebagai tujuan, bukan sebagai hasil yang telah tercapai. Penyaluran DOC kepada peternak diharapkan menjadi penghubung rangkaian pengembangan ayam dan aktivitas budidaya masyarakat. Dengan demikian, skema yang dijelaskan Ghimoyo menempatkan produksi bibit dan kegiatan peternak dalam satu alur: GPS dikembangkan menjadi parent stock, kemudian menjadi DOC, sebelum kembali mendukung budidaya. Keberlanjutan alur ini akan bergantung pada pelaksanaan rencana dan penyaluran yang dijalankan, tanpa mengubah tujuan yang telah disampaikan ID Food.
Intervensi proyek ayam terintegrasi dari sisi hulu hingga hilir disebut sejalan dengan penugasan pemerintah kepada ID Food untuk mengamankan ketersediaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Cakupan tersebut menghubungkan berbagai tahapan dalam rantai usaha ayam, sehingga upaya menjaga pasokan tidak hanya dipandang dari satu bagian kegiatan. Dalam konteks penugasan itu, proyek menjadi bagian dari langkah yang diarahkan untuk mendukung pengelolaan pangan strategis. Namun, keterkaitan tersebut merupakan kesesuaian tujuan dan mandat, bukan bukti bahwa proyek telah menghasilkan dampak tertentu. Proyek ini ditargetkan beroperasi pada Juli 2027, sehingga hasil pelaksanaannya belum dapat dinilai sebelum kegiatan berjalan dan data tersedia.
Ghimoyo menyampaikan bahwa mandat kepada ID Food mencakup upaya menjaga pasokan sekaligus menstabilkan harga. Kedua hal tersebut saling berkaitan dalam pengelolaan komoditas pangan: ketersediaan barang menjadi salah satu faktor yang diperhatikan ketika pemerintah berupaya meredam tekanan harga. Dalam kerangka CPP, pengamanan pasokan dimaksudkan untuk mendukung kesiapan pangan pemerintah, sementara stabilisasi harga diarahkan agar perubahan harga tidak berlangsung terlalu tajam. Penugasan ini menempatkan ID Food dalam peran untuk menjalankan langkah-langkah yang mendukung sasaran tersebut, sesuai kebijakan dan kebutuhan yang ditetapkan pemerintah.
Tujuan meredam gejolak bukan berarti harga akan selalu tetap atau tidak mengalami perubahan. Harga dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi, termasuk keseimbangan pasokan dan kebutuhan, sehingga mandat stabilisasi lebih tepat dipahami sebagai upaya mengurangi lonjakan yang drastis. Proyek terintegrasi dapat menjadi salah satu instrumen yang terkait dengan penguatan rantai pasok, tetapi tingkat kontribusinya baru bisa diketahui setelah proyek beroperasi dan kinerjanya dievaluasi.






