Studi tentang Emosi Menantang Anggapan Perempuan Lebih Tidak Stabil

Merawat Kesehatan Mental dengan Memahami Emosi dan Luka Batin

Jakarta | Dalam percakapan sehari-hari, perempuan kerap digambarkan lebih emosional, mudah berubah suasana hati, atau kurang mampu mengendalikan perasaan. Penjelasan yang sering menyertai anggapan itu adalah hormon, seolah-olah perubahan biologis dengan sendirinya membuat perempuan tidak stabil. Sebaliknya, laki-laki sering ditempatkan sebagai sosok yang lebih rasional, tenang, dan mampu mengambil keputusan tanpa dipengaruhi emosi. Gambaran tersebut telah lama beredar dalam keluarga, media, pendidikan, dan lingkungan kerja. Namun, pengulangan sebuah anggapan tidak menjadikannya fakta ilmiah; stereotip dapat membentuk cara orang menafsirkan perilaku sebelum memahami situasi yang melatarinya.

Penelitian tentang emosi menunjukkan bahwa hubungan jenis kelamin, pengalaman emosional, dan cara mengekspresikannya tidak sesederhana pembagian tersebut. Emosi dipengaruhi banyak unsur, termasuk kepribadian, pengalaman hidup, kondisi kesehatan, lingkungan sosial, serta norma yang mengatur perilaku. Seseorang mungkin merasa sedih, marah, takut, atau gembira, tetapi cara ia mengenali dan menyampaikan perasaan itu dapat berbeda karena kebiasaan dan harapan di sekitarnya. Karena itu, ekspresi yang tampak dari luar belum tentu menggambarkan intensitas emosi atau kemampuan seseorang mengelolanya.

Sejak kecil, banyak orang menerima pesan sosial yang berbeda mengenai emosi. Anak perempuan mungkin lebih diberi ruang untuk membicarakan kesedihan, sementara anak laki-laki dapat didorong untuk menahan tangis atau menyembunyikan kerentanan. Pola semacam ini berpotensi membuat perbedaan ekspresi terlihat seperti perbedaan bawaan, padahal pembelajaran sosial ikut berperan. Selain itu, perilaku yang sama dapat dinilai berlainan: ketegasan seorang laki-laki bisa dipandang sebagai kepemimpinan, sedangkan sikap serupa pada perempuan disebut terlalu emosional. Penilaian semacam itu bukan ukuran objektif kestabilan.

Dengan demikian, pertanyaan yang lebih berguna bukanlah siapa yang secara alami lebih rasional, melainkan bagaimana emosi dialami, diungkapkan, dan dikelola dalam konteks tertentu. Menghindari generalisasi membantu pembaca menilai temuan penelitian dengan lebih cermat dan melihat individu secara utuh. Perempuan maupun laki-laki dapat mengalami emosi yang kuat, mengambil keputusan secara reflektif, atau menghadapi kesulitan mengatur perasaan. Mengakui keragaman ini membuka ruang bagi pembahasan berbasis bukti, bukan asumsi yang diwariskan. Hal tersebut juga mendorong percakapan yang lebih adil tentang kesehatan emosional tanpa mengaitkan kemampuan seseorang dengan stereotip gender semata.

Sebuah penelitian yang terbit pada 2021 di jurnal Scientific Reports menelaah perubahan emosi laki-laki dan perempuan dalam rentang pengamatan selama 75 hari. Penelitian tersebut melibatkan 142 peserta, mencakup laki-laki serta perempuan dengan pengalaman siklus menstruasi yang berbeda. Di perempuan yang berpartisipasi, sebagian menggunakan kontrasepsi oral, sementara sebagian lainnya mengalami siklus menstruasi secara alami. Dengan mempertimbangkan kelompok-kelompok ini, penelitian membandingkan pola fluktuasi emosi tanpa menganggap bahwa semua perempuan memiliki kondisi hormonal atau pengalaman yang sama. Rentang pengamatan yang cukup panjang memungkinkan perubahan emosi diamati dari waktu ke waktu, bukan hanya dinilai berdasarkan satu momen tertentu.

Hasil utamanya menunjukkan bahwa fluktuasi emosi laki-laki berada pada tingkat yang kurang lebih serupa dengan fluktuasi emosi perempuan. Dengan kata lain, data penelitian tersebut tidak menggambarkan laki-laki sebagai kelompok yang emosinya selalu lebih stabil, ataupun perempuan sebagai kelompok yang secara konsisten mengalami perubahan lebih besar. Temuan itu berlaku dalam perbandingan yang dilaporkan untuk peserta penelitian, termasuk perempuan pengguna kontrasepsi oral dan perempuan yang mengalami siklus menstruasi secara alami. Pesan pentingnya bukan bahwa emosi setiap individu identik, melainkan bahwa perbedaan berdasarkan jenis kelamin tidak mendukung gambaran sederhana tentang perempuan yang lebih mudah berubah secara emosional.

