JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Veda Ega Pratama memilih target yang sederhana ketika bersiap tampil pada Moto3 Mandalika 2026. Pebalap Honda Team Asia itu tidak menempatkan podium sebagai sasaran utama dalam balapan kandang tersebut. Baginya, prioritas terpenting adalah menyelesaikan lomba dengan aman, menjaga konsistensi, serta menghindari kecelakaan yang dapat mengganggu perjalanan kompetitifnya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Veda berusaha mengelola ekspektasi secara realistis. Balapan di Indonesia tentu memiliki arti khusus karena akan berlangsung di hadapan publik yang mendukungnya. Namun, perhatian besar dari penonton dan sorotan media tidak ingin dijadikannya sebagai tekanan tambahan. Dengan menetapkan tujuan untuk finis secara aman, ia dapat berkonsentrasi pada proses, mulai dari menjaga ritme hingga mengambil keputusan tepat selama berada di lintasan.
Veda dijadwalkan tampil di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada akhir pekan MotoGP Mandalika 2026. Sirkuit tersebut akan menjadi panggung penting bagi pebalap muda Indonesia untuk menunjukkan perkembangan dan kemampuannya di kelas Moto3. Meski demikian, ia memahami bahwa kompetisi dapat berubah cepat dan setiap kesalahan kecil berisiko menimbulkan dampak besar.
Karena itu, pendekatan Veda bukan berarti ia tidak memiliki ambisi untuk meraih hasil tinggi. Target finis aman dapat menjadi dasar untuk membangun balapan yang lebih terukur. Jika mampu mempertahankan kecepatan, menghindari insiden, dan memanfaatkan peluang yang muncul, hasil positif tetap terbuka tanpa harus memaksakan diri sejak awal. Fokus tersebut juga memperlihatkan kedewasaan dalam menghadapi balapan kandang, terutama ketika harapan publik Indonesia berada di pundaknya.
Menjelang Moto3 Mandalika 2026, Veda Ega Pratama menunjukkan antusiasme besar untuk kembali tampil di hadapan publik Indonesia. Balapan kandang memiliki arti khusus bagi pembalap muda tersebut karena memberinya kesempatan merasakan dukungan langsung dari masyarakat Tanah Air. Ia mengaku tidak sabar kembali berlomba di Mandalika, terutama karena sirkuit itu termasuk salah satu trek favoritnya.
Veda merasa bangga dapat berkompetisi di depan masyarakat Indonesia. Dukungan penonton di sisi lintasan menjadi dorongan tersendiri ketika ia bersiap menghadapi persaingan kelas Moto3 yang ketat. Dengan semangat menghadapi balapan tersebut, ia ingin memberikan penampilan terbaik dan menjalani setiap sesi secara maksimal. Antusiasme itu menjadi modal penting, meskipun fokus utama Veda tetap menjalankan rencana balap dengan tenang dan terukur.
Kepercayaan dirinya terhadap Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika juga didukung oleh pengalaman sebelumnya. Veda telah memiliki pengalaman berlomba di lintasan tersebut, sehingga karakter trek bukan hal yang sepenuhnya baru baginya. Selain itu, ia pernah menjalani latihan di Mandalika sebelum menghadapi Moto3 2026. Pengalaman tersebut membantunya membangun feeling yang baik terhadap sirkuit, termasuk memahami alur tikungan, perubahan ritme, serta kebutuhan adaptasi selama berada di lintasan. Bekal itu diharapkan dapat membuat persiapannya lebih matang saat memasuki akhir pekan balap. Bagi Veda, kembali ke Mandalika bukan hanya tentang tampil di negara sendiri, tetapi juga memanfaatkan pengetahuan terhadap trek favorit untuk menjaga konsistensi sejak sesi latihan hingga perlombaan. Ia pun menyambut balapan kandang dengan semangat positif, sambil tetap mengutamakan kesiapan dan pengendalian diri di setiap lap.
Pengalaman Veda Ega Pratama pada musim debutnya di Moto3 2026 menjadi bagian penting dalam melihat pendekatannya menghadapi setiap seri. Pebalap binaan Astra Honda Motor itu telah menunjukkan kapasitas bersaing di level Grand Prix ketika berhasil finis di posisi ketiga pada Moto3 Brasil. Hasil tersebut juga mencatatkan namanya sebagai pebalap Indonesia pertama yang naik podium dalam ajang Grand Prix.
Pencapaian di Brasil tentu memberikan tambahan kepercayaan diri, sekaligus memperlihatkan bahwa Veda mampu mengelola persaingan dengan pebalap-pebalap terbaik di kelas Moto3. Namun, hasil tersebut tidak otomatis mengubah cara pandangnya terhadap musim debut. Podium di satu seri diposisikan sebagai pengalaman berharga, bukan standar yang harus dipenuhi pada setiap balapan berikutnya.
Veda juga sebelumnya telah menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin memberikan tekanan berlebihan selama menjalani musim perdana. Sikap itu tetap relevan setelah keberhasilannya meraih podium. Ia memahami bahwa setiap sirkuit memiliki karakter, kondisi, dan tantangan yang berbeda, sehingga pencapaian dari satu balapan tidak dapat dijadikan jaminan untuk seri berikutnya. Konsistensi, proses adaptasi, serta kemampuan membaca situasi balapan menjadi hal yang lebih penting untuk terus dikembangkan.
Karena itu, pengalaman podium di Brasil tidak membuat Veda menetapkan kewajiban untuk kembali naik podium di Mandalika. Fokusnya lebih diarahkan pada penyelesaian balapan secara aman, menjaga ritme, dan memaksimalkan peluang yang tersedia tanpa mengambil risiko yang tidak diperlukan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Veda dan tim berusaha menempatkan hasil podium secara proporsional dalam perjalanan panjang musim debutnya.
Dengan demikian, rekam jejak tersebut menjadi konteks yang memperkuat kepercayaan terhadap kemampuan Veda, bukan alasan untuk membebani dirinya dengan target tertentu. Finis yang aman tetap dapat menjadi hasil berarti apabila diraih melalui balapan yang matang dan terukur. Bagi Veda, setiap seri merupakan kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru serta membangun fondasi karier secara bertahap.
Veda Ega Pratama menilai Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika bukan lintasan yang mudah, meskipun tingkat kesulitannya masih dapat dibandingkan dengan sejumlah trek di Eropa. Menurutnya, beberapa sirkuit Eropa memiliki karakter yang lebih kompleks, baik dari sisi tata letak, perubahan arah, maupun tuntutan pengereman. Namun, penilaian tersebut tidak mengurangi tantangan yang akan dihadapinya di Mandalika. Veda belum pernah berlomba di kelas Moto3 pada lintasan tersebut, sehingga ia perlu memahami karakter sirkuit secara langsung ketika menjalani sesi latihan dan kualifikasi.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian khusus adalah lokasi Mandalika yang berada di kawasan dekat pantai. Kondisi tersebut membuat angin pesisir berpotensi memengaruhi jalannya balapan. Hembusan angin dapat berubah arah dan kekuatannya, terutama ketika para pebalap melaju di bagian lintasan yang terbuka. Situasi ini bisa memengaruhi kestabilan motor, titik pengereman, serta pilihan jalur saat memasuki dan keluar dari tikungan. Karena itu, Veda perlu menyesuaikan gaya balap dan pengaturan motornya berdasarkan kondisi yang muncul sepanjang akhir pekan.
Alih-alih mengambil risiko berlebihan, Veda memilih membangun kecepatan secara bertahap sambil mengutamakan penyelesaian lomba dengan aman. Strategi tersebut dinilai penting untuk mengumpulkan pengalaman di Mandalika sekaligus menjaga peluang meraih hasil terbaik. Agenda MotoGP Mandalika 2026 akan berlangsung pada 9–11 Oktober. Dalam rangkaian balapan itu, Veda Ega Pratama akan turun di kelas Moto3, sedangkan Mario Suryo Aji menjadi wakil Indonesia di kelas Moto2. Kehadiran keduanya diharapkan memperkuat perhatian publik terhadap kiprah pebalap Indonesia di ajang dunia.



