Jakarta | Sebuah video yang menampilkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara beredar di media sosial dengan narasi seolah-olah ia mengumumkan pembagian bantuan dana hibah. Dalam video tersebut, Suahasil digambarkan mengajak masyarakat mendaftarkan diri agar dapat menerima bantuan. Ajakan itu disampaikan seakan-akan merupakan program resmi pemerintah, sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa warga cukup mengikuti instruksi yang tercantum untuk mengajukan permohonan. Salah satu unggahan yang menyebarkan video tersebut muncul di Facebook pada 16 Oktober 2026. Peredaran konten semacam ini perlu dicermati, terutama ketika menyangkut bantuan keuangan dan meminta pengguna menghubungi kontak pribadi melalui aplikasi pesan.
Pesan yang menyertai unggahan meminta masyarakat menghubungi nomor WhatsApp yang ditampilkan sebagian. Nomor itu tidak dicantumkan secara utuh dalam keterangan yang beredar, tetapi tetap diarahkan sebagai sarana untuk memperoleh informasi atau melakukan pendaftaran. Narasi unggahan juga menyebut bahwa Suahasil sedang mencari orang berusia 50 tahun ke atas. Keterangan tersebut memberi kesan bahwa kelompok usia tertentu memiliki kesempatan mengikuti program hibah dengan mengirimkan pesan langsung. Pengguna media sosial yang melihat unggahan dapat terdorong untuk membagikannya atau menghubungi nomor itu, khususnya bila sedang mencari bantuan. Karena itu, penting membedakan klaim dalam unggahan dengan informasi yang telah dipastikan melalui saluran resmi.
Dalam video, sosok yang ditampilkan menyampaikan ajakan kepada penonton untuk memberitahukan usia dan daerah asal. Informasi tersebut disebut diperlukan untuk mendaftarkan berkas, sehingga penonton diarahkan memberikan data pribadi sebagai bagian dari proses yang diklaim berlangsung. Susunan pesan ini menggabungkan janji bantuan, batasan usia, dan instruksi menghubungi WhatsApp. Namun, keberadaan video serta ajakan di dalamnya tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa program hibah itu benar-benar tersedia atau bahwa pendaftaran tersebut merupakan prosedur pemerintah. Masyarakat sebaiknya tidak segera mengirimkan identitas, alamat, atau informasi lain kepada nomor yang tidak jelas. Sebelum bertindak, periksa pengumuman pada kanal resmi kementerian atau lembaga terkait dan bandingkan dengan sumber tepercaya.
Akun resmi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kementerian Keuangan memberikan klarifikasi mengenai video yang menampilkan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara seolah-olah meminta masyarakat mendaftar melalui WhatsApp untuk memperoleh dana hibah. Dalam klarifikasi tersebut, konten video dinyatakan sebagai hoaks yang menggunakan teknologi deepfake. Artinya, video itu bukan bukti bahwa Suahasil benar-benar menyampaikan ajakan pendaftaran seperti yang beredar di media sosial.
PPID Kementerian Keuangan juga mencantumkan nomor 081241276654 dalam klarifikasinya. Pencantuman nomor tersebut merupakan bagian dari informasi yang disampaikan akun resmi saat membahas konten palsu. Nomor itu tidak boleh dianggap sebagai nomor yang sama dengan nomor yang tertera pada unggahan viral, dan klarifikasi tersebut tidak membenarkan ajakan untuk menghubungi nomor dalam video. Masyarakat sebaiknya merujuk pada keterangan resmi, bukan mengikuti petunjuk pendaftaran atau mengirimkan data pribadi berdasarkan klaim yang belum terverifikasi.
Dalam pesannya, Kementerian Keuangan mengingatkan masyarakat agar terhadap video dan berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Keuangan. Imbauan ini penting karena materi yang dibuat atau dimanipulasi dengan deepfake dapat tampak meyakinkan, termasuk ketika menampilkan sosok pejabat dan menggunakan narasi yang seolah-olah resmi. Sebelum membagikan informasi tentang bantuan atau hibah, periksa apakah pengumuman tersedia melalui kanal resmi pemerintah dan cocokkan isi klaim dengan klarifikasi dari instansi terkait. Hindari mengisi formulir, mengirim identitas, atau meneruskan pesan hanya karena video terlihat autentik. Jika menemukan konten serupa, masyarakat dapat membandingkannya dengan publikasi resmi PPID Kementerian Keuangan dan menyampaikan informasi yang benar kepada orang lain. Dengan demikian, klaim mengenai dana hibah melalui WhatsApp tidak diperlakukan sebagai pengumuman pemerintah, sementara penipuan yang memanfaatkan nama pejabat dapat lebih mudah dihindari. Kewaspadaan dan verifikasi menjadi langkah utama agar kabar palsu tidak meluas ataupun mendorong masyarakat menyerahkan informasi sensitif kepada pihak yang tidak jelas.
Pemeriksaan terhadap video dilakukan melalui analisis audio dan penelusuran gambar untuk menguji keaslian materi yang beredar. Hasil analisis menggunakan Hive Moderation menunjukkan suara dalam video memiliki kemungkinan sebesar 56,7 persen dibuat dengan kecerdasan buatan (AI). Angka tersebut merupakan hasil deteksi otomatis yang mengindikasikan adanya kemungkinan manipulasi, bukan kepastian mutlak bahwa seluruh audio atau video dibuat menggunakan AI. Karena itu, temuan ini perlu dibaca sebagai salah satu petunjuk pemeriksaan, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk menetapkan keaslian konten.
Pemeriksaan berikutnya menelusuri gambar yang tampil dalam video melalui Google Image. Penelusuran menemukan foto identik dalam sebuah pemberitaan bertanggal 20 Mei 2020 yang membahas pendapatan negara pada April 2020. Keterangan foto pada berita tersebut mengidentifikasi sosok dalam gambar sebagai Suahasil, Wakil Menteri Keuangan, di kompleks parlemen, Jakarta. Foto itu disebut diambil pada Selasa, 28 Januari 2020. Kecocokan gambar dan keterangan dalam pemberitaan membantu menjelaskan asal-usul visual yang digunakan dalam video serta menunjukkan bahwa foto tersebut sudah pernah dipublikasikan sebelum klaim mengenai bantuan melalui WhatsApp beredar.
Meski demikian, keberadaan foto lama tidak dengan sendirinya membuktikan siapa yang membuat video atau bagaimana seluruh bagiannya disusun. Temuan tersebut terutama memberikan konteks untuk mengidentifikasi gambar: visual yang ditampilkan berasal dari dokumentasi lama, bukan bukti adanya pengumuman bantuan yang berlangsung saat ini. Foto itu juga tidak dapat digunakan untuk mengonfirmasi bahwa Suahasil pernah menyampaikan tawaran dana hibah melalui WhatsApp. Jika gambar lama dipasangkan dengan narasi baru, penonton dapat memperoleh kesan seolah-olah dokumentasi tersebut mendukung klaim yang beredar, padahal konteks aslinya berbeda. Dengan mempertimbangkan hasil deteksi audio dan asal foto, materi video patut dicurigai telah dimanipulasi atau diberi narasi yang menyesatkan. Kedua pemeriksaan ini mendukung klarifikasi, tetapi masing-masing memiliki batas: analisis audio menunjukkan probabilitas, sementara penelusuran gambar mengungkap konteks foto, bukan kebenaran pengumuman bantuan.
Klaim dalam video yang mengaitkan Suahasil dengan pendaftaran bantuan dana hibah melalui WhatsApp tidak benar dan telah dikategorikan sebagai hoaks. Kesimpulan ini didasarkan pada sejumlah pemeriksaan yang saling melengkapi, bukan semata-mata pada tampilan video atau narasi yang menyertainya. Karena itu, ajakan untuk mendaftar melalui nomor atau tautan WhatsApp yang diklaim terkait bantuan tersebut tidak dapat dianggap sebagai informasi resmi hanya berdasarkan video yang beredar.
Pertama, klarifikasi dari Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kementerian Keuangan menjadi rujukan penting. Klarifikasi tersebut membantah keterkaitan informasi bantuan dalam video dengan program resmi kementerian. Dengan demikian, isi pesan yang menjanjikan atau mengaitkan dana hibah dengan proses pendaftaran melalui WhatsApp tidak memiliki dasar dalam keterangan resmi yang diperiksa. Masyarakat sebaiknya merujuk langsung pada kanal komunikasi pemerintah yang terverifikasi apabila ingin memastikan informasi mengenai bantuan.
Kedua, analisis audio berbasis kecerdasan buatan turut menjadi bagian dari pemeriksaan. Hasil analisis itu digunakan sebagai bahan verifikasi terhadap audio dalam video, sehingga narasi yang terdengar tidak serta-merta dapat diperlakukan sebagai pernyataan autentik Suahasil. Pemeriksaan tersebut perlu dibaca bersama bukti lain dan klarifikasi institusi terkait, bukan dijadikan satu-satunya dasar untuk menarik kesimpulan.
Selain itu, gambar yang digunakan dalam video cocok dengan foto yang pernah dimuat dalam pemberitaan pada 2020. Kecocokan ini menunjukkan bahwa visual tersebut bukan bukti bahwa Suahasil sedang menyampaikan pengumuman baru mengenai hibah melalui WhatsApp.
Baca juga: Deretan Hoaks Penyaluran Hibah DAP, Jangan Mudah Percaya





