Jakarta | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dan telah berlangsung selama berbulan-bulan. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan persoalan di dalam negeri, tetapi juga berdampak terhadap negara-negara tetangga. Asap dan gangguan kualitas udara yang ditimbulkan karhutla membuat penanganannya kembali menjadi sorotan dunia. Situasi tersebut mendorong perhatian publik terhadap langkah pemerintah dalam mengendalikan kebakaran serta melindungi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Meski penanganan karhutla terus berlanjut, pemerintah belum berencana menetapkan peristiwa tersebut sebagai bencana nasional. Keputusan itu menunjukkan bahwa pemerintah masih menilai penanganan dapat dilakukan melalui mekanisme dan sumber daya yang tersedia, baik di tingkat pusat maupun daerah. Status bencana nasional memiliki sejumlah konsekuensi dalam koordinasi, pengerahan sumber daya, serta pengambilan kebijakan, sehingga penetapannya memerlukan pertimbangan menyeluruh terhadap skala, dampak, dan kapasitas penanganan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa kondisi karhutla saat ini masih dinilai mampu ditangani oleh pemerintah. Pernyataan tersebut disampaikan setelah rapat terbatas mengenai penanganan karhutla bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin, 12 Oktober 2026. Dalam konteks itu, pemerintah memilih melanjutkan langkah penanganan yang berjalan sembari memantau perkembangan di berbagai wilayah.
Penilaian pemerintah tersebut tetap berlangsung di tengah perhatian terhadap lamanya kebakaran dan dampak lintas batas yang ditimbulkannya. Pemerintah perlu memastikan upaya pemadaman, pencegahan titik api, serta perlindungan terhadap warga terdampak dilakukan secara konsisten. Perkembangan situasi di lapangan juga menjadi faktor penting dalam mengevaluasi apakah kapasitas penanganan yang ada masih memadai atau memerlukan kebijakan yang lebih luas. Untuk saat ini, status karhutla belum dinaikkan menjadi bencana nasional.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dipusatkan di enam provinsi. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah bersama unsur terkait tetap mengarahkan perhatian pada wilayah-wilayah yang dinilai memerlukan penanganan berkelanjutan. Konsentrasi ini menjadi bagian dari upaya merespons perkembangan karhutla sekaligus memastikan langkah penanggulangan dapat dilakukan secara terarah.
Dari wilayah yang disebutkan dalam laporan, dua di antaranya berada di Kalimantan Tengah. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Taman Nasional Tanjung Puting. Penyebutan kawasan konservasi tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan wilayah permukiman atau lahan terbuka, tetapi juga mencakup kawasan yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan. Karena itu, kondisi di area tersebut terus menjadi bagian dari pemantauan dan penanganan yang dilakukan oleh pihak berwenang.
Selain Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan juga termasuk wilayah yang disebut dalam laporan BNPB mengenai konsentrasi penanganan karhutla. Informasi ini memperlihatkan bahwa penanganan berlangsung di lebih dari satu kawasan dan membutuhkan koordinasi lintas pihak. BNPB menjadi salah satu lembaga yang menyampaikan perkembangan situasi, sementara pelaksanaan di lapangan melibatkan unsur pemerintah dan pihak terkait sesuai kebutuhan penanganan.
Adanya enam provinsi yang menjadi konsentrasi penanganan menunjukkan bahwa karhutla masih diperlakukan sebagai persoalan yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Namun, laporan tersebut tidak secara otomatis menunjukkan penetapan status bencana nasional. Pemerintah tetap perlu menilai perkembangan situasi berdasarkan informasi lapangan dan koordinasi antarlembaga. Dalam konteks ini, penyebutan wilayah konsentrasi oleh BNPB menjadi gambaran mengenai arah penanganan yang sedang berjalan, tanpa memperluas informasi di luar wilayah yang telah disampaikan dalam laporan.
Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung dengan menghadapi tantangan medan yang tidak ringan. Sejumlah titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau, seperti kawasan rawa, semak rapat, serta area dengan akses jalan terbatas. Kondisi tersebut membuat petugas harus menyesuaikan strategi dan mengandalkan koordinasi antartim agar upaya penanganan tetap berjalan. Selain memadamkan api, personel di lapangan juga menghadapi kebutuhan untuk mengevakuasi dan menangani satwa liar yang terdampak kebakaran. Satwa-satwa tersebut berisiko kehilangan habitat, mengalami luka, atau masuk ke area permukiman akibat terdorong asap dan kobaran api.
Keterbatasan jangkauan kendaraan dan alat berat turut memengaruhi kecepatan operasi. Mobil pemadam tidak dapat menjangkau seluruh lokasi, sementara alat berat hanya bisa digunakan pada jalur atau permukaan yang memungkinkan. Petugas pun harus membuka akses secara bertahap, membawa peralatan secara manual, dan bekerja dalam kondisi lingkungan yang panas serta berasap. Ketebalan asap juga menyulitkan pengoperasian helikopter. Jarak pandang yang terbatas meningkatkan risiko penerbangan dan mengurangi efektivitas pemantauan maupun pemadaman dari udara. Oleh karena itu, penanganan saat ini difokuskan melalui jalur darat dengan mengerahkan personel, peralatan pemadam, serta dukungan logistik ke titik-titik yang dinilai paling mendesak.
Di tengah berbagai kendala tersebut, penghargaan terhadap kerja petugas menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Sebagaimana disampaikan Dudung, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada prajurit TNI, Polri, dan seluruh komponen yang terlibat dalam operasi di lapangan. Apresiasi itu mencerminkan pengakuan atas dedikasi personel yang terus bekerja menghadapi medan sulit, asap tebal, serta risiko keselamatan untuk mengendalikan kebakaran dan melindungi masyarakat. Dukungan serta koordinasi lintas unsur diharapkan dapat memperkuat operasi darat hingga kondisi di setiap wilayah terdampak berangsur terkendali.
Presiden meminta agar penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berhenti pada pemadaman di lokasi yang mudah dijangkau. Langkah lanjutan perlu segera diarahkan ke wilayah yang masih memiliki titik api, terutama area yang sulit diakses oleh personel dan peralatan darat. Dalam konteks tersebut, modifikasi cuaca dipandang sebagai salah satu upaya yang harus segera dilakukan untuk membantu menurunkan hujan di kawasan terdampak. Hujan buatan diharapkan dapat mendukung proses pemadaman serta mengurangi potensi meluasnya kebakaran.
Selain respons darurat, Presiden juga meminta agar pencegahan karhutla diperkuat. Upaya tersebut perlu melibatkan kepala daerah, karena pemerintah daerah memiliki peran penting dalam pemantauan wilayah, pengendalian aktivitas yang berisiko memicu kebakaran, serta koordinasi ketika muncul titik api. Penguatan pencegahan diperlukan agar penanganan tidak hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi, tetapi juga mencakup langkah antisipasi di daerah yang memiliki kerawanan tinggi.
Dalam rapat terbatas yang membahas penanganan karhutla, penawaran bantuan pemadaman dari negara lain tidak menjadi pembahasan. Hal itu disampaikan meskipun terdapat tanggapan dari negara lain mengenai kebakaran hutan yang terjadi. Fokus rapat tetap pada langkah-langkah yang perlu segera dilakukan pemerintah untuk menangani titik api, mempercepat koordinasi, dan memastikan dukungan bagi wilayah yang terdampak.
Pemerintah menyatakan telah berupaya secara maksimal dalam menghadapi karhutla, termasuk melalui pengerahan sumber daya dan koordinasi lintas pihak. Pemerintah berharap arahan mengenai modifikasi cuaca, pemadaman, dan penguatan pencegahan dapat segera dilaksanakan di lapangan. Pelaksanaan langkah tersebut diharapkan berjalan bersama dengan keterlibatan pemerintah daerah, sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Api Belum Usai Perjuangan Berlanjut, Satgas Irigasi Lanud Sjamsudin Noor Terus Perkuat Upaya Padamkan Karhutla Kalsel Optimalkan Air Hingga Dinginkan Lahan Gambut | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas

