Jakarta | Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026, atau The Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, dipandang sebagai salah satu instrumen untuk memperluas aktivitas ekonomi di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia. Sebagai ajang olahraga internasional, event ini tidak hanya berpusat pada kompetisi di lintasan, tetapi juga mendorong keterlibatan berbagai sektor di sekitar kawasan Mandalika. Kehadiran peserta, tim, penonton, serta pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan menciptakan kebutuhan terhadap beragam barang dan jasa. Skala acara tersebut menjadikan kawasan Mandalika sebagai ruang bertemunya kegiatan olahraga, pariwisata, dan usaha masyarakat.
Salah satu bentuk dampak langsungnya terlihat dari keterlibatan sekitar 3.000 tenaga kerja lokal dalam penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026. Pelibatan ini menunjukkan bahwa event internasional dapat membuka ruang partisipasi bagi masyarakat setempat dalam berbagai kebutuhan operasional kegiatan. Aktivitas tersebut turut menggerakkan perputaran usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah yang berada di sekitar kawasan. Ketika kebutuhan selama penyelenggaraan meningkat, pelaku usaha lokal memperoleh peluang untuk menawarkan produk dan layanan yang relevan bagi pengunjung maupun pihak yang terlibat dalam acara.
Pergerakan ekonomi juga berkaitan erat dengan sektor pariwisata, hotel, restoran, dan layanan transportasi. Meningkatnya aktivitas di Mandalika menciptakan hubungan antarsektor yang saling mendukung, karena mobilitas pengunjung membutuhkan akomodasi, konsumsi, serta sarana perjalanan. Hotel dan restoran menjadi bagian dari ekosistem layanan selama event berlangsung, sementara jasa transportasi membantu menghubungkan pengunjung dengan kawasan dan berbagai tujuan terkait. Dengan demikian, skala MotoGP Mandalika 2026 memperluas aktivitas ekonomi lokal melalui keterlibatan tenaga kerja dan pelaku usaha, sekaligus memperkuat peran penyelenggaraan event internasional dalam menggerakkan ekonomi daerah.
Penyelenggaraan MotoGP di Mandalika telah memperluas perhatian dunia terhadap Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai destinasi sport tourism. Eksposur internasional yang muncul melalui ajang balap tersebut tidak hanya memperkenalkan Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, tetapi juga menampilkan potensi kawasan di sekitarnya. Perhatian global ini menjadi modal penting untuk mendorong masuknya investasi asing, khususnya pada sektor pariwisata dan akomodasi.
InJourney mencatat adanya investor dari Spanyol yang masuk ke sektor akomodasi di sekitar kawasan Mandalika. Informasi tersebut disampaikan oleh CEO InJourney, Maya Watono, sebagai salah satu gambaran mengenai dampak promosi internasional yang dihasilkan oleh penyelenggaraan MotoGP. Spanyol memiliki keterkaitan kuat dengan ajang MotoGP sebagai salah satu negara asal penyelenggaraan dan ekosistem balap motor dunia. Ketertarikan investor dari negara tersebut menunjukkan bahwa Mandalika mulai dipandang sebagai kawasan yang memiliki peluang bisnis lebih luas.
Bentuk investasi yang disebutkan mencakup pembangunan hotel dan vila. Kehadiran akomodasi tersebut penting untuk memperkuat kapasitas kawasan dalam menerima wisatawan, baik penonton balapan maupun pengunjung yang datang untuk menikmati destinasi di Lombok. Hotel dan vila juga dapat mendukung kebutuhan wisatawan dengan pilihan tempat menginap yang lebih beragam, sekaligus meningkatkan daya tarik kawasan bagi perjalanan rekreasi, kegiatan olahraga, dan agenda berskala internasional.
Daya tarik Mandalika, dengan demikian, tidak semata-mata bergantung pada jadwal perlombaan. Balapan berperan sebagai pemicu perhatian dan pintu masuk bagi pengenalan kawasan, sedangkan peluang pengembangan destinasi dan akomodasi menjadi dasar bagi keberlanjutan investasi. Investor dapat melihat potensi pertumbuhan yang berasal dari kombinasi reputasi internasional, lanskap wisata, serta kebutuhan infrastruktur pendukung. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sport tourism mampu menciptakan efek lanjutan bagi sektor properti pariwisata dan memperkuat posisi NTB dalam peta tujuan investasi.
