Kota Tangerang Selatan | Sebanyak 146 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, dilaporkan mengalami diare dan muntaber. Keluhan kesehatan tersebut diduga berkaitan dengan air yang dikonsumsi warga untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, dugaan itu masih menunggu hasil pemeriksaan sampel air yang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pencemaran atau faktor lain yang memicu gangguan kesehatan.
Keluhan mulai dirasakan warga dalam sepekan terakhir dan muncul hampir bersamaan dalam hitungan hari. Sejumlah warga mengaku mengalami gejala berupa demam, mual, pusing, diare, hingga muntah. Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus beristirahat di rumah, sementara lainnya memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
Ketua RT setempat, Heru Cahyono, mengatakan jumlah warga yang mengalami diare dan muntaber terus didata. Hingga 14 Oktober 2026, tercatat 146 warga Perumahan Serpong Lagoon mengalami keluhan serupa. Menurutnya, kemunculan gejala secara berdekatan membuat warga mencurigai adanya kaitan dengan air yang digunakan dan dikonsumsi sehari-hari.
Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Pemeriksaan terhadap sampel air diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sumber air warga, termasuk ada atau tidaknya kandungan yang berisiko bagi kesehatan. Warga juga diimbau memperhatikan kebersihan air dan makanan, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami diare berulang, muntah, demam, atau tanda-tanda dehidrasi.
Informasi mengenai warga Perumahan Serpong Lagoon yang mengalami diare mula-mula dihimpun dari keluhan yang muncul di lingkungan tempat tinggal. Sejumlah ibu memperhatikan bahwa beberapa penghuni rumah menyampaikan gejala yang serupa dalam waktu yang berdekatan. Kesamaan keluhan tersebut kemudian menimbulkan kecurigaan di warga bahwa kejadian itu perlu dicatat dan dilaporkan secara lebih teratur, bukan hanya disampaikan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Kader posyandu dan kader kesehatan di lingkungan perumahan lalu berinisiatif melakukan pendataan secara mandiri. Mereka mengumpulkan informasi dari warga yang mengaku mengalami diare atau gejala lain yang berkaitan, kemudian mencatat rumah dan penghuni yang melaporkan kondisi tersebut. Pendataan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai jumlah warga yang terdampak serta melihat apakah keluhan serupa juga ditemukan di bagian lain perumahan.
Seiring penyampaian informasi dari lebih banyak penghuni, jumlah laporan terus bertambah. Data awal yang dikumpulkan para kader akhirnya mencatat 146 warga dengan keluhan sejenis. Angka tersebut belum menjadi kesimpulan mengenai penyebab kejadian, melainkan merupakan hasil pendataan warga yang melaporkan gejala berdasarkan informasi yang dihimpun di lingkungan perumahan.
Hasil pendataan kemudian disampaikan kepada ketua RT untuk diteruskan kepada puskesmas. Penyampaian laporan itu menjadi langkah awal agar kondisi warga dapat ditindaklanjuti oleh pihak kesehatan, termasuk melalui pemeriksaan dan pengumpulan informasi tambahan. Di tengah proses tersebut, keterkaitan keluhan warga dan air yang digunakan di perumahan masih berupa dugaan. Karena itu, sampel air diperiksa untuk membantu memastikan ada atau tidaknya hubungan tersebut, sementara penyebab diare belum dapat dinyatakan sebelum hasil pemeriksaan dan penilaian medis tersedia.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan melakukan penanganan setelah menerima laporan mengenai warga Perumahan Serpong Lagoon yang mengalami gejala diare pada 7 Oktober 2026. Berdasarkan hasil pemantauan hingga 12 Oktober 2026, dinas mencatat 145 warga mengalami gejala diare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 67 orang telah dinyatakan sembuh, 67 orang masih menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapat perawatan di rumah sakit. Data tersebut merupakan hasil pendataan sementara dan masih dapat diperbarui sesuai perkembangan kondisi warga serta hasil pemantauan kesehatan berikutnya.
Kasus ditemukan pada beberapa kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, hingga orang dewasa. Berdasarkan pendataan sementara, kelompok balita menjadi yang paling banyak terdampak. Kondisi ini menjadi perhatian karena balita lebih rentan mengalami dehidrasi ketika kehilangan cairan akibat diare. Warga yang mengalami keluhan diimbau memperoleh pemeriksaan medis dan mengikuti arahan petugas, terutama apabila muncul tanda-tanda kekurangan cairan, demam, muntah berulang, atau kondisi tubuh yang semakin lemah.
Dalam penanganannya, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Keranggan. Langkah yang dilakukan meliputi penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri pola kejadian dan kemungkinan faktor yang berkaitan, pendataan serta pemantauan warga yang mengalami gejala, pemeriksaan kesehatan, dan pemberian pengobatan sesuai kondisi masing-masing pasien. Petugas juga memantau warga yang menjalani rawat jalan maupun perawatan di rumah sakit untuk mengetahui perkembangan kesehatan mereka. Selain penanganan terhadap pasien, pemantauan lingkungan dan pemeriksaan sampel air dilakukan sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi kemungkinan sumber yang berhubungan dengan munculnya keluhan diare.
Penelusuran penyebab kejadian diare di Perumahan Serpong Lagoon dilakukan melalui pemeriksaan kualitas air secara menyeluruh. Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan bersama unsur lingkungan hidup telah mengambil sampel air dari seluruh rukun tetangga (RT) di kawasan tersebut. Langkah ini diperlukan untuk memperoleh gambaran kondisi air yang digunakan warga dalam aktivitas sehari-hari, sekaligus mengidentifikasi kemungkinan faktor risiko yang berkaitan dengan meningkatnya jumlah warga yang mengalami diare.
Selain pengambilan sampel di lingkungan perumahan, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan juga memeriksa air dari instalasi pengolahan air bersih atau water treatment plant (WTP). Sampel lain diambil langsung dari sejumlah rumah warga untuk melihat apakah terdapat perbedaan kualitas air yang keluar dari fasilitas pengolahan dan air yang diterima atau digunakan di tingkat rumah tangga. Seluruh sampel tersebut selanjutnya diperiksa di laboratorium dengan parameter yang sesuai untuk menilai kondisi mikrobiologis dan kualitas air.
Warga Perumahan Serpong Lagoon turut melakukan pengujian melalui pihak swasta. Pemeriksaan independen itu diharapkan dapat menjadi pembanding terhadap hasil pengujian yang dilakukan pemerintah. Perbandingan hasil laboratorium dapat membantu memperluas informasi mengenai kondisi air serta memastikan proses penelusuran berlangsung secara objektif dan berdasarkan data.
Pemeriksaan tersebut tidak secara langsung menetapkan air sebagai penyebab pasti kejadian diare. Hasil pengujian perlu dianalisis bersama informasi lain, termasuk pola keluhan, kondisi sanitasi, kebersihan makanan dan minuman, serta kemungkinan paparan di lingkungan sekitar. Karena itu, pengambilan sampel air merupakan bagian dari investigasi untuk mengidentifikasi faktor risiko, bukan penetapan sumber penularan sebelum seluruh hasil pemeriksaan dan kajian epidemiologis diperoleh.
