Wayan Koster Akui Keliru Saat Merespons Petugas SPBU dalam Insiden Viral

Pegawai SPBU Pesanggaran Keluhkan Kelelahan kepada Gubernur Bali

Denpasar | Gubernur Bali Wayan Koster mengakui dirinya ikut terpancing emosi saat berhadapan dengan petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam insiden yang videonya beredar luas. Ia menyatakan sikap tersebut merupakan kekeliruan dan mengakui bahwa responsnya saat itu tidak tepat. Pengakuan itu menjadi pokok perhatian dalam keterangannya kepada wartawan di Denpasar, Jumat, 30 Oktober 2026.

Koster menyampaikan pernyataan tersebut di sela-sela rapat paripurna DPRD Bali. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa dirinya juga terbawa suasana ketika berinteraksi dengan petugas. Ia mengakui seharusnya dapat mengendalikan emosi dan merespons situasi dengan lebih baik. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Koster tidak semata-mata menanggapi beredarnya rekaman, tetapi juga mengakui bagian dari sikapnya yang dinilai keliru.

Pengakuan tersebut disampaikan setelah video interaksinya dengan petugas SPBU menjadi viral dan memicu perhatian publik. Namun, fokus keterangannya pada Jumat itu adalah pengakuan pribadi mengenai respons emosionalnya, bukan penjelasan terperinci mengenai seluruh rangkaian kejadian. Koster menyebut dirinya ikut terpancing, sekaligus menyatakan bahwa sikap tersebut merupakan kesalahan. Ia tidak perlu menunggu polemik mereda untuk mengakui bahwa responsnya dapat diperbaiki.

Dalam menyampaikan pengakuan itu, Koster menempatkan dirinya sebagai pihak yang turut bertanggung jawab atas cara ia merespons situasi. Sikap mengakui kekeliruan tersebut menjadi hal penting dalam membaca pernyataannya, terutama karena perhatian publik tertuju pada rekaman yang beredar. Pernyataan itu juga memberi konteks bahwa ia menilai emosinya sendiri ikut berperan dalam interaksi tersebut.

Keterangan di Denpasar itu sekaligus memberi jawaban langsung dari Koster mengenai sikapnya dalam video viral. Ia mengakui kesalahan dan keterlibatannya dalam suasana emosional tanpa mengalihkan pokok pengakuan kepada hal lain. Dengan demikian, inti pernyataannya ialah bahwa dirinya ikut terpancing emosi ketika berhadapan dengan petugas SPBU dan menyadari respons tersebut keliru. Tidak ada waktu kejadian di SPBU yang disebutkan dalam keterangannya sebagaimana dirangkum di sini.

Wayan Koster mendatangi sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk melihat langsung penanganan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan memastikan kesiapan layanan operasional selama 24 jam. Peninjauan tersebut dilakukan ketika pasokan dan pelayanan BBM menjadi perhatian masyarakat. Dengan mengunjungi lokasi, Koster dapat memeriksa kondisi lapangan serta memperoleh keterangan dari pihak yang bertanggung jawab atas operasional SPBU.

Setibanya di lokasi, ia mendapati SPBU tersebut belum beroperasi. Pada saat yang sama, antrean kendaraan warga telah memanjang, sehingga penghentian layanan berdampak langsung pada masyarakat yang hendak mengisi BBM. Situasi itu membuat penanganan kendala operasional menjadi mendesak. Koster kemudian berupaya mengetahui penyebab pelayanan terhenti, termasuk melalui koordinasi dengan pimpinan SPBU yang berada di lokasi.

Dalam percakapan tersebut, pimpinan SPBU menjelaskan adanya kendala pada sistem komputasi yang menghentikan layanan. Gangguan sistem itu disebut menjadi alasan SPBU tidak dapat melayani pengisian BBM sebagaimana mestinya. Pembicaraan mengenai masalah tersebut berlangsung di tengah antrean dan situasi yang tegang. Koster berkoordinasi untuk memahami kendala yang terjadi, sementara petugas dan masyarakat berada di sekitar lokasi.

Suasana kemudian memanas ketika seorang petugas perempuan memotong pembicaraan dan meluapkan emosinya. Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Koster membalas dengan nada serupa. Dalam cuplikan itu, ia juga meminta petugas tersebut diam. Interaksi singkat tersebut menjadi bagian yang paling banyak diperhatikan publik setelah video insiden itu viral. Peristiwa ini berlangsung dalam konteks peninjauan layanan yang terhenti, antrean warga, dan pembahasan mengenai gangguan sistem komputasi SPBU.

Wayan Koster mengakui bahwa responsnya kepada petugas SPBU dalam insiden yang menjadi perhatian publik itu kurang tepat. Ia menilai dirinya semestinya tetap tenang dan menyampaikan tanggapan dengan lebih bijak, meskipun situasi di lapangan berlangsung dinamis. Menurutnya, perbedaan pandangan atau kendala saat menjalankan tugas tidak seharusnya membuat komunikasi berubah menjadi konfrontatif. Pengakuan tersebut menjadi bentuk evaluasi atas sikap yang ia tunjukkan, sekaligus pengingat bahwa pejabat publik perlu menjaga ketenangan ketika menghadapi persoalan langsung di tengah masyarakat. Cara merespons suatu keadaan dapat memengaruhi suasana dan kepercayaan, sehingga kebijaksanaan dalam berkomunikasi sama pentingnya dengan upaya mencari penyelesaian.

Penyesalan atas sikapnya, kata Koster, bahkan terbawa hingga ke rumah. Ia menceritakan bahwa istrinya menegur cara dirinya menangani insiden tersebut. Teguran itu mendorongnya untuk kembali memikirkan bagaimana semestinya ia bersikap, terutama ketika menghadapi petugas yang sedang bekerja dalam keadaan sulit. Peristiwa tersebut tidak hanya dipandang sebagai persoalan komunikasi sesaat, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menerima masukan dan memperbaiki diri. Ia menyadari bahwa tetap tenang, mendengarkan, serta merespons secara proporsional dapat membantu mencegah ketegangan semakin berkembang. Sikap terbuka terhadap kritik juga diperlukan agar pengalaman yang kurang baik dapat menjadi bahan pembelajaran, bukan sekadar perdebatan mengenai siapa yang patut disalahkan.

Koster mengaitkan pengalaman di lapangan itu dengan tantangan yang lebih luas, termasuk krisis ketersediaan BBM dan LPG 3 kilogram. Dinamika tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan dan memperbaiki koordinasi ketika kebutuhan dasar masyarakat terganggu. Penanganan keadaan semacam itu memerlukan komunikasi yang jelas, informasi yang dapat dipercaya, serta kerja sama pemerintah, petugas, dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa upaya menjaga pasokan dan menangani krisis bukan tanggung jawab satu pihak saja. Semua pihak perlu berkontribusi sesuai peran masing-masing, berbagi informasi, dan membantu mencari jalan keluar. Karena itu, penanganan krisis kebutuhan dasar semestinya tidak diwarnai sikap saling menyalahkan. Fokus bersama perlu diarahkan pada langkah praktis untuk melindungi warga, menjaga kelancaran distribusi, dan meningkatkan kesiapan menghadapi gangguan serupa pada masa mendatang.

Dalam menjelaskan upaya mempercepat penanganan, Wayan Koster menyebut dirinya intensif berkantor di Pertamina Depo Sanggaran. Ia berada di lokasi hingga dini hari untuk membahas langkah yang diperlukan bersama jajaran direksi Pertamina. Pembahasan tersebut, menurut Koster, diarahkan untuk merumuskan skema kebijakan agar penanganan kendala pasokan dapat dilakukan lebih cepat. Langkah itu menjadi bagian dari respons terhadap situasi distribusi yang sempat mengganggu pelayanan di sejumlah SPBU.

Koster menyatakan koordinasi dengan jajaran direksi dilakukan secara langsung agar persoalan yang muncul dapat ditangani melalui kebijakan yang sesuai. Ia tidak hanya menunggu perkembangan dari luar, tetapi berupaya mengikuti pembahasan di depo hingga larut malam. Upaya tersebut mendapat apresiasi dari publik, pemerintah pusat, serta jajaran duta besar. Apresiasi itu menunjukkan perhatian terhadap langkah penanganan yang ditempuh, meski situasi distribusi pada saat itu tetap perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

Dalam penjelasannya, Koster menegaskan keterlambatan pasokan yang terjadi bukan disebabkan oleh kekurangan stok. Ia menyebut penyebabnya adalah kendala teknis dalam distribusi. Dengan demikian, persoalan yang dihadapi berada pada proses penyaluran, bukan ketersediaan persediaan bahan bakar. Penjelasan ini penting untuk membedakan stok yang tersedia dan kelancaran pasokan sampai ke SPBU, sekaligus memberi konteks atas keterlambatan yang dirasakan masyarakat.

Koster juga menilai Bali perlu dijaga agar tetap kondusif. Menurut pandangannya, sektor pariwisata sensitif terhadap isu keamanan dan sosial. Karena itu, respons terhadap persoalan distribusi maupun komunikasi kepada publik perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap suasana di Bali. Penanganan yang cepat dan penjelasan yang tepat dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat serta mendukung keadaan yang stabil.

Baca juga: Saat Petugas Bekerja untuk Rakyat, Tembakan Justru Mengancam di Lapangan