Jakarta | Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengajak masyarakat untuk merawat dan melestarikan keberagaman budaya yang menjadi bagian penting dari kehidupan ibu kota. Ajakan tersebut disampaikan dalam Karnaval dan Pawai Budaya Sarendo-Rendo 2026 yang berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu. Di tengah kemeriahan kegiatan, Rano mengingatkan bahwa kekayaan budaya Jakarta tidak hanya tampak dalam perayaan, tetapi juga perlu dijaga melalui sikap saling menghormati dan keterlibatan warga dalam kehidupan sehari-hari.
Jakarta dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Selain warga Betawi sebagai penduduk asli, terdapat pula masyarakat dari berbagai daerah dan komunitas, termasuk Jawa, Bugis, Tionghoa, Ambon, dan Bali. Keberagaman tersebut membentuk wajah kota, terlihat dalam bahasa, kesenian, kuliner, adat, serta kebiasaan yang hidup berdampingan. Menurut Rano, perbedaan itu merupakan kekuatan yang perlu dirawat bersama, bukan alasan untuk menjauhkan satu kelompok dari kelompok lainnya.
Karnaval dan pawai budaya menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal tradisi yang berbeda. Ragam busana, pertunjukan, dan ekspresi budaya yang ditampilkan dapat memperlihatkan betapa luasnya warisan yang dimiliki Jakarta dan Indonesia. Namun, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menghadirkan kesenian dalam acara tertentu. Dukungan terhadap pelaku budaya, kesempatan untuk mempelajari tradisi, dan kemauan untuk menghargai kebiasaan komunitas lain juga berperan penting agar warisan tersebut tetap hidup.
Rano berharap tradisi Betawi dan kekayaan budaya Nusantara terus lestari serta dapat diwariskan kepada generasi muda. Anak-anak dan kaum muda perlu memperoleh ruang untuk mengenal sejarah, kesenian, dan nilai yang terkandung dalam tradisi di sekitarnya. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas yang berkembang bersama masyarakat. Ajakan menjaga keberagaman ini menempatkan seluruh warga sebagai pemilik tanggung jawab bersama: merawat tradisi masing-masing, membuka diri terhadap budaya lain, dan memastikan kekayaan budaya Jakarta tetap bermakna bagi generasi berikutnya.
Rano Karno menjelaskan bahwa istilah Sarendo-Rendo dalam bahasa Betawi bermakna beramai-ramai atau berjalan bersama dalam rombongan. Makna tersebut tidak hanya menggambarkan cara orang bergerak dalam satu kelompok, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kebersamaan. Dalam kehidupan sehari-hari, berjalan bersama berarti setiap orang mengambil bagian, saling menyertai, dan tetap menjadi bagian dari tujuan yang sama. Nilai ini terasa dekat dengan Jakarta, kota yang sejak lama menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah dan tradisi.
Warga Jakarta memiliki suku, bahasa, serta latar belakang budaya yang beragam. Perbedaan itu hadir dalam kebiasaan, kesenian, kuliner, cara berkomunikasi, hingga perayaan yang dijalankan setiap komunitas. Meski demikian, kehidupan kota mempertemukan mereka di ruang yang sama: lingkungan tempat tinggal, sekolah, tempat kerja, dan ruang publik. Di tengah keragaman tersebut, masyarakat dapat hidup berdampingan dan membangun hubungan yang saling menghormati. Semangat Sarendo-Rendo menjadi gambaran bahwa kebersamaan tidak menuntut semua orang memiliki identitas yang seragam. Sebaliknya, warga dapat melangkah bersama sambil menjaga kekhasan masing-masing.
Kegiatan Sarendo-Rendo juga menyediakan ruang bagi pelaku seni untuk menampilkan kekayaan budaya. Pertunjukan dan karya yang hadir memungkinkan warga mengenal beragam ekspresi, sekaligus memberi kesempatan kepada seniman untuk memperkenalkan tradisi dan kreativitas mereka. Pertemuan penampil dan masyarakat dapat menumbuhkan rasa saling memahami, terutama ketika budaya yang berbeda dinikmati dalam suasana terbuka. Dengan begitu, kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana memperkuat kebersamaan dan merawat hubungan antarkelompok. Warga dapat menyaksikan keragaman sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan sebagai batas pemisah.
