20 Gempa Susulan Tercatat di Tanggamus, BMKG Sebut Dipicu Sesar Aktif

20 Gempa Susulan Tercatat di Tanggamus, BMKG Sebut Dipicu Sesar Aktif

Kabupaten Tanggamus | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 20 aktivitas gempa bumi susulan di Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Rabu (28/10/2026). Gempa pertama dalam rangkaian yang dilaporkan terjadi pada pukul 15.22 WIB. Hingga pemantauan pada pukul 16.14 WIB, jumlah aktivitas susulan yang tercatat mencapai 20. Informasi tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati, melalui keterangan tertulis.

Rentang pemantauan itu berlangsung kurang dari satu jam, dari waktu gempa pertama hingga pembaruan terakhir yang disebutkan BMKG. Keterangan tersebut memberikan gambaran mengenai jumlah aktivitas yang telah tercatat sampai pukul 16.14 WIB, bukan jumlah yang berlaku untuk waktu setelahnya. Dengan demikian, angka 20 merujuk pada catatan hingga batas waktu pemantauan yang disampaikan dalam keterangan tersebut.

BMKG menyampaikan catatan itu sebagai informasi mengenai perkembangan aktivitas gempa di wilayah Tanggamus. Dalam membaca laporan, waktu kejadian pertama dan batas akhir pemantauan penting diperhatikan karena keduanya menunjukkan periode yang menjadi dasar penghitungan. Laporan tersebut secara khusus menyebutkan bahwa aktivitas pertama terjadi pukul 15.22 WIB dan total gempa susulan mencapai 20 hingga pukul 16.14 WIB. Tidak ada rincian tambahan mengenai masing-masing gempa susulan dalam informasi yang disampaikan pada keterangan tertulis tersebut. Karena itu, angka dan rentang waktu tersebut menjadi pokok informasi yang dapat dipastikan dari pernyataan BMKG. Pencatatan oleh lembaga pemantau juga membantu menyajikan perkembangan kejadian berdasarkan waktu pelaporan, sehingga pembaca dapat memahami kapan rangkaian itu mulai tercatat serta sampai kapan jumlahnya dihitung. Informasi ini berkaitan dengan kejadian gempa di Kabupaten Tanggamus pada hari tersebut, bukan uraian mengenai karakteristik setiap aktivitas susulan. Pernyataan Ana Oktavia Setiowati menegaskan total yang tercatat pada saat pembaruan itu dibuat; angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan perkembangan setelah pukul 16.14 WIB. Oleh sebab itu, waktu pembaruan perlu dibaca bersama jumlah yang dilaporkan agar konteks pencatatan tidak terlepas dari batas pemantauannya.

Analisis BMKG mencatat dua gempa awal di wilayah Tanggamus memiliki pusat yang berada di darat dan kedalaman relatif dangkal. Karakteristik ini menjadi bagian penting dalam membaca rangkaian aktivitas seismik yang kemudian diikuti gempa-gempa susulan. BMKG menegaskan bahwa angka magnitudo dan parameter lokasi yang disampaikan merupakan hasil pembaruan, sehingga dapat berbeda dari informasi awal yang beredar sesaat setelah kejadian.

Gempa pertama tercatat bermagnitudo 3,9. Episenternya berada pada koordinat 5,40 derajat lintang selatan dan 104,67 derajat bujur timur, atau sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus. Pusat gempa berada pada kedalaman 4 kilometer. Dengan demikian, lokasi sumbernya terletak di daratan dan tidak jauh dari wilayah Tanggamus. Kedalaman tersebut tergolong dangkal dibandingkan gempa yang bersumber jauh di bawah permukaan.

Gempa kedua terjadi pada pukul 15.23 WIB dengan magnitudo 4,1. BMKG menempatkan episenternya pada koordinat 5,43 derajat lintang selatan dan 104,65 derajat bujur timur, sekitar 6 kilometer barat laut Tanggamus. Kedalamannya tercatat 5 kilometer. Seperti gempa pertama, kejadian kedua ini juga berpusat di darat dan memiliki sumber dangkal.

Perbedaan nilai magnitudo, koordinat, dan kedalaman kedua kejadian menunjukkan bahwa keduanya merupakan peristiwa yang tercatat secara terpisah, meskipun lokasinya berdekatan. Informasi tersebut membantu menjelaskan mengapa aktivitas gempa dapat terpusat di sekitar kawasan yang sama. Namun, parameter yang dipublikasikan tetap merujuk pada hasil pemutakhiran BMKG, bukan semata-mata angka pendahuluan.

Lokasi di darat serta kedalaman beberapa kilometer juga menjadi konteks untuk memahami guncangan yang dirasakan masyarakat di sekitar episenter. Dampak yang dialami dapat berbeda menurut jarak dari sumber, kondisi tanah, dan karakter bangunan. Karena itu, rincian lokasi dan kedalaman tidak dengan sendirinya memastikan tingkat kerusakan. BMKG mengaitkan rangkaian aktivitas di Tanggamus dengan sesar aktif, sementara pemantauan terhadap kejadian susulan tetap diperlukan untuk memperbarui gambaran aktivitas tektonik di wilayah tersebut.

BMKG mengategorikan gempa yang terjadi di wilayah Tanggamus sebagai gempa dangkal. Keterangan tersebut disampaikan Ana Oktavia Setiowati berdasarkan dua unsur, yaitu lokasi episenter dan kedalaman hiposenter. Episenter menunjukkan lokasi di permukaan bumi yang berkaitan dengan sumber gempa, sementara hiposenter merupakan titik sumber gempa di bawah permukaan. Dengan mempertimbangkan letak episenter serta kedalaman hiposenter, BMKG menjelaskan bahwa karakteristik gempa ini termasuk dalam kategori dangkal. Penjelasan tersebut menjadi dasar bagi keterangan mengenai klasifikasi gempa, bukan informasi mengenai nama sesar tertentu.

Menurut Ana Oktavia Setiowati, gempa dangkal tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Dengan demikian, penjelasan BMKG menghubungkan karakteristik lokasi dan kedalaman sumber gempa dengan mekanisme yang disebutkan, yaitu aktivitas sesar aktif. Keterangan ini menjelaskan pemicu gempa sebagaimana disampaikan BMKG, tanpa menyebutkan sesar mana yang terlibat. Informasi yang tersedia juga tidak memuat rincian tambahan mengenai jenis sesar ataupun proses geologi lain. Karena itu, uraian mengenai penyebab gempa dibatasi pada pernyataan bahwa aktivitas sesar aktif menjadi pemicunya.

Penjelasan Ana menempatkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter sebagai landasan pengategorian, kemudian menyebut aktivitas sesar aktif sebagai pemicu. Kedua hal tersebut merupakan bagian dari keterangan BMKG mengenai gempa di Tanggamus. Penggunaan istilah gempa dangkal merujuk pada kategorisasi berdasarkan kedalaman sumber, sedangkan penyebutan sesar aktif menerangkan pemicu yang disampaikan dalam keterangan tersebut. Tidak ada nama sesar yang dicantumkan dalam informasi ini. Oleh sebab itu, penjelasan yang dapat disampaikan secara akurat adalah bahwa BMKG mengategorikan gempa sebagai gempa dangkal berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, serta mengaitkan pemicunya dengan aktivitas sesar aktif, sebagaimana diterangkan Ana Oktavia Setiowati.

Getaran gempa dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya. Di Kotaagung, guncangan tercatat pada skala intensitas III MMI. Pada tingkat ini, getaran terasa nyata di dalam rumah dan dapat membuat sebagian orang terbangun atau menyadari adanya guncangan. Warga menggambarkan sensasinya seperti ada truk besar yang melintas di dekat rumah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa gempa dapat dirasakan dengan jelas, meskipun tingkat dampaknya tidak selalu sama di setiap lokasi. Perbedaan intensitas dapat dipengaruhi jarak dari sumber gempa, kondisi tanah, serta jenis dan keadaan bangunan tempat warga berada.

Sementara itu, intensitas II MMI dilaporkan di Kotabumi, Pringsewu, Ulu Belu, Gisting, Sumberejo, dan Kotaagung Timur. Pada skala tersebut, getaran umumnya dirasakan oleh beberapa orang, terutama ketika sedang berada di dalam ruangan atau dalam keadaan tenang. Benda-benda ringan yang tergantung, seperti lampu atau hiasan, dapat terlihat bergoyang. Sebagian warga mungkin tidak segera menyadari guncangan, khususnya jika sedang beraktivitas atau berada di luar bangunan. Karena itu, laporan pengalaman warga dapat berbeda, tanpa berarti informasi mengenai intensitas di masing-masing wilayah saling bertentangan.

Hingga berita sumber diterbitkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan akibat getaran tersebut. Ketiadaan laporan kerusakan tidak mengubah pentingnya kewaspadaan, tetapi masyarakat sebaiknya tidak mengambil kesimpulan berlebihan berdasarkan kabar yang beredar. Warga diimbau tetap tenang, memeriksa keadaan sekitar secara hati-hati, dan mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi, termasuk keterangan dari BMKG dan pemerintah setempat. Jika merasakan gempa susulan, jauhi benda yang berpotensi jatuh dan berlindung di tempat aman sesuai kondisi. Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya atau menyebarkan pesan, foto, maupun klaim yang belum terverifikasi.