Trotoar dan Galian Masih Jadi Keluhan di Sekitar LRT Matraman

Trotoar dan Galian Masih Jadi Keluhan di Sekitar LRT Matraman

Jakarta | Setelah pembangunan jalur LRT Jakarta di kawasan Matraman dinyatakan selesai, aktivitas di sekitar lokasi tetap memperlihatkan bahwa masih ada pekerjaan yang perlu dituntaskan oleh pihak terkait. Kawasan ini menjadi salah satu titik penting bagi pergerakan warga, dengan lalu lintas yang terus berlangsung di sekitar flyover Matraman dan akses menuju stasiun. Di tengah suasana tersebut, sejumlah kondisi jalan dan fasilitas bagi pejalan kaki masih menjadi perhatian. Penyelesaian jalur kereta belum dengan sendirinya membuat seluruh pekerjaan pendukung di sekitar lintasan tampak rampung.

Di sekitar flyover Matraman, arus kendaraan terlihat ramai, tetapi lalu lintas masih bergerak lancar. Ruas jalan dari perempatan Matraman menuju Stasiun LRT Proklamasi juga telah diperbaiki, sehingga permukaannya tampak lebih tertata dibandingkan area yang masih dikerjakan. Perbaikan itu menjadi bagian dari perubahan yang terlihat di sepanjang akses menuju stasiun. Namun, keadaan di lapangan belum sepenuhnya seragam. Pengguna jalan masih menjumpai bagian-bagian yang menunjukkan adanya pekerjaan lanjutan, sementara kondisi jalan secara umum masih berdebu.

Salah satu hal yang disorot adalah trotoar di sejumlah titik yang kini tampak sejajar dengan permukaan jalan. Perbedaan ketinggian yang biasanya memisahkan jalur pejalan kaki dan kendaraan tidak terlihat jelas pada bagian tersebut. Kondisi ini dapat membuat batas trotoar dan badan jalan kurang tegas bagi pengguna, sehingga penataan fasilitas pejalan kaki masih perlu dicermati. Persoalan lain terlihat dekat perempatan Matraman, tempat galian masih menghalangi sebagian jalan. Kendaraan harus melintas melewati ruang yang tersisa, dan keberadaan galian itu dapat memengaruhi kelancaran pergerakan di sekitarnya. Debu yang masih menyelimuti beberapa bagian jalan turut menambah gambaran bahwa kondisi kawasan belum sepenuhnya tertata. Dengan demikian, meskipun jalur LRT telah dinyatakan selesai dan beberapa ruas sudah diperbaiki, trotoar, galian, serta kebersihan jalan masih menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan lanjutan di sekitar Matraman. Perkembangan berikutnya bergantung pada penanganan pihak terkait di lokasi tersebut.Rahmat, pedagang warteg yang tokonya berada tidak jauh dari perempatan Matraman, mengatakan kondisi jalan di sekitar tempat usahanya kini membaik dibandingkan ketika pembangunan berlangsung. Meski demikian, menurut dia, keadaan tersebut belum sepenuhnya membuat aktivitas di warung terasa nyaman. Debu masih kerap masuk ke dalam toko, terutama saat kendaraan melintas di sekitar lokasi.

Rahmat menyampaikan hal itu saat ditemui wartawan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa debu yang masuk membuat suasana di dalam warung kurang nyaman bagi pelanggan yang sedang makan. Bagi sebuah warteg, kenyamanan orang yang datang untuk bersantap menjadi bagian penting dari pengalaman mereka. Karena itu, meskipun kondisi jalan sudah lebih baik daripada sebelumnya, debu yang masih terbawa ke dalam toko tetap menjadi keluhan yang ia rasakan dalam kegiatan sehari-hari.

Selain persoalan debu, Rahmat menyebut jumlah pembeli di warungnya belum pulih. Ia mengaitkan keadaan tersebut dengan adanya galian tepat di depan warung. Galian itu masih berada di area yang dilalui kendaraan, sehingga kondisi akses di sekitar tokonya belum kembali seperti yang ia harapkan. Rahmat tidak menyebutkan ukuran penurunan jumlah pembeli, tetapi ia menilai keberadaan pekerjaan tersebut berkaitan dengan belum pulihnya kunjungan ke warung.

Menurut Rahmat, karena terdapat galian di depan warung, kendaraan harus berbelok melalui jalur khusus Transjakarta. Perubahan arah kendaraan itu menjadi kondisi yang ia lihat di sekitar tempat usahanya selama galian masih ada. Ia menyampaikan kaitan tersebut sebagai bagian dari pengalamannya sebagai pedagang yang berjualan dekat perempatan Matraman. Dengan demikian, keluhan Rahmat mencakup dua hal yang ia hadapi: debu yang sesekali masuk ke ruang makan dan jumlah pembeli yang belum pulih, yang ia hubungkan dengan galian di depan warung. Meski jalan telah membaik dibanding masa pembangunan, ia masih merasakan dampak keadaan sekitar terhadap kenyamanan pelanggan dan kegiatan berjualan.Pengalaman Neneng, pedagang warteg lain di sekitar LRT Matraman, menunjukkan bahwa keadaan setiap usaha di kawasan tersebut tidak selalu sama. Ia masih memiliki pembeli dan menggambarkan kondisi warungnya relatif stabil. Menurut Neneng, usahanya belum mengalami penurunan, tetapi juga belum menunjukkan peningkatan. Gambaran ini berbeda dari keluhan Rahmat, yang menyebut pembeli di tempat usahanya belum pulih. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa dampak pembangunan dan kondisi lingkungan sekitar dapat dirasakan secara berlainan oleh para pedagang, meskipun mereka berjualan di wilayah yang berdekatan.

Saat pembangunan LRT masih berlangsung, pekerja proyek menjadi salah satu kelompok pelanggan yang banyak makan di warung Neneng. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri bagi aktivitas usaha sehari-hari pada masa itu. Para pekerja yang berada di sekitar proyek membutuhkan tempat makan, sehingga warung menjadi salah satu pilihan untuk membeli makanan. Namun, pengalaman tersebut tidak serta-merta berarti jumlah pelanggan Neneng kini meningkat atau menurun. Ia hanya menjelaskan bahwa kondisi usahanya saat ini stabil: pembeli tetap ada, tetapi belum ada perubahan yang ia anggap sebagai peningkatan maupun penurunan.

Perbandingan dengan Rahmat penting untuk memahami keluhan pedagang di sekitar stasiun secara lebih berimbang. Cerita Neneng bukan bukti bahwa seluruh usaha telah kembali ramai seperti ketika proyek berlangsung, sebagaimana keluhannya juga tidak menggambarkan keadaan semua pedagang. Kondisi masing-masing warung dapat berbeda, termasuk jenis pelanggan dan pengalaman selama pembangunan. Bagi Neneng, pekerja proyek pernah menjadi pelanggan yang banyak datang, sedangkan keadaan sekarang ia nilai belum berubah secara berarti. Bagi Rahmat, pemulihan pembeli masih menjadi persoalan. Kedua pengalaman ini menegaskan bahwa dampak proyek terhadap usaha kecil tidak bisa disimpulkan dari satu kesaksian saja. Keluhan mengenai trotoar dan galian tetap menjadi bagian dari situasi kawasan, sementara cerita para pedagang memberi gambaran langsung tentang kondisi usaha yang beragam. Dengan demikian, pengalaman Neneng melengkapi, bukan membantah, keterangan Rahmat: satu warung bertahan stabil, sedangkan warung lain masih menanti pembelinya kembali.

Keluhan mengenai kondisi trotoar di sekitar kawasan LRT Matraman juga disampaikan oleh warga yang beraktivitas sehari-hari di sana. Neneng menyoroti permukaan trotoar yang menurutnya tampak tenggelam atau sejajar dengan badan jalan. Perbedaan ketinggian jalur pejalan kaki dan jalan, yang biasanya membantu menandai batas ruang masing-masing, dinilai tidak lagi terlihat jelas. Situasi itu membuatnya memperhatikan perubahan di sekitar tokonya, terutama ketika badan jalan terasa semakin mendekat. Ia khawatir penataan trotoar berikutnya dapat berdampak pada tempat usahanya, meski belum ada kepastian mengenai pekerjaan atau perubahan yang akan dilakukan.

Kekhawatiran Neneng berangkat dari kondisi yang ia lihat dan rasakan di lokasi. Menurutnya, badan jalan kini terasa lebih dekat dengan toko, sehingga ia mencemaskan kemungkinan pengaturan ulang ruang di depan tempat usahanya. Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan warga terhadap perubahan lingkungan sekitar, bukan kepastian bahwa toko akan terdampak. Bagi warga yang memiliki usaha di sepanjang jalan, keadaan trotoar dan batas badan jalan berkaitan langsung dengan ruang yang mereka gunakan setiap hari. Karena itu, kejelasan mengenai penataan kawasan menjadi perhatian, terutama agar kebutuhan pejalan kaki dan aktivitas warga dapat dipertimbangkan bersamaan.

Warni memiliki pandangan serupa mengenai trotoar, meskipun ia mengakui kawasan tersebut terlihat lebih rapi. Ia menilai jalur pejalan kaki seolah menghilang karena permukaannya tampak sejajar dengan jalan. Warni mempertanyakan apakah trotoar akan dirapikan kembali, tetapi ia tidak menyebut adanya kepastian tentang rencana pekerjaan.