Temuan ini menantang anggapan yang telah lama beredar bahwa perempuan secara alami memiliki emosi yang lebih tidak stabil daripada laki-laki. Anggapan tersebut sering mengaitkan perubahan emosi perempuan dengan siklus menstruasi, seolah-olah pengalaman itu dengan sendirinya menjelaskan kestabilan emosional seseorang. Namun, hasil penelitian selama 75 hari memperlihatkan bahwa fluktuasi juga terjadi pada laki-laki dan bahwa tingkat perubahannya kurang lebih sebanding. Karena itu, penilaian mengenai kestabilan emosi sebaiknya tidak bertumpu pada stereotip gender. Penelitian ini memberi dasar untuk mempertanyakan generalisasi tersebut, sekaligus mengingatkan pembaca bahwa hasil tentang kelompok peserta tidak menentukan bagaimana setiap orang akan merasakan atau mengelola emosinya dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan emosi yang terlihat perempuan dan laki-laki tidak selalu menunjukkan bahwa salah satu kelompok merasakan sesuatu dengan lebih kuat atau lebih lemah. Cara emosi muncul di hadapan orang lain juga dipengaruhi oleh norma sosial dan pola asuh. Sejak kecil, banyak perempuan mendapat ruang untuk membicarakan perasaan, menangis ketika sedih, atau meminta bantuan saat menghadapi kesulitan. Respons tersebut dapat membuat pengungkapan kesedihan atau kecemasan tampak lebih lazim pada perempuan. Namun, kebiasaan yang terlihat bukan ukuran langsung tentang intensitas pengalaman batin. Seseorang mungkin merasakan emosi mendalam tanpa menunjukkannya secara terbuka, sementara orang lain lebih nyaman menyampaikan perasaannya melalui percakapan atau tangisan.

Ruang untuk mengungkapkan emosi juga tidak terbagi secara merata. Perempuan yang menunjukkan kemarahan dapat menghadapi penilaian bahwa mereka terlalu sensitif, sulit diajak bekerja sama, atau tidak profesional. Dalam kehidupan sosial maupun lingkungan kerja, reaksi semacam itu bisa membuat perempuan menahan amarah, menyamarkan ketidaksetujuan, atau memilih cara yang dianggap lebih dapat diterima. Akibatnya, ekspresi emosi yang tampak mungkin dibentuk oleh konsekuensi sosial, bukan semata-mata oleh sifat pribadi. Penilaian terhadap kemarahan perempuan juga dapat berbeda dari penilaian terhadap perilaku serupa pada laki-laki, sehingga satu emosi yang sama memperoleh makna sosial yang tidak sama.

Sebaliknya, banyak laki-laki dibesarkan dengan pesan bahwa kemarahan lebih dapat diterima, sedangkan kesedihan, ketakutan, atau kerentanan dianggap tidak sesuai dengan gambaran maskulinitas. Mereka mungkin didorong untuk terlihat tegar dan mandiri, sekalipun sedang membutuhkan dukungan. Tekanan untuk memenuhi harapan tersebut dapat membuat sebagian laki-laki menyembunyikan perasaan, menghindari percakapan emosional, atau memendam masalah dalam waktu lama. Karena itu, perbedaan ekspresi tidak sepatutnya dibaca sebagai bukti bahwa perempuan lebih tidak stabil atau laki-laki kurang emosional. Pengamatan yang lebih cermat perlu membedakan apa yang dirasakan, apa yang diungkapkan, dan apa yang dinilai pantas oleh lingkungan. Memahami pengaruh norma sosial membantu menjelaskan mengapa pola ekspresi dapat berbeda, sekaligus mendorong ruang yang lebih aman bagi semua orang untuk menyampaikan emosi tanpa stigma.

Perasaan yang tidak diungkapkan tidak serta-merta menghilang. Ketika seseorang terus mengabaikan atau menekan emosi, perasaan itu dapat tetap memengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain. Dampaknya tidak selalu tampak sebagai ledakan emosi; tekanan yang menumpuk juga dapat muncul dalam bentuk menarik diri, mudah tersinggung, atau kesulitan menghadapi konflik. Karena itu, kemampuan mengenali dan mengelola emosi penting bagi kesejahteraan pribadi maupun hubungan sosial. Mengelola perasaan bukan berarti harus menceritakan semua hal kepada siapa pun, melainkan memahami apa yang dirasakan dan memilih cara yang sehat untuk meresponsnya.

Perempuan yang terbiasa membicarakan dan memproses perasaan mungkin memiliki keunggulan dalam beberapa aspek kecerdasan emosional, misalnya mengenali emosi atau menyampaikan kebutuhan. Namun, hal tersebut merupakan kemungkinan, bukan sifat bawaan yang berlaku seragam. Pengalaman, pola asuh, lingkungan, dan kesempatan untuk belajar dapat membentuk keterampilan emosional seseorang. Sebagian laki-laki mungkin lebih sulit mengenali atau mengungkapkan perasaan, lain karena tekanan sosial yang mengaitkan maskulinitas dengan sikap selalu kuat, mandiri, atau tidak menunjukkan kerentanan.

Baca juga: Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Masyarakat Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri | Pacu Adrenalin, Menembak Lorong Jadi Latihan Menantang di Super Garuda Shield 2026