Sosial  

Wabup Kotim Kecewa Menhut Urung Meninjau Karhutla, Kemenhut Sampaikan Permintaan Maaf

Wabup Kotim Kecewa Menhut Urung Meninjau Karhutla, Kemenhut Sampaikan Permintaan Maaf

Kabupaten Kotawaringin Timur | Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menangis setelah rencana Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sampit batal. Momen tersebut terekam dan kemudian beredar di media sosial, sehingga menarik perhatian publik. Rekaman itu memperlihatkan Irawati berbicara melalui telepon seluler ketika membahas agenda peninjauan yang tidak terlaksana.

Dalam percakapan tersebut, Irawati berbicara dengan Fahrizal Fitri, Staf Ahli Menteri bidang Hubungan Antarlembaga Kementerian Kehutanan. Saat berkomunikasi melalui telepon, ia tampak emosional hingga menangis. Peristiwa itu terjadi dalam konteks rencana kunjungan Menteri Kehutanan ke kawasan yang terdampak karhutla di Sampit, Kotim.

Agenda peninjauan tersebut menjadi perhatian karena dimaksudkan untuk melihat langsung kondisi lokasi kebakaran hutan dan lahan. Namun, kunjungan Raja Juli Antoni ke wilayah itu batal. Hingga informasi yang disampaikan dalam peristiwa ini, alasan pembatalan tidak dijelaskan, sehingga tidak dapat dipastikan faktor yang menyebabkan agenda tersebut urung terlaksana.

Cuplikan percakapan yang beredar menunjukkan reaksi Irawati setelah mengetahui agenda itu tidak jadi berlangsung. Tangisannya kemudian menjadi sorotan di media sosial, dengan perhatian tertuju pada komunikasi wakil bupati dan perwakilan Kementerian Kehutanan. Momen tersebut juga menempatkan pembatalan peninjauan karhutla di Sampit sebagai pokok persoalan dalam pemberitaan.

Peristiwa ini berlangsung ketika kebakaran hutan dan lahan menjadi isu yang membutuhkan perhatian di daerah. Rencana kehadiran Menteri Kehutanan semula diarahkan untuk meninjau kondisi di lapangan, tetapi agenda itu akhirnya tidak terwujud. Dalam rekaman, Irawati menyampaikan pembicaraannya kepada Fahrizal melalui telepon seluler dan terlihat menangis. Informasi mengenai kejadian tersebut beredar luas melalui unggahan media sosial, sementara kepastian terkait alasan batalnya peninjauan tidak tercantum dalam keterangan yang tersedia. Dengan demikian, inti peristiwa yang diketahui adalah batalnya agenda kunjungan serta reaksi emosional Irawati saat membicarakannya lewat telepon.Peninjauan titik api di wilayah Sampit semula masuk dalam agenda rombongan Kementerian Kehutanan pada Rabu (14/10/2026). Rencana tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur (Kotim). Namun, agenda yang telah dijadwalkan itu tidak terlaksana sebagaimana semula direncanakan. Rombongan kementerian langsung menuju Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, sehingga tidak melakukan peninjauan titik api di Sampit pada hari tersebut.

Perubahan tujuan itu membuat jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim tidak sempat bertemu dengan rombongan. Mereka juga tidak memperoleh kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan pihak kementerian dalam agenda tersebut. Dengan demikian, rencana pertemuan maupun pembahasan mengenai situasi karhutla di wilayah Kotim tidak berlangsung saat rombongan berkunjung ke Kalimantan Tengah. Informasi yang tersedia menyebutkan tujuan rombongan adalah Pangkalan Bun, bukan Sampit, tanpa merinci alasan perubahan agenda.

Kronologi yang disampaikan terbatas pada jadwal awal peninjauan dan tujuan rombongan setelahnya. Peninjauan titik api dijadwalkan di Sampit pada Rabu, 14 Oktober 2026, tetapi rombongan kementerian bertolak langsung ke Pangkalan Bun di Kabupaten Kotawaringin Barat. Akibatnya, tidak ada pertemuan ataupun diskusi dengan Forkopimda Kotim dalam rangkaian kunjungan tersebut. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai alasan rombongan mengubah tujuan, waktu keberangkatan, jalur perjalanan, atau agenda di Pangkalan Bun. Karena itu, rincian tersebut tidak dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Peristiwa ini menjadi bagian dari kabar mengenai kekecewaan Wakil Bupati Kotim atas batalnya peninjauan, serta permintaan maaf yang disampaikan Kementerian Kehutanan. Uraian kronologi ini tidak menambahkan penjelasan lain di luar informasi mengenai rencana semula, tujuan rombongan, dan tidak terjadinya komunikasi langsung dengan unsur pimpinan daerah Kotim.

Menjelang agenda peninjauan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), petugas satuan tugas, dan relawan pemadam kebakaran telah bersiap di lokasi yang direncanakan menjadi titik kunjungan. Mereka menunggu di tepi jalan untuk menyambut rombongan Menteri Kehutanan sekaligus menyampaikan kondisi dan upaya penanganan yang dilakukan di daerah.

Persiapan tersebut dilakukan sebagai bagian dari koordinasi antarpihak yang terlibat dalam penanganan karhutla. Kehadiran unsur pemerintah daerah, petugas, dan relawan menunjukkan bahwa agenda kunjungan telah menjadi perhatian berbagai pihak di Kotim. Mereka berada di lokasi sesuai rencana, meski kunjungan yang dinantikan kemudian tidak berlangsung sebagaimana dijadwalkan.

Selain menunggu di tepi jalan, pemerintah daerah juga telah menyiapkan ruang pertemuan khusus. Ruang itu disediakan untuk mendukung komunikasi pejabat pusat dan daerah, serta memungkinkan pembahasan mengenai situasi dan kebutuhan penanganan secara lebih terarah. Penyiapan tempat tersebut mencerminkan upaya daerah memfasilitasi kunjungan dan menyediakan ruang bagi koordinasi.

Di tengah persiapan itu, kemampuan sarana penanganan bencana di daerah masih terbatas. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam melihat kebutuhan dukungan bagi petugas dan relawan. Meski demikian, keterangan yang tersedia tidak merinci jenis sarana yang kurang maupun dampaknya terhadap penanganan. Karena itu, situasi tersebut perlu dipahami sebatas informasi bahwa dukungan fasilitas daerah belum memadai.

Penantian Forkopimda, petugas satgas, dan relawan memperlihatkan besarnya harapan agar agenda tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan membicarakan langkah penanganan. Persiapan ruang pertemuan serta kehadiran para pihak telah dilakukan sebelum kepastian bahwa peninjauan tidak terlaksana. Peristiwa ini kemudian menjadi bagian dari kekecewaan Wakil Bupati Kotim, sementara Kementerian Kehutanan menyampaikan permintaan maaf atas batalnya kunjungan. Tidak ada keterangan lebih lanjut dalam informasi yang tersedia mengenai rincian teknis persiapan atau kondisi kebakaran, sehingga pembahasan berfokus pada kesiapan pihak daerah dan keterbatasan fasilitas yang telah disebutkan.

Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, menjelaskan bahwa tangisnya saat menyampaikan kekecewaan bukan dimaksudkan sebagai luapan emosi pribadi. Dalam keterangannya pada Sabtu (17/10/2026), ia menyebut air mata itu sebagai ungkapan keprihatinan sekaligus empati terhadap warga dan para relawan yang telah berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan selama tiga bulan. Menurutnya, perjuangan mereka berlangsung di tengah kondisi yang berat, sementara api masih menjadi ancaman bagi sejumlah wilayah. Perasaan tersebut, kata Irawati, muncul karena ia melihat langsung beban yang harus ditanggung masyarakat dan petugas di lapangan dalam menghadapi situasi yang belum kunjung mereda.

Irawati berharap rencana kunjungan Menteri Kehutanan dapat memberi dorongan nyata bagi penanganan karhutla di Kotawaringin Timur. Ia menginginkan kehadiran pemerintah pusat membawa solusi yang dapat membantu pekerjaan di lapangan, termasuk dukungan berupa armada pemadaman. Harapan itu disampaikan karena kemampuan daerah memiliki batas, baik dari sisi jumlah personel maupun ketersediaan sarana. Sementara itu, sebaran titik api dilaporkan kian meluas, sehingga kebutuhan penanganan juga meningkat. Dalam keadaan seperti ini, tambahan dukungan dinilai penting agar upaya pemadaman dapat menjangkau wilayah terdampak dan meringankan beban warga serta relawan yang telah bekerja selama berbulan-bulan.

Kekecewaan Irawati berkaitan dengan batalnya peninjauan yang diharapkan dapat membuka ruang bagi respons dan bantuan lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa perhatian utamanya adalah kondisi masyarakat dan petugas yang menghadapi kebakaran, bukan sekadar kehadiran pejabat dalam agenda kunjungan. Harapan akan solusi dan armada mencerminkan keterbatasan yang dirasakan pemerintah daerah saat menghadapi api yang terus menyebar. Kementerian Kehutanan juga menyampaikan permintaan maaf terkait situasi tersebut. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci siapa yang menyampaikan permintaan itu maupun bentuk penyampaiannya. Bagi Irawati, yang mendesak adalah dukungan konkret agar penanganan karhutla dapat dilakukan dengan kapasitas yang memadai.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla