Surabaya | JEC Eye Hospitals and Clinics memperluas akses layanan kesehatan mata di Jawa Timur melalui program operasi katarak tanpa biaya. Kegiatan sosial ini akan menjangkau tiga kota, yaitu Surabaya, Pasuruan, dan Kediri. Dengan menghadirkan layanan di sejumlah lokasi, program tersebut diarahkan untuk membantu pasien memperoleh penanganan katarak tanpa terbebani biaya operasi. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pelayanan kesehatan mata di wilayah tersebut, sekaligus memberi kesempatan kepada lebih banyak warga untuk mendapatkan akses terhadap perawatan yang dibutuhkan.
Program ini ditujukan kepada 101 pasien di ketiga kota. Jumlah tersebut menjadi sasaran penerima manfaat dalam rangkaian kegiatan yang direncanakan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026. Pelaksanaan di Surabaya, Pasuruan, dan Kediri memungkinkan program menjangkau pasien di beberapa wilayah Jawa Timur, bukan hanya satu kota. Fokusnya adalah menyediakan operasi katarak tanpa biaya bagi pasien yang menjadi sasaran kegiatan sosial ini. Informasi yang tersedia menyebutkan jumlah target, kota pelaksanaan, dan rentang waktu program, tanpa merinci jadwal kegiatan di masing-masing lokasi.
Rentang pelaksanaan selama tiga bulan memberi gambaran bahwa kegiatan akan berlangsung bertahap dalam periode Oktober sampai Desember 2026. Namun, rincian tanggal, pembagian jumlah pasien per kota, maupun mekanisme pendaftaran belum disebutkan. Karena itu, informasi utama yang dapat dipastikan saat ini adalah cakupan program di Surabaya, Pasuruan, dan Kediri, sasaran sebanyak 101 pasien, serta penyelenggaraan operasi katarak tanpa biaya. Program JEC Eye Hospitals and Clinics ini memperlihatkan upaya memperluas akses kesehatan mata di Jawa Timur melalui layanan yang menjangkau beberapa kota. Warga yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menunggu pengumuman resmi mengenai pelaksanaan program di setiap wilayah.
Program operasi katarak tanpa biaya di Jawa Timur diselenggarakan melalui kolaborasi sejumlah pihak, yakni JEC, Gerakan Matahati, Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), dan Lions Club Indonesia. Kerja sama ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan kegiatan yang ditargetkan menjangkau 101 pasien. Setiap organisasi terlibat dalam upaya menghadirkan layanan operasi bagi masyarakat yang membutuhkan, dengan tujuan mendukung akses terhadap penanganan katarak tanpa biaya. Kolaborasi tersebut mempertemukan unsur layanan kesehatan dan gerakan sosial dalam satu kegiatan yang berfokus pada kesehatan mata.
Penyelenggaraan program ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan atas 101 tahun kelahiran Pandji Wisaksana, pendiri Gerakan Matahati. Momentum tersebut menghubungkan kegiatan pelayanan kepada pasien dengan perjalanan gerakan yang didirikannya. Gerakan Matahati memiliki target untuk memfasilitasi 1.010 operasi katarak tanpa biaya hingga akhir tahun. Dengan demikian, kegiatan di Jawa Timur menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mencapai sasaran tersebut, sekaligus menandai penghormatan kepada sosok yang menjadi pendiri gerakan. Target tahunan itu memberi konteks bagi pelaksanaan kegiatan dan cakupan bantuan yang hendak difasilitasi.
Pelaksanaan program turut dikaitkan dengan peringatan World Sight Day 2026, yang mengusung semangat “Love Your Eyes”. Tema tersebut menjadi bagian dari konteks kegiatan yang menempatkan perhatian terhadap kesehatan mata sebagai pokok peringatan. Melalui kerja sama JEC, Gerakan Matahati, LEBJ, dan Lions Club Indonesia, program ini menggabungkan penghormatan kepada Pandji Wisaksana, dukungan terhadap target 1.010 operasi, serta kegiatan yang ditujukan kepada 101 pasien di Jawa Timur. Seluruh unsur tersebut merupakan bagian dari penyelenggaraan program sosial yang dilakukan bertepatan dengan World Sight Day 2026 dan membawa pesan “Love Your Eyes” dalam rangkaian kegiatan kesehatan mata ini.
Besarnya kebutuhan penanganan katarak di Jawa Timur tergambar dalam survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan pada 2015. Survei tersebut mencatat prevalensi kebutaan sebesar 4,4 persen pada penduduk berusia 50 tahun ke atas. Angka ini merupakan yang tertinggi di 15 provinsi yang disurvei dalam periode 2014–2016. Temuan itu memberi gambaran tentang tingginya beban gangguan penglihatan berat pada kelompok usia lanjut, sekaligus menunjukkan pentingnya layanan pemeriksaan dan operasi yang dapat dijangkau masyarakat. Data RAAB tersebut merujuk pada kondisi yang diteliti di provinsi-provinsi peserta survei, bukan pada seluruh penduduk tanpa batasan usia.
Dalam hasil survei yang sama, katarak disebut sebagai penyebab sekitar 81,1 persen kasus kebutaan di Jawa Timur. Proporsi ini menegaskan bahwa penanganan katarak berpotensi berperan besar dalam upaya mencegah kebutaan yang dapat dihindari. Katarak menyebabkan lensa mata menjadi keruh dan penglihatan memburuk; ketika tidak ditangani, dampaknya dapat menghambat aktivitas sehari-hari dan mengurangi kemandirian seseorang. Namun, angka 81,1 persen merupakan temuan survei RAAB untuk Jawa Timur dan periode pengumpulan data 2014–2016. Angka itu tidak dapat begitu saja disamakan dengan statistik nasional atau kondisi terkini, karena cakupan wilayah, populasi, serta waktu pencatatan berbeda.
Keterangan Kementerian Kesehatan RI memberikan konteks lain pada skala nasional. Kementerian menyebut sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025, serta menyatakan bahwa katarak mencakup 81,2 persen kasus kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun. Data nasional tersebut berbeda dari hasil RAAB di Jawa Timur, meskipun keduanya menyoroti besarnya kontribusi katarak terhadap kebutaan. Perbedaan lokasi, rentang waktu, dan kelompok yang dihitung perlu diperhatikan saat membandingkan persentase maupun jumlah kasus. Dengan membaca kedua sumber sesuai konteksnya, urgensi memperluas akses diagnosis dan operasi katarak di Jawa Timur dapat dipahami tanpa mencampuradukkan temuan survei provinsi dengan keterangan nasional.
Gangguan penglihatan dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan perubahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai bagian normal dari pertambahan usia. Salah satu keluhan yang perlu diperhatikan ialah penglihatan berkabut, ketika objek tampak kurang jelas atau seperti tertutup lapisan tipis. Keluhan lain adalah mudah silau, baik saat berada di bawah cahaya terang maupun ketika melihat sumber cahaya. Perubahan semacam ini dapat membuat kegiatan rutin terasa berbeda dari sebelumnya. Karena gejala tersebut berpengaruh pada kenyamanan dan kemampuan melihat, penting untuk tidak meremehkannya atau menganggapnya sebagai konsekuensi usia semata. Pengamatan terhadap perubahan penglihatan menjadi alasan untuk mencari penjelasan yang tepat.
Kesulitan membaca, termasuk saat melihat tulisan yang biasanya dapat dikenali, juga merupakan keluhan yang patut mendapat perhatian. Demikian pula, sulit mengenali wajah orang lain dapat memengaruhi komunikasi dan kegiatan sosial. Gejala-gejala ini bisa muncul dengan tingkat gangguan yang berbeda pada setiap orang, sehingga pengalaman seseorang tidak selalu sama dengan orang lain. Namun, keluhan penglihatan tidak cukup dinilai hanya dari kesan bahwa penglihatan terasa menurun. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab gangguan yang dialami. Hasil pemeriksaan membantu tenaga medis menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Dengan demikian, keluhan seperti penglihatan berkabut, silau, kesulitan membaca, atau sulit mengenali wajah tidak perlu dibiarkan tanpa kejelasan.
Akses terhadap pemeriksaan mata menjadi penting agar masyarakat dapat memperoleh penilaian yang diperlukan, terutama ketika gangguan penglihatan mulai membatasi kegiatan sehari-hari. Bagi sebagian orang, keterbatasan dalam memperoleh layanan kesehatan dapat menjadi hambatan untuk mengetahui penyebab keluhan maupun pilihan penanganannya. Akses yang lebih baik terhadap pemeriksaan dan operasi dapat membantu menghubungkan pasien dengan layanan yang sesuai, termasuk bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan katarak. Program operasi tanpa biaya di Jawa Timur, yang menargetkan 101 pasien, menjadi salah satu upaya untuk menjangkau masyarakat yang menghadapi kendala akses.
Baca juga: TNI Kerahkan Sejumlah Alutsista Dukung Operasi SAR KM Virgo Transport 8 | STAFFEX SGS 2026 Perkuat Kesiapan Operasi Gabungan Melalui AAR | STAFFEX SGS 2026 Masuki Tahap Penyusunan Perintah Operasi Gabungan






