Upaya DVI Mengidentifikasi Korban Kapal Virgo Transport 8 Terus Berlanjut

Upaya DVI Mengidentifikasi Korban Kapal Virgo Transport 8 Terus Berlanjut

BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Upaya identifikasi korban tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 terus dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Kondisi jasad yang diterima membuat proses pengenalan secara langsung menjadi sulit. Perubahan pada tubuh korban menyebabkan ciri-ciri fisik tidak selalu dapat digunakan sebagai dasar yang memadai untuk memastikan identitas setiap jenazah.

Dalam situasi tersebut, data pembanding DNA menjadi salah satu andalan utama. Kepala Biro Dokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, menjelaskan bahwa pemeriksaan DNA diperlukan untuk membantu mencocokkan identitas korban. Sampel dari jenazah akan dibandingkan dengan data pembanding yang berasal dari keluarga atau sumber lain yang relevan, sehingga proses penetapan identitas dapat dilakukan berdasarkan pemeriksaan ilmiah.

Pendekatan tersebut penting karena identifikasi tidak hanya bergantung pada kondisi jasad atau barang yang ditemukan bersamanya. Data DNA dapat memberikan petunjuk yang lebih kuat ketika tanda pengenal fisik sudah sulit dikenali. Pemeriksaan dilakukan secara teliti agar setiap hasil pencocokan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum identitas korban diumumkan.

Proses pemeriksaan DNA menjadi bagian penting dalam penanganan jenazah yang diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Bersama tahapan identifikasi lainnya, pemeriksaan ini membantu tim DVI menyusun data korban secara sistematis. Ketelitian diperlukan untuk memastikan jenazah dapat diidentifikasi dengan tepat dan diserahkan kepada keluarga berdasarkan hasil pemeriksaan yang sahih. Selama proses berlangsung, pengumpulan serta pencocokan data pembanding terus menjadi perhatian utama untuk mendukung penyelesaian identifikasi seluruh korban.

Upaya mengidentifikasi korban kapal Virgo Transport 8 tidak hanya mengandalkan pemeriksaan DNA. Tim Disaster Victim Identification (DVI) masih melakukan penelusuran melalui berbagai informasi yang melekat pada jenazah maupun ditemukan bersama korban. Pemeriksaan tersebut mencakup ciri-ciri medis, seperti tanda khusus pada tubuh, kondisi gigi, bekas luka, tato, atau karakteristik lain yang dapat membantu proses pencocokan. Selain itu, barang pribadi yang ditemukan, termasuk pakaian, perhiasan, dokumen, dan benda lain, turut diperiksa sebagai bagian dari rangkaian identifikasi.

Menurut Sumy, ciri medis dan properti pribadi termasuk metode sekunder dalam proses identifikasi. Artinya, kedua jenis informasi tersebut tidak serta-merta dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menetapkan identitas korban. Tim perlu membandingkan temuan pada jenazah dengan sedikitnya dua data pembanding yang sesuai. Pencocokan itu dilakukan secara hati-hati agar setiap kesimpulan memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, pemeriksaan terhadap barang yang melekat atau ditemukan bersama korban tetap penting, meskipun prosesnya harus dilakukan bersamaan dengan verifikasi data lainnya.

Standar yang disampaikan Sumy menetapkan bahwa jenazah dapat dinyatakan teridentifikasi apabila terdapat sedikitnya satu metode primer yang menunjukkan kecocokan. Metode primer tersebut meliputi sidik jari, DNA, atau catatan gigi. Ketiga metode ini memiliki kekuatan pembuktian utama karena membandingkan karakteristik biologis atau rekam medis gigi yang bersifat lebih spesifik. Sementara itu, apabila identifikasi menggunakan metode sekunder berupa ciri medis dan properti pribadi, diperlukan kecocokan minimal dua data pembanding. Ketentuan tersebut menjadi pedoman bagi tim agar pengenalan korban dilakukan secara teliti, objektif, dan sesuai prosedur yang berlaku.

Pemeriksaan DNA disebut sebagai upaya terakhir dalam proses identifikasi korban karena metode ini dilakukan ketika ciri-ciri lain belum cukup untuk memastikan identitas jenazah. Tim Disaster Victim Identification (DVI) terlebih dahulu mencocokkan berbagai data, seperti kondisi fisik, barang milik korban, rekam medis, data gigi, serta informasi ante mortem dari keluarga. Apabila pencocokan tersebut belum menghasilkan kepastian, sampel biologis menjadi bahan penting untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Sumy, pemeriksaan DNA membutuhkan waktu karena sampel yang telah diambil harus dikirim ke Jakarta. Pengiriman tersebut menjadi bagian dari tahapan teknis yang perlu dilalui sebelum analisis dapat dilakukan. Sampel harus ditangani secara cermat agar kualitasnya tetap terjaga dan hasil pemeriksaan dapat digunakan dalam proses identifikasi secara tepat. Kondisi ini membuat keluarga korban perlu menunggu lebih lama dibandingkan pemeriksaan yang dapat dilakukan langsung di fasilitas kesehatan setempat.

Keluarga korban diminta untuk bersabar selama seluruh tahapan berlangsung. Penantian tersebut tidak berarti proses identifikasi terhenti. Tim DVI terus bekerja memeriksa setiap jenazah yang diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, termasuk mengumpulkan dan membandingkan data yang diperlukan. Setiap jenazah ditangani melalui prosedur yang berlaku agar informasi yang diperoleh dapat dipastikan sebelum disampaikan kepada keluarga.

Kendala pengiriman sampel ke Jakarta dan kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan secara bertahap menjadi faktor teknis yang memengaruhi proses identifikasi. Karena itu, informasi mengenai hasil pemeriksaan hanya dapat disampaikan setelah seluruh tahapan selesai dan data dinyatakan memadai. Hingga proses tersebut berjalan, tim DVI tetap berupaya mempercepat identifikasi setiap jenazah dengan tetap menjaga ketelitian pemeriksaan. Keluarga diharapkan menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang, tanpa mendasarkan informasi pada dugaan atau hasil yang belum diumumkan.

Proses identifikasi korban kapal Virgo Transport 8 yang ditangani tim Disaster Victim Identification (DVI) masih terus berlangsung di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Hingga perkembangan terbaru, sebanyak 80 jenazah telah diterima untuk menjalani proses identifikasi dan pencocokan data korban.

Dari jumlah tersebut, tim DVI berhasil mengidentifikasi 63 jenazah. Hasil identifikasi itu menjadi perkembangan penting bagi keluarga korban, karena memberikan kepastian mengenai status anggota keluarga mereka yang sebelumnya dinyatakan belum ditemukan setelah insiden kapal tersebut.

Sementara itu, sebanyak 17 jenazah lainnya masih berada dalam proses identifikasi. Tim terus melakukan penanganan sesuai prosedur yang berlaku agar setiap jenazah dapat dikenali secara tepat. Proses tersebut juga mencakup pengiriman sampel DNA ke Jakarta untuk mendukung pemeriksaan dan pencocokan data apabila diperlukan.

Dengan demikian, dari total 80 jenazah yang diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, 63 jenazah telah berhasil diidentifikasi, sedangkan 17 jenazah masih menunggu hasil proses lanjutan. Perkembangan ini akan terus diperbarui seiring berlangsungnya pekerjaan tim DVI dan tersedianya informasi yang dapat disampaikan kepada keluarga korban.