Penguatan konsep sport tourism di Mandalika memerlukan kolaborasi lintas lembaga agar kawasan tersebut memiliki ekosistem kegiatan yang lebih lengkap. Upaya ini melibatkan InJourney, Danantara Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Keuangan, Kementerian UMKM, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Pemerintah Daerah NTB. Keterlibatan berbagai pihak tersebut penting untuk menyelaraskan pengelolaan kawasan, kebijakan, dukungan pembiayaan, pengembangan usaha, dan penguatan sektor kreatif dalam satu arah pengembangan.
Dalam rencana pengembangan fasilitas, terdapat sejumlah potensi yang diarahkan untuk melengkapi daya tarik Mandalika. Salah satunya adalah pembangunan lapangan golf yang dapat memperluas pilihan kegiatan bagi wisatawan. Selain itu, disiapkan pula area parkir otomotif untuk mobil mewah. Fasilitas tersebut memperkaya keterkaitan olahraga, rekreasi, dan kegiatan otomotif di dalam kawasan, tanpa mengubah fokus utama pada pengembangan Mandalika sebagai destinasi sport tourism.
Pemanfaatan fasilitas bonded zone juga menjadi bagian dari langkah untuk mendukung pengembangan kawasan. Kehadiran fasilitas tersebut diarahkan agar kegiatan yang berkaitan dengan wisata dan investasi dapat berkembang secara lebih luas. Dengan dukungan berbagai rencana fasilitas itu, Mandalika tidak hanya diposisikan sebagai lokasi penyelenggaraan MotoGP, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu menghadirkan beragam aktivitas ekonomi. Perluasan kegiatan ini diharapkan membuka ruang bagi keterlibatan pelaku usaha, memperkuat daya tarik investasi, serta mendorong perputaran ekonomi di NTB. Kolaborasi pemerintah, pengelola kawasan, dan lembaga terkait menjadi dasar penting agar pengembangan fasilitas berjalan selaras dengan tujuan memperkuat ekosistem sport tourism. Dengan demikian, aktivitas di Mandalika dapat berlangsung melalui lebih banyak bentuk wisata dan investasi, sehingga manfaat ekonomi kawasan tidak semata-mata bergantung pada pelaksanaan MotoGP.
Pengembangan Mandalika perlu diarahkan pada keberlanjutan ekonomi, sehingga pergerakan investasi dan aktivitas usaha di kawasan NTB tidak berhenti setelah penyelenggaraan MotoGP. Ajang balap internasional memang dapat menjadi pemicu kuat bagi sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, serta industri kreatif. Namun, manfaat tersebut perlu diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun, bukan hanya pada periode perlombaan.
MotoGP Mandalika 2026 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp4,9 triliun hingga Rp5 triliun. Nilai tersebut menunjukkan besarnya potensi sport tourism sebagai penggerak ekonomi daerah. Dengan pengelolaan yang konsisten, dampaknya bahkan dinilai dapat ikut mendorong pertumbuhan ekonomi NTB hingga 10 persen. Perkiraan itu juga berkaitan dengan upaya mengurangi angka kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan pelaku usaha lokal, dan perluasan peluang bagi masyarakat di sekitar kawasan.
Untuk menjaga dampak tersebut, fasilitas Mandalika perlu terus diperkuat. Peningkatan akses transportasi, akomodasi, layanan publik, konektivitas digital, kebersihan, keamanan, dan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari ekosistem kawasan. Infrastruktur yang memadai akan meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus memperkuat kepercayaan investor. Di sisi lain, pengembangan usaha tidak sebaiknya terpusat pada tiket dan kegiatan sirkuit, tetapi mencakup wisata bahari, seni budaya, ekonomi kreatif, konferensi, pameran, serta agenda olahraga lain.
Strategi diversifikasi dapat membuat kunjungan wisatawan lebih merata sepanjang tahun dan membuka ruang partisipasi yang lebih besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sirkuit Mandalika juga perlu terus dikembangkan sebagai fasilitas multifungsi yang mampu menampung berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional. Dengan menjadikan MotoGP sebagai pengungkit, bukan satu-satunya sumber kegiatan, Mandalika memiliki ruang untuk memaksimalkan investasi, memperluas dampak ekonomi, dan menjaga pergerakan ekonomi NTB secara berkelanjutan.