Penyelenggaraan kegiatan tersebut dalam rangka menyambut Hari Kebudayaan Nasional menegaskan pentingnya merawat warisan budaya melalui partisipasi masyarakat. Semangat itu dapat diteruskan setelah acara selesai, misalnya dengan memberi ruang bagi kegiatan seni lokal dan menghargai tradisi komunitas lain. Dalam konteks Jakarta, pesan berjalan bersama memiliki arti khusus: kota ini terus berkembang karena warganya berbagi ruang, menjaga sikap saling menghormati, dan ikut merawat kebudayaan. Sarendo-Rendo mengingatkan bahwa kebersamaan dapat tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan ramai-ramai.Festival Sarendo-Rendo akan berlangsung selama dua hari, pada 17–18 Oktober 2026, dengan rangkaian kegiatan yang tersebar di sejumlah titik di Jakarta. Susunan acara tersebut menghadirkan ruang bagi warga untuk menyaksikan ragam ekspresi budaya sekaligus mengenal tradisi dari berbagai daerah di Indonesia. Festival ini dirancang dengan agenda yang berlanjut dari kegiatan pada hari pertama hingga pawai budaya sebagai puncak perayaan pada hari kedua.
Pada Sabtu, 17 Oktober, kegiatan festival akan digelar di Lapangan Banteng. Lokasi ini menjadi tempat berlangsungnya rangkaian acara pembuka, sebelum perhatian beralih ke pusat kota pada hari berikutnya. Pelaksanaan selama dua hari memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti festival sesuai agenda yang tersedia. Kehadiran kegiatan budaya di ruang publik juga dapat mendekatkan kesenian dan tradisi kepada warga, tanpa membatasi pengalaman hanya pada pertunjukan di dalam gedung.
Puncak Festival Sarendo-Rendo dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Oktober, melalui pawai budaya di Bundaran HI. Pawai tersebut melibatkan berbagai sanggar seni di Jakarta, yang akan membawa beragam bentuk kesenian ke salah satu kawasan yang dikenal luas oleh masyarakat. Keterlibatan sanggar-sanggar ini memperlihatkan peran komunitas seni dalam merawat dan menampilkan kebudayaan. Warga yang hadir dapat menyaksikan perjumpaan berbagai unsur tradisi dalam satu rangkaian acara di tengah kota.
Pawai juga akan menghadirkan sekitar 100 raja dan sultan dari berbagai daerah di Nusantara melalui Forum Silaturahmi Keraton Nusantara. Kehadiran para tokoh dari lingkungan keraton tersebut menjadi bagian penting dari agenda, karena mempertemukan perwakilan tradisi dari berbagai wilayah. Pertemuan ini dapat menjadi momentum untuk mempererat hubungan budaya antardaerah serta membuka ruang saling mengenal di masyarakat yang memiliki latar tradisi berbeda. Dengan menghadirkan sanggar seni Jakarta bersama para raja dan sultan, pawai menghubungkan praktik kesenian dengan warisan budaya yang dijaga lintas generasi.
Rangkaian dua hari itu sekaligus memberi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada masyarakat. Pawai di Bundaran HI menghadirkan budaya dalam suasana terbuka, sementara kegiatan di Lapangan Banteng menjadi bagian dari perjalanan festival menuju puncaknya. Melalui pertemuan tersebut, warga dapat melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bersama dan memahami pentingnya menjaga hubungan antardaerah. Festival Sarendo-Rendo menjadi ajang untuk merawat perhatian terhadap kebudayaan, sekaligus memperluas ruang perjumpaan tradisi, komunitas seni, dan masyarakat Jakarta.
Rano Karno memandang keberagaman budaya sebagai bagian penting dari identitas Jakarta. Kota ini tumbuh dari perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, bahasa, kesenian, dan tradisi yang hidup berdampingan. Karena itu, upaya menjaga kebudayaan bukan sekadar merawat peninggalan masa lalu, melainkan juga memperkuat karakter kota dan rasa memiliki warganya. Keragaman tersebut menjadi kekuatan yang membedakan Jakarta sekaligus memperkaya kehidupan masyarakatnya.
Pelestarian budaya, menurut Rano, perlu berjalan seiring dengan cita-cita menjadikan ibu kota sebagai kota global. Kemajuan dan keterbukaan terhadap dunia tidak harus menghapus ciri khas lokal. Sebaliknya, kebudayaan dapat menjadi modal penting untuk memperkenalkan Jakarta kepada masyarakat internasional. Tradisi, seni, dan ekspresi komunitas dapat memperlihatkan wajah kota yang modern, tetapi tetap berakar pada sejarah serta nilai yang tumbuh di tengah warganya.
Dalam mendukung ruang ekspresi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara berkala menghadirkan program Jakarta Penuh Warna.
Baca juga: Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta | TNI-Polri Gelar Patroli Terpadu, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Jakarta





